Selasa, 21 Februari 2012

Seputar Agama Sinto dari Jepang



Aliran Sinto adalah rahasia alam yang diwariskan kepada keturunan dari Hwang Ti dan telah dipelajari dan dikembangkan dalam jangka waktu yang cukup panjang.  Tapi yang patut disayangkan adalah bahwa salah satu kecermelangan kebudayaan Timur ini tidak awet terwariskan ke generasi di jaman sekarang ini.

Sama halnya dengan Taoisme.  Kembali kepada "Sifat Asal" dan mencapai kekekalan merupakan inti ajaran Taoisme yang sesung­guhnya dan betul betul dapat dilatih sampai menjadi kenyataan.  Namun sayang sekali banyak orang tidak mendapat pelajaran yang sesungguh­nya.  Sewaktu guru saya yang tak berwujud, Yang Mulia San San Chiu Hou, mulai mengajari saya rahasia rahasia Taoisme, saya pun tidak mengerti pada mulanya.  Tahu pun tidak pernah bahwa ada hal hal seperti yang diajarkan itu.

Mengenai aliran Sinto Jepang, Yang Mulia San San Chiu Hou suatu kali pernah mengantar saya ke suatu alam roh yang unik yaitu ke sebuah istana langit.  Di pintu masuk ke istana digantung sebuah papan nama:  "Istana air".   Ketika saya masuk kedalamnya, anehnya saya dapatkan bahwa semua orang disana adalah orang Jepang.

"Guru, bagaimana aliran Sinto bisa masuk ke Jepang?"
"Memang harus demikianlah keadaannya. 
Aliran Sinto di Jepang terbagi menjadi 3 bagian: (1) Sinto aliran istana air, (2) Sinto aliran sinar Magenta, dan (3) Sinto
aliran para dewa.  
Para dewa di Jepang dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan: (1) Maha Dewa, (2) Dewa kecil, dan (3) Dewa Bumi. 
Mengenai Sinto aliran istana air, banyak orang Jepang yang sudah lupa karena banyak catatan rahasia yang tidak
terwaris­kan ke jaman sekarang."

"Siapakah yang membawa Sinto aliran istana air ke dunia manusia?"
"Dewa Thian Ci turun ke bumi sewaktu berusia 10 tahun dengan banyak pengetahuan mengenai alam asli di jagad raya ini.  Ia dapat masuk ke alam angkasa utara, ke alam alam bintang di langit, dan ke alam istana laut yang jumlahnya ratusan ribu di bumi.  Setelah berusia 14 tahun, ia dapat bebas terbang ke langit dan bumi, keatas dapat mencapai alam Budha dan Bodhisatwa, kebumi dapat masuk kealam jin dan setan.  Dia hidup di dunia selama 53 tahun sebelum akhirnya kembali ke alam dewa Istana Air."

"Guru, apakah tujuan saya datang kesini hari ini?"
"Untuk mempelajari kitab rahasia dari Sinto aliran istana air sehingga dapat menambah pengalaman."

Yang Mulia San San Chiu Hou menunjukkan beberapa buku itu.  Isi buku buku itu benar benar luar biasa.  Ada cara ramalan yang disebut "Raja Dewa Timur".   Ada mantra "5 unsur organ tubuh."  Ada buku tentang cara menyatu dengan alam dan bagaimana membuat tubuh menjadi kecil seperti bayi.  Ada catatan tentang hu "5 pegunungan dalam mimpi".  Ada rahasia dewa penyatuan langit.  Ada buku yang membuka tabir mimpi.  Ada mantra pengejar roh.  Ada buku tentang cara bagaimana roh keluar.  Ada sutra yang membahas perbedaan didalam pembangkitan roh.  Ada stempel stempel untuk pengundangan para dewa.  Ada buku yang menjelaskan tentang cara menetralisir frekwensi hantu dan jin.  Ada cara meneropong 9 alam angkasa.  Ada cara penghindaran malapetaka yang datang dari 8 penjuru.  Ada cara meneropong alam dewa laut.  Ada gambar puluhan ribu dewa, termasuk para dewa di gunung Thai-San.  Ada gambar nyata pengadilan angkasa.  Ada informasi tentang penguasa langit barat, Yao Ce Cing Mu.  Ada peta alam langit istana Utara dari Giok Tjing Ce Lan.  Dan banyak lain lainnya lagi.

Sewaktu saya melihat buku buku dan gambar gambar itu, saya hanya dapat tahu sekedarnya saja.  Bahkan ada yang saya sama sekali tidak dapat mengerti.  Guru San San Chiu Hou memberi petunjuk kepada saya, "Buku buku itu lihatlah satu kali, terutama sekali tentang 'rahasia gaib tentang langit dan bumi' yang telah lama lenyap.  Mengenai gambar, pelajari sedikit, terutama yang penting adalah rahasia 3 alam dewa."

"Aliran Sinto ini pernah diajarkan oleh Kong Beng dalam wujud hu dan mantra.  Orang orang kebatinan pada masa itu banyak yang mengincar hu hu tersebut.  Juga, dengan membaca mantra yang diwariskan Kong Beng, akan dapat melihat istana langit Ce Lan.  Bila dilatih sampai sempurna, maka dapat terbang ke angkasa.  Bila belum sempurna latihannya, maka istana langit Ce Lan hanya bisa tampil di hadapan mata saja.  Istana langit Ce Lan adalah istana langit yang paling tinggi di kutub utara angkasa ..."

"Guru memberitahu saya semuanya ini, apakah ada manfaat khususnya di kemudian hari?"
"Di kemudian hari, engkau akan berjumpa seorang master Sinto aliran istana air."

Roh saya bersama guru San San Chiu Hou kembali ke bumi dari markas Sinto aliran istana air itu.  Didalam hati saya, timbul suatu perasaan kekaguman yang besar akan kebudayaan Jepang.  Jepang, sebuah negara kepulauan, ternyata telah benar benar dapat menyerap inti sari dari kebudayaan Tiongkok.  Aliran Sinto mereka bersumber dari Tiongkok.  Sayang sekali, aliran Sinto sekarang ini hampir punah.  Orang yang mempelajarinya dengan sungguh sungguh sudah sangat langka.  Orang yang mengatakan bahwa aliran Sinto adalah tahyul belaka -- sungguh merupakan orang yang tidak mengerti dan tidak mempunyai pengetahuan sama sekali.

**sumber: e-book Padmakumara-1, kisah ke-60

Arwah Penasaran di Sebuah Sumur


Di kota Taichung, di daerah Ta-li, saya mempunyai suatu pengalaman dengan sebuah keluarga petani disana.  Kepala keluarga petani itu bernama Lin Chin Sio yang menderita penyakit rematik.  Istrinya, seorang wanita tua berusia kira kira 50 tahun yang sering menderita encok di pundaknya.  Mereka mempunyai dua anak.  Yang satu adalah wanita yang sudah menikah.  Yang satu lagi adalah seorang pria berusia 30 tahun yang sering menderita sakit kepala.

Tuan rumah memberitahukan saya, "Tinggal di rumah ini tidak pernah satu haripun merasa tenang.  Karena itu, saya khusus mengun­dang anda untuk melihat keadaan rumah saya."

Saya berjalan jalan di halaman rumahnya.  Di ruang tengah rumah terdapat altar Kwan Im dan meja abu leluhur.  Di sebelah kanan terdapat ruang tamu dan dapur.  Di sebelah kiri terdapat tempat untuk menaruh alat tani dan lumbung.  Rumah ini tidak menunjukkan hal hal yang aneh.   Dipandang dari ilmu hong-sui, rumah ini cukup baik.  Di depan rumah ada sebuah parit dengan air yang mengalir.  Pemandangan didepan rumah cukup indah dengan sawah sawah padi yang terhampar luas.  Di belakan rumah terdapat sebaris pohon bambu dan tempat untuk memelihara ayam.  Didepan terang; di belakang ada sandaran.  Seharusnya rumah ini penuh dengan ketenangan.  Jadi saya katakan kepada tuan rumah, "Rumah ini cukup baik.  Begini saja.  Nanti malam saya akan datang lagi.  Pada umumnya secara hongsui -- keadaan siang dan malam itu berbeda."

Ketika saya melangkah keluar dari rumah tersebut, petani tua itu berkata kepada anaknya, "Orang muda ini dikenal pandai hongsui, tapi benarkah itu? Ataukah ia hanya menipu?  Mengapa setelah melihat begitu lama, ia malah terus pergi?"   Anaknya menjawab, "Tidaklah.  Dapat mengundangnya sudah beruntung karena ia sebetulnya sangat sibuk."

Pada malam itu, saya kembali ke rumah petani itu.  Didalam perjalanan dengan mobil, saya melewati sebuah rumah pembakaran mayat.  Didepan rumah tersebut, banyak arwah gentayangan yang melambaikan tangan kepada saya.  Sayapun balas menyapa mereka.  Setelah itu saya melewati kuil 7 dewa jendral.  Saya melihat seekor anjing didepan kuil yang menggonggong terus.  Mungkin ke 7 dewa jendral sedang tidak berada di dalam.  Ke 7 dewa jendral tersebut sebenarnya adalah arwah arwah yang telah meninggal dunia yang karena memiliki kekuatan batin dan mau membantu manusia melakukan kebaikan -- maka dapat mencapai tingkat dewa dan dibuatkan sebuah kuil oleh manusia.    

Meneruskan perjalanan di jalan raya, saya memasuki sebuah lorong kecil gelap yang tak terlihat banyak orang.  Disana saya melihat 2 sosok bayangan dipinggir jalan yang berteriak teriak kepada saya, "Sumur"   Saya berhenti dan bertanya, "Sumur? Apa maksudnya?"    Kedua sosok bayangan itu, satu pria dan satu wanita, tidak tampak jelas rupanya.  Badan mereka basah kuyup.  Yang pria berkata, "30 tahun yang lalu, saya dan adik perempuan saya ini mati didalam sumur.  Kami hidup didalam sumur.  Kami tidak berani pergi jauh; hanya mengikuti Dewa Dapur (Cau Kun Kong).   

Kami berdua hidup (dengan memakai/menyedot) dari spirit (enerji) keluarga kami yang menyebabkan keluarga kami menjadi sakit sakitan.  Kami sadar hal itu tidak baik tapi kami terpaksa melakukan hal tersebut.  Pada siang hari (tadi), kami mengetahui anda datang.  Kami harap anda dapat menolong kami.  Itu sebabnya kami menunggu anda disini malam ini."   Setelah itu mereka hilang.   Saya melihat Cau Kun Kong (Dewa Dapur) berjalan didepan saya; tercium bau arak; rupanya beliau suka minum arak.

Sewaktu saya tiba di rumah petani itu, saya bertanya, "Dimana sumur anda?  Tolong bawa saya kesana."  Sesampai di tepi sumur, saya merasakan adanya getaran getaran.   Setelah kembali ke ruang tamu, saya bertanya kepada mereka,

"Apakah anda mempunyai 2 anak yang mati di sumur ? Apakah anda sebenarnya mempunyai 4 anak; dua diantaranya mati disumur; satu pria berusia 32 tahun; dan satu wanita berusia 30 tahun ?  Inilah yang menjadi penyebab kenapa kalian sering tidak enak badan."

Nyonya Lim sambil menangis bercerita kepada saya, "Begini ceritanya.  Anak perempuan kami yang bernama A-li pada usia 2 tahun bermain di tepi sumur dan terjatuh kedalam sumur.  Sedangkan kakaknya yang bernama A-wang, karena ingin menolong adiknya, juga terjatuh kedalam sumur.   Ketika kami berusaha menolong mereka, mereka sudah meninggal.  Begitu malang nasib mereka."
"Itu terjadi 30 tahun yang lalu," Lim Chin Sio meneruskan.
"Jadi bagaimana baiknya?", tanya putra Lim kepada saya.
"Biarlah saya membacakan doa untuk menolong mereka dengan bantuan Ksitigarbha Bodhisatwa. "

Saya membaca doa sebagai berikut, "Semua makhluk, sejak dahulu kala, karena kebodohannya, menganggap kepalsuan sebagai yang nyata.  Demikian juga dengan orang yang sudah meninggal.  Mereka berputar putar di alam samsara karena kebodohannya.  Hari ini, saya, Lian Sen, memohon kepada para dewa supaya mereka berdua mendapat tempat yang sesuai dengan karma mereka."   Selesai membaca doa, saya melihat sinar kedua arwah tersebut menuju ke langit.   

Keluarga Lim berangsur angsur menjadi sembuh dari penyakit­nya.  Sekarang mereka percaya bahwa roh itu benar benar ada.

 **sumber: e-book Padmakumara-1, kisah no.41

Kisah tentang abortus (pengguguran bayi)



Sejak pertama kali aku mulai mengalami kejadian kejadian aneh tapi nyata delapan tahun yang lalu,  sampai sekarang aku berhubungan secara rutin dengan dunia roh.   

Aku selalu terpesona dengan segala sesuatu yang kulihat di dunia roh.  Pandangan hidupku dan nilai nilai yang kupegang berubah sangat besar karena pengalaman pengalamanku dengan dunia roh.   

Aku masih enggan membicarakan tentang semua yang kulihat dan kudengar didalam dunia roh.  Tetapi ada suatu pengalaman yang aku rasa perlu kuceritakan kepada para pembaca.

Aku dapatkan bahwa dibalik baju baju indah yang dipakai oleh wanita terdapat bayangan bayangan darah merah.
Mereka (hal-demikian) terlihat baik pada wanita yang sudah berkeluarga maupun wanita yang masih belum menikah.
Didalam bayangan bayangan itu aku dapat melihat makhluk makhluk yang belum normal maupun belum dewasa.  Sebagian wanita memiliki lebih dari satu bayangan.  Makhluk itu memancarkan sinar putih.  Karena bayangannya berwarna merah darah, sangatlah mudah menghitung berapa jumlah makhluk itu didalamnya.

Pada suatu siang, ketika aku melewati sebuah jalan di kota Tai-chung, aku secara tak disengaja melirik ke puncak dari sebuah gedung rumah sakit bersalin.  Aku melihat sebuah bayangan darah yang besar mengambang; besarnya seperti kolam air saja!  Aku merasa kaget dan takut!  Bagaimana bisa dan mengapa ada bayangan darah yang begitu besar disana?  Bentuknya seperti matahari terbenam, merah tua dan bercahaya.

Yang lebih menakutkan lagi, didalam bayangan itu aku dapat melihat makhluk makhluk yang masih abnormal, seperti sebuah sarang cacing cacing putih saja.  Sangat menyeramkan.  Aku merasakan kulitku merinding dan sebagian rambutku berdiri.  Aku menjadi pusing kepala dan merasa ingin muntah.  Aku dapat mencium bau darah.  Sungguh sangat tidak nyaman rasanya.

Ketika aku berusaha mengatasi perasaan tidak enak ini, seorang wanita yang kukenal berjalan keluar dari dalam rumah sakit itu.  Namanya adalah Tsai.  Ia pernah datang meminta diramal olehku pada dua tahun yang lalu.  Aku melihat bayangan bayangan darah merah didalam tubuhnya.

"Oh! Pak Lu ada disini!"  Ia merasa malu tersipu sipu melihatku.
"Ini yang nomor empat, bukan?" aku bertanya langsung.  Dua tahun yang lalu ketika aku melihatnya aku mengatakan bahwa ia telah mempunyai tiga anak, dan sekarang aku melihat makhluk putih keempat didalam bayangan darah ditubuhnya.

Ia mengangguk.
"Engkau harus merawat tubuhmu."
"Saya tidak lagi mempunyai arti hidup," jawabnya.
"Jangan berkata demikian!  Hidup ini sungguh bernilai dan mempunyai arti.  Engkau harus mencari arah hidup yang sesuai.  Dapatkanlah arah itu."

"Dulu Pak Lu berkata bahwa saya akan mempunyai lima anak.  Jadi saya hanya mempunyai satu kesempatan lagi."
"Karena itu kau harus merawat tubuhmu.  Ini adalah kesem­patan yang terakhir."

"Saya rasa saya kena kanker barangkali.  Saya merasa lelah dan sering pusing.  Wajah saya juga pucat.   Bila tidak memakai kosmetik, saya terlihat seperti mayat.  Saya tidak mempunyai nafsu makan.   Jantung saya berdetak kencang.  Tangan saya berkeringat.  Dan saya juga mudah masuk angin."

"Tidak.  Engkau tidak berpenyakit kanker.  Nona Tsai.  Dengarlah.  Kembalilah kepada orang tuamu.  Itu akan sangat memban­tu."

Keluarga nona Tsai tinggal di Taiwan Utara.  Nona Tsai pergi ke Taiwan daerah tengah untuk melarikan diri dari keluarganya dan untuk berpelesir.  Aku mengulangi saranku lagi, "Pulanglah ke rumah orang tuamu dan sering seringlah menyebut nama Budha."

"Baiklah, saya akan mendengarkan saran Pak Lu."  Ia mengucapkan terima kasih dan kemudian berjalan pergi.
Setiap kali aku melihat bayangan darah di tubuh wanita dan melihat berapa jumlah makhluk didalam bayangan itu, aku dapat mengetahui berapa jumlah aborsi yang telah dilakukan wanita itu.  Jawaban yang kuberikan selalu tepat.

Aku pernah berdiskusi tentang aborsi dengan seorang temanku yang berprofesi sebagai dokter.  Ia berkata, "Tidak banyak yang dapat kami lakukan.  Kami diminta oleh para pasien;  mereka menginginkan aborsi.   Aborsi adalah suatu hal yang umum.  Meskipun secara prinsip -- kami tidak setuju, tidak dapat disangkal bahwa aborsi memecahkan masalah mereka.  Manusia mempunyai begitu banyak persoalan."  Ia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan, "Rumah sakit bersalin mengha­silkan banyak uang dengan melakukan operasi aborsi."

Aku merasa sedih memikirkan hidup dari bayi bayi yang di aborsi.  Makhluk makhluk janin itu sungguh tak berdaya.  Setelah diaborsi, roh mereka menempel kepada ibu mereka atau roh mereka hanya mengambang saja.  Roh roh yang diaborsi ini meningkatkan kekuatan (hawa) kebengisan didalam dunia ini.

Seringkali wanita menjadi lemah tubuhnya setelah mengalami aborsi.
Membaca doa dan bermeditasi dapat memperbaiki kondisi hidup.  Wanita yang telah mengalami aborsi tertolong oleh doa mereka dan doa teman teman mereka.  Pikiran yang ramah, lemah lembut dan penuh harapan dari semua orang yang berdoa sangatlah menolong baik untuk para ibu yang beraborsi maupun makhluk makhluk roh janin nya.

Aku sungguh berterima kasih bahwa nona Tsai menuruti saranku dan kembali kepada orang tuanya.  Ia menikah dengan seorang pria yang bekerja sebagai pegawai negeri.  Mereka sekarang mempunyai seorang putra yang manis.

**dikutip dari e-book: Padmakumara-1, kisah ke-27
 

Selasa, 14 Desember 2010

Tiga Orang yang Berlatih Kungfu


kisah ke-9 dari buku "Satu Mimpi Satu Dunia"


Di Danau Daun, saya amat rindu pada umat tahap awal Zhenfo Zong.
Dulu, ada tiga orang umat yang berlatih silat kungfu.

Yang pertama bernama Xu Shuiwang, perawakannya tinggi dan gagah. la berhasil menguasai Kungfu Tudung Lonceng Emas. la didorong sepuluh orang pun tak tergoyahkan. Kungfu ini dinamakan 'berakar di tanah', meski badannya ditinju bertubi-tubi, dirinya bergerak pun tidak, merintih pun tidak. IImu silatnya hebat.

Saya masih ingat ketika pertama kali kembali ke Taiwan, Xu Shuiwang ternyata sudah jatuh sakit. Tak disangka itu adalah pertemuan kami yang terakhir kalinya. Lalu ia pun mangkat pada usia yang belum terlalu tua.

Batinku amat sedih!

Yang kedua bernama Zhang Huangming. la sudah lama berguru padaku. la berjanggut hitam dan panjang, berperawakan tinggi besar, dan menguasai ilmu silat dengan hebat karena sejak kecil sudah berlatih kungfu. Zhang Huangming sangat saleh. Sepasang matanya tajam bersinar.

Namun ia juga sudah mangkat pada usia yang tidak terlalu tua. Banyak orang mengenal diri Zhang Huangming. Saya merindukannya dan merasa iba padanya, air mataku terus berderai.

Yang ketiga bernama Zheng Yuxin. Perawakannya kekar, ilmu silatnya juga hebat, pernah bertarung di pentas kungfu.

Kungfunya nomor satu, jurus Tapak Bagua pun sudah mahir dikuasainya. Ketika usianya sekitar lima puluhan, ia masih kuat memasang kuda-kuda tunggal. Kelenturan tubuhnya dikagumi banyak orang.

Zheng Yuxin pernah memperagakan kungfunya di Vila Pelangi. la juga berlatih Tapak Besi, dan kemampuannya sangat luar biasa. Yang tak disangka-sangka adalah, ia juga sudah mangkat. Saya sedang berada di Danau Daun ketika ia wafat. Tubuh bardonya datang menemuiku, dan jumlah arwah yang datang menyertai dirinya tidaklah sedikit.

Saya mengantar kepergiannya. Saya tak dapat menahan sedih, hatiku memilu!

Saya menulis tentang ketiga umat yang berlatih kungfu ini agar kita semua mengenal fakta ilusi. Ingat: dunia ini anicca, bumi ini rapuh, empat elemen itu duka dan sunya. Dalam panca skanda tiada keakuan, proses dari muncul hingga lenyap mengalami bentuk- tahan-rusak -kosong.

Ada saatnya kuat ada saatnya lemah.
Ada saatnya lahir ada saatnya mati.
Ada saatnya kumpul ada saatnya pisah.

Anicca itu memang cepat adanya. Saya adalah seorang sadhaka yang berperasaan, bagaimana saya tidak merindukan tiga umat senior yang berlatih kungfu ini. Hidup bagaikan sebuah mimpi, BETAPA SINGKATNYA KEBERSAMAAN. Satu mimpi satu dunia.

Saya berlatih cahaya terang, mempersembahkannya pada sepuluh penjuru Buddha. Cahaya memasuki hati Buddha, kembali memasuki hati saya, kemudian memancar ke seluruh makhluk enam alam kehidupan di sepuluh penjuru. Menyelamatkan makhluk luas agar terbebas dari samsara Langsung menuju Sukhavatiloka. Menempuh alam suci itu adalah hal yang paling utama. Saya katakan, sekalipun berolah tubuh sekuat apa pun, toh akan rapuh, sang waktu tidak pernah memberi ampun!

Jumat, 14 Mei 2010

KUIL SETAN JUDI

Ada seorang wanita bernama Xia Hui datang berkonsultasi kepada saya, menanyakan tentang kemana almarhum ayah nya reinkarnasi.

Saya menjawab, "Ia masuk ke dalam kuil"

"Ah! Jadi, ia telah menjadi dewa?" Xia Hui terkejut.

"Bukan!"


"Jadi apa?"

"Kuil yang dimasuki ayahmu bukanlah kuil suci, melainkan kuil tempat berkumpul para setan judi"

Xia Hui menjadi pucat, "Selagi masih hidup, ayah adalah seorang yang jujur dan patuh pada hukum. Satu-satu nya kebiasaan buruknya adalah berjudi. Ia telah berulang kali berjanji untuk berhenti berjudi, tetapi tidak pernah berhasil. Sebenarnya ia pun merasa bersalah. Tak saya sangka, setelah meninggal, ia masih masuk ke kuil setan judi. Master Lu, dimana kuil itu? Saya bermaksud mengunjunginya."

"Kuil Shi-Gong" (Kuil Kakek Amal)

Saya merasa nama kuil ini penuh makna. Kata "amal" (shi) dan kata "kalah" (shi) mempunyai intonasi yang sama. Sering berjudi tidak mungkin tidak pernah kalah. Segerombol "kakek kalah" berkumpul di satu tempat. Bukankah cocok disebut “Kuil Shi-Gong"?

Setahu saya, baik di alam "yang" maupun di alam “yin", ada pengelompokan. 

Yang bersih dikelompokkan menjadi satu. 
Yang kotor dikelompokkan menjadi satu pula. 
Yang gemar berjudi dikelompokkan menjadi satu.

Dalam kesempatah ini saya menasihati orang yang gemar berjudi:
"Diantara langit dan bumi, cara tercepat untuk menghabiskan harta keluarga adalah dengan berjudi. Disamping itu, kebiasaan berjudi merusak moral dan melanggar kehendak Yang Maha Kuasa. Bila sudah terperangkap judi, bagaikan berenang di tengah laut, sangat sulit untuk kembali ke darat. Lautan judi dalam tak berdasar. Tenggelam semakin dalam, maka semakin tak berdaya untuk melepaskan diri. Sangat langka orang yang mempunyai cukup kekuatan meditasi untuk bisa keluar dari lautan judi. Orang yang ternoda judi akan meninggalkan mata pencaharian mereka yang halal.

Mengapa? Kareha berjudi sangat menguras perhatian, sangat menghabiskari waktu, tidak membedakan siang dan malam, membuat orang tidak bisa tenang untuk tidur beristirahat. Kalau sudah terbius judi, badan rasanya gatal kalau tidak berjudi. Yang ada dalam pikiran hanyalah bagaimana supaya bisa menang. Mata mereka memandang rakus. Semakin lama, wajah mereka sudah tidak berbeda banyak dengan wajah setan, wajah setan judi. Apa gunanya berjudi?. Renungkanlah, sanak keluarga akan menjauh. Lahan dan rumah harus dijual. Cepat atau lambat pasti kalah. Waktu terbuang sia-sia. Api keserakahan berkobar-kobar. Menjadi cepat marah. Usaha bangkrut. Hidup bisa hancur. Saya menasihati umat manusia, jangalah ternoda oleh kata “JUDI".

Malam lusa setelah Xia Hui datang berkonsultasi, sesosok roh manusia menembus masuk kamar tidur saya.

"Siapa kau?"


"Xia Jing, Saya adalah ayah Xia Hui." Ia berlutut di hadapan saya.

“Ada urusan apa?"
"Xia Hui berziarah ke tempat saya. Sewaktu berdoa, ia menyebutkan bahwa anda mempunyai kesaktian besar dan mampu menyeberangkan saya ke alam surga Sukhawati."
Saya tertawa terbahak-bahak mendengar nya.
Dengan wajah sangat sedih, Xia Jing bertanya, "Mengapa menertawai saya?"
"Di Kuil Setan Judi, kau terus keranjingan berjudi sampai kalah habis-habisan. Sekarang modalmu sudah habis, baru meminta saya mengantarmu terlahir di surga Sukhawati. Bisa-bisa di surga Sukhawati pun kau meneruskan berjudi. Bagaimana saya bisa menyeberangkan mu?"
Eh ..... " Xia Jing tak bisa berkata apa-apa lagi, bermaksud pergi. .

"Tunggu!" Secara prinsip, saya tidak akan menghiraukan makhluk rendah penjudi yang sudah kalah baru berpikir untuk bertobat, yang setelah mati pun masih meneruskan kebiasaan berjudi nya. Mereka sungguh memalukan dan tak tertolong lagi. Akan tetapi, saya teringat akan ucapan putri nya, "Selagi masih hidup, ayah adalah seorang yang jujur dan patuh pada hukum." Kalimat tersebut membuat saya tidak tega.

Saya berkata, "Saya akan menemanimu ke kuil setan judi"


"Untuk apa?" Xia Jing ragu-ragu.

"Saya akan membantu mu menang."

Di Kuil Setan Judi, saya menggunakan 2 jenis ilmu.
Ilmu pertama adalah ilmu menyembunyikan wujud. Tangan kiri saya membentuk mudra tinju. Ibu jari menekan ujung jari telunjuk sehingga berbentuk lingkaran. Ketiga jari lainnya tetap dikepalkan rapat-rapat. Ada lubang di telapak tangan. Letakkan tangan di depan dada. Visualisasikandiri sendiri masuk ke dalam lubang di telapak tangan. Kemudian, gunakan tangan kanan dengan telapak lurus, membuat gerakan berputar ke kanan mengelus mudra tangan kiri. Lalu, tutup lubang di mudra tangan kiri. Bayangkan mudra ini adalah Marici Bodhisattva. Bayangkan diri sendiri menyembunyikan wujud di dalam hati Marici Bodhisattva. Baca mantra Marici Bodhisattva. Maka, segala hantu dan dewa tidak lagi bisa melihat saya.

Lalu, saya menggunakan ilmu kedua yaitu “Hu Biji Dadu Penurut"

Saya membaca mantra biji dadu mendengar perintah, "Jie Di Mi Di. Mi Jie La Di" sebanyak 7 kali.

Saya berjalan di belakang Xia Jing.
Xia Jing mengeluarkan 200 yuan untuk berjudi.


Bandar judi menolak, "Tidak bisa, 200 yuan terlalu sedikit."

Xia Jing memohon, "Sekali saja. "
"Baiklah." Bandar memasukkan biji daduke dalam kotak.
Setelah digoyang-goyang, diletakkan lagi.
Saya memberitahu Xia Jing, "Pilih angka 3." Xia Jing menuruti saya.
Setelah penutup dibuka, ternyata memang tiga titik.

Bandar kalah. Xia Jing bermodal 400 yuan sekarang. Saya menyuruhnya memasang angka 6. Begitu penutup dibuka, ternyata memang '6'. Bandar. jadi penasaran. Permainan berlangsung terus. Biji dadu menuruti apa kata saya. Bila saya katakan berapa titik, maka itulah yang keluar.
Xia Jing menang berjuta-juta.

Wajah bandar sudah seperti tanah, "Kurang ajar, ada setan!"

Dalam hati saya berpikir, "Kalian-lah setan nya. Lucu sekali!"

Bandar menukar biji dadu dan kotak. Hati nya penasaran.
Menurut cara bandar menggoyang kotak, seharusnya muncul 1 titik. Tetapi, bisa berubah menjadi 5 titik. Digoyang supaya muncul 4 titik, jadinya 1 titik. Bandar penasaran tapi tak habis pikir.

Hasil yang dimenangkan Xia Jing selain melunasi semua hutangnya, juga membuat Kuil Setan Judi bangkrut total. Semua harta Kuil Setan Judi menjadi miliknya. Semua karyawan menjadi anak-buah nya. Semua setan judi yang ikut berjudi melawan nya kalah habis-habisan. Xia Jing menjadi kava raya, berteriak kegirangan.

Saya mulai mengajari Xia Jing berlatih Tantrayana.
Tahap awal: tahap pembersihan, berlindung dan membangkitkan bodhicitta, membersihkan karma buruk diri sendiri, mendapatkan dukungan dharmapala pelindung, menumpuk pahala sehingga cepat memperoleh adisthana (pemberkatan) Vajra Master.

Tahap inti: menggunakan api kundalini membakar pikiran keserakahan, menggunakan ilmu tubuh ilusi melenyapkan segala khayal dan kerisauan batin, menggunakan ilmu mengamati mimpi untuk membersihkan pandangan, menggunakan ilmu cahaya suci untuk mencapai tanah suci yang bersih dan terang.

Tahap akhir: membangkitkan maha prasetya dan melimpahkan jasa.

Mengingat Xia Jing bertubuh roh, asalkan memiliki keyakinan yang kuat, maka akan mendapatkan rahasia keberhasilan roh.

Inilah: Jati Diri pada dasarnya tidak terlahir, Budhata sejati tidak asli dan juga tidak palsu, segalanya. bagaikan bayangan bulan di dalam air, kokoh seperti demikian, maka dapat berlatih yang sejati.

Tak saya sangka, ternyata motivasi Xia Jing terfokus pada "ilmu biji dadu penurut". Saya bersusah-payah mengajarinya meditasi dengan penuh konsentrasi. Namun, hati nya menerawang, tidak bisa kokoh.

Xia Jing berkata, "Saya tidak mau pergi ke negri Buddha yang bersih"


"Apa?" Saya terpaku.

"Saya ingin berlatih Tantrayana."
"Oh ... " Saya merasa lega.
"Saya hanya ingin berlatih ilmu biji dadu penurut."
"Eh ... " Saya tersentak. Inilah yang disebut sulitnya menolong para insan. Bukan hanya manusia yang bisa. serakah, roh hantu pun bisa. Bedanya hanyalah hantu tidak lagi dibelenggu oleh tubuh fisik. Tetapi, mereka tetap memiliki karma masa lampau, tetap melekat.

"Benar-benar sifat berjudi sulit diubah," saya menghela napas"


Xia Jing berlutut di hadapan saya dan berkata, “Disaat saya berjudi, hati dan konsentrasi saya terfokuskan. Apapun tldak lagl penting. Saat menang, senangnya tak bisa saya uraikan dengan kata kata. Mohon mengajarkan saya ilmu biji dadu penurut."

"Kau tidak cocok berlatih ilmu itu," kata saya. 


"Siapa yang cocok?"
"Saya."
"Mengapa?"
"Sebab saya bisa mengendalikan diri. Saya tidak sembarang menggunakan ilmu itu. Saya hanya menggunakan nya untuk tujuan menyelamatkan umat seperti dalam kasus mu"

"Kau menolak mengajari saya ilmu itu?"


"Ya"


"Kalau kau tidak mau mengajari saya ilmu itu, saya akan pergi."

"Pergi kemana?" 

"Kuil Shi Gong."

Sungguh memusingkan berurusan dengan setan judi: Itulah alam neraka yang sempit dan picik. Niat judi yang menjeratnya ternyata lebih besar dari niat untuk transmigrasi ke alam surga, membuat saya sedikit tidak mengerti.

Sesungguhnya, Kuil Setan Judi bukan hanya ada  di alam neraka. 

Bukankah KASINO di dunia manusia pun merupakan Kuil Setan Judi?

Putri Xia Jing datang lagi mencari saya, "Apakah ayah sudah berhasil diselamatkan?"


"Belum." "Mengapa?" "Tidak bisa."

"Jadi ayah masih berada di KuilSetan Judi?"
"Sifat berjudi nya sangat kuat. Saya tidak sanggup mengatasinya"

Xia Hui berkata terus-terang, "Ayah sudah menganggap berjudi seperti nyawa nya sendiri. Saat menjelang ajal, ayah bahkan berpesan agar barang-barang judi nya dimasukkan ke dalam peti mati nya sampai penuh"



Pesenne cak Mukidi,  "Mulane rek, ojok sampek awak pena di cap penjudi ambek masyarakat, tiwas ngko nek wis matek  pena dadi setan judi, gelem tah?" 



*sumber: buku xxx kisah ke xx karya master Lu Sheng Yen