Kamis, 15 Februari 2018

Negeri Setan Raksasa


Suatu malam, saya masuk ke negeri setan raksasa, ini adalah sebuah negeri yang sangat menakutkan, ada setan berkepala besar, setan kotor, setan bermata satu, setan tak bertangan, setan tak berkaki, setan iga. ....
Ada semacam setan yang sangat istimewa, organ dalam tubuh tergantung di luar tubuh, sekujur tubuh dirayapi oleh serangga.
Perilaku setan-setan ini:
Asusila.
Makan darah segar.
Bicara cabul.
Aneh.
Memanjatkan kitab aneh.
Menyembahyangi hantu.
Telanjang.
Saling membunuh, mengunyah tangan dan kaki.
Singkat kata, saya tidak mampu menggambarkan negeri setan raksasa, karena negeri ini, dunia setan raksasa ini, benar-benar adalah kota dosa, merubuhkan pemikiran saya, sepanjang hidup saya, tidak pernah terpikirkan ada dunia seperti ini. Di dalam pemikiran saya, tidak ada konsep seperti ini.
*
Saya teringat dengan orang-orang punk, pix, pecundang, hippie, preman berkumpul. Seperti sebuah rumah sakit jiwa yang tak bertepi.
Saya menerobos di antaranya.
Para setan melihat kedatangan saya, sekelompok setan menyerbu, saya melarikan diri, mereka mengejar, saya melarikan diri ke setumpuk reruntuhan.
Yang menakutkan adalah:
Saya menemukan Dharmaduta Zhenfo Zong. Di antaranya ada upasaka/sika dan bhiksu/ni.
Oh, Tuhan! Saya terperanjat.
Tak disangka mereka masuk ke negeri setan raksasa.
Sebagian sedang makan tanah. (hanya karena menelan mahavihara, vihara, dan cetiya)
Sebagian makan tembaga dan besi. (hanya karena menelan materi insan)
Sebagian minum darah. (keserakahan untuk memberi makan keluarga mereka)
Sebagian makan tulang manusia. (keserakahan akan rupa)
Sebagian berkomat-kamit, berkeliaran tanpa tujuan. (kehilangan sradha)
......
Semua ini melanggar Samaya.
Jijik! Jijik! Amis! Amis!
Orang-orang tersebut, jiwa dan raga mereka bernanah, sekujur tubuh menebarkan bau tidak enak, orang yang sangat menderita tak tertahankan, melihat kedatangan saya.
Ada yang tertawa bodoh.
Ada yang memperlihatkan taring dan memainkan cakar.
Ada yang melarikan diri.
Ada yang menengadah dan menggoyangkan ekor.
Saya melihatnya, tidak habis pikir, sangat tidak berdaya.
*
Saat ini, ada seberkas cahaya datang, muncul Dewa Samaya, dewa memancarkan sinar keemasan, tangan memegang penggaris Sila.
Ia berkata:
Semua benda yang dibuat, berakhir dengan kerusakan; semua kekayaan yang dikumpulkan, berakhir dengan kehabisan; semua pria dan wanita yang berwujud, berakhir dengan perpisahan; kehidupan apapun, akhirnya adalah kematian; semua bhajana-loka, berakhir dengan kehilangan.
Dengan demikian, masihkah serakah?
Dengan demikian, masihkah benci?
Dengan demikian, masihkah bodoh?
Mahaguru Lu! Anda harus beritahu orang-orang ini!
Saya berpikir:
Segala sesuatu di dalam tumimbal lahir, sungguh tidak ada artinya, hanya sumber penderitaan saja.
Saya sendiri juga harus sadar.
Kemudian menyadarkan insan lain.
Karena segala sesuatu di dunia manusia "tidak ada yang didapatkan", kita harus ada niat meninggalkan samsara dan terbebaskan.
*
Siswa mulia yang terkasih!
Saya prihatin dengan orang-orang yang terjatuh ke dalam negeri setan raksasa!
Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!


sumber: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8962

Menyarankan Menjapa Mantra Manjushri


Ada seorang bernama Lianhua Yuehui melahirkan seorang putra, saat anak ini lahir, kepala bulat dan bertelinga panjang, mirip sekali dengan Maitreya versi China, berkepala bulat, berperut bulat, keempat anggota badan juga gemuk, tertawa lebar, sangat gembira, mengikuti lomba bayi sehat, mendapatkan juara satu.

Belakangan tumbuh dewasa, keluarganya menemukan ada tanda-tanda aneh.

Berjalan tertatih-tatih.
Tidak bisa bicara.
Kedua mata tidak bisa melihat dengan jelas.

Keluarganya memintanya melakukan sesuatu, ia tidak bisa lakukan, atau tidak mengerti melakukan, bentuknya makin lama makin mirip cacat mental.

Sering tertawa dingin.
Meneteskan air liur.
Hanya bisa berteriak, “Ah! Ah!”

Orang tuanya kuatir, diperiksakan ke dokter, ada seorang dokter berkata bahwa ia menderita sejenis epilepsi.

Dokter lain berkata bahwa ia menderita autisme.

Orang tuanya membawanya ke hadapan saya.

Saya menjamah kepala memberkati si anak, saya menyarankan orang tuanya sering menjapa Mantra Bodhisattva Manjushri dan melimpahkan jasanya kepada si anak. Mantra Manjushri adalah, “Om A La Ba Zha Na Di”.

*
Lianhua Yuehui adalah siswa yang bersradha sangat teguh.

Ada orang berkata, “Kalian percaya Mahaguru Lu, namun, malah melahirkan putra kesayangan seperti ini, masih percaya apa lagi?”

Lianhua Yuehui menjawab, “Ini adalah rintangan karma kami sendiri, mana boleh menyalahkan Mahaguru Lu!”

Orang itu berkata, “Bukankah Mahaguru Lu akan melindungi?”

Lianhua Yuehui menjawab, “Mahaguru Lu memiliki 5 juta siswa, rintangan karma setiap orang berbeda-beda; ini sama seperti begitu banyak penganut Agama Buddha, rintangan karma juga berbeda-beda, bukan berarti setiap umat Buddha selamat sejahtera dan segalanya berjalan dengan baik!”

Lianhua Yuehui melanjutkan, “Sang Buddha hanya mengajari kita ketidakkekalan. Sang Buddha sendiri juga mengalami lahir, sakit, tua, dan kematian, sama-sama mengalami banyak bencana!”

Si pendatang merasa malu dan pergi.

*
Lianhua Yuehui lebih rajin lagi menjapa mantra Manjushri.

Tiba-tiba suatu malam, melihat Bodhisattva Manjushri datang, Bodhisattva menunggang singa, menampilkan warna lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, hanya terlihat Bodhisattva memegang pedang.

Hanya satu sabetan pedang, kepala si anak dipenggal.

Yuehui sangat sedih!

Namun, terlihat Bodhisattva Manjushri membawa sebuah kepala dari tempat lain, secara perlahan, kepala tesebut dipasangkan ke leher si anak.

Yuehui terkejut sekali melihatnya.

Saking terkejutnya, ia pun terbangun, ternyata hanya sebuah mimpi.

Ia melihat anaknya.

Terlihat si anak tertidur pulas, melihat leher si snak, tidak ada keanehan, ia pun lega.

Setelah bermimpi seperti ini, suami pulang dari luar kota, membeli sebuah pratima Bodhisattva Manjushri yang terbuat dari lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, Yuehui melihatnya, berseru keras, “Luar biasa!”

Yang paling luar biasa adalah putra Lianhua Yuehui, makin hari makin normal, menjadi anak yang cerdas.

*
Siswa mulia yang terkasih:

Setiap orang memiliki rintangan karma masing-masing, dan rintangan karma setiap orang belum tentu sama.

Setiap keluarga mempunyai kesulitan masing-masing.

Mohon Mulaguru memberkati, mohon Buddha Bodhisattva memberkati, yang terpenting adalah “menghormati dengan tulus”.

Yang berjodoh pasti terbebaskan dari malapetaka!

Seperti Lianhua Yuehui menjapa mantra Manjushri, menyaksikan sendiri Manjushri, malapetaka pasti teratasi!

sumber tulisan: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8973

Kamis, 08 Februari 2018

Tanpa Pembinaan Diri Akan Menjadi Hantu


   Penulis sekarang berusia 39 tahun. [Catatan: Maha Acarya Lu menulis buku ini pada tahun 1983] Saya tidak bisa mengatakan saya sudah tua karena saya belum mencapai usia 60 tahun. Saya tidak mengatakan saya masih muda pula karena saya segera mencapai usia 40 tahun. Dalam waktu 40 tahun lagi, maka saya akan mencapai usia 80 tahun yang dianggap sebagai usia yang jarang dapat dicapai. Bila saya merenungkan masalah usia, setengah dari usia saya ini telah hilang.

     Beruntung bahwa pada saat saya berusia 26 tahun, secara gaib dan kebetulan, saya menjadi sadar akan sebab dan kondisi kehidupan kehidupan masa lampau saya. Dari saat itu sampai sekarang, saya telah melatih diri selama 14 tahun tanpa menundanya satu hari sekalipun. Akhirnya, saya berhasil mencapai "8 Kekuatan External" (External Eight Accomplishments) dan akan mengabdikan sisa hidup saya untuk melatih "8 Kekuatan Internal" (Internal Eight Accomplishments). Saya mempunyai keyakinan bahwa saya akan mencapai keBudhaan dalam kehidupan saya yang sekarang. Saya telah berikrar untuk melatih diri dengan Vajra-dharma. Saya adalah yidam, mencapai keBudhaan dalam kehidupan yang sekarang. Saya telah berhasil dan mengalami semua respons/kontak batin yang disyaratkan.

     Sekarang, di mata saya, ke 3000 alam itu terlihat kecil seperti sebutir beras. Roh saya dapat memenuhi angkasa di enam penjuru atau menyusut kedalam sebutir pasir. Setelah berhasil penuh, roh saya dapat keluar dari ubun ubun kepala dan terbang ke tanah suci Budha yang manapun dan ke 10 alam Dharma. Dengan mendapatkan mata dewata, saya dapat melihat segala sesuatu di sepuluh alam Dharma. Dengan telinga dewata, saya dapat mendengar ajaran Dharma kapanpun juga. Dengan 'penguasaan diri' dan kemerdekaan, saya bebas sepenuh­nya untuk melakukan segala sesuatu tanpa hambatan. Roh saya dapat terjun kedalam air tanpa tenggelam dan masuk kedalam api tanpa terbakar. Saya dapat menerjang semua pintu neraka dan mengatasi hukum sebab akibat, tidak lagi dibatasi oleh panca-skandha. Sewaktu saya mencapai nirvana, sudah pasti akan timbul kejadian kejadian gaib. Saya dapat menyembuhkan penyakit, mengangkat para insan dari penderitaan, dan melatih diri dengan semua metode rahasia yang tak pernah terpikir bisa dilakukan.

     Karena saya telah membuat resolusi Bodhicitta yang terbesar, sudah sewajarnya saya menaruh welas asih kepada para insan. Terlahir sebagai manusia sungguh merupakan kesempatan yang sukar didapat. Sungguh sayang bahwa orang tidak menyadari pentingnya pembinaan diri selagi mempunyai tubuh fisik manusia ini. Begitu tubuh fisik manusia ini hilang (mati), anda belum tentu bisa mendapatkannya lagi dalam 10 ribu tahun. Lagipula, usia manusia sangatlah pendek dan mudah berubah. Dalam sekejab, seseorang bisa mati seperti matinya lampu. Tak terhitung orang yang mati dalam usia muda. Usaha membina diri harus dimulai sedini mungkin seperti usaha mematikan api kebakaran.

     Menurut pandangan saya, para insan di dunia fana ini yang mengejar posisi/jabatan tinggi adalah seperti insekta di tempat kotoran, berputar putar naik turun, saling bergulat untuk berada di tempat paling atas. Insekta insekta ini mati tanpa mencapai penerangan! Karena mereka begitu cintanya dengan posisi/jabatan tinggi, setelah mereka mendapatkannya, mereka tidak bisa meninggalkannya seperti halnya orang yang kecanduan ganja. Mereka yang kehilangan jabatannya berada dibawah belas kasihan dari yang lainnya seperti halnya insekta yang mati. Kenaikan dan jatuhnya seseorang dari jabatan dan status sosial tidak berbeda dari jatuh bangunnya insekta insekta. Mengapa mengikat diri pada penderitaan semacam itu? Sudah waktunya bagi mereka untuk membuang kebodohan mereka itu dan mulai melatih diri.

     Ada lagi orang orang yang gila harta dan keuntungan. Karena uang adalah segala galanya, yang mereka lihat hanyalah koin dan hal hal lainnya tak lagi mengandung makna bagi mereka. Dengan bisnis mereka yang maju pesat, mereka sibuk siang dan malam tanpa ada waktu luang. Hidup dan energi mereka semuanya dituangkan kedalam persaingan sengit untuk mendapatkan keuntungan uang. Sebagai akibatnya, mereka jatuh terpotong potong bagaikan kulit luar dari batang bambu. Diantara mereka, yang berhasil tidak mencapai apa apa kecuali meninggalkan kemewahan bagi anak cucu mereka. Yang tidak berhasil menjadi tua tanpa mereka sadari. Kesulitan datang menimpa mereka silih berganti membuat hidup mereka sangat menderita.

     Bahkan lebih rendah lagi dari orang orang ini adalah mereka yang bermabuk-mabukan, berjudi, dan menipu. Apapun yang mereka lakukan atau pikirkan adalah hal yang buruk dan menimbulkan karma buruk. Tanpa menyadari adanya pembalasan hukum karma, mereka tidak berhenti menumpuk karma buruk. Yang lebih parah lagi, sebagian orang sangat menikmati perbuatan perbuatan jahat seperti membunuh, merampok, membakar rumah orang, memperkosa, dan lain sebagainya. Penderitaan para insan meningkat. Metode metode pembinaan diri tak lagi dihiraukan.

     Karena rasa kasih dan belas kasihan kepada para insan ini, saya menulis buku buku rohani untuk menyadarkan mereka. Saya telah menulis 45 buku sampai sekarang [Catatan: terhitung s/d tahun 1983], menjelaskan dari yang paling dasar sampai ke teori yang paling dalam mengenai Budhisme.  Ini merupakan buku saya yang ke 45 dan akan membahas mengenai seni meditasi yang sejati. Buku ini berisi metode metode penting yang diwariskan oleh para guru guru pewaris. Buku ini berisi cara rahasia untuk mencapai keBudhaan. Buku ini berisi rahasia rahasia dewata dan misteri dari alam semesta. Dalam tulisan ini, saya menggunakan bahasa yang membuat kebenaran yang paling rumit dapat dimengerti oleh pembaca.  Dengan harapan dapat menyadarkan umat dari penderitaan, saya menjelaskan cara cara yang benar untuk mencapai Kebenaran (Tao) dengan harapan supaya orang orang yang berjodoh akan mendapatkan buku ini. Mereka yang berjodoh akan berlatih setiap hari berdasarkan instruksi dari guru guru yang berpenge­tahuan untuk mencapai pengertian akan kebenaran sejati. Bila mereka berlatih dengan tulus seni meditasi ini, mereka akan cepat lambat mendapatkan keberhasilan dan mencapai keBudhaan. Mereka akan tiba di pantai seberang untuk hidup di alam kebahagiaan. Inilah resolusi Bodhicitta saya -- menulis buku buku kebatinan serajin mungkin demi menyelamatkan para insan.

      Sekarang ini, meskipun saya hanya berlatih dirumah (tidak menjadi Bhiksu), saya sama saja seperti seorang rahib. Saya tinggal di lantai atas rumah saya di kota Seattle, Amerika Serikat. Di altar saya terdapat hiolo tembaga kuno, cermin kuno, sebuah bel vajra, dan sebuah dorje vajra. Di lantai, terdapat karpet. Dalam acara meditasi saya, dengan topi mahkota merah suci di kepala saya dan berpakaian kasaya, saya membaca mantra, membentuk mudra, dengan asap dupa mengebul perlahan lahan. Diatas meja, peralatan untuk menulis hu. Dengan pikiran yang dalam keadaan tenang, saya merasa berada seperti di surga.

      Disini saya berlatih setiap hari, membaca sutra dan duduk bermeditasi, tidak pernah perduli dengan peristiwa peristiwa tak berarti di dunia, tidak terganggu siapapun. Dalam acara meditasi saya, saya berkunjung ke alam alam dewata. Bila telah lelah, saya tidur beberapa menit. Bila sudah segar, saya terbang lagi ke alam surga. Ini seperti yang diuraikan oleh sebuah ungkapan: "Alamiah, tak terikat, dan bebas sepenuhnya. Saya merasa seperti seorang yidam, terang dan kosong. Dengan dupa menyala, saya melihat segala sesuatu kosong adanya. Roh saya menembus segala langit dan bersinar pada kebenaran seperti halnya matahari dan bulan."

     Guru saya, Yang Mulia San San Chiu Hou (Tiga Gunung dan 9 Bagian) pernah berkata: "Dewa anda adalah roh anda sendiri, bukan pikiran yang biasa kita gunakan untuk berpikir, bukan hati fisik dibawah paru paru. Kekuatan batin adalah kemampuan untuk memanggil roh dan mengubah diri menjadi makhluk suci, kemampuan untuk menembus alam semesta dengan roh sendiri, dan kemampuan untuk mengubah diri menjadi banyak penjelmaan. Semua sadhaka yang telah berhasil tahu akan hal ini. Orang awam di dunia fana ini tidak menyadarinya. Hari ini saya telah menulis "The Art of Meditation" yang memenuhi keinginan langit dan kebutuhan dunia. Usahanya agung adanya. Mengfitnahnya adalah sama seperti mengfitnah sang Budha, satu dosa yang tak termaafkan.

     Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im) datang memberitahu saya, "Ketika saya membabarkan Maha Karuna Dharani dahulu kala, bumi bergetar dan menunjukkan enam bentuk perubahan. Bunga bunga indah berjatuhan dari angkasa di semua tempat. Seluruh Budha di sepuluh penjuru bergembira dan memujinya. Roh jahat dan roh sesat panik ketakutan. Mereka yang melafal mantra ini akan mencapai keberhasilan. Sebagian akan menjadi Srotapannas (stream enterer -dhyana 1), sebagian akan menjadi sakrdagamins (kembali ke dunia sekali lagi sebelum mencapai keBudhaan), sebagian menjadi anagamins (never returner) dan sebagian menjadi arahat. Sebagian bahkan menjadi bodhisattva dari tingkat satu sampai tingkat sepuluh. Berbagai insan membuat resolusi bodhicitta. Hari ini Lu Sheng-yen telah menulis buku "The Art of Meditation" yang mirip dengan Maha Karuna Dharani yang saya perkenalkan. Mereka yang melatih diri dengan metode ini akan dilindungi oleh para dewa yang tidak akan pernah meninggalkan sang sadhaka sedetik sekalipun. Para dewa itu termasuk 4 Raja Dewa, para dewa, naga, yaksa, asura, garuda, gandharva, kimnara, mahoraga, kumarirupa, dewa tanah, dewa laut dan sungai, dewa musim semi, dewa arus, dewa obat, dewa hutan, dewa kuda, dewa air, dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewa bumi, dewa istana, dan lain sebagai­nya -- semuanya akan memberikan perlindungan kepada para sadhaka.

    Guru Padmasambhava, patriak pertama dari Tantra Tibet, memberitahu saya: "Di jaman sekarang, roh jahat berkuasa dimana mana. Pergerakan alam tak teratur, dengan hujan dan terbitnya matahari yang tidak tepat waktu, angin dan banjir yang membawa bencana. Sutra sutra suci dibakar menjadi abu; penyakit dan bencana berada dimana mana, peperangan terjadi disini sana. Bila seseorang tidak mengetahui dharma yang benar, ia akan terjatuh ke alam kelahiran yang rendah (neraka, setan kelaparan, dan binatang). Sungguh beruntung Lu Sheng-yen dengan tepat waktu telah menulis buku buku kebatinan (rohani) ini yang mengajarkan secara sistimatis pintu masuk menuju Tantrayana yang luar biasa, dari yang paling dasar sampai yang paling dalam. Bila seseorang melatih diri dengan sepenuh hati apa yang diuraikan dalam "The Art of Meditation", ia akan menyadari berbagai bentuk kebijaksanaan, mencapai kesucian samadhi, dan mengerti hukum hukum alam semesta, terbebaskan dari rintangan karma buruk yang tertumpuk semenjak 1000 tahun yang telah lewat. Bila ia dapat melatih rohnya, ia akan mengetahui semua kebenaran tentang kehidupan dan kematian baik di masa lalu maupun di masa depan. Ia akan mendapatkan semua kebijaksanaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Lebih dalam lagi, ia akan mencapai tingkat bodhisattva, melihat semua Budha, mendengar ajaran mereka sehingga menghilangkan karmanya semenjak waktu yang tak terhingga.

    Yang mulia San San Chiu Hou, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Guru Padmasambhava semuanya muncul dalam meditasi saya dan meninggalkan instruksi instruksi mereka. Saya sungguh berharap mereka yang mendapatkan buku ini melatih diri sehari sekali dengan tekun dan kemudian melipat gandakan usaha latihan setelah beberapa lama. Semoga mereka tidak mengecewakan para bodhisattva yang telah sekali lagi turun untuk menyadarkan para insan. Ini merupakan keberuntungan luar biasa bagi semua insan dibawah matahari.

     Biarlah saya sampaikan pada para pembaca bahwa orang orang yang berintelek tajam tidak hanya melatih diri dalam satu atau dua kehidupan saja, tetapi dalam banyak kehidupan. Orang orang yang berjodoh dengan Budha biasanya langsung mempercayai Budhisme begitu mereka mendengar nama Budha -- ini merupakan hasil latihan di kehidupan masa lampau. Orang yang tidak berjodoh dan belum pernah melatih diri sebelumnya biasanya ragu ragu. Tetapi asalkan mereka mendekati Budha setiap hari dan mendapatkan kontak batin, mereka secara alamiah membangun kebijaksanaan dan akhirnya tiba di pantai seberang juga. Saya berharap para pembaca membuang semua kemelekatan, berkonsentrasi pada Budha Dharma selagi hidup di dunia yang fana ini. Bila anda duduk bermeditasi sejam sehari, anda akan menemui bunga teratai emas yang mekar sewaktu anda meninggal dunia. Anda pasti akan pergi ke surga Sukhawati. Bukankah itu sangat baik?

     Semoga semua insan sadar akan sifat sejati mereka.

Lu Sheng-yen, Juni 1983
**dicopas dari ebook Padmakumara-02, kisah no 2.1, judul asli:  Tetap menjadi hantu tanpa pembinaan diri, merupakan Prakata dari buku "Seni Meditasi"

Kisah 3 arca yang bisa berbicara


            Pada suatu hari seorang kawan bernama Chung Cin Tien datang mengunjungi saya dan langsung berkata, "Lu Sheng Yen, karena anda sekarang tidak menerima tamu lagi, anda tidak tahu bahwa di Taipeh ada seorang nyonya yang telah tiga kali mencari anda dan sampai sekarang tidak berhasil menemui anda sehingga akhirnya dia mencari saya.  Dia mengisahkan sebuah cerita aneh kepada saya.  Dia berharap anda mempunyai cara mengatasi masalahnya itu.  Dia telah banyak mengunjungi banyak guru untuk meminta nasihat, namun semuanya tidak sanggup mengatasi."

             Dengan heran saya bertanya, "Ada urusan apa sebenarnya?"

             "Kisahnya begini.  Ada orang memberikan dia tiga buah arca anak kecil.  Ketiga arca ini tidak lebih dari 6 inchi (kira kira 15 cm); pada masing masing arca, tangannya memegang palu.  Menurut orang yang memberikan arca ini, ketiga arca anak kecil tersebut dahulu kala bisa berbicara, bahkan bisa memberitahukan infomasi tentang apa yang akan terjadi.  Misalkan, kalau besok mau hujan, arca anak kecil itu akan berkata, "Akan hujan. Harus membawa payung."  Kalau besok ada tamu yang akan datang,  dia juga bisa memberitahu.  "Besok ada tamu akan datang.  Siapkan makanan makanan yang lezat."  Bahkan, kalau si pemilik pergi berbusiness, arca tersebut dapat memberitahu berapa banyak uang yang akan diterima. Tetapi tiga tahun yang lalu ketiga arca anak kecil ini tidak mau lagi berbicara.  Pemilik arca tersebut telah mencari banyak bhiksu untuk memohon bantuan. Bhiksu bhiksu pun tidak sanggup membuat arca arca ini berbicara lagi.  Arca anak kecil tersebut memberi petunjuk mimpi kepada pemiliknya bahwa seorang bhiksu yang penuh dengan rasa iri hati telah menutup mulut arca arca tersebut sehingga tidak bisa berbicara dan membuat mereka sangat menderita.  Karena ketiga arca tersebut tidak lagi dapat berbicara, pemiliknya mengira ketiga arca itu tidak lagi bermanfaat sehingga diberikan kepada wanita di Taipeh itu.  Wanita tersebut mempunyai seorang putri yang kemudian bermimpi dimana arca anak kecil tersebut berkata, "Harap anda pergi ke Tai-Chung untuk mencari sebuah rumah dengan pintu berwarna merah.  Disana ada seorang muda yang bernama Lu Sheng Yen.  Dia bisa membuat kita berbicara lagi.  Lekaslah pergi.  Tetapi karena anda sudah tidak menerima tamu lagi, maka wanita tersebut mencari saya dan meminta tolong agar masalah aneh ini kiranya bisa anda bantu atasi." 

         "Ini sungguh merupakan masalah yang aneh.  Tetapi kalau banyak bhiksu saja tidak mempunyai cara mengatasi masalah ini, bagaimana saya bisa mengatasinya?  Begini sajalah.  Kita bertemu disebuah tempat dimana wanita itu dapat membawa ketiga arca anak kecil tersebut kepada saya untuk diperlihatkan.  Mudah mudahan saja saya dapat membantu."

       Pak Chung dengan senang berkata, "Baik.  Saya juga sebenar­nya ingin melihat ketiga arca tersebut untuk menambah pengalaman."

       Pada hari yang dijanjikan, datanglah ibu dari Taipeh dengan putrinya tersebut.  Pak Chung datang bersama istrinya juga.  Selain itu, ada pula seorang biksu dari Tai-Chung yang ikut hadir.  Wanita dari Taipeh itu sudah berusia 50 tahun lebih, sedangkan putrinya yang baru berusia 20 tahun lebih itu bertubuh tinggi besar dengan kedua mata yang terang dan besar.  Ibu dari Taipeh itu meletakkan ketiga arca yang dibawanya diatas meja.  Arca tersebut masing masing memegang palu; wajahnya satu sama lain sangat mirip seperti tiga bersaudara saja; warnanya sudah mulai luntur.  Bila dikira kira, arca arca tersebut sudah berusia 30 tahun.  

         Putri nyonya tersebut berkata, "Pak Lu, ketiga arca ini berturut turut memberi petunjuk kepada saya bahwa saya harus pergi ketempat anda.  Maaf kalau kami telah mengganggu ketenangan anda."

         "Oh, tidak apa apa," jawab saya.

         Saya mulai berkomunikasi dengan dunia roh, memohon bantuan Dewa Ciu Thien Sien Ni untuk mencari tahu permasalahannya.  Saya menemukan bahwa ketiga arca tersebut bukan saja tidak bisa berbicara tetapi malah sekujur badannya merasa sakit.  Dan setelah saya amati dengan seksama, ternyata memang diatas tubuh mereka telah terikat sebuah benang yang berwarna merah muda.  Maka pertama saya membuat mudra seperti gunting untuk memutuskan tali tersebut.  Kedua, saya menggunakan kekuatan chi saya;  saya arahkan mulut saya untuk berhadapan langsung dengan mulut arca tersebut, lalu secara perlahan lahan dan berirama saya arahkan kekuatan chi keluar dari mulut saya ke mulut arca tersebut agar sesuatu yang berkekuatan 'yin' menerima chi dari 'yang'.  Kemudian saya membuat mudra untuk membuka tenggorokan mereka.  Setelah beberapa saat baru terdengar salah satu arca tersebut dengan suara yang lembut berkata, "Terima kasih." 

        Saya memberitahu ibu pemilik arca tersebut untuk menaruh arca arca tersebut di suatu altar yang tersembunyi dari pandangan tamu tamu yang datang kerumah sehingga tidak menarik perhatian.  Disamping itu, ada beberapa peraturan kecil lainnya yang juga saya sampaikan kepada mereka. 

         Biksu yang ikut hadir disitu merasa kagum dan meminta saya untuk mengajarkan kepadanya ilmu yang disebut "meminjam chi untuk menggerakkan benda" itu. 

         Sepuluh hari berselang, saya menerima sepucuk surat dari nona tersebut yang mengucapkan terima kasih karena lima hari kemudian ketiga arca anak kecil tersebut benar benar dapat berbicara lagi.

 

(diterjemahkan dari halaman 88 s/d 91 dari buku berjudul "Magical Powers" karya no. 26 dari Master Lu Sheng Yen yang diterbitkan pada Oktober 1976).
**Saya copas dari ebook Padmakumara-01, kisah ke 57.

Jumat, 22 Desember 2017

Merasa Bersalah Kepada Para Penghujat


Pernah suatu kurun waktu saya mengalami hujatan dari pihak luar secara bertubi-tubi yang tak pernah terjadi sebelumnya, gencarnya seperti angin topan, gempa, bencana kebakaran, banjir bandang. Saya dikepung dari berbagai penjuru, serangan demi serangan silih berganti, mereka mengoordinasikan sebuah kekuatan besar lalu melancarkan aksi menyeluruh.
Para penghujat ini menggunakan segenap daya upaya, beberapa koordinator mengerahkan segenap akalnya, menulis artikel di internet ataupun media massa, mempertunjukkan kebolehan mereka dalam urusan hina-menghina.
Tepat pada masa itu, ada seorang sahabat lama saya naik ke gunung demi bertanya kepada saya perihal ‘hujatan’ tersebut.
Ia bertanya, “Mahaguru Lu! Apa kesan Anda terhadap semua hujatan tersebut?”
Saya menjawab, “Tidak berkesan.”
Ia tercengang, lalu berkata, “Perkataan mereka sungguh menakutkan! Tidak tahukah Anda?”
Saya menjawab, “Saya tentu mengetahui banyak orang menghujat saya, meskipun demikian, saya sama sekali tidak terpengaruh!”
Ia berkata, “Saya sudah membaca artikel hujatan tersebut, bahkan saya bukan sebagai orang bersangkutan saja merasa terguncang dan iba kepada Anda, bagaimana mungkin Anda sama sekali tidak terpengaruh?”
Saya dengan tenang berkata, “Jujur kata, hujatan yang membeludak tersebut, satu kata pun tidak pernah saya baca.”
Ia berkata, “Tidak mungkin! Semua orang ingin membacanya, bahkan saya pun penasaran dan membaca satu per satu artikel tersebut, bagaimana mungkin Anda tidak baca?”
Saya berkata, “Saya tidak punya telepon genggam, tidak punya tablet, tidak punya laptop, bahkan saya tidak bisa menjelajahi internet, bagaimana membacanya?”
Ia bertanya, “Bukankah umat bisa mengunduhnya untuk Anda?”
Saya menjawab, “Memang betul ada yang mengunduhnya untuk saya, tetapi saya tidak punya waktu untuk membacanya, langsung dibuang ke tong sampah.”
Ia bertanya, “Apa mungkin tidak ada yang menuturkannya kepada Anda?”
Saya menjawab, “Ada, tetapi begitu ia buka mulut, saya langsung berkata tidak perlu diteruskan, saya tidak bakal mendengarnya.” Lantas balik badan dan melangkah pergi.
Ia bertanya, “Apa mungkin tidak ada yang membicarakannya?”
Saya menjawab, “Mereka tahu saya tidak bakal mendengar maupun membicarakannya, sehingga jarang yang membicarakannya.”
Ia bertanya, “Apa prinsip Anda?”
Saya menjawab:
“Tidak melihat.”
“Tidak mendengar.”
“Tidak berbicara.”
Sahabat yang bersimpati kepada saya ini berjalan lamat-lamat lalu turun gunung!
Terus terang saya katakan kepada para pembaca, saya merasa bersalah kepada para penghujat saya.
Mengapa? Sebab mereka telah memeras otak dengan segenap upaya menghina dan mencaci-maki lewat berbagai artikel, malah satu kata pun tidak pernah saya baca.
Saya merasa bersalah terhadap mereka yang telah membuang waktu, tenaga, dan uang, tetapi justru satu kata pun tidak saya baca.
Mohon maaf sebesar-besarnya! Sungguh tidak enak hati terhadap jerih payah dan semangat kalian.....................

Minggu, 29 Oktober 2017

Manusia dan Makhluk Halus Tiada Beda



Sepengetahuan saya, manusia dan makhluk halus tiada bedanya.
 
Adapun bedanya, sebagai berikut:
- Manusia mempunyai raga jasmani, makhluk halus tidak mempunyai raga jasmani.
- Manusia berenergi Yang, makhluk halus berenergi Yin.
- Manusia mati menjadi makhluk halus, makhluk halus mati menjadi manusia.

Demikianlah transformasi dari wujud yang satu ke wujud yang lain, sehingga disebut ‘bagaikan mimpi dan ilusi’. Sama sekali tidak salah jika dikatakan seperti mimpi ataupun sandiwara.

Di alam manusia terdapat negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana semuanya melakoni sandiwaranya masing-masing.

Alam halus juga terdapat negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana semuanya melakoni sandiwaranya masing-masing.

Coba direnungkan, jika makhluk halus dikatakan muskil, lantas apa yang tidak muskil dari manusia?

Perihal negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana yang tidak muskil?

Ketahuilah, alam halus juga sangat semrawut seperti alam manusia. Makhluk halus juga ada yang saleh, ada yang jahat, juga mempunyai perasaan bahagia, marah, sedih, dan gembira. Sesama makhluk halus juga bisa saling berseteru.

Manusia saling bersaing.

Makhluk halus juga saling bersaing.

Pada umumnya, makhluk halus takut pada manusia, hal ini dikarenakan manusia berenergi Yang, sedangkan makhluk halus berenergi Yin, energi Yin gentar terhadap energi Yang.

Makhluk halus mengganggu manusia dikarenakan beberapa hal, sebagai berikut:

1. Manusia menyerobot ke alam halus, mengganggu ketenangan makhluk halus, sehingga mereka menjelma wujud untuk mengusir manusia.


2. Makhluk halus berharap dapat dipuja manusia, sehingga sesekali suka memamerkan kekuatan gaib supaya manusia berkenan memuja dan memberi sesaji kepada mereka.



3. Ada juga makhluk halus berkekuatan besar yang suka berbuat ulah, tetapi mereka menghindari manusia yang berenergi Yang kuat, sebaliknya akan merasuki manusia yang bernasib buruk.



4. Manusia yang mendapat kerasukan akan jatuh sakit akibat gangguan makhluk halus. Ada pula yang saling memperalat, seperti yang bermata pencaharian sebagai medium.



5. Beberapa makhluk halus berperangai ganas yang semasa hidupnya diperlakukan semena-mena, mati dengan membawa rasa dendam dan amarah, lalu meminta izin Dewa Baka untuk membalas dendam di alam manusia.


Yang tersebut di atas adalah beberapa penyebab gangguan makhluk halus.

Ketahuilah, apabila manusia tidak menarik perhatian makhluk halus, makhluk halus tidak bakal tertarik pada manusia. Manusia bisa kesambet makhluk halus, pemicunya karena manusia itu sendiri.

Contoh:
- Orang yang berhawa nafsu besar akan ditempel hantu cabul.
- Orang yang berjiwa beringas akan ditempel hantu ganas.
- Orang yang berhati saleh akan ditempel hantu baik hati.
- Orang yang suka memburu harta akan ditempel hantu materi.
- Orang yang gemar berjudi akan ditempel hantu judi.
- Orang yang berjiwa sadis akan ditempel hantu jahat.
- Orang yang berjiwa pendendam akan ditempel hantu dengki.
- Orang yang mengidap penyakit autis akan ditempel hantu penyendiri.
- Orang yang mengidap penyakit depresi akan ditempel hantu temperamental.


Semua ini menunjukkan bahwa faktor pemicunya adalah manusia itu sendiri.

Saya pernah melihat:
- Seorang hartawan melintas, disertai oleh puluhan makhluk halus pecinta harta.


- Seorang wanita nakal berpenampilan menggoda, disertai oleh banyak hantu cabul.



- Seorang yang haus tahta, disertai oleh hantu pemburu tahta.



- Seorang yang berakhlak sejati, di sekelilingnya tidak ada makhluk halus.


Makhluk halus berani mengintimidasi atau tidak, semuanya berpulang pada batin manusia yang bersangkutan.

Apakah di samping Anda ada makhluk halus?

Ketahuilah, hal ini tidak perlu bertanya kepada saya, cukup tanyakan hati sendiri. Apakah ada perasaan bersalah?

Jika ada perasaan bersalah, wajar bila ada makhluk halus.

Jika tiada perasaan bersalah, niscaya tidak ada makhluk halus.


*sumber: Buku ke-243 -- Kisah Serba Muskil
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=254&id=4

Penuturan Seorang yang Hidup Kembali



Berikut sebuah penuturan dari Lianhua Pinde:
Ayah saya bernama Lianhua Guizhuan, selama ini beliau telah bersarana kepada Guru-guru dari berbagai aliran Buddhis seperti berikut:
- Aliran Sukawati, fokus menyebut nama Buddha.
- Aliran Zen, mempelajari jhana.
- Aliran Tantra Kagyu, mendalami Mahamudra.
- Aliran Theravada, menekuni Sila Vinaya.

Ayah saya hobi bergonta-ganti tempat ibadah. Jika Bhiksu Jepang yang berkunjung ke Taiwan, dari sekte seperti: Nichiren, Agon, Shinri Takahashi, Kiriyama Seiyu, dan sebagainya, ia pasti menghadiri semua ceramah Dharma mereka.

Ia juga pergi ke India, mengunjungi tempat pelatihan spiritual di sana. Selama berbulan-bulan tinggal di tempat ibadah dan berbaur langsung dengan sekte seperti Ananda maupun Sai Baba.

Ia mengunjungi Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan, bersarana kepada beberapa Rinpoche dan Bhiksulama di sana, seperti: Jumkun Kuntrul, Jamyang Khyentse, Urgyen Trinley, Tulku Urgyen, Chiqing, Jiazha….

Begitu mendengar saya hendak bersarana kepada Guru Lu, ayah juga mengikuti saya ke Vihara Vajragarbha Taiwan. Ia menerima Abhiseka Sarana dari Guru Lu dan turut menjapa “Om. Guru. Lian Sheng Siddhi. Hum”.


Suatu hari, ayahanda jatuh sakit, badan panas dingin, tidak sadarkan diri selama 3 hari. Pihak rumah sakit menyatakan ayahanda sedang dalam kondisi kritis.

Setelah beliau sadar dari koma, ia memberitahu kami kejadian sebagai berikut:
Ternyata ia telah memasuki alam baka, ia melihat banyak orang berada dalam barisan. Sewaktu tiba gilirannya, ia berkata kepada Raja Baka, “Saya adalah penganut ajaran Buddha.”

Raja Baka berkata, “Anda bukan penganut ajaran Buddha, tetapi penganut ajaran gado-gado.”

Ia berkata, “Saya bisa melafalkan Sutra Hati.”

Raja Baka berkata, “Coba lafalkan!”

Ia melafalkan Sutra Hati dalam bahasa mandarin dengan lancar, kemudian melafalkannya sekali lagi dalam bahasa Tibet.

Raja Baka berkata, “Pelafalan dengan mulut tidak dengan hati, terlebih lagi tidak memahami Kebenaran Sejati.”

Raja Baka lanjut berkata, “Anda bisa baca mantra?”

Ia mulai membaca mantra, yang bisa diingat, semuanya dibaca.
Raja Baka berkata, “Seperti burung beo meniru suara.”

Terakhir, ia membacakan sebait mantra berbunyi, “Om. Guru. Liansheng Siddhi. Hum”.

Raja Baka berkata, “Ini baru mantra yang paling berbobot!”

Ia bertanya, “Berbobot bagaimana?”

Raja Baka menjawab:
“Sebagaimana tubuh penjelmaan teratai. Berkat sebait kalimat ini, Anda tidak perlu berada di alam baka, kembalilah ke alam manusia untuk berbhavana!”

Oleh sebab itu, Lianhua Guizhuan, ayahanda dari Lianhua Pinde, sadar dari koma, dan penyakitnya pun sembuh.

Lianhua Pinde berkata:
“Ternyata yang paling berbobot adalah Mantra Padmakumara!”


*sumber; http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=254&id=9
Buku ke-234 -- Kisah Serba Muskil

Masuk ke Negeri Setan Raksasa



Suatu malam, saya masuk ke negeri setan raksasa, ini adalah sebuah negeri yang sangat menakutkan, ada setan berkepala besar, setan kotor, setan bermata satu, setan tak bertangan, setan tak berkaki, setan iga. 

....

Ada semacam setan yang sangat istimewa, organ dalam tubuh tergantung di luar tubuh, sekujur tubuh dirayapi oleh serangga.

Perilaku setan-setan ini:
- Asusila.
- Makan darah segar.
- Bicara cabul.
- Aneh.
- Memanjatkan kitab aneh.
- Menyembahyangi hantu.
- Telanjang.
- Saling membunuh, mengunyah tangan dan kaki.

Singkat kata, saya tidak mampu menggambarkan negeri setan raksasa, karena negeri ini, dunia setan raksasa ini, benar-benar adalah kota dosa, merubuhkan pemikiran saya, sepanjang hidup saya, tidak pernah terpikirkan ada dunia seperti ini. Di dalam pemikiran saya, tidak ada konsep seperti ini.

*

Saya teringat dengan orang-orang punk, pix, pecundang, hippie, preman berkumpul. Seperti sebuah rumah sakit jiwa yang tak bertepi.

Saya menerobos di antaranya.

Para setan melihat kedatangan saya, sekelompok setan menyerbu, saya melarikan diri, mereka mengejar, saya melarikan diri ke setumpuk reruntuhan.

Yang menakutkan adalah:
Saya menemukan Dharmaduta Zhenfo Zong. Di antaranya ada upasaka/sika dan bhiksu/ni.

Oh, Tuhan! Saya terperanjat.

Tak disangka mereka masuk ke negeri setan raksasa.

Sebagian sedang makan tanah. (hanya karena menelan mahavihara, vihara, dan cetiya)

Sebagian makan tembaga dan besi. (hanya karena menelan materi insan)

Sebagian minum darah. (keserakahan untuk memberi makan keluarga mereka)

Sebagian makan tulang manusia. (keserakahan akan rupa)

Sebagian berkomat-kamit, berkeliaran tanpa tujuan. (kehilangan sradha)

......

Semua ini melanggar Samaya.
Jijik! Jijik! Amis! Amis!

Orang-orang tersebut, jiwa dan raga mereka bernanah, sekujur tubuh menebarkan bau tidak enak, orang yang sangat menderita tak tertahankan, melihat kedatangan saya.

Ada yang tertawa bodoh.
Ada yang memperlihatkan taring dan memainkan cakar.
Ada yang melarikan diri.
Ada yang menengadah dan menggoyangkan ekor.

Saya melihatnya, tidak habis pikir, sangat tidak berdaya.

*

Saat ini, ada seberkas cahaya datang, muncul Dewa Samaya, dewa memancarkan sinar keemasan, tangan memegang penggaris Sila.

Ia berkata:
Semua benda yang dibuat, berakhir dengan kerusakan; semua kekayaan yang dikumpulkan, berakhir dengan kehabisan; semua pria dan wanita yang berwujud, berakhir dengan perpisahan; kehidupan apapun, akhirnya adalah kematian; semua bhajana-loka, berakhir dengan kehilangan.

Dengan demikian, masihkah serakah?
Dengan demikian, masihkah benci?
Dengan demikian, masihkah bodoh?

Mahaguru Lu! Anda harus beritahu orang-orang ini!

Saya berpikir:
Segala sesuatu di dalam tumimbal lahir, sungguh tidak ada artinya, hanya sumber penderitaan saja.

Saya sendiri juga harus sadar.
Kemudian menyadarkan insan lain.

Karena segala sesuatu di dunia manusia "tidak ada yang didapatkan", kita harus ada niat meninggalkan samsara dan terbebaskan.

*

Siswa mulia yang terkasih!

Saya prihatin dengan orang-orang yang terjatuh ke dalam negeri setan raksasa!

Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!


sumber: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8962
Buku ke-241 -- Bertemu Yidam

Om Guru Liansheng Sidhi Hum

Hantu Anak Perempuan di dalam Saku


Saat awal melatih diri, Bhiksu Liaoming menghendaki saya agar sepenuh hati dan sepenuh tenaga terjun ke dalam usaha menyingkirkan kerisauan dan pengembangan hati dan pikiran.

Bhiksu Liaoming berkata, “Kerisauan itu selalu ada, hanya dapat disingkirkan dan diuraikan dengan mata prajna.”

Saya mengerti, “Kerisauan laksana ombak, satu ombak belum reda, datang lagi ombak lain. Satu-satunya cara menghentikan kerisauan adalah menguraikan dan menyingkirkannya.”

Sementara, Buddha Sakyamuni menyingkirkan seluruh kerisauan dengan ‘sunya’.

Pangan – persembahan.
Sandang – simabandhana.
Papan – tidur bersinar.
Transportasi – ketekunan.


Sesungguhnya, setiap sendi kehidupan tidak dapat luput dari kerisauan, namun, sadhaka justru memperbaiki dan melatih diri dengan tekun lewat ‘memfokuskan pikiran’.

Misalnya:
Menulis buku, saya menulis satu artikel setiap hari untuk mengatasi kemalasan.

Bersadhana, saya bersadhana sehari sekali untuk mengatasi kekesalan.
Jika lelah, saya istirahat sebentar, begitu bangun, saya bermeditasi.

Saya mengenakan 3 jubah (pakaian dalam, baju atasan, dan rompi).

Suatu kali.
Saya membentuk mudra di baju atasan saya, di dalam saku baju atasan tak disangka mengeluarkan suara, “Mahaguru Lu, pelan-pelan.”

Saya bertanya, “Siapa?” Saya keheranan.

Ia menjawab, “Jangan tanya dulu siapa saya, mohon Anda jangan terlalu kuat saat membentuk mudra, atau, saya tidak mampu sembunyi di dalam saku baju atasan Anda.”

Saya bertanya, “Anda dari mana?”

Ia menjawab, “Mahaguru Lu berjalan di rumah abu Shifang Dajue, saat saya melihat Anda, saya tahu bahwa Anda dapat melindungi saya, sehingga saya masuk ke dalam saku baju Anda.”

Saya akhirnya ingat, saya pergi ke Vihara Shifang Dajue, saat patroli ke rumah abu, saya melihat sebuah guci abu, di atas guci ditempel foto seorang mendiang, mendiang adalah seorang siswi SD yang cantik jelita dan wajahnya sangat imut.

Begitu hatiku bergerak, saya sempat mendesah, “Aduh! Kasihan!”

Tak disangka, hanya satu pikiran ini, si hantu anak perempuan pun sembunyi di dalam saku baju saya.

Saya bertanya, “Mengapa kamu masuk ke dalam saku baju saya?”

Hantu anak perempuan menjawab, “Menjelajahi sepuluh alam Dharma, belajar cara melatih diri Anda.”

Saya tertegun begitu mendengarnya. Ternyata begitu pikiran seseorang bergerak, makhluk halus pun tahu. Dalam hati saya berpikir, apakah hantu siswi SD ini mempengaruhi pembinaan diri saya?

Hantu anak perempuan berkata, “Mahaguru, tenang saja, saya hanya menumpang di dalam saku Anda, tidak berpengaruh sedikit pun pada Anda. Anda boleh anggap saya tidak ada, juga tidak perlu menghiraukan saya. Saya hanya sesosok hantu anak perempuan, tidak akan mempengaruhi Anda, saku Anda hanya hotel untuk saya menumpang sementara, saat saya mau pergi, saya akan pergi dengan sendirinya.”

Tak disangka, ia langsung mengetahui pikiran saya.
Belakangan, saya malah lebih memperhatikannya, saya melindunginya, ia takut guntur, ia takut cahaya matahari pada siang hari, ia takut pisau yang runcing, saya selalu melindunginya.

Belakangan, saat ia pergi, ia sempat berkata, “Anda terlalu welas asih, Anda sangat baik hati, saya ingin sekali mencintai Anda!”

Ha! Ia benar-benar sesosok hantu anak perempuan yang polos dan lugu!


*sumber: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=270&id=9