Kamis, 10 Agustus 2017

Membakar Kertas Sembahyang


      Banyak orang berpendapat bahwa membakar kertas emas (kertas sembahyang) sebagai persembahan kepada Buddha, Bodhisattva, Dewa Pelindung, para mahhluk suci, maupun roh leluhur adalah suatu hal yang sama sekali tidak berguna dan harus segera dihentikan.

        Namun, coba pikiran hal berikut ini. Bila membakar kertas sembahyang adalah suatu hal yang semu dan tak ada gunanya, bukankah memelihara dan memuja patung Buddha juga merupakan hal yang semu? Sebenarnya, kedua hal diatas (membakar kertas maupun memuja patung Buddha) merupakan contoh dari metode "menggunakan yang semu untuk melatih yang asli". Contoh ketiga adalah tubuh fisik kita sendiri. Tubuh fisik kita ini terbuat dari 4 unsur (air, api, udara, tanah) dan panca-skandha. Untuk mencapai penerangan sempurna, kita (orang orang yang membina diri) menggunaka tubuh fisik ("diri kita yang semu") untuk menemukan "diri kita yang asli" (keBuddhaan). Kita melatih diri kita terus menerus sehingga sifat Buddha diri kita menampakkan diri. Penekanannya adalah pada "membina diri".

        Sewaktu kita melakukan puja bakti kepada para Buddha dan Bodhisattva, sepertinya kita memuja objek objek seperti kayu, batu, tembaga, atau porselin. Namun, dengan bervisualisasi bahwa para Buddha dan Bodhisattva yang sebenarnya menampakkan diri mereka di hadapan kita dalam bentuk yang terukir pada patung-patung tersebut, kita sebenarnya melatih diri dengan metode "menggunakan yang palsu untuk melatih yang asli".

        Ketika kita membakar kertas sembahyang sebagai suatu persembahan kepada para Buddha, Bodhisattva, Dewa Pelindung, dan makhluk suci lainnya, kita mengharapkan mereka menampakkan diri pribadi mereka untuk menerima persembahan kita itu. Bila hal yang sama dilakukan sebagai persembahan kepada roh-roh leluhur, kita mendoakan mereka supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesehatan. Sekali lagi, ini merupakan metode "menggunakan yang palsu untuk melatih yang asli". 

        Acarya Lian-han menanyakan perihal "membakar kertas sembahyang" ini kepada Maha Acarya Lu Sheng Yen. Beliau menjelas­kan didalam ceramah beliau, "Asalkan anda mempunyai pengertian tentang doktrin bahwa segala sesuatunya adalah dari pikiran, maka tidak akan muncul kontroversi."

        Membakar kertas sembahyang memang suatu hal yang semu. Demikian pula semua Dharmapun sebenarnya adalah semu. Namun, dengan membayangkan bahwa hal tersebut tidak semu, maka benar- benar terjadilah bahwa hal tersebut tidaklah semu. Supaya hasilnya menjadi efektif, kita harus mempunyai keyakinan bahwa membakar kertas sembahyang itu adalah suatu hal yang nyata dan bernilai. Karena daya pikir kita itu, maka jadilah kegiatan itu suatu hal yang nyata dan bernilai. Roh-roh leluhur kita memang menginginkan kertas-kertas sembahyang itu. Sedangkan kita membakar kertas-kertas sembahyang itu sebagai cara kita untuk menyampaikan hormat dan rasa welas asih kita kepada mereka.  Bila keinginan dan tujuan kedua belah pihak dapat tercapai dengan teknik membakar kertas sembahyang ini, mengapa harus mengharamkan teknik ini?
      
        Membakar kertas sembahyang, memuja patung Buddha, menyebut nama Buddha, dan membayangkan wajah Buddha yang agung, semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu melatih kekuatan kemauan/pikiran kita.

        Membakar kertas sembahyang dengan mengggunakan kekuatan pikiran dapat mengundang kehadiran para Buddha, Bodhisattva, dan para roh leluhur kita.  Para roh leluhur kita akan dapat terlahir di tanah suci (surga).

Sebuah kisah
        Kisah ini adalah mengenai seorang muda di Taiwan. Maha Acarya Lu Sheng Yen menjadi saksi peristiwa ini.

        Anak muda ini menderita penyakit yang sudah tak dapat disembuhkan. Sehari sebelum ajalnya tiba, ia masih merasa segar. Kedua matanya masih terang; ucapannya masih dapat dimengerti; ia tidak terlihat bingung. Namun ia berkata kepada kedua orang tuanya: "Ada banyak orang berdiri mengelilingi saya.  Sebagian diantara mereka saya kenal. Yang lainnya tidak. Mereka meminta uang dari saya. Bila tidak saya berikan, mereka tidak akan membiarkan saya pergi."

        "Tetapi tidak ada orang disini, hanya kami berdua, " kata orang tuanya.

        "Sungguh, mereka ada disini.  Bahkan paman yang meninggal tahun lalu ada disini.  Ia berusaha menarik saya tapi tidak berhasil."

        Kedua orang tuanya terkejut dan segera menaruh sejumlah uang di tangan putranya itu.  Ia melihat apa yang ditangannya itu dan berkata, "Ayah dan ibu, apa yang kalian berikan kepada saya bukanlah jenis uang yang diinginkan."

        "Tetapi ini adalah uang sungguhan, anakku!", kata orang tuanya dengan rasa takut.

        "Sungguh, ini bukan uang."

        Sang ibu mendapat ilham dan segera pergi ke toko terdekat untuk membeli banyak uang kertas sembahyang dan kemudian menaruh­nya di tangan putranya sambil bertanya apakah itu uang yang dimak­sud.

        Sang putra tersenyum dan berkata, "Benar, ini uang yang sebenarnya." Sehari sesudah itu, ia meninggal dunia.

        Ini merupakan kisah nyata. Orang yang mengisahkan cerita ini kepada saya (Maha Acarya Lu Sheng Yen) mengucurkan air mata sewaktu bercerita.
     
        Saya ingin menjelaskan bahwa banyak kejadian aneh terjadi ketika seseorang hampir menjelang ajalnya. Kebanyakan keluarga mempunyai semacam pengalaman mengenai hal ini. 

        Isu penting lainnya adalah mengapa kertas sembahyang yang dicetak di dunia ini dapat digunakan oleh dunia lain? Ini merupakan topik yang kontroversil. Neraka merupakan sebuah dunia roh. Kertas sembahyang yang dicetak oleh manusia, setelah dibakar, dapat berubah menjadi sesuatu yang bernilai kebatinan dengan menggunakan kekuatan kemauan kita.


*dikutip dari e-book Padmakumara-3, bab ke-1, kisah ke-1

Rabu, 09 Agustus 2017

Ceramah "Berbagai Aspek Agama"

(Rintangan dalam pembabaran dharma Buddha kepada para insan)

Ceramah Dharma Maha Acarya Lian Shen Lu Sheng Yen tanggal 22 November 1986 di Redmond, Washington
dikutip dari buku Padmakumara 15, artikel ke-7

Upaya menolong para insan untuk mencapai Penerangan merupakan sebuah tugas yang sulit dan penuh dengan rintangan. Orang kaya sulit percaya tentang pentingnya pelatihan rohani karena bagi mereka, uang itu sangat berkuasa. Orang orang yang berstatus sosial tinggi biasanya juga tidak mudah percaya karena mereka menganggap diri mereka sendiri jauh tinggi dibandingkan segala hal lainnya. Orang orang yang sangat sehat juga sulit percaya karena mereka merasa bahwa kepalan tinju mereka cukup kuat untuk bahkan mengalahkan para dewa.

Adakalanya pula, semakin berpengetahuan seseorang, semakin sulit baginya untuk mempunyai keyakinan rohani. Ia mungkin merasa bahwa ia sudah begitu pintar sehingga ia enggan untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain.

Orang orang yang panjang umur juga adakalanya sulit menerima keyakinan rohani karena mereka merasa bahwa hidup mereka selama ini sudah berjalan lancar tanpa perlu keyakinan rohani.
Sakyamuni Buddha berkata bahwa para dewa di alam alam surga tidak menaruh keyakinan pada keberadaan para Buddha. Karena para dewa ini menikmati pahala surgawi yang sangat besar, mereka tidak merasa perlu untuk percaya kepada para Buddha. Sakyamuni Buddha mengingatkan semua siswa nya untuk tidak mengejar keberuntungan dan untuk tidak bergulat untuk mau terlahir di alam alam dewa (surga). Ini karena kelahiran di alam alam surga (dewa) bisa kemudian mengakibatkan kelahiran di alam-alam neraka. Setelah seseorang menjadi dewa yang menikmati keberuntungan setiap hari, ia bisa saja akhirnya masuk ke dalam neraka sewaktu pahala nya habis. Jadi, orang orang yang menikmati keberuntungan juga tidak mudah untuk mempunyai keyakinan rohani.

Banyak orang yang berstatus sosial tinggi tidak beranjali (merangkapkan kedua tangan) sewaktu datang mengunjungi saya. Mereka menganggap diri mereka lebih tinggi. Mengapa mereka harus merangkapkan kedua tangan untuk menghormati seorang biksu pendek?

Banyak orang kaya yang datang mengunjungi saya juga tidak merangkapkan kedua tangan untuk memberi salam kepada saya. Di dalam benak, mereka berkata, "Saya bisa mengubur mu dengan uang saya."

Orang orang yang berusia lebih tua dari saya seringkali juga tidak merangkapkan kedua tangan untuk menyalami saya sewaktu mereka datang kesini. Mereka berpikir, "Saya sudah lebih banyak makan asam garam dibandingkan kau."

Orang orang sehat dengan tubuh fisik yang kuat juga tidak beranjali sewaktu menyalami saya karena mereka merasa bahwa dengan sedikit dorongan saja saya sudah bisa dibuat terjungkal.

Jadi, tidaklah mudah membuat orang mempunyai keyakinan rohani. Juga pada umumnya sangat sulit bagi putra putri untuk meyakinkan orang tua mereka supaya berkeyakinan rohani.

Banyak orang-tua merasa bahwa karena mereka adalah pihak orang tua, maka mereka tidak boleh mendengarkan omongan anak anak mereka, meskipun apa yang dikatakan anak anak mereka sangat meyakinkan.

Semua ini adalah rintangan rintangan dalam pembabaran dharma Buddha kepada para insan. Jadi, setelah anda menyadari bahwa status tinggi, uang, dan kekuasaan bisa menjadi perintang dalam menjalankan kehidupan rohani, anda seharusnya tidak lagi melekat pada ide ide yang bersifat mementingkan diri sendiri. Sesungguhnya, tak ada pemuasan keinginan diri yang dapat disejajarkan dengan kebenaran dharma Buddha.

Saat ini, hati saya dipenuhi dengan emosi besar. Topik yang saya akan bicarakan pada malam ini adalah topik yang telah saya berusaha hindari selama 5 tahun terakhir semenjak tiba nya saya di Amerika Serikat. Topik nya adalah "Berbagai Aspek Agama". Mengapa saya menghindarkan diri dari diskusi tentang topik ini? Saya kuatir bahwa diskusi diskusi seperti ini akan mengakibatkan kritik terhadap agama-agama lain. Namun, sebuah kejadian kecil yang terjadi belum lama ini di rumah tangga saya membuat saya berkeyakinan bahwa membahas sedikit tentang topik ini adalah layak adanya.

Inilah yang terjadi. Seorang guru "les" kami bayar untuk datang ke rumah kami untuk memberi bimbingan pelajaran tambahan bagi kedua anak kami. Pada mulanya, segala sesuatu berjalan lancar dan tenang. Anak anak kami merasa senang, dan si guru "les" pun senang terhadap anak anak kami. Dibawah bimbingan yang baik dari si guru 'les', anak anak kami membuat kemajuan besar dalam pelajaran pelajaran sekolah mereka.

Pada suatu hari, si guru les menelpon kami untuk memberitahu bahwa ia tidak lagi dapat datang ke rumah kami untuk mengajar. Sewaktu kami bertanya apa alasan nya, ia memberitahu saya bahwa alasannya berkaitan dengan masalah agama. Ternyata, guru les itu adalah seorang Kristen. Setelah menyadari bahwa saya adalah seorang biksu Buddhis, ia berkata bahwa ia telah diganggu oleh perasaan berdosa karena [ia merasa] bahwa ia tidak boleh melayani orang kafir (orang berdosa). Kejadian kecil inilah yang membuat saya ingin membahas topik ini pada malam hari ini.

Bukanlah niat saya untuk mengeritik agama-agama lain karena kritik semacam itu sangat mudah menimbulkan konflik. Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, ini semua sering disebut sebagai agama-agama monotheisme. Sedangkan, Hindu di India dan Taoisme di Cina sering disebut agama agama politheisme. Banyak orang juga menganggap bahwa Budhisme adalah sebuah agama politheisme. Sesungguhnya, semenjak semula, Sakyamuni Buddha hanya berbicara tentang "manusia" (insan). Beliau tidak berbicara tentang pemujaan "Buddha". Budhisme bukanlah agama politheisme. Budhisme mengajarkan manusia untuk menjadi Buddha dengan menyadari Kebenaran dan mencapai Penerangan Sempurna.

Meskipun topik pada hari ini diberi judul "Berbagai Aspek Agama", saya sesungguhnya adalah seorang yang menolak semua agama. Anda mungkin menganggap pernyataan saya ini aneh sekali. Bagaimana bisa seorang Guru rohani menolak agama-agama? Berbicara secara lebih mendalam, sesungguhnya tak ada agama di dunia ini. Agama adalah kelompok yang diciptakan manusia. Kebenaran Alam Semesta sudah ada semenjak dulu. Sebelum kelahiran Yesus Kristus, tak ada agama Kristen. Sebelum kelahiran Sakyamuni Buddha, tak ada agama Buddha. Sebelum lahirnya kedua pendiri agama itu, agama Kristen dan agama Buddha tidak ada. Apakah ini berarti bahwa Kebenaran juga tidak ada sebelum lahirnya kedua agama tersebut?

Kebenaran selalu hidup di alam semesta ini dan merupakan sifat alam semesta yang sempurna. Setelah sebagian dari Kebenaran ini ditemukan oleh pendiri pendiri agama, kelompok kelompok agama bermunculan. Namun, bahkan bila semua agama ini lenyap dari muka bumi, Kebenaran masih tetap hidup. Tujuan kita dalam melatih rohani sekarang ini adalah untuk menyadari Penerangan Sempurna, untuk mengalami Kebenaran Alam Semesta. Jadi, kejadian begitu banyak agama saling menyerang, saling mengeritik, saling berkelahi satu sama lain merupakan pelanggaran mendasar dari Kebenaran. Sebagian orang Kristen seringkali menganggap umat Buddha sebagai penyembah setan. Lalu, sebagian Muslim berkeyakinan bahwa umat Kristen dan umat Yahudi adalah orang kafir, bahwa umat Hindu adalah penyembah setan. Di masa lalu, ada orang orang yang mengeritik saya dan memanggil saya sebagai Maha Mara (Iblis Besar). Adakalanya, sewaktu saya bangun tidur di pagi hari, saya suka memandang wajah saya di cermin untuk melihat apakah rupa saya seperti setan. Rasanya tidak mirip kok.

Si guru 'les' tadi menyebut kami penyembah setan. Banyak orang Kristen berkata bahwa Lu Sheng Yen dari Seattle kemungkinan adalah anak Iblis! Banyak umat Buddha yang menganggap diri mereka sebagai umat dari aliran Budhisme yang lurus memanggil saya sebagai Iblis (Mara), sedangkan yang agak lebih sopan berpendapat bahwa sulit membedakan antara Buddha dan Mara. Sepertinya sampai sekarang, kecuali diri saya sendiri, tak ada yang memanggil saya seorang Buddha. [tawa pendengar]. Sesungguhnya, saya tidak akan pernah mengeritik orang orang lain sebagai Iblis. Saya merasa bahwa asalkan seseorang mencari Kebenaran, ia akhirnya akan menjadi orang suci sewaktu hati nya menyatu dengan hati Langit, menjadi seorang Buddha sewaktu hati nya menyatu dengan hati Buddha, menjadi seorang Bodhisattva sewaktu hati nya sangat welas asih dan menyatu dengan hati Bodhisattva.

Saya tidak meladeni [xxx] karena agama-agama adalah batasan batasan yang dibuat oleh manusia. Para "dewa" di alam alam surga punya kebiasaan buruk -- mereka mau semua orang untuk percaya kepada mereka saja dan tidak kepada orang lain. Orang yang percaya akan dapat hidup kekal. Orang yang tidak percaya akan masuk neraka. Ini sama dengan ultimatum yang dibuat oleh seorang figur legendaris dari Cina yang bernama Huang Chao yang memproklamirkan bahwa "barangsiapa mentaati nya akan hidup, barangsiapa tidak mentaati nya akan mati." [xxx] seringkali kedengaran mirip ultimatum Huang Chao, dinyatakan dengan satu tangan memegang sebilah pedang tajam dua sisi dan satu tangan lainnya memegang buku [xxx].

Masalahnya dengan dewa-dewa seperti ini adalah bahwa mereka suka mengucilkan pihak lain. Karena mereka menganggap tingkat diri mereka begitu tinggi dalam dunia roh, maka mereka tidak merasa perlu untuk percaya kepada para Buddha, malah sebaliknya semua orang harus percaya kepada mereka. Saya tidak merasa bahwa para dewa ini salah total karena ada hal-hal yang baik tentang ajaran ajaran mereka. Doktrin doktrin mereka menganjurkan semua orang di dunia untuk berbuat baik, untuk menjadi bajik, dan bahwa dengan percaya kepada mereka, manusia dapat naik ke surga. [xxx] Itulah satu perbedaan antara [xxx].

Sang Buddha mengajarkan kita untuk menyadari Kebenaran Alam Semesta. Ajaran Nya mencakup banyak hal. Ia menunjukkan kita jalan sekularisme (kemanusiaan) dengan mengajarkan moralisme. Ia menunjukkan kita jalan kedewaan dengan memiliki Hati Langit. Ia menunjukkan kita jalan arahat dengan meninggalkan keduniawian sampai memperoleh keberhasilan. Ia menunjukkan kita jalan bodhisattva dengan menaruh welas asih dan menolong para insan. Ia menunjukkan kita jalan KeBuddhaan dengan sesungguhnya mencapai Penerangan Sempurna. Dalam ajaran Budhisme, hanya ada perbedaan tingkat latihan, yang mirip dengan Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas, dan Universitas. Tak ada yang dikucilkan dalam sistim ini.

Saya adalah seorang Guru yang termasuk dalam kelompok yang menjunjung kebebasan.

Saya tidak mengucilkan atau mendiskriminasi agama-agama lain. Ambil contoh, kedua anak saya. Bila putri saya ingin menikah dengan seorang Kristen, bila putra saya ingin menikah dengan seorang Kristen pula, saya tidak akan melarang mereka. Saya menganggap bahwa anak anak saya mempunyai nasib (jodoh)nya sendiri. Karenanya, saya membiarkan mereka menjadi dewasa dengan bebas. Mereka berhak untuk merenungkan ide-ide mereka sendiri dan mencari kebebasan. Sewaktu si ayah berlatih Budhisme dan menjadi seorang biksu, tidak masalah baginya bila putra putri nya memilih untuk beriman kepada agama Kristen. Pintu dari aliran SatyaBuddha ini terbuka lebar dan mengijinkan orang orang untuk keluar masuk dengan bebas.

Sebagian orang-tua mungkin merasa bahwa apapun yang mereka yakini, maka anak mereka harus ikut meyakini pula. Tapi, saya menganggap segala sesuatu sebagai karma dan jodoh. Bahkan bila si guru 'les' mengajarkan anak anak saya untuk beriman kepada Yesus, untuk menyanyi lagu lagu pujian Kristen seperti "Sudah waktunya percaya Yesus", ini tidak masalah. Saya mendukung upaya orang untuk menyelidiki pikiran-pikiran mereka dengan bebas. Saya akan menjelaskan doktrin-doktrin utama Budhisme kepada anak anak saya, tapi bila mereka dapatkan bahwa Budhisme terlalu merepotkan, bahwa lebih mudah beriman pada agama Kristen, ... untuk pergi berpuja bakti di gereja pada hari Minggu, untuk menyanyi lagu-lagu pujian, untuk mendengar khotbah, untuk berbuat baik, dan untuk masuk ke surga kalau mereka beriman -- maka saya tidak akan melarang mereka.

Bila anak-anak saya lebih suka kepada kepercayaan kepercayaan yang sederhana dan tidak ingin mempelajari dharma Buddha yang mendalam, maka biarlah. Jadi, Guru yang sekarang duduk disini pada hari ini adalah seorang Guru yang demokratis, terbuka, dan liberal. Saya tidak akan ikut campur urusan orang lain, termasuk urusan anak-anak saya sendiri. Aliran kami adalah aliran yang demokratis, terbuka, dan liberal. Begitu pula, pandangan-pandangan keagamaan saya adalah demokratis, terbuka, dan liberal. Sungguh sayang bahwa guru 'les' itu tidak mendengar pandangan pandangan yang saya kemukakan disini pada hari ini.

Jadi, sebaiknya saya akhiri dengan "Om Mani Padme Hum" ataukah dengan "Amin"?

Om Mani Padme Hum.

Selasa, 08 Agustus 2017

Sebuah Telegram dari Langit


                Bila saya sedang tak berdaya, saya berdoa dengan setulus hati kepada para Budha dan makhluk suci.  Roh Roh dari langit ini selalu menjawab doa doa saya dan menolong saya.  Saya merasakan bahwa Dunia Sinar selalu menerangi Bumi yang retak ini.

                Perjalanan saya ke Australia diiringi oleh Mr. Lin Yung Mao.  Kami mengunjungi kota Sydney dan Melbourne.  Saya menyukai gaya hidup yang tenang dari bangsa Australia yang karena letak geografis negara mereka terpisah jauh dari dunia lain membuat mereka sangat kalem.

                Namun, dalam perjalanan pulang keluar Australia, saya menghadapi masalah sulit yang belum pernah saya alami.  Masalah ini muncul akibat kecerobohan dari travel agen kami. Penduduk Taiwan yang ingin mengunjungi Australia harus mendapatkan visa Hongkong. (Catatan: Pada saat itu, tidak ada penerbangan langsung dari Taiwan ke Australia sehingga orang harus ke Hongkong dulu untuk pergi ke Australia). Dalam perjalanan kami ke Sydney, kami harus melakukan transfer pesawat di Hongkong dan karena kami cuma menunggu di daerah transit di airport, tidak ada masalah yang timbul.  Tetapi, dalam perjalanan balik, flight connection membuat kami terpaksa bermalam di Hongkong.  Orang tidak diijinkan untuk tidur di daerah transit. Karena itu orang harus mempunyai visa Hongkong untuk keluar dari airport.  Masalah yang harus segera ditangani adalah bahwa airport Australia tidak mengijinkan penumpang tanpa visa Hongkong untuk naik ke pesawat.

                Tiket pesawat kami adalah dari Cathay Pacific Airlines. Baik airline maupun travel agen telah bertindak ceroboh.  Meskipun saya menyenangi perjalanan saya didalam Australia, mengalami situasi seperti ini tidaklah menyenangkan. Di negara asing yang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, kepada siapa kami harus menjelaskan masalah kami dan mengajukan permohonan? Kami melakukan hubungan dengan pihak airline. Manager dari Cathay Pacific Airlines yang bertugas di Melbourne memberitahu kami, "Kami ingin membantu tapi kami tidak dapat karena ini adalah urusan hukum."  Dengan kata lain, bagaimana orang dapat terbang ke Hongkong tanpa visa yang dikeluarkan Hongkong?

                Kami berusaha menjelaskan permasalahan sebenarnya. Karena pihak airline telah berbuat kesalahan menjual tiket kepada kami tanpa visa Hongkong, mereka juga bersalah dalam menciptakan situasi ini. Sebenarnya, orang Taiwan harus mempunyai baik visa Australia maupun visa Hongkong sebelum ia dapat pergi dari Taiwan menuju Australia. Setelah berkonfrontasi, sang manager akhirnya memberitahu kami bahwa ia akan mengirim telegram ke Cathay Pacific Airlines di Hongkong dan bahwa kami harus pergi ke airport pagi pagi sekali untuk mendapat jawaban dari Hongkong.

                Mr. Lin Yung Mau menoleh kepada saya dan berkata, "Yang berhak memberi ijin untuk naik ke pesawat adalah pihak imigrasi.  Bagaimana pihak airlines dapat menolong kita dalam hal ini?  Saya rasa situasi kita ini tak tertolong lagi."  Malam itu, Mr. Lin Yung Mao sangat kuatir sehingga tak dapat tidur.  Kedua matanya merah dan ia hampir saja menangis. Saya tetap tenang dan sebelum tidur, saya berdoa kepada makhluk suci dengan sekuat tenaga saya. Didalam hati, saya meminta dengan tulus dan berulang kali untuk suatu mujizat. 

                Tiba tiba, roh Bodhisattva turun dan ia mengangkat tangannya untuk menulis di udara empat huruf Mandarin yang bersinar keemasan. Tulisan itu berarti "Transit tanpa rintangan." Saya mengcopi ke4 kata itu di sepotong kertas putih dan menaruhnya didalam saku. Lalu saya tidur dengan tenang tanpa memberitahukan hal ini kepada Mr. Lin Yung Mao.

                Pada pagi dini di Melbourne International Airport, ternyata, kami memang menerima sebuah telegram yang berbunyi, "Ini untuk memberi ijin kepada Mr. Lu Sheng-yen dan Mr. Lin Yung Mao untuk naik ke pesawat menuju Hongkong. Visa dari kedua penumpang ini dijamin oleh Cathay Pacific Airlines." Kami sangat senang menerima telegram ini, meskipun Mr. Lin Yung Mao terus berkata, "Sungguh mustahil. Sungguh mustahil..." Jadi, dengan telegram ditangan, kami melewati pihak imigrasi dan memasuki daerah boarding. Tidak lama kemudian, kami naik keatas pesawat dan menunggu keberangkatan pesawat menuju Hongkong.  Bukankah semua berjalan lancar?  Tetapi ternyata urusan belum selesai sepenuhnya.

                Sewaktu pesawat sudah hampir berangkat, seorang petugas imigrasi bergegas naik ke pesawat dan menghentikan keberangkatan pesawat. Sambil memegang sebuah telegram ditangannya, ia memang­gil nama saya. Telegram ini berisi pesan, "Jangan ijinkan Mr. Lu Sheng-yen naik pesawat ke Hongkong karena ia tidak mempunyai visa Hongkong. Saya terperanjat untuk mendapatkan bahwa telegram itu juga dikirim dan ditanda tangani oleh pihak Cathay Pacific Airlines.  Petugas imigrasi menginginkan kami untuk turun dari pesawat karena pesawat itu harus segera berangkat.  Saya mengajukan beberapa permohonan kepada petugas imigrasi itu:  pertama, mereka harus memberi saya visa Australia karena visa Australia saya telah dicabut ketika saya melewati counter imigrasi.  Kedua, karena koper saya berada didalam pesawat, saya meminta koper saya dikembalikan segera. Ketiga, saya meminta mereka mengongkosi biaya tinggal dan makan untuk tinggal di Australia sampai visa Hongkong kami dapat dikeluarkan karena saya telah menghabiskan semua uang saya.  Petugas imigrasi itu kebingungan karena ia tidak dapat memenuhi ketiga permintaan ini. Saya juga mengeluarkan telegram pertama dan menunjukkannya kepada petugas imigrasi itu. Setelah membacanya, ia merasa tercengang. Tapi, ia berkeras akan peraturan dan meminta saya untuk turun dari pesawat. Selama 20 menit, kami berada dalam situasi yang tak terpecahkan, dengan semua penumpang pesawat memandang kami. Akhirnya, pilot pesawat keluar dari kokpit dan menjadi juruselamat saya.  Dengan tersenyum, ia mendengarkan permasalahannya dan membaca kedua telegram. Ia kemudian memberitahu petugas imigrasi itu bahwa ia akan menaruh tanda tangannya diatas sepotong kertas untuk menjamin saya. Setelah itu, sang pilot menepuk pundak saya.  Pada saat itu, barulah petugas imigrasi mulai tersenyum dan berkata kepada saya, "Anda sungguh beruntung." 

                Sewaktu pesawat naik keangkasa dengan halus, saya mengeluarkan sepotong kertas putih yang saya simpan itu dan menunjukkannya kepada Mr. Lin Yung Mao kata kata yang tertulis: "Transit tanpa rintangan". Ternyata, mereka tidak dapat merintangi kami dari melakukan transit.

                Ketika kami tiba di Hongkong, kami menyelidiki sumber dari telegram pertama. Cathay Pacific Airlines di Hongkong menyangkal dengan tegas bahwa mereka mengirim telegram mustahil seperti itu.  Mereka percaya bahwa telegram itu palsu adanya. Dengan marah, mereka sampaikan bahwa menurut hukum internasional, sebuah airline dapat dihukum berat kalau mengangkut penumpang tanpa visa. Karena kejadian ini, pekerja dari pihak travel agen dan pihak airline kemudian mendapat hukuman dan penurunan pangkat. (Saya menyesali tindakan hukuman yang dijatuhkan kepada mereka).

                Karena vefifikasi tentang telegram dari airline itu tidak membawa hasil, saya mencari jawaban dari Roh Suci. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab.


                Ini adalah kesimpulan saya:  Roh Suci pasti telah menggunakan kekuatan batinnya pada petugas pengirim telegram sehingga menyebab­kan dia terhipnotis sementara waktu dan mengirim telegram tanpa menyadari tindakannya itu. Telegram dari langit.



**Padmakumara-4, Bab 1, kisah no.2
(dari hal 5-8 buku "The World as Revealed by the Third Eye", karya no. 41 dari Grand Master Lu Sheng-yen yang diterbitkan
pada Januari 1983 dalam bahasa Mandarin)

Rabu, 02 Agustus 2017

KEPITING BESAR


Ada seorang umat yang suka mengkonsumsi  kepiting besar.

Kepiting besar di danau Hongze berkembang biak dengan subur pada musim gugur. Disetiap menu makanan umat ini pasti ada kepiting besar, lengkap dengan telur kepiting yang berwarna kemerah-merahan dan lemak kuning yang berwarna keemasan.  Kenikmatan aromanya sungguh membuat nafsu makannya berlipat ganda. Kepiting besar merupakan makanan favoritnya.

Suatu malam ia bermimpi (sebenarnya ia sudah mengalami infark otot jantung. rohnya sudah terlepas dari tubuh) melayang keluar dari rumah. Tiba disebuah negeri  transparan, ia terus berjalan menelusuri seruas jalan. Tampak ditepi sungai  terdapat segerombolan pria dan wanita sedang mengusung sebuah tandu.

Mereka menari gila-gilaan. Tandu diputarkan kesana-kemari, naik dan turun tanpa berhenti. Seakan-akan sedang menyambut kedatangan umat ini.

Pintu tandu tiba-tiba terbuka, dan mereka ingin ia masuk dan duduk di dalamnya. Saat itulah tiba-tiba ia teringat pernah membaca buku karya Buddha hidup Lian Sheng Lu Sheng-yen yang berjudul "Mengarungi Samudera Samsara", [dimana didalamnya ada dituliskan:]

     Tandu -- adalah kepiting besar
     Pria dan wanita -- adalah ikan dan udang
     Negeri Transparan -- adalah sungai atau Danau

Begitu ia tersentak kaget dan berseru ; "Amitabha!"', tandu segera menghilang. Gerombolan pria dan wanita itupun menghilang, negeri transparan juga menghilang.

Ada sesosok Bodhisattva berkata kepadanya ; "Anda sebenarnya adalah orang yang memiliki dasar kebajikan, sehari-hari juga membaca  sutra dan bersembahyang. Namun Anda gemar makan kepiting besar, sekarang ini sudah mengalami infark otot jantung. Kini Bodhisattva sengaja datang menolongmu. Bagaimana kalau Anda berpantang makan kepiting besar?"

Ia dengan sendirinya menganggukkan kepala.

Bodhisattva tidak memberi komentar lagi. Bagaikan diberikan pengobatan akupuntur, pembuluh darah umat ini yang sudah tersbumbat tiba-tiba lancar kembali. Ia terbangun oleh teriakkannya sendiri. Separuh badannya terasa mengeras, perlahan-lahan baru dapat bergerak. Sekujur tubuhnya berkeringat bak hujan. Ia merasa napasnya perlahan-lahan pulih seperti semula.

Ia sadar bahwa tadi dirinya sempat meninggal dunia. Sambil mengelus-elus jantungnya, samar-samar ia masih merasakan kesakitan bekas akupuntur. Semenjak mimpi meninggal dunia kali itu. Ia pun bersarana pada Zhenfo Zong dan menerima Bodhisattva Sila. Ia tidak lagi membunuh dan memakan kepiting besar. Ia bervegetarian selamanya.

Teman-teman lamanya tahu bahwa ia gemar makan kepiting besar, dan sengaja membeli kepiting besar untuk dihadiahkan kepadanya. Ia membebaskan - melepaskan semua kepiting tersebut ke habitat alam sambil menjapa mantra penyeberangan.


Ia berkata. "Hari ini saya memakannya, kelak orang lain yang memakan saya, lalu saya bereinkarnasi menjadi kepiting besar. Sungguh menakutkan!"


* dari buku ke-173 Satu Mimpi Satu Dunia, kisah ke-15
* buku bisa dibeli di Tokopedia

Senin, 31 Juli 2017

Tarian Ular Emas



Aku selalu menyukai gunung gunung dan telah mendaki banyak diantaranya. Telah banyak kuil di gunung yang kukunjungi. Diantara­nya ada satu yang sangat istimewa yaitu yang dihuni oleh seorang bhiksu yang latihan batinnya telah sangat tinggi.

Ketika aku mengunjunginya, kuil itu sangatlah sepi. Hanya suara suara burung yang terdengar.

"Pak Lu, saya membutuhkan pertolongan anda," kata bhiksu tersebut.

"Apa yang saya dapat bantu?"

"Belum lama ini ada seorang yang tidak waras datang kesini untuk menetap. Dulu ia pernah menjadi penyantun (pemberi) dana bagi kuil ini, tapi tiba tiba ia menjadi terganggu kewarasannya. Ia telah mengunjungi banyak dokter dan rumah sakit, tapi sama sekali tidak menolong. Keluarganya mengirimnya kemari untuk menetap dengan harapan sang Buddha akan menyembuhkannya, tapi sampai sekarang belum ada tanda tanda kemajuan dalam dirinya.  Ia berteriak teriak setiap malam. Dapatkah anda menolongnya?"

"Pria atau wanita?"

"Pria."

"Berapa umurnya?  Siapa namanya?"

"Ia berusia kira kira 40 tahun.  Namanya adalah Kuo Te-hui."

Tempat penginapan berada dibelakang kuil tersebut, dikelilingi oleh taman bunga bunga.  Seorang bhiksu muda sedang menyapu daun daun yang berguguran.
Pasien tersebut dikunci dikamar terakhir dari tempat penginap­an tersebut. Kami melihatnya dari balik jendela dan mendapatkannya sedang berdiam diri tak bergeming. Ia tidak menoleh sekilaspun kepada kami. Sarapan nya terletak di meja, tidak disentuhnya. Setiap hari ada orang yang datang merawatnya dan memberinya makan. Ia tidak kelihatan lemah, tapi ia sama sekali tidak bergeming sedikitpun.

"Ia berteriak setiap malam sepertinya ia sedang marah dan berkelahi dengan seseorang."

Aku mengamati aura (sinar yang terpancar dari seseorang) diatas kepalanya dan mendapatkan asap hitam disana.  Aku mengguna­kan mata batinku untuk melihat dengan lebih seksama.  "Saya melihat dua ular berwarna emas sedang melingkar lingkar," kataku.

"Oh, benar sekali. Benar sekali. Setiap kali ia berteriak "ular", "ular", "ular itu datang lagi", "ular dimana mana", "tolong". Pada mulanya kami memeriksa seisi kamarnya untuk barangkali menemukan ular ular tersebut, tapi tidak pernah ditemukan. Karena itu kami tahu bahwa ia tidak waras. Kami tidak menghiraukan teriakan teriakannya sejak saat itu."

"Apakah kalian memberikannya obat obatan?"

"Ya, dokter telah memberikan resep obat untuknya."

Aku kemudian kembali ke ruang kuil, menyalakan hio, dan bersujud dihadapan arca Buddha. Aku bermeditasi selama 5 menit, kemudian menoleh kepada sang bhiksu serta berkata, "Dapatkah anda mengundang keluarganya kesini?"

"Ya, keluarganya datang kesini setiap minggu."

Sewaktu kedua kalinya aku mengunjungi gunung itu, sang bhiksu mengenalkanku dengan Nyonya Kuo. Ia masih muda dan menarik; dulunya seorang guru sekolah.  Mereka dikarunia dengan dua anak; satu putra dan satu putri. Mereka menetap di sebuah rumah yang nyaman di kaki gunung. Pak Kuo mengoperasikan dua buah pabrik.

"Apakah kalian pernah membunuh ular ular di rumah kalian?" aku bertanya kepadanya.

"Tidak."

"Lalu siapa yang membunuh ular ular itu?"

"Pembantu rumah kami."

"Kapan?"

"Kira kira beberapa hari sebelum ia jatuh sakit."

"Kalau begitu itulah sebabnya."

"Pembantu itu tidak ada hubungannya dengan suami saya. Lagipula, sekarang ini muncul banyak restauran restauran disana sini yang menyediakan masakan ular. Banyak orang menyantap ular.  Hati suami saya sangatlah baik; ia percaya dengan ajaran sang Buddha, dan ia telah banyak berdana kepada kuil. Mengapa sang Buddha tidak melindunginya?"

"Harap anda jangan marah. Pak Kuo menciptakan situasi ini sewaktu ia berusia 33 tahun."

Ia terdiam sejenak, kemudian ia menjawab,"Pak Lu, usianya sekarang 43 tahun; jadi berarti kejadiannya 10 tahun yang lalu. Bagaimana anda bisa tahu?"

"Buddha memberitahuku."

Ceritanya adalah sebagai berikut:
10 tahun yang lalu, Kuo Te-hui bermain asmara dengan seorang wanita lain. Rahasia ini akhirnya diketahui oleh nyonya Kuo dan membuatnya sangat marah. Wanita kedua tersebut menjadi hamil. Berada didalam posisi yang sulit ini, Pak Kuo akhirnya memberi wanita kedua itu sejumlah uang dan mengusirnya. Tetapi wanita itu sangat mencintai Pak Kuo dan tidak mau mengambil uangnya. Ia meloncat kedalam lautan, membunuh diri.

Tidak lama setelah wanita itu membunuh diri, dua ular muncul di rumah Pak Kuo. Ular-ular itu sangatlah gesit; mereka menghilang setiap kali didekati manusia. Tetapi enam bulan yang lalu seorang pembantu rumah Pak Kuo membunuh ular ular itu. Sejak saat itu Pak Kuo menjadi hilang ingatan.

Nyonya Kuo terdiam mendengar hal ini. Sang bhiksu melafal nama Buddha.

"Pak Lu, apakah ada jalan keluarnya?"

"Pada jaman sekarang manusia tidak lagi percaya tentang reinkarnasi. Ada yang percaya adanya surga dan neraka. Tapi yang lainnya berkata bahwa surga dan neraka hanya ada di benak pikiran atau dihati -- tidak betul betul ada. Orang mau percaya atau tidak, hukum karma tetap berjalan tanpa pilih kasih. Hanya suami anda yang dapat menyelesaikan karma ini. Ketika ia telah melunasi karma buruknya, ia akan sadar kembali. Resep obat tidak akan menolong sekarang ini," kataku.

"Kalau kita memohon kepada sang Buddha, apakah akan membantu?" Nyonya Kuo bertanya dengan penuh kekuatiran.

"Sifat Buddha Dharma adalah kosong dan hening. Tidak ada Dharma yang dapat muncul di waktu yang tidak sesuai. Memaksakan sesuatu untuk terjadi di waktu yang tidak sesuai tidak akan berguna; karena itu, doa doa saya sekarang ini tidak akan menolong. Ikatan harus dibuka oleh orang yang mengikat. Janganlah kuatir. Biarkanlah segala sesuatu berjalan secara alamiah."

Aku memandang kepada arca sang Buddha.


Aku merasa sedih untuk pasangan muda ini meskipun aku tahu bahwa masalah mereka akan terpecahkan pada suatu saat.


*sumber: e-book Padmakumara-1, kisah ke-31

Minggu, 30 Juli 2017

Permohonan Dewa Pohon


Suatu malam, sesosok Dewa Pohon datang menemui saya.

Saya tidak merasa heran kalau pepohonan juga memiliki Dewa Pohon. Dalam kitab sutra menyebutkan adanya dewa-dewa lain seperti Dewa Udara, Dewa Tanah, Dewa Surya, Dewa Candra, Dewa Bintang, Dewa Air, Dewa Api, Dewa Angin, Dewa Sungai, Dewa Laut, Dewa Gunung, Dewa Tanaman.

Dewa Pohon yang satu ini sudah ratusan tahun melatih diri, Ia menampakkan diri dalam wujud manusia kepala mengenakan kain berwarna hijau, wajah berwarna emas, badan memakai jubah bergambar sepasang naga, tangannya banyak dan tak bisa diam, memakai ikat pinggang kain sutra, kakinya terpaku pada sepatu boot tinggi, beralis panjang dan bermata lebar yang penuh cahaya, jenggotnya panjang amat bergaya.

Dewa Pohon berkata "Saya sengaja kemari untuk menemui Guru Lu"

"Ada masalah apa?"

"Ada satu masalah , mohon bantuan"

"Coba katakan"

"Terus terang, saya sudah melatih diri di lereng bukit selama ratusan tahun, lalu seseorang membangun villa di depan saya, aman-aman saja, namun, belakangan ini ada seorang guru fengshui beranggapan bahwa pohon besar di depan villa memberi dampak yang tidak baik terhadap fengshui villa, ia menganjurkan agar pohon ini mesti ditebang. Tuan rumah villa menjadi takut mendengarkan hal ini, tetapi agak ragu juga, sehingga besok tuan rumah villa ini akan minta petunjuk pada Guru Lu, mohon Guru  Lu berkenan mengamankan nyawa pohon saya ini"

"Apakah benar berdampak tidak baik terhadap fengshui villa?"

"Sama sekali tidak. justru keberadaan saya menjadi sebuah bentuk payung suci yang melindungi keluargaa pemilih villa tersebut"

"Andaikata ditebang?"

"Pasti tertimpa malapetaka"

"Apa ciri-ciri tuan rumah villa ini?"

"Tuan rumah villa ini sedikit botak, diatas bibir terdapat tahi lalat, mudah dikenali. Ia memiliki dua purta satu putri, semuanya pintar-pintar, istrinya seorang pelukis beraliran Shanghai, istrinya adalah seorang Kristiani"

"Cukup jelas, saya sudah faham !"

***

Keesokan harinya, diantara orang-orang yang datang konsultasi, ternyata ada seorang yang kepalanya agak botak, diatas bibir terdapat tahi lalat, berusia sekitar 40-an, wajahnya rapi berseri-seri, mulutnya agak besar, mengenakan stelan jas, tampak semangat.

Saya melambaikan tangan kepadanya sambil bertanya "Anda datang untuk menanyakan masalah tebang pohon?"

Ia terperanjat, "Benar"

"Anda tinggal di lereng bukit?"

"Benar"

"Anda memiliki dua putra dan satu putri?"

"Benar"

"Istri anda seorang pelukis dan seorang Kristiani?"

"Benar"

"Anda pulang saja, tidak perlu tebang pohon, pohon tersebut tidak mempengaruhi fengshui rumah justru merupakan bentuk payung suci. Jika anda tebang, pati tertimpa petaka, sekarang segalanya baik-baik saja, buat apa  menebang pohon?"

Ia berkeringat dingin, tak mampu berargumentasi banyak, lalu bertanya "Guru Lu, saya belum membuka mulut, bagaimana Anda bisa tahu semuanya, Apakah Anda seorang dewa?"

Orang-orang disekitar situ pun ikut merasa kagum.

Saya tertawa, "Saya bukan dewa, tetapi paling tidak juga setengah dewa-lah"

Tuan rumah villa ini beranjali, belakangan ia sekeluarga minta bersarana.

Sebait gatha berbunyi sebagai berikut:
   Pagi dingin di villa lereng bukit 
   Pohon besar laksanana payung memandang jauh
   Masalah tidak menyentuh tempat ini
  Tidak turuti omong kosong malah aman



*dari buku "Kisah Unik Gunung Selatan", buku ke-219, kisah ke-33