Sabtu, 07 April 2018

Berbagai Sikap Terhadap Nyamuk Yang Menggigit


Saya ingat pernah suatu kali seorang pewawancara bertanya kepada Dalai Lama, “Apa yang Anda lakukan saat nyamuk menggigit Anda?”
Dalai menjawab, “Saya akan menggerak-gerakkan badan supaya nyamuk itu pergi.”
“Jika tetap menggigit bagaimana?”
Dalai menjawab, “Saya meniupnya supaya nyamuk itu pergi.”
Wartawan lanjut bertanya, “Jika nyamuk itu tetap tidak pergi bagaimana?”
Dalai menjawab, “Sekali tepuk, nyamuk pun mati!”
(Awalnya tidak membunuh, apa boleh buat)

Ada lagi:
Biksu Haitao dalam ceramah Dharma berkata seperti ini:
Saat nyamuk menggigit saya adalah saat yang paling tepat bagi saya untuk melatih pelepasan ‘kemelekatan diri’.
Biarkan nyamuk menggigit.
Biarkan nyamuk kenyang mengisap darah sadhaka, biarkan nyamuk bergembira, biarkan nyamuk berbahagia.
Ini adalah upaya berdana.
Sekaligus merupakan saat yang tepat bagi sadhaka untuk melatih pelepasan terhadap kemelekatan.
Yakni pelepasan terhadap:
- kemelekatan rasa gatal.
- kemelekatan rasa sakit.
- kemelekatan diri.
Batin sadhaka tidak bergejolak sama sekali!
Komentar saya:
Ini berarti memberi kebahagiaan kepada nyamuk!
Ini berarti menolong nyamuk terbebas dari derita kelaparan!
Ini berarti upaya berdana dengan penuh sukacita!
Ini berarti Mahamaitri tanpa batas dan Mahakaruna universial.
Ini berarti Upeksa tak terhingga.
Akan tetapi, bila merebak penyakit demam berdarah, virus Zika, bakteri mematikan...
Bagaimana?
Mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkan nyamuk?
Luar biasa!

Ada lagi:
Ada orang bertanya kepada saya, “Mahaguru! Apa yang Anda lakukan saat nyamuk menggigit Anda?”
Saya menjawab, “Plak! Langsung tepuk mati!” (tanpa berpikir panjang lebar)
Orang bertanya, “Bukankah itu melanggar Sila tidak boleh membunuh?”
Saya menjawab, “Bukan demikian, sebenarnya saya sedang menyeberangkannya, supaya nyamuk ini lekas meninggalkan alam nyamuk, terlahir di alam luhur.”
“Caranya bagaimana?”
Saya menjawab, “Saya menjapa sebait kalimat berbunyi: ‘terseberangkanlah ke Alam Suci, bebas dari Samsara, Namo Amitabha Buddhaya.”
Lalu mengembuskan setarik napas dari mulut saya, melakukan ritual penyeberangan.
Orang bertanya, “Apa nama metode ini?”
Saya menjawab, “Sadhana BINASA PARAMITA” [sun: hehehe, lucu ya]
Orang bertanya, “Apakah ini termasuk cara welas asih?”
Saya menjawab, “Mahawelas asih!”
Ketahuilah, pahami bahwasanya Buddhadharma merupakan Jalan Kebenaran, Jalan Kebenaran ini mencakup metode konvensional maupun metode inkonvensional. Sadhana Binasa Paramita yang dimaksud di atas merupakan upaya Mahabodhisatta yang tak terbayangkan, hal yang mana tidak dapat dipahami oleh orang awam.
Kita tidak terpaku pada aspek eksternal, melainkan lebih mementingkan aspek internalnya, semangat adikodrati seperti ini menjadikan Buddhaksetra sebagai orientasi, menjadikan Kebenaran Hakiki sebagai realita sejati, jika bukan oleh seorang Arya Vimalakirti, maka sungguh mustahil untuk dipahami!

om guru lian shen siddhi hum
**dicopas dari; http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=267&id=12

Jumat, 23 Maret 2018

SALIRA SEBAGAI BUKTI



         Berita yang akhir akhir ini menimbulkan kegemparan luar biasa di kalangan Budhis adalah sebagai berikut: "Beberapa tahanan dari penjara Chang-yi Singapura yang akan menjalankan hukuman mati telah memutuskan untuk mengangkat guru kepada Living Budha Lian-Shen dan dengan tekun melatih diri dengan Dharma Tantrayana Cen Fo Cung. Hasilnya, setelah mereka menjalankan hukuman mati dan dikremasikan, sarira (reliks) ditemukan dari sisa sisa kremasi." Berikut ini adalah catatan mengenai sarira sarira yang ditemukan dari sisa sisa kremasi ke empat tahanan (siswa saya) yang menjalankan hukuman mati:

(1) Lianhua Ah‑lin‑He, melatih diri dengan Catur Prayoga selama kira kira satu tahun. Ia dihukum mati pada tanggal 6 Septem­ber 1991. 
         Setelah dikremasikan, 12 sarira ditemukan.

(2) Lianhua Ching‑wen‑He, melatih diri dengan Catur Prayoga selama kira kira 3 tahun. Ia dihukum mati pada tanggal 15 November 1991. 
         Setelah dikremasikan, lebih dari 30 sarira ditemukan.

(3) Lianhua Bao‑sheng‑He, melatih diri dengan Yidam Cundi Yoga selama 3 tahun dan 9 bulan. Ia dihukum mati pada tanggal 28 Maret 1992. Setelah dikremasikan, tiga sarira ditemukan. Keesokan harinya, sebuah sarira lagi ditemukan yang tumbuh dari ketiga sarira pertama.

(4) Lianhua You‑ching‑He, melatih diri dengan Yidam Padmakumara Yoga selama 4 tahun dan 5 bulan. Ia dihukum mati pada tanggal 3 April 1992. Setelah dikremasikan, banyak bunga sarira dan 20 sarira mahkota ditemukan.  

Sarira biasa juga disebut "relics" dan hanya ditemukan pada sadhaka sadhaka yang telah mencapai tingkah keberhasilan pembinaan diri yang tinggi.

Sejak dahulu kala, sarira dianggap sebagai bukti dari pencerahan.

Bila sarira ditemukan setelah seorang rahib penting/senior dikremasikan, orang orang akan menempatkan sarira itu di altar dan memujanya.

Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa aliran Cen Fo Cung dari Living Buddha Lian-Shen adalah sebuah aliran Buddhis yang di jalan yang benar dan bahwa Dharma Tantrayana Cen Fo Cung adalah Dharma Buddhis yang benar pula.

Ini didukung dengan fakta bahwa mereka yang melatih diri dengan dharma ini, tahanan hukuman mati sekalipun, akan mencapai keberhasilan pembinaan diri yang besar. Sekarang apa yang dapat dikatakan oleh orang orang yang menyampaikan tuduhan tuduhan negatif?
Semua gosip telah hancur!
Saya ingin menasihati mereka yang mengatakan Cen Fo Cung sebagai aliran sesat untuk melihat fakta dan bukti.
Saya menganjurkan mereka untuk dengan tulus memperbaiki kesalahan mereka dan mengubah jalan hidup mereka.
Mereka pun dapat melatih diri dengan Dharma Tantraya­na Cen Fo Cung. Janganlah ragu lagi.
Janganlah menanam benih di neraka!


**Dikutip dari ebook Padmakumara-02, artikel no.1.7 
Judul asli: Ditemukannya Sarira Sebagai Sebuah Bukti
(Judul asli: Dharma Budha yang benar, oleh Maha Acarya Lu Sheng-yen,
Diterjemahkan dari suratkabar "The Hwa Yu Post" No. 27, tanggal 14 Agustus 1992)

Selasa, 20 Maret 2018

Menjapa Mantra Buddha


Dalam menjalankan Agama Buddha Tantrayana ada 3 hal yang harus dijalankan untuk mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, yaitu :
1. Menjapa Mantera
2. Meditasi
3. Melaksanakan Api Homa

Dari ketiga hal, yang paling gampang dan harus dijalankan adalah yang nomor satu Menjapa Mantera.

Simak syair di bawah ini


Menjapa  MANTRA BUDDHA

Jangan ragu-ragu menjapa mantera Mudah mengikis dosa dan karma
Menyadari dunia fana bagaikan penjara.
Harta dan tahta hanyalah lilin yang menyala
Lahir, tua , sakit , mati sudah hal biasa
Timbul lenyapnya cinta kembali sirna
Mendalami mantra Buddha dan mulai bersadhana
Kelak menetap abadi di Surga Sukhavatiloka.

Mantera dalam tantra Buddha disebut juga Dharani, memiliki makna penjapaan pokok artinya segala penjapaan mantra tiada batas, kita menyebutkan-nya sebagai kata sejati, cahaya mantera, hati Tathagata, Ratna manikam.

Yang menapaki sadhana dalam Buddha dharma akan menyadari bahwa Buddha dharma adalah maha tinggi, takjub dan unik.

Memiliki banyak ratna permata antara lain sunya yang sejati, kebijaksanaan, pandangan benar dari Madyami-ka, Abhijna dari Vijnapti dan yoga ekarasa. Paling dasar mendalami Yoga eka-rasa memasuki mantera Buddha.

Mantera Buddha bisa mengabulkan semua doa kita yang bajik, bisa meluruskan segala urusan besar seperti pertobat-an,rejeki, kerukunan, penaklukan agar kemakmuran bisa tercapai, panjang umur bahkan mencapai Anuttara Bodhi (keBuddhaan).

Semua mantera berasal dari Buddha Bodhisatva yang prihatin atas penderitaan mahluk hidup, demi menolong mahluk hidup agar terbebas dari duka maka dharani itu diwariskan langsung oleh Buddha Bodhisatva.

Kitab intisari Tantrayana menyebutkan “pahala menjapa mantra dan menyebut nama Buddha bagaikan gunung semeru dan samudra luas. Bila hanya menyebut nama Buddha tanpa menjapa mantra, pahala hanya sebatas gunung wangi saja”.


Kitab Anuttarje mengatakan “menyebut nama Buddha memang bisa mencakupi tiga akar, namun umat yang terlahir di pantai seberang belum sepenuhnya mencapai alam yang paling suci. Apabila menekuni sesuai Tantra-yana, sepuluh penjuru alam suci dapat dijelajahi sesuai kehendak dan merupa-kan hal yang pasti terlahir di tingkat paling suci.

Menyebut nama Buddha akan memperoleh rupa nama Buddha, manjapa mantera akan memperoleh hati Tathagata . Dengan menyebut nama Buddha serta menjapa mantra, pencapaiannya paling sempurna.


Contoh mantera dan nama Buddha yang dapat ditekuni. Pilih yang paling berjodoh dengan anda (yang paling disukai)


Mantera rahasia Amithaba Buddha : “Om Ami Tie Wa Xie”
Menjapa penuh setiap hari hingga 100.000 x semua doa positip terkabul Menjapa penuh setiap hari hingga 350.000x semua siddhi akan diperoleh jauh dari penyakit dan bencana/santet. Menjapa lebih banyak lagi semua malapetaka dan gangguan jahat akan lenyap. Bila mampu menjapa 8.000.000X dalam hidupnya akan dijamin terlahir di Surga Sukhavatiloka.
Bila bertemu mahluk suci dalam meditasi dan untuk menguji mahluk suci itu sejati atau siluman/mara japalah “om kulu lienseng Siti hum” 3x jika sejati sinarnya akan lebih terang jika palsu akan ditampakkan wujud aslinya.
Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Amitofo”


Mantera Avalokitesvara : “Om Mani Pad Me Hum”
Menjapa 108x setiap hari seumur hidup tidak akan terlahir ke tiga alam yang lebih rendah dalam kehidupan mendatang mendapat tubuh manusia kembali dan dapat melihat Avalokitesvara (Kwan Se Im Posat) Menjapa 21 x setiap hari seumur hidup akan menjadi cerdas dan mampu mengingat apapun yang telah dipelajari. Memiliki suara yang merdu menjadi ahli dalam makna semua Buddha dharma.
Menjapa 7 x setiap hari seumur hidup, semua kesalahan akan disucikan dan semua rintangan hidup akan disingkirkan dalam kehidupan mendatang. Tidak perduli dilahirkan dimana senantiasa berjodoh dengan Avalokitesvara.
Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Kwan Se Im Posat”


Avalokitesvara pernah mengatakan pahala terbesar dalam Tantrayana adalah menjapa Mantra!  Mengapa ? Mantra meliputi segalanya. Meliputi angkasa luas. Tetapi besar kecil pahala dan kekuatan dharma penjapaan mantra berbeda pada setiap orang. Tergantung tingkat kesucian pikiran / hati orang tersebut.

Menjapa mantra dapat menghapus kotoran, membersihkan karma, menyembuhkan penyakit, menghapus kerisauan bathin merupakan abhiseka manjur sungguh tak terbatas nilainya.

Bagi yang berjodoh dan mempunyai pahala besar akan segera menekuninya dengan rajin, segera mencapai kontak bathin dan mencari ajaran selanjutnya.

Bagi yang belum berjodoh/berniat menekuni simpanlah hingga waktunya tiba. Bagi sedang bermasalah jangan ragu-ragu lagi, segeralah menjapa mantra !


*sumber: http://vajradharmaratna.blogspot.co.id/2014/11/menjapa-mantra-buddha.html

10 Pahala Pelepasan Satwa


Pelepasan satwa (fangshen / Satwamocana) memiliki sepuluh pahala kebajikan berikut:
1. Tiada petaka akibat senjata tajam dan peperangan.
2. Berbagai kemujuran akan berkumpul.
3. Panjang usia dan sehat.
4. Sutra Buddha mengatakan : seorang yang menjalankan sila tidak membunuh dan melakukan
    pelepasan satwa akan memperoleh dua macam pahala yaitu panjang usia, serta banyak rejeki
    dan tiada penyakit.
5. Banyak anak dan harapan akan anak laki laki.
6. Para Buddha bersuka cita.
7. Para hewan akan mengenang jasa. (bibit jodoh baik masa mendatang.)
8. Tiada petaka.
9. Terlahir di surga, bagi yang menekuni metode Tanah Suci akan terlahir di Tanah Suci.
10. Dewasa ini adalah masa masa petaka dalam dunia manusia, rokok, arak, mara kemelekatan
    cinta, semua mengikat para insan. Bila para insan mengerti saling membalas budi, berbagai
    kejahatan akan sirna, setiap saat akan tenteram.

Dunia hewan ada kondisi kemajuan perlahan dari kehidupan rendah menuju tinggi, seperti halnya umat manusia yang semula liar berubah semakin berbudaya. Seperti yang dikatakan oleh para ahli, bahwa setiap makhluk hidup mengalami perubahan karena kondisi luar.

Bila tiap orang dapat menjaga sila dan melepas satwa, maka batin penuh kebajikan akan saling bertaut, turun temurun pada anak cucu, selamanya tenteram dan makmur.


*sumber: http://vajradharmaratna.blogspot.co.id/2014/11/10-pahala-pelepasan-satwa.html

BUKAN DEMI APAPUN


Pada tahun itu, saya terus-menerus melakukan Mahanasmakara, bukan demi melihat Kalacakra, hanya belajar kerendahan hati dari bumi.

Pada bulan itu, saya terus-menerus membaca Sutra Kalacakra, bukan demi memahami makna utama Kalacakra, hanya memutar Sutra tanpa tujuan.

Pada hari itu, tangan saya memegang dupa, mulut memanjatkan mantra, pikiran kosong, apapun tidak dipikirkan.

Pada detik itu, tidak menanti kehadiran Anda, namun Anda datang dengan sendirinya, bahkan saling berhadapan.

Ada foto sebagai bukti:
Anda menatap saya.
Saya menatap Anda.
Hati Anda dan saya sangat lembut.
Saya menyentuh ujung jari Anda yang runcing.

Yang ingin saya beritahu pada Anda semua adalah:
Sutra Vajra mengatakan:
Tiada wujud manusia, tiada wujud diriku, tiada wujud insan, tiada wujud kehidupan.

Saya berkata:
Tiada wujud rupa, tiada wujud Dharma, tiada wujud abhava, tiada wujud sunya, tiada wujud duniawi, tiada wujud non duniawi.

Lebih dalam lagi dikatakan:
Tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud insan, tiada tiada wujud kehidupan, tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud abhava, tiada tiada wujud sunya, tiada tiada wujud duniawi, tiada tiada wujud non duniawi.

Lebih lebih dalam lagi dikatakan:
==Tiada wujud berkah dan pahala,
==tiada wujud Bodhisattva,
==tiada wujud Tathagata.

Saya berkata:
Jelas-jelas ada.
Benar-benar sunya.
Dari sunya melihat abhava.
Dari abhava melihat sunya.
Tidak melekat pada sunya maupun abhava.
Lebih naik satu yana.
Tidak terungkapkan.
(Ini tidak terpikirkan oleh manusia biasa)

Tingkatan alam yang saya capai, sebenarnya juga tingkatan alam, segalanya dianggap sunya, mana ada alam tingkatan?

Empat elemen utama adalah sunya.
Pancaskanda adalah sunya.
Segala yang ada adalah sunya.

Saat ini, dengan sendirinya melepaskan semuanya, dilepaskan dengan:
Satu benang pun tidak menempel.
Satu debu pun tidak mengotori.
Satu wujud pun tidak melekat.

Saya menulis buku ini, bukan demi dipercaya orang lain, bukan demi popularitas dan keuntungan, bukan demi kedudukan, bukan demi pendapat sendiri, bukan demi istri, bukan demi anak, bukan demi hasrat, bukan demi cinta, bukan demi keserakahan, bukan demi reputasi, bukan demi perasaan, bukan demi rupa, bukan demi orang lain dan diri sendiri.
Apapun bukan!

Orang bertanya,“Mengapa menulis?”
Saya menjawab, “Demi menulis, saya menulis!”

**dikutip daribuku ke 248: Keajaiban Alam, Judul Asli "Berhadap-hadapan dengan Kalacakra"
  dicopas dari: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=259&id=5

KUNCI LANGIT


Saya bermeditasi di rumah.
Ada sesosok dewa terbang melewati di atas angkasa di mana saya bermeditasi, Ia melihat di depan tersorot tiga berkas cahaya, ketiga berkas cahaya ini antara lain:
Cahaya Buddha.
Cahaya spiritual.
Cahaya putih.
Dewa ini sangat terkejut, ia datang ke hadapan saya dan bertanya, “Siapa gerangan Yang Arya?”
Saya menjawab, “Saya tidak tahu.”
Dewa bertanya, “Di tengah angkasa muncul cahaya Buddha, cahaya spiritual, cahaya putih, ketiga cahaya ini terpancar, bukankah Yang Arya adalah Buddha, Tathagata, Bhagavan?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Buddha, Tathagata, Bhagavan!”
Dewa bertanya, “Anda pasti Mahadewa?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Mahadewa!”
Dewa bertanya lagi, “Kalau Yang Arya bukan Buddha, bukan Mahadewa, pasti seorang Mahabodhisattva, benarkah?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Bodhisattva!”
Terakhir Dewa bertanya, “Lalu, siapa gerangan diri Anda?”
Saya menjawab, “Saya sungguh makin tidak mengerti siapa saya sebenarnya? Tetapi, saya mampu mengosongkan segalanya, saya hanya seorang manusia yang tidak tercemar oleh duniawi.”
Begitu Dewa mendengarnya. Terbahak-bahak lalu pergi, sambil tertawa, Ia berkata, “Tidak tercemar oleh duniawi, tidak tercemar oleh duniawi, inilah yang memiliki kunci langit, dapat tiba di segala tempat, tak heran, tak heran!”
Dewa terbang ke angkasa dan berkata, “Saya tahu Yang Arya adalah Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu!”
Saya berkata, “Itu hanya tanda pengenal saja.”
Dewa berkata, “Saya hanya tahu ada seseorang, berkali-kali turun ke dunia untuk melindungi kebenaran sejati, menghancurkan kesesatan, menegakkan Dharma sejati, di tangannya terdapat kunci langit, dapat mencapai segala alam Dharma, saya bernamaskara pada Yang Arya.”
Saya berkata, “Dewa yang termulia, kalau begitu, bernamaskaralah pada angkasa! Anda pasti mengerti maksud saya.”
Dewa berkata, “Benar, benar.”
Sajak: (Angkasa)
Siapa saya?
Saya siapa?
Lupa dengan segalanya dan tidak berbuat apapun
Timur juga
Barat juga
Tangan memegang kunci
Menetap di mana-mana
Anda bertanya padaku
Saya bertanya padamu
Kita tidak saling mengecewakan


*Prakata dari buku ke 260: Kunci Langit
*dicopy dari :http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=272&id=6

Kamis, 15 Februari 2018

Negeri Setan Raksasa


Suatu malam, saya masuk ke negeri setan raksasa, ini adalah sebuah negeri yang sangat menakutkan, ada setan berkepala besar, setan kotor, setan bermata satu, setan tak bertangan, setan tak berkaki, setan iga. ....
Ada semacam setan yang sangat istimewa, organ dalam tubuh tergantung di luar tubuh, sekujur tubuh dirayapi oleh serangga.
Perilaku setan-setan ini:
Asusila.
Makan darah segar.
Bicara cabul.
Aneh.
Memanjatkan kitab aneh.
Menyembahyangi hantu.
Telanjang.
Saling membunuh, mengunyah tangan dan kaki.
Singkat kata, saya tidak mampu menggambarkan negeri setan raksasa, karena negeri ini, dunia setan raksasa ini, benar-benar adalah kota dosa, merubuhkan pemikiran saya, sepanjang hidup saya, tidak pernah terpikirkan ada dunia seperti ini. Di dalam pemikiran saya, tidak ada konsep seperti ini.
*
Saya teringat dengan orang-orang punk, pix, pecundang, hippie, preman berkumpul. Seperti sebuah rumah sakit jiwa yang tak bertepi.
Saya menerobos di antaranya.
Para setan melihat kedatangan saya, sekelompok setan menyerbu, saya melarikan diri, mereka mengejar, saya melarikan diri ke setumpuk reruntuhan.
Yang menakutkan adalah:
Saya menemukan Dharmaduta Zhenfo Zong. Di antaranya ada upasaka/sika dan bhiksu/ni.
Oh, Tuhan! Saya terperanjat.
Tak disangka mereka masuk ke negeri setan raksasa.
Sebagian sedang makan tanah. (hanya karena menelan mahavihara, vihara, dan cetiya)
Sebagian makan tembaga dan besi. (hanya karena menelan materi insan)
Sebagian minum darah. (keserakahan untuk memberi makan keluarga mereka)
Sebagian makan tulang manusia. (keserakahan akan rupa)
Sebagian berkomat-kamit, berkeliaran tanpa tujuan. (kehilangan sradha)
......
Semua ini melanggar Samaya.
Jijik! Jijik! Amis! Amis!
Orang-orang tersebut, jiwa dan raga mereka bernanah, sekujur tubuh menebarkan bau tidak enak, orang yang sangat menderita tak tertahankan, melihat kedatangan saya.
Ada yang tertawa bodoh.
Ada yang memperlihatkan taring dan memainkan cakar.
Ada yang melarikan diri.
Ada yang menengadah dan menggoyangkan ekor.
Saya melihatnya, tidak habis pikir, sangat tidak berdaya.
*
Saat ini, ada seberkas cahaya datang, muncul Dewa Samaya, dewa memancarkan sinar keemasan, tangan memegang penggaris Sila.
Ia berkata:
Semua benda yang dibuat, berakhir dengan kerusakan; semua kekayaan yang dikumpulkan, berakhir dengan kehabisan; semua pria dan wanita yang berwujud, berakhir dengan perpisahan; kehidupan apapun, akhirnya adalah kematian; semua bhajana-loka, berakhir dengan kehilangan.
Dengan demikian, masihkah serakah?
Dengan demikian, masihkah benci?
Dengan demikian, masihkah bodoh?
Mahaguru Lu! Anda harus beritahu orang-orang ini!
Saya berpikir:
Segala sesuatu di dalam tumimbal lahir, sungguh tidak ada artinya, hanya sumber penderitaan saja.
Saya sendiri juga harus sadar.
Kemudian menyadarkan insan lain.
Karena segala sesuatu di dunia manusia "tidak ada yang didapatkan", kita harus ada niat meninggalkan samsara dan terbebaskan.
*
Siswa mulia yang terkasih!
Saya prihatin dengan orang-orang yang terjatuh ke dalam negeri setan raksasa!
Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!


sumber: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8962

Menyarankan Menjapa Mantra Manjushri


Ada seorang bernama Lianhua Yuehui melahirkan seorang putra, saat anak ini lahir, kepala bulat dan bertelinga panjang, mirip sekali dengan Maitreya versi China, berkepala bulat, berperut bulat, keempat anggota badan juga gemuk, tertawa lebar, sangat gembira, mengikuti lomba bayi sehat, mendapatkan juara satu.

Belakangan tumbuh dewasa, keluarganya menemukan ada tanda-tanda aneh.

Berjalan tertatih-tatih.
Tidak bisa bicara.
Kedua mata tidak bisa melihat dengan jelas.

Keluarganya memintanya melakukan sesuatu, ia tidak bisa lakukan, atau tidak mengerti melakukan, bentuknya makin lama makin mirip cacat mental.

Sering tertawa dingin.
Meneteskan air liur.
Hanya bisa berteriak, “Ah! Ah!”

Orang tuanya kuatir, diperiksakan ke dokter, ada seorang dokter berkata bahwa ia menderita sejenis epilepsi.

Dokter lain berkata bahwa ia menderita autisme.

Orang tuanya membawanya ke hadapan saya.

Saya menjamah kepala memberkati si anak, saya menyarankan orang tuanya sering menjapa Mantra Bodhisattva Manjushri dan melimpahkan jasanya kepada si anak. Mantra Manjushri adalah, “Om A La Ba Zha Na Di”.

*
Lianhua Yuehui adalah siswa yang bersradha sangat teguh.

Ada orang berkata, “Kalian percaya Mahaguru Lu, namun, malah melahirkan putra kesayangan seperti ini, masih percaya apa lagi?”

Lianhua Yuehui menjawab, “Ini adalah rintangan karma kami sendiri, mana boleh menyalahkan Mahaguru Lu!”

Orang itu berkata, “Bukankah Mahaguru Lu akan melindungi?”

Lianhua Yuehui menjawab, “Mahaguru Lu memiliki 5 juta siswa, rintangan karma setiap orang berbeda-beda; ini sama seperti begitu banyak penganut Agama Buddha, rintangan karma juga berbeda-beda, bukan berarti setiap umat Buddha selamat sejahtera dan segalanya berjalan dengan baik!”

Lianhua Yuehui melanjutkan, “Sang Buddha hanya mengajari kita ketidakkekalan. Sang Buddha sendiri juga mengalami lahir, sakit, tua, dan kematian, sama-sama mengalami banyak bencana!”

Si pendatang merasa malu dan pergi.

*
Lianhua Yuehui lebih rajin lagi menjapa mantra Manjushri.

Tiba-tiba suatu malam, melihat Bodhisattva Manjushri datang, Bodhisattva menunggang singa, menampilkan warna lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, hanya terlihat Bodhisattva memegang pedang.

Hanya satu sabetan pedang, kepala si anak dipenggal.

Yuehui sangat sedih!

Namun, terlihat Bodhisattva Manjushri membawa sebuah kepala dari tempat lain, secara perlahan, kepala tesebut dipasangkan ke leher si anak.

Yuehui terkejut sekali melihatnya.

Saking terkejutnya, ia pun terbangun, ternyata hanya sebuah mimpi.

Ia melihat anaknya.

Terlihat si anak tertidur pulas, melihat leher si snak, tidak ada keanehan, ia pun lega.

Setelah bermimpi seperti ini, suami pulang dari luar kota, membeli sebuah pratima Bodhisattva Manjushri yang terbuat dari lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, Yuehui melihatnya, berseru keras, “Luar biasa!”

Yang paling luar biasa adalah putra Lianhua Yuehui, makin hari makin normal, menjadi anak yang cerdas.

*
Siswa mulia yang terkasih:

Setiap orang memiliki rintangan karma masing-masing, dan rintangan karma setiap orang belum tentu sama.

Setiap keluarga mempunyai kesulitan masing-masing.

Mohon Mulaguru memberkati, mohon Buddha Bodhisattva memberkati, yang terpenting adalah “menghormati dengan tulus”.

Yang berjodoh pasti terbebaskan dari malapetaka!

Seperti Lianhua Yuehui menjapa mantra Manjushri, menyaksikan sendiri Manjushri, malapetaka pasti teratasi!

sumber tulisan: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8973

Kamis, 08 Februari 2018

Tanpa Pembinaan Diri Akan Menjadi Hantu


   Penulis sekarang berusia 39 tahun. [Catatan: Maha Acarya Lu menulis buku ini pada tahun 1983] Saya tidak bisa mengatakan saya sudah tua karena saya belum mencapai usia 60 tahun. Saya tidak mengatakan saya masih muda pula karena saya segera mencapai usia 40 tahun. Dalam waktu 40 tahun lagi, maka saya akan mencapai usia 80 tahun yang dianggap sebagai usia yang jarang dapat dicapai. Bila saya merenungkan masalah usia, setengah dari usia saya ini telah hilang.

     Beruntung bahwa pada saat saya berusia 26 tahun, secara gaib dan kebetulan, saya menjadi sadar akan sebab dan kondisi kehidupan kehidupan masa lampau saya. Dari saat itu sampai sekarang, saya telah melatih diri selama 14 tahun tanpa menundanya satu hari sekalipun. Akhirnya, saya berhasil mencapai "8 Kekuatan External" (External Eight Accomplishments) dan akan mengabdikan sisa hidup saya untuk melatih "8 Kekuatan Internal" (Internal Eight Accomplishments). Saya mempunyai keyakinan bahwa saya akan mencapai keBudhaan dalam kehidupan saya yang sekarang. Saya telah berikrar untuk melatih diri dengan Vajra-dharma. Saya adalah yidam, mencapai keBudhaan dalam kehidupan yang sekarang. Saya telah berhasil dan mengalami semua respons/kontak batin yang disyaratkan.

     Sekarang, di mata saya, ke 3000 alam itu terlihat kecil seperti sebutir beras. Roh saya dapat memenuhi angkasa di enam penjuru atau menyusut kedalam sebutir pasir. Setelah berhasil penuh, roh saya dapat keluar dari ubun ubun kepala dan terbang ke tanah suci Budha yang manapun dan ke 10 alam Dharma. Dengan mendapatkan mata dewata, saya dapat melihat segala sesuatu di sepuluh alam Dharma. Dengan telinga dewata, saya dapat mendengar ajaran Dharma kapanpun juga. Dengan 'penguasaan diri' dan kemerdekaan, saya bebas sepenuh­nya untuk melakukan segala sesuatu tanpa hambatan. Roh saya dapat terjun kedalam air tanpa tenggelam dan masuk kedalam api tanpa terbakar. Saya dapat menerjang semua pintu neraka dan mengatasi hukum sebab akibat, tidak lagi dibatasi oleh panca-skandha. Sewaktu saya mencapai nirvana, sudah pasti akan timbul kejadian kejadian gaib. Saya dapat menyembuhkan penyakit, mengangkat para insan dari penderitaan, dan melatih diri dengan semua metode rahasia yang tak pernah terpikir bisa dilakukan.

     Karena saya telah membuat resolusi Bodhicitta yang terbesar, sudah sewajarnya saya menaruh welas asih kepada para insan. Terlahir sebagai manusia sungguh merupakan kesempatan yang sukar didapat. Sungguh sayang bahwa orang tidak menyadari pentingnya pembinaan diri selagi mempunyai tubuh fisik manusia ini. Begitu tubuh fisik manusia ini hilang (mati), anda belum tentu bisa mendapatkannya lagi dalam 10 ribu tahun. Lagipula, usia manusia sangatlah pendek dan mudah berubah. Dalam sekejab, seseorang bisa mati seperti matinya lampu. Tak terhitung orang yang mati dalam usia muda. Usaha membina diri harus dimulai sedini mungkin seperti usaha mematikan api kebakaran.

     Menurut pandangan saya, para insan di dunia fana ini yang mengejar posisi/jabatan tinggi adalah seperti insekta di tempat kotoran, berputar putar naik turun, saling bergulat untuk berada di tempat paling atas. Insekta insekta ini mati tanpa mencapai penerangan! Karena mereka begitu cintanya dengan posisi/jabatan tinggi, setelah mereka mendapatkannya, mereka tidak bisa meninggalkannya seperti halnya orang yang kecanduan ganja. Mereka yang kehilangan jabatannya berada dibawah belas kasihan dari yang lainnya seperti halnya insekta yang mati. Kenaikan dan jatuhnya seseorang dari jabatan dan status sosial tidak berbeda dari jatuh bangunnya insekta insekta. Mengapa mengikat diri pada penderitaan semacam itu? Sudah waktunya bagi mereka untuk membuang kebodohan mereka itu dan mulai melatih diri.

     Ada lagi orang orang yang gila harta dan keuntungan. Karena uang adalah segala galanya, yang mereka lihat hanyalah koin dan hal hal lainnya tak lagi mengandung makna bagi mereka. Dengan bisnis mereka yang maju pesat, mereka sibuk siang dan malam tanpa ada waktu luang. Hidup dan energi mereka semuanya dituangkan kedalam persaingan sengit untuk mendapatkan keuntungan uang. Sebagai akibatnya, mereka jatuh terpotong potong bagaikan kulit luar dari batang bambu. Diantara mereka, yang berhasil tidak mencapai apa apa kecuali meninggalkan kemewahan bagi anak cucu mereka. Yang tidak berhasil menjadi tua tanpa mereka sadari. Kesulitan datang menimpa mereka silih berganti membuat hidup mereka sangat menderita.

     Bahkan lebih rendah lagi dari orang orang ini adalah mereka yang bermabuk-mabukan, berjudi, dan menipu. Apapun yang mereka lakukan atau pikirkan adalah hal yang buruk dan menimbulkan karma buruk. Tanpa menyadari adanya pembalasan hukum karma, mereka tidak berhenti menumpuk karma buruk. Yang lebih parah lagi, sebagian orang sangat menikmati perbuatan perbuatan jahat seperti membunuh, merampok, membakar rumah orang, memperkosa, dan lain sebagainya. Penderitaan para insan meningkat. Metode metode pembinaan diri tak lagi dihiraukan.

     Karena rasa kasih dan belas kasihan kepada para insan ini, saya menulis buku buku rohani untuk menyadarkan mereka. Saya telah menulis 45 buku sampai sekarang [Catatan: terhitung s/d tahun 1983], menjelaskan dari yang paling dasar sampai ke teori yang paling dalam mengenai Budhisme.  Ini merupakan buku saya yang ke 45 dan akan membahas mengenai seni meditasi yang sejati. Buku ini berisi metode metode penting yang diwariskan oleh para guru guru pewaris. Buku ini berisi cara rahasia untuk mencapai keBudhaan. Buku ini berisi rahasia rahasia dewata dan misteri dari alam semesta. Dalam tulisan ini, saya menggunakan bahasa yang membuat kebenaran yang paling rumit dapat dimengerti oleh pembaca.  Dengan harapan dapat menyadarkan umat dari penderitaan, saya menjelaskan cara cara yang benar untuk mencapai Kebenaran (Tao) dengan harapan supaya orang orang yang berjodoh akan mendapatkan buku ini. Mereka yang berjodoh akan berlatih setiap hari berdasarkan instruksi dari guru guru yang berpenge­tahuan untuk mencapai pengertian akan kebenaran sejati. Bila mereka berlatih dengan tulus seni meditasi ini, mereka akan cepat lambat mendapatkan keberhasilan dan mencapai keBudhaan. Mereka akan tiba di pantai seberang untuk hidup di alam kebahagiaan. Inilah resolusi Bodhicitta saya -- menulis buku buku kebatinan serajin mungkin demi menyelamatkan para insan.

      Sekarang ini, meskipun saya hanya berlatih dirumah (tidak menjadi Bhiksu), saya sama saja seperti seorang rahib. Saya tinggal di lantai atas rumah saya di kota Seattle, Amerika Serikat. Di altar saya terdapat hiolo tembaga kuno, cermin kuno, sebuah bel vajra, dan sebuah dorje vajra. Di lantai, terdapat karpet. Dalam acara meditasi saya, dengan topi mahkota merah suci di kepala saya dan berpakaian kasaya, saya membaca mantra, membentuk mudra, dengan asap dupa mengebul perlahan lahan. Diatas meja, peralatan untuk menulis hu. Dengan pikiran yang dalam keadaan tenang, saya merasa berada seperti di surga.

      Disini saya berlatih setiap hari, membaca sutra dan duduk bermeditasi, tidak pernah perduli dengan peristiwa peristiwa tak berarti di dunia, tidak terganggu siapapun. Dalam acara meditasi saya, saya berkunjung ke alam alam dewata. Bila telah lelah, saya tidur beberapa menit. Bila sudah segar, saya terbang lagi ke alam surga. Ini seperti yang diuraikan oleh sebuah ungkapan: "Alamiah, tak terikat, dan bebas sepenuhnya. Saya merasa seperti seorang yidam, terang dan kosong. Dengan dupa menyala, saya melihat segala sesuatu kosong adanya. Roh saya menembus segala langit dan bersinar pada kebenaran seperti halnya matahari dan bulan."

     Guru saya, Yang Mulia San San Chiu Hou (Tiga Gunung dan 9 Bagian) pernah berkata: "Dewa anda adalah roh anda sendiri, bukan pikiran yang biasa kita gunakan untuk berpikir, bukan hati fisik dibawah paru paru. Kekuatan batin adalah kemampuan untuk memanggil roh dan mengubah diri menjadi makhluk suci, kemampuan untuk menembus alam semesta dengan roh sendiri, dan kemampuan untuk mengubah diri menjadi banyak penjelmaan. Semua sadhaka yang telah berhasil tahu akan hal ini. Orang awam di dunia fana ini tidak menyadarinya. Hari ini saya telah menulis "The Art of Meditation" yang memenuhi keinginan langit dan kebutuhan dunia. Usahanya agung adanya. Mengfitnahnya adalah sama seperti mengfitnah sang Budha, satu dosa yang tak termaafkan.

     Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im) datang memberitahu saya, "Ketika saya membabarkan Maha Karuna Dharani dahulu kala, bumi bergetar dan menunjukkan enam bentuk perubahan. Bunga bunga indah berjatuhan dari angkasa di semua tempat. Seluruh Budha di sepuluh penjuru bergembira dan memujinya. Roh jahat dan roh sesat panik ketakutan. Mereka yang melafal mantra ini akan mencapai keberhasilan. Sebagian akan menjadi Srotapannas (stream enterer -dhyana 1), sebagian akan menjadi sakrdagamins (kembali ke dunia sekali lagi sebelum mencapai keBudhaan), sebagian menjadi anagamins (never returner) dan sebagian menjadi arahat. Sebagian bahkan menjadi bodhisattva dari tingkat satu sampai tingkat sepuluh. Berbagai insan membuat resolusi bodhicitta. Hari ini Lu Sheng-yen telah menulis buku "The Art of Meditation" yang mirip dengan Maha Karuna Dharani yang saya perkenalkan. Mereka yang melatih diri dengan metode ini akan dilindungi oleh para dewa yang tidak akan pernah meninggalkan sang sadhaka sedetik sekalipun. Para dewa itu termasuk 4 Raja Dewa, para dewa, naga, yaksa, asura, garuda, gandharva, kimnara, mahoraga, kumarirupa, dewa tanah, dewa laut dan sungai, dewa musim semi, dewa arus, dewa obat, dewa hutan, dewa kuda, dewa air, dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewa bumi, dewa istana, dan lain sebagai­nya -- semuanya akan memberikan perlindungan kepada para sadhaka.

    Guru Padmasambhava, patriak pertama dari Tantra Tibet, memberitahu saya: "Di jaman sekarang, roh jahat berkuasa dimana mana. Pergerakan alam tak teratur, dengan hujan dan terbitnya matahari yang tidak tepat waktu, angin dan banjir yang membawa bencana. Sutra sutra suci dibakar menjadi abu; penyakit dan bencana berada dimana mana, peperangan terjadi disini sana. Bila seseorang tidak mengetahui dharma yang benar, ia akan terjatuh ke alam kelahiran yang rendah (neraka, setan kelaparan, dan binatang). Sungguh beruntung Lu Sheng-yen dengan tepat waktu telah menulis buku buku kebatinan (rohani) ini yang mengajarkan secara sistimatis pintu masuk menuju Tantrayana yang luar biasa, dari yang paling dasar sampai yang paling dalam. Bila seseorang melatih diri dengan sepenuh hati apa yang diuraikan dalam "The Art of Meditation", ia akan menyadari berbagai bentuk kebijaksanaan, mencapai kesucian samadhi, dan mengerti hukum hukum alam semesta, terbebaskan dari rintangan karma buruk yang tertumpuk semenjak 1000 tahun yang telah lewat. Bila ia dapat melatih rohnya, ia akan mengetahui semua kebenaran tentang kehidupan dan kematian baik di masa lalu maupun di masa depan. Ia akan mendapatkan semua kebijaksanaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Lebih dalam lagi, ia akan mencapai tingkat bodhisattva, melihat semua Budha, mendengar ajaran mereka sehingga menghilangkan karmanya semenjak waktu yang tak terhingga.

    Yang mulia San San Chiu Hou, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Guru Padmasambhava semuanya muncul dalam meditasi saya dan meninggalkan instruksi instruksi mereka. Saya sungguh berharap mereka yang mendapatkan buku ini melatih diri sehari sekali dengan tekun dan kemudian melipat gandakan usaha latihan setelah beberapa lama. Semoga mereka tidak mengecewakan para bodhisattva yang telah sekali lagi turun untuk menyadarkan para insan. Ini merupakan keberuntungan luar biasa bagi semua insan dibawah matahari.

     Biarlah saya sampaikan pada para pembaca bahwa orang orang yang berintelek tajam tidak hanya melatih diri dalam satu atau dua kehidupan saja, tetapi dalam banyak kehidupan. Orang orang yang berjodoh dengan Budha biasanya langsung mempercayai Budhisme begitu mereka mendengar nama Budha -- ini merupakan hasil latihan di kehidupan masa lampau. Orang yang tidak berjodoh dan belum pernah melatih diri sebelumnya biasanya ragu ragu. Tetapi asalkan mereka mendekati Budha setiap hari dan mendapatkan kontak batin, mereka secara alamiah membangun kebijaksanaan dan akhirnya tiba di pantai seberang juga. Saya berharap para pembaca membuang semua kemelekatan, berkonsentrasi pada Budha Dharma selagi hidup di dunia yang fana ini. Bila anda duduk bermeditasi sejam sehari, anda akan menemui bunga teratai emas yang mekar sewaktu anda meninggal dunia. Anda pasti akan pergi ke surga Sukhawati. Bukankah itu sangat baik?

     Semoga semua insan sadar akan sifat sejati mereka.

Lu Sheng-yen, Juni 1983
**dicopas dari ebook Padmakumara-02, kisah no 2.1, judul asli:  Tetap menjadi hantu tanpa pembinaan diri, merupakan Prakata dari buku "Seni Meditasi"