Minggu, 28 Juli 2019

Japamala (Tasbih) Milik Kakek



Dulu saya membantu orang mengamati geomancy (mengamati fengshui tanah), bukan hanya yang fisik, juga melihat yang metafisik. Yang metafisik adalah makhluk halus.
Berikut ini saya akan menceritakan sebuah misteri:
Saya pernah mendatangi rumah seorang hartawan terkenal di Kota Kaohsiung untuk mengamati fengshui rumahnya. Begitu memasuki rumah, saya menemukan rumahnya penuh dengan makhluk halus, semuanya datang untuk menagih utang. Saya langsung mengetahui bahwa bisnis hartawan ini akan gagal, akan runyam, ekonominya akan bangkrut.
Ternyata tak lama kemudian, ia pailit total.
Pernah lagi suatu kali saya mendatangi rumah seseorang yang miskin untuk mengamati fengshui. Ia tinggal di rumah petak desa. Saya melihat banyak sekali makhluk halus bagaikan semut yang memadati rumahnya. Makhluk-makhluk halus ini memanggul karung-karung serbuk emas ke dalam rumah petak.
Makhluk-makhluk halus ini sungguh bagaikan semut, satu per satu berbaris mengantar serbuk emas ke dalam rumah petak.
Saya tahu bahwa pemilik rumah ini akan menjadi jaya.

Akhirnya ternyata pemilik rumah ini menjadi kaya raya dan terkenal. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, perusahaan yang digelutinya terus menuju kejayaan. Ia menjadi orang kaya raya di negerinya.
Biasanya ada dua kemungkinan kala saya mengamati seseorang; apabila di sekeliling orang tersebut banyak makhluk miskin penagih utang, maka dirinya pasti akan jatuh miskin. Apabila di sekeliling orang itu banyak Dewa Rejeki yang menyertainya, maka dirinya pasti akan makmur.
Oleh karena itu, bagaimanapun juga semuanya tidak terlepas dari peranan makhluk halus, semuanya adalah ulah dari makhluk yang metafisik.

Suatu ketika, saya pergi makan malam di pasar malam yang letaknya di depan sebuah kuil. Di depan kuil ada sebidang tanah kosong, ada sebuah warung kecil di sana. Warung kecil ini menyediakan empat macam menu, yang pertama adalah sup ramuan obat, yang kedua adalah mie, yang ketiga adalah chiongfan, dan yang keempat adalah sayur rebus.
Di sekeliling warung kecil ini tersedia banyak meja dan kursi, semuanya dipenuhi pengunjung. Sedemikian banyaknya pengunjung, bagaikan kawanan semut merebut biskuit besar.
Alangkah kagetnya begitu saya membukakan mata batin untuk melihat. Ternyata selain dikunjungi oleh ratusan pelanggan, tempat ini juga dipenuhi oleh ratusan makhluk halus. Para makhluk inilah yang menarik para tamu untuk makan di sana.
Makhluk halus menarik pengunjung, pengunjung mau tak mau menuruti. Dan kenyataannya menu sup ramuan obat warung kecil ini memang terkenal di mana-mana, rasanya sedap. Setiap malam pengunjung datang berhamburan mencicipinya.
Usaha ini bila diteruskan akan meraup keuntungan yang berlimpah-limpah, bagaikan keran air yang tak pernah berhenti mengalir.
Ada yang berkata bahwa pemilik warung kecil ini setiap malam pulang ke rumah menghitung uang sambil tertawa terbahak-bahak!

Ada yang berkata bahwa pemilik warung kecil ini telah memiliki beberapa unit gedung bertingkat, sudah menjadi hartawan yang jumlah kekayaannya sudah memasuki digit milyaran!

Oleh sebab itu, saya sengaja mengamati garis wajah pemilik warung kecil ini. Raut muka pemilik warung ini gelap dan kelabu, hidung mancung ke dalam, mulut monyong, mata sipit, muka kurus kempot. Tampaknya sama sekali tidak seperti wajah orang kaya, malah lebih mirip gelandangan yang tua bangka.

Saya merasa pak tua ini ‘tak ada apa-apanya’! Tetapi, pak tua ini bisa kaya, sungguh aneh! Bukan hanya jaya, bahkan banyak sekali makhluk halus berada di sekeliling pak tua ini menarik pengunjung serta membantunya mencuci piring dan membersihkan meja. Ini sungguh mengherankan!

Saya curiga pak tua ini mungkin memelihara tuyul, dan semua makhluk halus ini merupakan peliharaannya. Tapi kelihatannya bukan begitu, meskipun wajah pak tua ini tidak mendukung, di tubuhnya tidak dihinggapi hawa gelap.

Saya mengamati tanah dan warung kecil ini dari jauh. Di atas tanah ini menampakkan garis-garis sinar merah yang halus, diam-diam diselimuti awan merah. Saya kira, mungkin karena fengshui tanah ini bagus sehingga membuat warung kecil ini semakin jaya.

Namun, tidak demikian pula halnya dengan warung-warung lain di sana, usaha mereka sepi, hanya cukup untuk kebutuhan sesuap nasi saja.

Kasus ini membuat saya sangat penasaran!
*
Suatu hari, seseorang datang antri untuk berkonsultasi. Ia minta diberikan sebuah nama untuk cucunya. Begitu saya menengadahkan kepala, kebetulan sekali, ternyata pak tua si pemilik warung kecil itu.

Saya berkata, “Dagangan Anda sungguh laris!”

Dengan sangat rendah hati, ia menjawab, “Ah, tidak!”

“Mengapa dagangan Anda bisa demikian laris?” saya penasaran.

“Nasib baik,” ia menampakkan dua baris gigi yang hitam.

“Tak mungkin hanya sekedar nasib baik!” ujarku.
“Bagaimana kalau Anda membantu saya meramal?” ia memohon.

Ia menuliskan sebuah nama, data kelahiran, dan alamat.

Begitu saya mengamati, langsung terdengar alunan suara mantra yang membentang di langit dan bumi, semerbak kayu cendana sepoi-sepoi merebak di udara, sinar terang melingkar-lingkar. Saya melihat di tengah-tengah lingkaran sinar terang terdapat banyak sosok Dewa Rejeki. Hal ini sungguh mengherankan!
Saya berkata, “Anda bisa menjapa mantra!”

“Tidak bisa.” Pak tua yang bernama Pan Ji ini menjawab apa adanya.

“Saya terdengar suara mantra, tercium wewangian kayu cendana, terlihat Dewa Rejeki menyertai Anda.”

“Tidak mungkin!”

Saya selama ini cukup banyak membantu orang melalui konsultasi, amat manjur, semua yang saya ucapkan itu tepat adanya, jarang ada orang di depan saya menjawab dengan dua kata ‘tak mungkin’. Mata dewa dan telinga dewa saya tidak mungkin keliru. Kalau keliru, pasti ada sebab-sebab lain, dan saya juga bisa menemukan faktor penyebab kekeliruan tersebut.

Saya bertanya, “Di keluarga Anda, siapa yang bisa menjapa mantra?”

“Istri dan anak semuanya tidak bisa,” jawab Pan Ji.

“Selain itu masih ada siapa lagi?” saya lanjut bertanya.

“Yang sudah almarhum termasuk tidak?”

“Termasuk.”

Pan Ji berkata, “Di dalam keluarga kami, hanya Kakek saya, Almarhum Pan Li, yang bisa menjapa mantra. Semasa hidupnya ia sangat menghormati Dewa Bumi. Ia pernah membangun sebuah kuil Dewa Bumi, dan menjabat sebagai pengurus kuil tersebut. Suatu ketika, seorang bhiksu menghadiahkan seuntai japamala kepada Kakek, juga mengajari Kakek menjapa Mantra Dewa Bumi. Sejak itu Kakek sepanjang hidup menjapa Mantra Dewa Bumi dengan japamala tersebut, sampai-sampai japamalanya menjadi hitam memancarkan cahaya kelam.”

“Di manakah japamala Kakek?” Kiranya saya telah mendapatkan jawabannya.

“Kakek memberikannya pada Ayah, lalu Ayah memberikannya pada saya. Tetapi saya tidak tahu lagi di mana saya taruh, saya mesti bertanya pada istri di rumah.”

Pan Ji pulang bertanya pada istri.
Istrinya menjawab, “Japamala itu dilingkarkan di sebuah pokok tersembunyi di warung, terselip di sela-sela, tidak ada orang yang tahu!”

Pan Ji memeriksa di tempat yang dimaksud, ternyata ada.
Pan Ji memperlihatkan japamala yang hitam kelam itu pada saya.
Pan Ji tidak mengerti betapa berharganya japamala tersebut.

Saya memberitahu Pan Ji, “Kakek Anda, Pan Li, meskipun hanya menjapa Mantra Dewa Bumi, menghormati Dewa Bumi, mengagumi Dewa Bumi, itu saja sudah bisa memperoleh perlindungan dari Dewa Bumi.”

Mantra Dewa Bumi adalah "
Na mo san man duo, mu duo nan. Om, du lu, du lu di wei, suo ha".

Mantra ini harus dibaca sebelum kita membaca sutra. Maksudnya adalah untuk mengundang kehadiran empat penjuru Dewa Bumi melindungi pembacaan sutra.

Pan Li sepanjang hidup menjapa mantra ini, dengan sepenuh hati menghormati, tentu akan mengundang segenap Dewa Bumi datang melindungi dirinya. Mantra ini bukanlah mantra dari Buddha, Bodhisattva, ataupun Vajrasattva. Juga bukanlah mantra agung. Namun, janganlah menganggap remeh, sebab mantra ini juga mengandung kekuatan yang menakjubkan.
Apabila seseorang mengalami gangguan dari makhluk halus, japalah mantra ini, maka makhluk halus akan mundur. Malah akan memperoleh respek dari makhluk halus.
Apabila seseorang menderita berbagai macam penyakit, japalah mantra ini, maka semua penyakit akan lenyap hingga sembuh total, tubuh senantiasa sehat walafiat.
Dulu saya pernah mengajari orang menjapa mantra ini. Mantra ini sangat efektif untuk penyakit kulit, antara lain penyakit kutu air, kudis, panu, campak kering, dan lain-lain. Banyak orang yang berpenyakit kulit telah sembuh, sebab mantra ini mengundang kehadiran Dewa Bumi yang mampu melenyapkan kuman pada kulit si penderita.
Apabila seseorang dengan sepenuh hati menjapa mantra ini, menaati Pancasila Buddhis (Lima Sila, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berdusta, dan tidak mabuk-mabukan) dan menjalani Dasa Kusala Karma (Sepuluh perbuatan baik, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak memfitnah, tidak berbicara kasar, tidak berucap yang tidak perlu, tidak lobha, tidak berniat jahat, berpandangan benar), kelak ia tidak akan terjerumus ke tiga alam samsara. Ia akan terlahir di alam dewa menikmati sukha mulia.
Apabila seseorang ingin memohon rejeki, mantra ini paling mujarab. Segenap Dewa Bumi akan mengerahkan para makhluk datang untuk membantu. Orang tersebut akan mendapatkan dukungan dari banyak makhluk tanah, memperoleh rejeki yang tidak terbatas jumlahnya.
Pan Li sepanjang hidup menjapa mantra ini, tentu memiliki pahala yang besar. Japamala milik seorang kakek diwariskan pada ayah, diwariskan lagi p ada cucu. Berkah masih tetap ada, sungguh menakjubkan!
Saya menuliskan sebuah gatha:
Betapa sukha menjapa mantra
Kini diwariskan di dunia fana
Bila sepenuh hati menjapa
Makhluk halus berlindung sepanjang masa.
*
Kisah lain yang berhubungan dengan Mantra Dewa Bumi tercatat sebagai berikut:
Suatu kurun masa tertentu, wabah penyakit terjangkit di seluruh negeri, hewan ternak yang mati banyak sekali. Saya melihat banyak makhluk wabah penyakit berkeliaran di mana-mana mencari mangsa.
Banyak peternak datang menemui saya memohon bantuan.
Saya mengamati indikasi langit pada malam hari, ternyata Makhluk Lima Penyakit di sebelah tenggara turun ke bumi. Wabah penyakit akan merebak ke muka bumi, di mana ayam, itik, sapi, kambing, dan babi semuanya akan mengalami petaka.
Saya sangat cemas, bermohon pada Dewa Adipati. Beliau berkata, “Ini bukan urusan saya, ini sudah takdir!”
“Takdir menimpakan bencana, manusia terkena dampaknya. Saya tidak bisa berpangku tangan!”

“Jangan campur tangan, hati manusia sudah terlalu jahat!”

“Melihat maut tanpa mengulurkan tangan, hati saya tidak bisa tenang,” ujarku.

Dewa Adipati berkata, “Anda Sheng-yen Lu kerap menolong orang, tak sadarkah semua petaka ini akibat perbuatan karma buruk mereka sendiri? Suatu hari, saat Anda sendiri yang dicelakai orang lain, coba lihat, siapa pula yang akan menolong Anda?”

Saya berkata, “Saat orang lain mencelakai saya, itu adalah karmawarana saya sendiri. Namun, sekarang melihat hewan ternak ini akan celaka, sungguh tidak tega!”

Akhirnya Dewa Adipati mengajari saya sebuah cara: siapkan potongan bamboo berukuran 1 kaki 6 inci sebanyak empat potong, kupas permukaan kulit hijaunya. Untuk menebas bambu mesti pilih hari “Chengri” (nama hari dari pembagian 12 hari dalam penanggalan lunar yang berarti hari berhasil). Tuliskan Mantra Dewa Bumi di atasnya dengan aksara Mandarin atau aksara Sanskerta.

Pada hari “Churi” (nama hari dari pembagian 12 hari dalam penanggalan lunar yang berarti hari menyingkirkan) setelah tengah hari, bambu tersebut diabhiseka, lalu japalah Mantra Dewa Bumi untuk setiap potongan bambu masing-masing 108 kali, atau semakin banyak semakin bagus.

Pilihlah hari “Dingri” (nama hari dari pembagian 12 hari dalam penanggalan lunar yang berarti hari penetapan), tancapkan bambu ini di empat sisi peternakan.
Dengan demikian, peternakan tersebut tidak akan terjangkit wabah penyakit.

Saya mengajarkan cara ini pada peternak untuk ditiru.
Ternyata benar-benar manjur!

Wabah penyakit tak lagi mengamuk di semua peternakan yang dipasang potongan bambu yang tertulis Mantra Dewa Bumi. Bahkan tidak satu ekor ternak pun yang celaka.

Sebaliknya, saat wabah penyakit sedang berjangkit pada tahun itu, banyak peternak yang tidak mengetahui cara ini kewalahan mengubur bangkai ayam dan babi. Kondisi kematian sungguh mengenaskan, bangkai ternak bertumpuk setinggi bukit.

Seorang peternak datang bercerita pada saya.
Suatu malam ia mendengar suara bisikan orang di luar peternakan. Sebenarnya bukan manusia, tetapi segerombolan makhluk wabah penyakit. Mereka tiba di luar peternakan.

Sesosok makhluk berkata, “Peternakan yang satu ini ada cahaya mantra, tidak bisa masuk.”

“Mantra apa?” tanya makhluk yang lain.

“Mantra Dewa Bumi.”

“Baru Mantra Dewa Bumi kecil, saya tidak takut, serbu!”

“Tidak boleh!”

“Mengapa tidak boleh?”

“Meskipun Dewa Bumi kecil, tetap saja dewa yang bijak.”

“Kita memiliki amanat dari atas!” makhluk itu protes.
Makhluk yang pertama berkata lagi, “Tapi mantra dewa ini diabhiseka oleh Maha Vajra Acarya Lian Sheng Sheng-yen Lu!”

“Oh!”

Segerombolan makhluk itu terdiam.
Salah satu makhluk berkata, “Ayo jalan! Cari mangsa di tempat lain saja, yang ini bukan hanya ada Mantra Dewa Bumi kecil, bahkan terdapat amanat Buddha! Jangan disentuh!”

Segerombolan makhluk itu sambil berseru berduyun-duyun pergi menjauh…
Terus terang, saya katakan, banyak sekali hartawan yang kemakmurannya tak lepas dari bantuan makhluk halus.

Banyak pula petaka yang kecelakaannya merupakan gangguan dari makhluk halus.
Semua ini ulah dari yang tidak berwujud.

Meskipun Konghucu pernah mengatakan, “Hormati dan jauhilah makhluk halus”, namun ini bukan berarti tidak ada makhluk halus, hanya saja tidak mengambil pusing saja.

Coba kita perhatikan, dalam Alkitab, Yesus juga pernah mengusir setan dan menghalau iblis. Agama Katolik, dalam satu ayatnya juga terdapat ritual menghalau setan. Seorang Pastur Katolik juga sudah berumur bernama Amos justru terkenal sebagai juru pengusir setan!

***

Minggu, 17 Maret 2019

Penuturan Orang yang Gantung Diri


Suatu kali, saya naik mobil siswa saya untuk meninjau fengshui, tiba-tiba di luar bertiup seembus angin kencang, saya secepatnya menurunkan jendela mobil,

Angin memang sangat kencang, seketika, semua daun yang berguguran di tanah dan debu tanah bergulung-gulung, ranting pohon di luar bergoyang hebat, langit seolah-olah menjadi gelap, bumi juga berubah menjadi kelabu, awan di tengah angkasa juga melayang cepat.

Untungnya mobil masih mantap, selama perjalanan, saya tidak merasa mabuk, saya sempat mengantuk, tiba-tiba bertemu seorang yang lidahnya terjulur panjang, berdiri di hadapan saya dan berkata pada saya, “Liansheng, cepat tolong saya! Cepat tolong saya!”

Orang yang lidahnya terjulur panjang, begitu selesai bicara, langsung hilang.

Saya tiba-tiba terbangun.

Merasa, “Aneh!”

Setelah terbangun, saya berpikir sejenak, orang yang lidahnya terjulur panjang ini, tidak pernah saya temui sebelumnya, saya melihat orang ini seperti pemuda yang berumur sekitar 20 tahun, wajahnya penuh hawa kebencian, hanya sekelebat saja lalu hilang.

Saya tahu, pasti ada masalah, sehingga saya berikan perhatian khusus!

*

Saya meninjau tempat fengshui, pemilik bermarga Yin, ia meminta saya meninjau fengshui rumah tinggalnya, saya melihat beberapa kamar tidur, khusus menunjuk salah satu kamar tidur dan berkata, “Kamar ini selalu diliputi hawa kebencian!”

“Hawa kebencian apa?”

Saya menjawab, “Hawa kebencian ini aneh, bukan hawa kebencian manusia, juga bukan hawa kebencian arwah, jangan-jangan orang ini berada di antara hidup dan mati.”

Kepala keluarga bermarga Yin terkejut sekali mendengar penuturan saya, “Bapak memang hebat!”

Seketika, kepala keluarga bermarga Yin baru cerita pada saya:

Kamar ini ditempati oleh putranya, Yin Guo, Yin Guo sangat penurut, prestasinya di sekolah sangat baik, kepribadiannya lembut dan agak introvert.

Yin Guo sempat menjalin kasih dengan seorang wanita imut dan cantik.

Keduanya sempat saling mencintai dan saling mengucapkan janji untuk menikah dan sehidup semati.

Belakangan, kekasihnya pindah ke lain hati.

Sehingga timbul kebencian dalam hati Yin Guo.

Yin Guo bukan membenci teman wanitanya, tetapi sahabat yang paling dekatnya, tak disangka mengkhianati dan merebut kekasihnya.

Yin Guo mogok makan.

Terakhir, Yin Guo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggunakan ban pinggangnya diikat ke tiang, lalu gantung diri di kamarnya sendiri.

“Sudah meninggal?”

“Seperti yang Bapak katakan, dikatakan meninggal, ia belum meninggal, dikatakan hidup, ia juga tidak hidup, seketika ditolong, nyawanya memang berhasil diselamatkan, tetapi menjadi koma dan memasuki kondisi tidak hidup dan tidak mati!

“Sudah berapa lama?”

“Setengah tahun.”

Kepala keluarga Yin berlutut di hadapan saya, sambil meneteskan air mata, ia mengatakan bahwa:

Ia hanya memiliki seorang putra, selebihnya adalah putri, kini putranya dalam kondisi koma, segala harapan pun menjadi sia-sia.

Ia mendengar orang lain mengatakan, Bapak Sheng-yen Lu sangat luar biasa dalam ramal-meramal, fengshui juga nomor satu, segala penyakit yang sulit disembuhkan pun, dapat disembuhkan, banyak mukjizat, tak terhitung lagi, telah menyembuhkan penyakit banyak orang. Ia bertanya pada dokter, dokter memberitahunya, tunggulah mukjizat! Dokter ini juga berkata padanya, carilah seorang yang bernama Sheng-yen Lu untuk mengatasi masalah ini!

Saya membisu begitu mendengarnya.

Saya berpikir, sebelum saya datang, saya sempat mengantuk sebentar di dalam mobil, yang saya lihat justru adalah Yin Guo, ternyata ia bukan arwah, melainkan koma, rohnya keluar dari tubuhnya untuk datang meminta pertolongan saya, saya bisa merasakan ketulusannya.

Saya melihat kepala keluarga Yin juga orang jujur, seorang veteran, seumur hidup setia pada negara, melihat ia berderai air mata, saya tidak tega.

Namun, Yin Guo adalah pasien koma, apakah koma itu mudah disembuhkan? Mudah siuman? Bagaimana seluk-beluk masalah di dalamnya?

Akhirnya, saya berkata, “Saya akan berusaha semampu saya! Ia pasti akan sembuh!”

Hanya karena Yin Guo pribadi menampakkan diri pada saya, ia datang langsung memohon pada saya!

*

Sepulangnya, saya dengan tulus membangun sebuah altar:
Altar setinggi 3 kaki, lebar 24. Altar dibagi menjadi 3 tingkat, tengah bendera kuning, Mao Ji unsur tanah. Timur bendera hijau, timur Jia Yi unsur kayu. Barat bendera putih, barat Geng Xin unsur emas. Selatan bendera merah, selatan Bing Ding unsur api. Utara bendera hitam, utara Ren Gui unsur air.

Tingkat kedua menggunakan warna merah, menekan seluruh hari 365 derajat.

Tingkat ketiga menggunakan warna kuning, menekan 72 Disha.

Altar saya ini baru digunakan jika resmi menggelar ritual.

Saya menggunakan metode pengundangan Aliran Qingcheng, Xuanmen, Taoisme, saya membentuk mudra pedang, kaki menginjak formasi, menjapa mantra:
咒印若風雷,
Zhòu yìn ruò fēngléi,
天下須臾至;
Tiānxià xūyú zhì;
神仙聞申召,
Shénxiān wén shēn zhào,
急急如律令。
Jí ji rú lǜlìng.

Hanya perlu sesaat saja, dari tengah angkasa turun sesosok dewa, kepala bermahkota emas ekor ikan, tubuh berjubah bangau, dalaman jubah Dewa Bagua, rumbai-rumbai membuat dua simpul alam semesta, bertulang dewa dan bebas leluasa, tangan memegang kendi obat dan kotak obat.

Dewa ini adalah Dewa Huatuo, keahliannya menyembuhkan berbagai jenis penyakit, begitu obat mengenai sasaran, penyakit pun sembuh, merupakan raja dewa pengobatan.

Mungkin ada yang akan curiga, bagaimana Liansheng Sheng-yen Lu dapat mengundang Dewa Huatuo, tidak tahukah Anda, saya belajar Buddha dan Tao sudah puluhan tahun, dasar saya sangat kuat.

Saya memberikan penghormatan pada Huatuo.

Huatuo berkata, “Guru mengundang dengan Xian Tian Wu Ji Zheng Fa, apa yang bisa saya bantu?”

Saya melaporkan semua masalah Yin Guo.

Begitu Dewa Huatuo mendengar, merasa hanya masalah kecil, begitu lengan jubahnya dibentangkan, lalu perlahan-lahan menghilang.

Dalam hati saya berpikir, penyakit Yin Guo ini, bertemu saya, ditambah Dewa Huatuo turun tangan langsung, begitu Dewa Huatuo turun tangan, begitu obat mengenai sasaran, penyakit pun sembuh, sekalipun penyakit menahun dan mematikan, juga bisa sembuh.

Saya menunggu kabar gembira dari Dewa Huatuo. Tak lama kemudian, Dewa Huatuo kembali, tampak wajahnya memucat.

“Guru, maaf saya tidak mampu menunaikan tugas saya.”

“Apakah manusia koma tidak bisa disembuhkan?” tanyaku.

“Bukan.”

“Kalau begitu, mengapa?” saya tegang.

“Masalah ini berhubungan dengan dunia akhirat, karena rohnya tidak berada di kepala, saya tidak mampu menyembuhkan, mintalah para dewa akhirat untuk memeriksanya.”

Dewa Huatuo pun pergi.

Kali ini saya tertegun, tak disangka, saya telah berusaha keras mengundang Dewa Obat, malah tidak dapat menyembuhkan manusia dalam kondisi koma, ini di luar dugaan saya, memangnya Yin Guo telah masuk dalam kitab hantu.

Sehingga saya mengundang Raja Yama.

Datanglah segulung kabut dingin, begitu buyar, muncul sesosok Raja Yama, Raja Yama ini belum pernah saya temui seumur hidup saya.

Kepala Raja Yama ini seperti kepala unta, lehernya seperti angsa, wajahnya sangat beringas, kumisnya seperti udang, telinganya seperti telinga sapi, tangannya seperti kait baja, tubuhnya seperti naga, kakinya seperti macan, di mulutnya taring mencuat di atas dan di bawah.

Saya terkejut sekali melihatnya, “Anda Raja Setan dari mana?

Raja Setan menjawab, “Raja Setan Pencatat Kitab. Ada petunjuk apa sehingga Guru mengundang saya?”

“Mohon periksa arwah Yin Guo ada di mana?”

Raja Setan langsung membuka kitab, dalam seketika, jawaban ditemukan, arwah Yin Guo belum masuk kitab, dengan kata lain, di dalam kitab hantu, belum ada namanya.

Saya mengantarkan kepergian Raja Setan.

Selanjutnya, saya benar-benar kehabisan akal, saya mengundang Dewa Huatuo menyembuhkan penyakit koma Yin Guo, ini sudah sangat luar biasa. Saya mengundang lagi Raja Setan Pencatat Kitab untuk memeriksa kitab hantu Yin Guo, ini juga mesti memiliki daya gaib yang luar biasa baru dapat melaksanakannya. Kini keduanya sia-sia saja, saya kehabisan akal.

Tadinya saya mengira masalah Yin Guo adalah masalah kecil, asalkan saya turun tangan, maka akan teratasi dengan mudah, saya sudah sering menemukan penyakit yang sulit disembuhkan di bumi ini, tidak ada yang mampu mempersulit saya, tak disangka masalah Yin Guo justru mempersulit saya.

Saya ingin menyerah.

Namun, saya telah berjanji pada kepala keluarga Yin, “Ia pasti akan sembuh!”

Saya dilema.

*

Malamnya, saya menguatirkan Yin Guo, roh saya masuk ke Dharmadhatu, masuk ke Dharmadhatu adalah suatu hal yang sangat menakjubkan, jika diceritakan, akan sulit dipercaya, sama sekali tidak perlu naik kendaraan ataupun kapal, tetapi, bisa menjelajahi lima danau dan empat samudera sesuai keinginan kita, seluruh jagad raya (Trisahasramahasahasralokadhatu) pun bisa dicapai dalam satu pikiran.

Lagipula, begitu roh saya masuk ke Dharmadhatu, tidak hanya menghancurkan ruang, bahkan bagi yang berakar kuat, waktu pun dihancurkan, pepatah kuno mengatakan, batu lapuk dan pinus layu dalam satu musim gugur, ini hanya pembinaan diri biasa saja, pembinaan diri yang lebih dalam, memasuki kehidupan lampau, memasuki kehidupan yang akan datang, memperoleh kemampuan mengetahui takdir tiga kehidupan.

Roh saya memasuki Dharmadhatu, seketika:
Jiwa dan raga bebas leluasa.
Di luar ruang dan waktu, tidaklah muskil.
Segala masalah dibuang jauh-jauh.

Saya melatih ‘Api Tummo’, dengan sendirinya memiliki ‘api dalam tubuh’, saya melatih ‘Prana’, dengan sendirinya memiliki ‘angin dalam tubuh’, inilah:
Bunyi angin dan api muncul di angkasa,
Bebas menjelajah seluruh Dharmadhatu;
Saya dapat mencapai seluruh alam semesta dalam sekejap,
Sadhana Tantra Satya Buddha memang luar biasa.

Karena raga dan hati saya menguatirkan masalah Yin Guo, dengan sendirinya melihat tubuh Yin Guo berbaring di dalam rumah sakit, memang sesosok mayat hidup (kondisi koma), dilihat lagi, di dalam tubuhnya hanya ada satu roh dan satu arwah, dua roh dan enam arwahnya tidak terlihat.

Saya tiba lagi di satu tempat, melihat sebuah pintu, di atasnya tertulis ‘Taman Roh Cacat’, masuk ke dalamnya, menemukan kondisinya sangat berantakan, bau di dalamnya sangat menyengat.

Di dalam ‘Taman Roh Cacat’, terdapat banyak roh yang cacat, ada yang putus kepala, putus tangan, putus kaki, semua tidak lengkap, jantung saya berdegup kencang begitu melihatnya.

Tepat pada saat saya ingin keluar, melihat sesosok hantu gantung diri menghampiri, hantu ini bukan orang lain, melainkan Yin Guo sendiri.

Yin Guo begitu bertemu saya, ia berseru keras, “Liansheng, cepat tolong saya! Cepat tolong saya!”

Saya bertanya, “Mengapa Anda di sini? Apakah Taman Roh Cacat itu?”

Yin Guo memberitahu saya, karena membenci sahabat saya yang merebut kekasih saya, hati saya kecewa, lalu mengambil ban pinggang dan ingin bunuh diri dengan gantung diri.

Samar-samar, di dalam lingkaran ban pinggang ada bayangan semu, yaitu adegan sahabat saya sedang bercumbu dengan kekasih saya, hati saya terbakar api kemarahan.

Samar-samar, di telinga mendengar kata-kata, “Wahai orang yang mencari mati, di dalam kematian akan ditemukan ketenangan dan kebahagiaan, Anda masuk saja! Begitu mati, segala masalah akan selesai, kematian akan membawa kenikmatan tersendiri.”

Lewat motivasi dari kata-kata ini, ia pun masuk.

Selanjutnya dunia bayangan ilusi, samar-samar, ia merasa dirinya tidak benar-benar meninggal dunia, seluruh tubuh panas seperti mendidih, tiba-tiba dingin seperti membeku, seluruh sendi tubuh tercerai-berai satu demi satu, kulit sakit sekali seperti mau membusuk, terakhir roh dan arwahnya tercerai berai.

Separuh di alam manusia.

Separuh di ‘Taman Roh Cacat’.

“Apakah Taman Roh Cacat itu?” saya bertanya lagi.

Yin Guo berkata:

Alam saka adalah dunia kehidupan, alam baka adalah dunia kematian, yang berada di antara alam saka dan alam baka, arwah dan roh yang tidak mati dan tidak hidup akan jatuh ke dalam dunia Taman Roh Cacat, yang ditampung di dalam Taman Roh Cacat ini adalah para roh dan arwah gentayangan yang cacat dan tidak lengkap anggota badannya dalam kematian yang menggenaskan.

Di sini bukan alam saka, karena tidak memiliki tubuh.

Juga bukan alam baka maupun 3 alam rendah, sebab juga tidak tercatat di dalam kitab hantu. Manusia yang menetap di tempat ini, tubuh fisik mereka masih berada di dalam saka, hanya saja tidak hidup dan tidak mati!

Kebanyakan dari mereka adalah orang yang dalam kondisi koma dan orang-orang sakit jiwa.

Yin Guo memberitahu saya, tempat ini karena dihuni oleh roh cacat, tentu saja pemandangan di sini sangat mengenaskan, seperti neraka.

Saya bertanya, “Apa saja deritanya?”

“Walaupun tidak ada hukuman seperti neraka, tetapi harus diperbudak, misalnya membersihkan kotoran di bumi, memberi makan pada hewan anjing dan kucing di bumi, mengangkut jenasah yang baru meninggal dunia, menarik roh dan arwah yang mati menggenaskan. Setiap hari melihat orang yang tidak memiliki telinga, tidak memiliki mata, tidak memiliki hidung, tidak memiliki tangan, tidak memiliki kaki, hidup sangat sengsara, lebih baik menderita selama hidup daripada kenikmatan dari kematian.”

“Apakah Anda menyesal?”

“Saya hanya ingin keluar dari Taman Roh Cacat!”

“Bagaimana saya menolong Anda? Jika Anda sakit, saya bisa mengatasinya dengan Fu, jika Anda adalah hantu di alam baka, saya boleh mengatasinya dengan ritual penyeberangan, kini, Anda adalah roh cacat, bagaimana mengatasinya?”

Yin Guo menjawab, “Roh cacat ditambah roh cacat sama dengan ritual menjahit!”

“Menggunakan jarum!”

“Benar.”

Saya terbahak-bahak! Tangan kanan saya membentuk mudra, jari telunjuk diluruskan, membentuk ‘Mudra Jarum’, memberikan hawa, berubah menjadi ‘Jarum Sakti’, saya tarik dua roh dan enam arwah Yin Guo ke hadapan tubuh fisik Yin Guo yang koma, di dalam tubuh fisik adalah satu roh dan satu arwah, ini ibarat sepotong kain yang dibelah menjadi dua bagian, kedua bagian ini dapat dijahit dengan benang.

Ada jarum, tidak ada benang juga tidak bisa.

Dari mana benangnya?

Roh saya tiba-tiba keluar dari badan, saya mana mungkin bawa benang, saya ingin meminjam ‘Tali Vajra’ dari Acalanatha, atau meminjam ‘Tali Buddha’ dari Tathagata Krakucchanda, atau meminjam ‘Benang giok kebutan’ dari Mahadewi Yaochi, meminjam ‘Benang 5 Warna’ pada Dewi Mahashri sudah tidak sempat lagi.

Ketika menemui jalan buntu, di dalam otak saya justru teringat Mahamaitri dari Gunung Putuo, Laut Selatan, Bodhisattva Avalokitesvara, di tangan Bodhisattva bukankah memegang botol lazuardi yang bersih, di atas botol tertancap ranting willow yang halus.

Kali ini sudah ada, di luar rumah sakit ada kolam, di tepi kolam ada ranting willow, mengibasi air secara perlahan, membentuk riak air, saya langsung mengambil ranting willow yang halus, saya buat jadi benang halus dengan tangan, jarum dan benang sudah lengkap.

Saya mulai operasi menjahit, saya menjadi dokter bedah.

Satu jahitan demi satu jahitan.

Total dijahit lebih dari 10 jahitan.

Tiga roh dan tujuh arwahnya telah selesai dijahit.

Saya membuka lubang ubun-ubun kepala Yin Guo, tiga roh dan tujuh arwah berbunyi sangat keras laksana ledakan, dengan sendirinya masuk ke dalam ubun-ubun.

Kali ini, beres semua.

Yin Guo janji 3 hari kemudian akan siuman dengan sendirinya, keempat anggota badannya berangsur-angsur dapat bergerak, pulih total. Seketika menjadi berita heboh, pasien koma yang berbaring sudah sekian lama, tiba-tiba siuman, inilah mukjizat.

Kepala keluarga Yin membawa Yin Guo datang berterima kasih pada saya!

Saya berkata, “Tidak apa-apa, sudah kewajiban saya.”

Yin Guo telah pulih sepenuhnya, namun, tidak ingat kejadian saya menolongnya, hanya tertawa konyol.

Yin Guo berkata pada saya, “Saya sepertinya mengenal Anda, familiar sekali!”

Saya mengangguk, saya hanya berkata, “Jangan terlalu melekat dengan masalah di dunia ini, jangan terlalu bodoh, selama hutan masih ada, jangan takut tidak ada kayu bakar, hidup ini banyak hal yang bermakna, jangan dianggap remeh.”

Wajah Yin Guo memerah. (Belakangan Yin Guo sukses besar dalam bidang akademi, ia juga tidak menyia-nyiakan usaha keras saya dalam menyelamatkannya)

Saya hendak jelaskan tentang kejadian ini:
Pertama, alam ‘Taman Roh Cacat’ benar-benar ada, alam ini jarang diketahui orang, saya benar-benar masuk ke dalamnya, roh cacat tentu saja tidak berwujud, di dalam artikel saya menulis putus kepala, putus tangan, putus kaki adalah penglihatan pikiran, bukan bentuk yang sesungguhnya. ‘Taman Roh Cacat’ ini dibangun berkat welas asih dari putri Mahadewi Yaochi terhadap para insan untuk menampung roh dan arwah cacat yang tewas menggenaskan, karena roh cacat berada di dalam pembalasan karma tumimbal lahir, alam ini tentu saja baunya sangat menyengat!

Kedua, perihal mengundang ‘Dew Huatuo’ dan ‘Raja Setan Pencatat Kitab’, orang-orang melihatnya merasa ingin tahu, sebenarnya di dalam jalan Buddha, semuanya adalah hal yang lumrah, kini mengundang dewa turun memberikan petunjuk, juga demikian. Hanya mengundang dewa turun memberikan petunjuk saja, tetapi ada tulisan, datang dan pergi tanpa bayangan. Sementara, saya hanya melihat dan mendengar saja!

Ketiga, artikel ini memperingatkan umat manusia bahwa bunuh diri bukan jalan pintas, bunuh diri mudah sekali berubah menjadi roh cacat, setelah meninggal dunia, lebih menderita, mutlak bukan jalan pembebasan, jiwa telah dikorbankan, bahkan jatuh ke alam rendah, inilah pembalasan karma tumimbal lahir dalam Agama Buddha. Umat manusia jangan melekat, buat apa meninggal dunia demi cinta buta, kita harus mengerti mengalihkan, mengerti anitya, mengerti alami.

Saya mendesah:
Tidak berani melupakan makna kehidupan,
Memahami nama dan tahta maka api pun memadamkan embun beku;
Cinta buta tidak terurai sehingga bertemu rintangan Mara,
Surga di depan mata hilang dalam sekejap.


o0o


*sumber tulisan:
Karya Tulis Mahaguru Lu Shengyen, buku ke-142: In The Stillness of Night

Minggu, 24 Februari 2019

Pengalaman Bertemu Dengan Orang Yang Bunuh Diri


Jalannya sangat panjang dan sepi. 
Panjangnya tak terbatas seperti jalan super tol. 
Angin bertiup kencang.
Inilah wajah dari dunia roh,  tidak terang, malah berkabut.

Aku melihat seorang wanita dari kejauhan semakin mendekat kearahku. 
Aku bertanya tanya didalam hati dengan heran, "Mengapa ada seorang wanita muda berjalan seorang diri di jalan ini?"  Karena ingin tahu,  aku mendekatinya.

"Pak!  Dapatkah anda memberitahuku dimana aku berada?" ia bertanya kepadaku dengan nada seakan akan menemukan seorang juru selamat.

"Anda sudah meninggal dunia dan anda sedang berada di jalan kematian," jawabku.

"Tidak!  Saya belum mati!  Saya masih hidup!  Lihatlah, bukankah saya sedang berbicara dengan anda?"

"Masukkanlah tanganmu ke kantong bajumu dan lihatlah sendiri," kataku memberi saran. 
Ia menuruti saranku dan segera menjadi ketakutan.  Karena bajunya dan tubuhnya tembus pandang, tangannya itu juga tembus pandang ketika masuk kekantong bajunya.  Ia tidak lagi mempunyai badan kasar; ia telah menjadi arwah/roh.

"Dimanakah tubuhku?" tanyanya dengan panik.

"Lihatlah."  Aku menunjuk ke sebuah arah.  Dengan segera sebuah kota muncul dipandangan kami dan kami melihat sebuah rumah duka dimana terdapat sebuah peti mati yang dikelilingi oleh orang banyak yang menangis.  Mayat dipeti mati itu adalah diri wanita ini.

"Astaga! Itu saya?"  ia mengamati orang orang yang berdiri disekeliling peti mati itu -- ayahnya, sepupu sepupunya, rekan rekan sekolahnya, tetangganya -- semuanya sedang menangis dan berbicara dengan nada sedih.

Gambar itu kemudian lenyap.

"Saya tidak percaya saya mati!  Bila saya mati, mengapa saya sedang berdiri disini?  Saya tidak mengerti.  Kemana saya akan pergi?"  ia memandangku dengan mata kosong.  "Apakah anda juga sudah mati?"

"Aku sering mengunjungi alam antara hidup dan mati," jawabku.

"Siapakah anda?"

"Aku bernama Lu.  Kalau anda?"

"Saya adalah Wen."

"Kalau aku tidak salah, anda membunuh diri.  Apakah anda meminum racun?"

Aku melihat aura (kabut) berwarna hitam diatas kepalanya.  Mereka yang membunuh diri, rohnya sendirian saja, tidak mempunyai orang yang datang menjemput dan membimbing mereka ke dunia roh.

"Ya, betul, saya meminum racun,"  katanya sambil mulai menangis dan bercerita.

Kisahnya adalah sebagai berikut:
Ibu Wen wafat ketika ia masih di tahun pertama kuliah di akademi.  Ia jatuh cinta pada saat itu.  Sayang sekali, ayahnya yang seorang pengusaha kaya raya menginginkan ia untuk menikah dengan anak dari seorang teman dagangnya yang juga kaya raya.  Ia menolak.   Karena ayahnya melarangnya untuk menikah dengan pemuda yang dicintainya, ia meminum racun membunuh diri.

"Anda sebetulnya tidak perlu sampai membunuh diri," kataku kepadanya.

"Saya tidak mempunyai pilihan lain."

"Anda meninggal begitu muda usia.  Betapa sayangnya dan sia sianya.  Anda telah kehilangan arti kehidupan ini."

"Sudah terlambat," katanya.

"Kemana anda ingin pergi sekarang?"

"Saya ingin menemui ibuku."

"Hmm, itu aku dapat bantu.  Pejamkanlah matamu.  Bayangkan wajah ibumu.  Panggil nama ibumu.  Roh mu dan roh ibumu akan terhubungkan meskipun ibumu berada ditempat yang sangat jauh sekalipun.  Ibumu akan muncul dan membimbingmu ke tempatnya."

Tidak lama kemudian, dari kejauhan, sebuah wajah muncul.  Ia adalah ibu dari Wen, memancarkan sinar.  Sebagai seorang roh yang telah berpengalaman, ia menuntun putrinya itu.  Tubuh dari roh Wen semakin jauh dari pandangan dan akhirnya menghilang, terbang seperti seekor kupu kupu, menyatu dengan dunia roh.

Jalan itu terlihat sangat panjang dan sangat sepi.   Aku menyimpan photo dari Wen yang diberikannya kepadaku.  Aku berpikir, "Jalan ini akan dilalui oleh banyak sekali orang."

Yang membuatku tak mengerti adalah, ketika aku terbangun dari meditasiku, photo dari Wen itu masih berada di genggaman tanganku.


sumber: e-book Padmakumara-1, kisah ke-28

o0o


KISAH TAMBAHAN, dari Kitab Berkeliling ke Alam Neraka:
--
KISAH TAMBAHAN, dari Kitab Berkeliling ke Alam Neraka:
--
Perjalanan Ke-9
Berkunjung Kembali Ke Kota Mati Penasaran
12 Oktober 1976 (Lun Pe Gwee – Cap Kau)



Chi Kung Huo Fo
“Zaman sekarang, hati dan pikiran umat manusia cenderung memikirkan kemajuan teknologi yang serba canggih. Ini menyebabkan pelajaran tentang rohani atau batin dan keyakinan terhadap agama dianggap sebagai angin lalu.”

“Umat manusia tidak tahu bahwa semua benda yang ada di dunia adalah bersifat tidak kekal. Namun roh atau hati nurani manusia akan tetap hidup.”

“Surga  atau  Neraka tergantung pada pilihan  dari umat  manusia dalam  waktu  sekejap mata.”

“Surga tidak jauh. Asalkan umat manusia bersedia insaf dan berbuat baik, pasti akan menuju ke sana. Dan Neraka juga dekat bagi orang yang berbuat jahat.”

“Asalkan umat manusia bersedia membina diri dengan menjalankan Sila, serta berbuat kebaikan dengan Berbakti, Berdana dan selalu berdoa kepada para Buddha agar dapat mengembangkan sifat welas asih seperti yang dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva, maka Neraka bisa dihindari.”

“Betapa sedihnya keadaan di dalam Kota Mati Penasaran.” “Yang Sheng, bersemangatlah!”

“Hari ini, kita akan berkeliling lagi ke alam baka.”

Yang Sheng
”Baik, Guru!” ”Saya sudah siap.” ”Berangkatlah!”

Chi Kung Huo Fo
”Kita sudah tiba.”

Yang Sheng
”Guru, bukankah kita sudah pernah datang kemari?”

”Dan mengapa kita tidak berhenti di depan Kota Mati Penasaran? Malah harus menunggu di sini?”

Chi Kung Huo Fo
”Para Buddha memandang empat wujud dari benda sebagai sesuatu yang kosong,sehingga pintu Neraka pun terlewati.”

”Oleh karena penglihatan mereka kosong, artinya mereka tidak lagi memiliki nafsu keinginan duniawi, tidak serakah, tidak terikat dan tidak melekat pada hal atau benda atau wujud apa pun.”

”Mereka bebas melintasi seluruh alam semesta. Tidak ada yang menghalanginya.” ”Pertama kali ketika saya mengajak kamu kemari, kita berhenti di luar pintu Kota Mati Penasaran. Ini supaya kamu bisa mengerti setahap demi setahap keadaan di alam baka.” ”Tetapi hari ini, waktu kita terbatas maka kita langsung masuk kemari.”

”Saya harap umat manusia di dunia dapat mengerti. Apabila umat manusia bersedia membina diri dengan menjalankan Sila dan dapat menghilangkan nafsu birahi, keserakahan, kemarahan (emosi), keterikatan terhadap wujud jasmani dan benda-benda duniawi, maka akan bebas dari siksaan di penjara Neraka. Contohnya seperti Saya ini. Saya bebas untuk pergi ke mana saja.”

Yang Sheng
”Guru, apa yang kamu katakan itu adalah Dharma yang sangat dalam.”

”Saya berniat untuk melaksanakan-Nya.” ”Oh!”

“Di depan sudah terlihat para Pejabat dan Jenderal. Mereka sedang menuju ke arah kita.”

Chi Kung Huo Fo
”Yang Sheng, cepat beri salam kepada mereka.”

Yang Sheng
”Hormat saya kepada Pejabat dan Jendral.”

”Saya mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk yang kalian berikan kepada saya beberapa hari yang lalu.”

”Hari ini, saya datang merepotkan kalian lagi. Mohon diberi petunjuk!”

Pejabat
”Oh, tidak usah sungkan!”

”Silakan Buddha Chi Kung dan Yang Sheng masuk ke dalam dan meninjau kembali Kota Mati Penasaran.”

”Saya akan menjelaskan keadaan di sini kepadamu, supaya kamu bisa menulis keadaannya ke dalam kitab Ajaran Kebaikan untuk menasehati para umat manusia di dunia.”

Yang Sheng
”Terima kasih banyak.”

”Guru, mari kita ikuti mereka untuk masuk ke dalam.”

Chi Kung Huo Fo
”Kamu ikuti Jenderal dan Pejabat. Saya ada urusan lain. Harus pergi sebentar.”

Yang Sheng
”Guru mau pergi ke mana?”

”Nanti siapa yang mengantar saya pulang?”

Chi Kung Huo Fo
”Kamu tidak usah khawatir.”

“Setelah tiba waktunya, saya akan balik ke sini untuk menjemput kamu.”

Jenderal
“Yang Sheng, kamu tenang saja.”

”Mari ikut saya jalan!”

Yang Sheng
”Di dalam penjara ini, ada dua sel yang memisahkan para tahanan laki-laki muda dan para tahanan wanita muda.”

”Di antara para tahanan, ada yang rambutnya terkulai dan wajah mereka kelihatan sangat pucat.”

”Mereka sedang memandang ke arah saya terus-menerus.”

”Jenderal, mengapa mereka dikurung di sini?”

Jenderal
”Mereka sewaktu masih hidup di dunia, berpacaran, tetapi hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua mereka. Akibatnya mereka nekat minum obat tidur untuk bunuh diri.”

”Setelah meninggal dunia, mereka ditahan di sini.”

”Saya harap umat manusia di dunia janganlah berbuat nekat hanya karena terbuai dalam percintaan. Semua ini tidak ada gunanya. Setelah meninggal dunia pun tidak dapat hidup berpasangan atau hidup bersama. Malahan dikurung di dalam penjara alam Neraka.”

Yang Sheng
”Di dalam penjara ini, mengapa terdapat para roh yang kakinya patah, tangannya putus atau kepalanya hancur serta bermandikan darah?”

”Mereka semua sedang merintih kesakitan, kelihatannya sungguh kasihan.”

Pejabat
”Mereka ini adalah orang-orang yang meninggal dunia karena mengalami kecelakaan lalu lintas atau ditabrak oleh mobil.”

”Sesungguhnya ajal mereka belum tiba, maka hal ini juga termasuk mati penasaran.”

”Roh mereka  ditahan di sini sementara, sampai ajalnya yang sebenarnya sudah tiba, barulah diserahkan kepada Yen Wang (Penguasa Alam  Baka) untuk disidangkan dan dihukum.”

”Ini menunjukkan adanya keadilan di Bumi dan di alam baka.”

Yang Sheng
“Mana boleh begitu?”

”Mereka meninggal dunia karena kecelakaan. Keadaan mereka sudah sangat sengsara.”

”Mengapa  mereka ditahan atau dikurung lagi di sini dan tidak diperbolehkan untuk bereinkarnasi?”

”Saya pikir hal ini kurang adil.”

Pejabat
”Kamu jangan melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja, tapi juga harus mengetahui alasan yang lain.”

”Ada yang memang kematiannya ditakdirkan harus mengalami kecelakaan. Ada yang karena masalah tertentu sehingga mereka dengan sengaja membiarkan diri mereka ditabrak oleh mobil.”

”Karena hal inilah, maka umat manusia di dunia, jangan menyalahkan langit mau pun bumi.”

”Umat  manusia selalu bertanya, mengapa orang yang berbuat amal kebaikan sering meninggal ditabrak mobil, dan orang yang membina diri mengikuti Ajaran Buddha serta berbuat kebaikan, malah diganggu oleh para setan atau menghadapi cobaan hidup?” ”Apakah Langit sudah tidak mempunyai mata?”

”Sebenarnya, yang menentukan nasib umat manusia adalah karma dari kehidupannya yang lampau. Walau pun nasibnya tidak baik, apabila dia bersedia melatih diri dan terus- menerus berbuat kebajikan, setelah lulus dari segala macam cobaan hidup (karma buruk dari perbuatan jahatnya di masa lalu), maka ia akan memiliki tubuh yang bersinar.” ”Badan jasmani duniawi hanya bersifat sementara. Suatu saat pasti akan rusak (sakit atau mati). Namun roh atau jiwa dari umat manusia tidak akan pernah rusak.”

Yang Sheng
”Kalau sudah ada takdir dari karmanya dari tiga kehidupan di dunia, mengapa masih ada lagi yang disebut mati penasaran?” ”Apakah hal ini tidak saling bertentangan?”

”Kalau begitu, umat manusia di dunia tidak akan percaya lagi adanya Hukum Karma.” ”Coba Pejabat jelaskan secara lebih terperinci.”

”Jangan sampai saya menjadi bingung.”

Pejabat
”Karma dari tiga kehidupan yang dibicarakan oleh umat manusia di dunia, hanyalah merupakan sebagian dari karma dalam kehidupan manusia.”

”Sebenarnya, umat manusia sejak dari zaman dulu atau sejak lahir ke dunia sudah mengalami proses tumimbal lahir yang tak terhitung banyaknya. Karma yang mereka kumpulkan sudah banyak sekali.”

”Para Buddha membicarakan karma tiga kehidupan, maksudnya adalah karma yang telah dibuat pada kehidupan terdahulu, kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang.” ”Yang dimaksud dengan kehidupan terdahulu adalah kehidupan yang telah berlalu, entah berapa kali kehidupan yang terdahulu.”

”Umat manusia di dunia salah memahami artinya, sehingga umat manusia menganggap bahwa karma yang dijalani pada kehidupan yang sekarang ini adalah akibat dari satu kehidupan yang lalu.”

”Maka itu, dikatakan bahwa ’Karma dari kehidupan masa lalu hanya menentukan 70% nasib dari seseorang, dan 30% lagi ditentukan oleh dirinya sendiri pada kehidupan yang sekarang.’ Artinya apabila sudah ditakdirkan bahwa manusia itu harus dilahirkan di keluarga yang bagaimana, dan sebagai pria atau wanita, semua ini sudah ditentukan oleh karma dari kehidupan yang lampau.”

”Namun keadaan dari kehidupan seseorang pada saat sekarang adalah tergantung pada pikiran, kelakukan dan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini. Oleh karena itu, umat manusia harus bergaul dengan orang-orang yang bijaksana, yang memiliki pandangan benar, dan orang-orang yang suka melakukan kebajikan. Dengan demikian, hidup mereka juga akan terasa bermanfaat dan bahagia.”


Yang Sheng
”Oh, begitu!”

”Sebagian umat manusia di dunia menganggap apa pun yang terjadi di dunia adalah merupakan akibat karma dari satu kehidupan yang terdahulu, yang sudah ditakdirkan sebelum mereka lahir ke dunia.”

”Oleh karena itu, umat manusia berpikir nasib mereka tidak bisa diubah lagi.”

”Ini adalah pemikiran yang salah. Sebenarnya tidak boleh begitu.”

”Akibat karma dari kehidupan yang terdahulu memang berpengaruh, tetapi pikiran dan perbuatan umat manusia pada saat sekaranglah yang paling menentukan.”

”Mengapa di kamar penjara kurangan depan, terdengar suara jeritan kesakitan yang tidak henti-hentinya?”

”Yang dikurung di dalam penjara Neraka adalah para roh yang berbuat dosa apa?”

Pejabat
”Mereka adalah para roh yang mati dibunuh atau para roh yang meninggal dunia karena saling membunuh.”

Yang Sheng
”Apakah membunuh orang atau dibunuh orang juga disebabkan karena akibat dari karma yang terdahulu?”

”Apabila ajal kematian mereka sudah tiba, mengapa mereka masih harus dikurung lagi di Kota Mati Penasaran?”

Pejabat
”Benar!”

”Ada sebagian umat manusia yang meninggal dunia memang karena pembalasan dari akibat karma sehingga mereka saling membunuh.”

”Namun ada sebagian manusia, sewaktu hidup di dunia tidak berbuat amal kebaikan,hanya berbuat kejahatan. Ini menyebabkan banyak orang yang mati penasaran.”

”Saya harap umat manusia di dunia dapat mengerti penjelasan saya ini dan jangan sekali
pun menganggap bahwa ’Saya membunuh dia karena dia berhutang nyawa kepada saya pada kehidupan yang terdahulu’.”

”Ada  pepatah mengatakan ’Permusuhan bisa didamaikan, tetapi janganlah mencari permusuhan’.”

”Walau pun saling berhutang, tetapi boleh tidak ditagih.” ”Ini lebih bagus lagi.”

”Apabila umat manusia tidak menagihnya, maka mereka akan mendapat jasa dan pahala.”

”Jika umat manusia bisa menghilangkan pikiran yang mau menang sendiri serta hidup secara rukun dengan orang lain, maka akan terciptalah kehidupan yang penuh kedamaian seperti di Surga. Penghuni di alam Neraka pun akan berkurang dan akhirnya menjadi kosong. Karma buruk pun tidak ada lagi.”

”Karena itu, umat manusia harus menyayangi badan sendiri. Mengawasi perbuatan sendiri dan banyak berdoa kepada para Buddah agar dapat mengembangkan sifat Kebuddhaan yang telah ada pada dirinya sendiri.”

 ”Sering-sering membaca Sutra, Ajaran para Buddha. Ini agar dapat mengerti tujuan dari kehidupan manusia di dunia ini.”

“Apabila umat manusia selalu bertindak dengan bijaksana, maka akibat karma dari kehidupan yang terdahulu, pengaruhnya akan menjadi terbatas. Tetapi kalau umat manusia berbuat kejahatan, berarti mereka menciptakan dosa baru lagi, yang akan menjadi bibit karma buruk untuk kehidupan yang akan datang.”

Jenderal
“Apa yang dikatakan oleh Pejabat, benar-benar sangat tepat.”

”Umat manusia di dunia harus sadar. Harus percaya adanya Hukum Karma.”

”Maka itu, umat manusia di dunia harus membina diri atau menjalankan Sila.” ”Sebenarnya, setiap manusia memiliki sifat Kebuddhaan.

Apabila mati manusia bersedia mengembangkan sifat Kebuddhaan mereka, mereka pasti bisa lulus dari cobaan hidup dan godaan yang berbentuk harta, kedudukan dan wanita.”

”Apabila mereka bisa lulus, artinya mereka tabah dan tidak tergiur terhadap wujud jasmani dan wujud dari benda duniawi, maka mereka akan menjadi Dewa atau Buddha.” ”Walau pun seseorang ditakdirkan menjadi kaya, tetapi apabila dia tidak mau bekerja dengan sepenuh hati, dan memiliki pandangan hidup yang salah atau bersifat egois maka ia pasti akan gagal!”

Chi Kung Huo Fo
”Saya sudah kembali.”

”Apa yang dikatakan oleh Pejabat dan Jendral tadi merupakan ajaran yang luar biasa, yang dapat menyadarkan hati umat manusia.”

”Setiap manusia memiliki sifat Kebuddhaan.”

”Apabila umat manusia bersedia mengembangkannya, umat manusia dapat  menjadi Dewa atau Buddha. Tetapi apabila umat manusia hanya memikirkan keduniawian saja, hingga tertutup hati nurani asalnya yang  murni dan penuh kasih maka ia tidak bisa kembali ke tempat asalnya (Surga).”

”Karena itulah, maka diturunkan Ajaran Kebenaran yaitu Dharma, yang menganjurkan setiap umat manusia harus menjalankan lima Sila, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, tidak melakukan perbuatan asusila dan tidak memakan atau meminum sesuatu yang menimbulkan ketagihan.”

”Sila ini digunakan untuk menyucikan diri, untuk menghapus karma buruk sehingga umat manusia dapat kembali ke sifat asal yang bersih.”

”Para umat manusia di dunia, janganlah berkhayal atau bermimpi lagi di dunia yang bersifat sementara ini.”

”Cepatlah membina diri atau melatih diri, yaitu berbuat sesuai dengan Dharma, Ajaran sang Buddha, agar dapat menjadi Bodhisattva atau pun Buddha. Dan bagi umat manusia yang tidak mau membina diri akan terjatuh ke alam sengsara. Akan terus mengalami proses tumimbal lahir di enam jalur kehidupan.”

”Semua hantu atau setan berasal dari umat manusia yang melakukan perbuatan jahat.

Keadaan mereka bukan ditentukan oleh Penguasa Langit.” ”Lihatlah kedalam Kota Mati Penasaran!”

 ”Hal ini bisa dibuktikan.” ”Waktu kita sudah habis.”

”Yang Sheng, bersiaplah untuk pulang.”

”Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pejabat dan Jendral atas bantuannya dalam memberi penjelasan tentang keadaan Kota Mati Penasaran untuk menghilangkan pemikiran yang salah dari para umat manusia.”

Yang Sheng
”Apa yang dijelaskan oleh Guru, benar-benar merupakan suatu ilmu pengetahuan yang dalam.”

”Jika tidak mendapat petunjuk dari Pejabat dan Guru, umat manusia di dunia sama sekali tidak akan mengerti.”

”Saya harap Guru bisa sering-sering memberikan penjelasan tentang Ajaran Kebenaran kepada kami, demi untuk menyadarkan umat manusia. Ini agar orang-orang yang membina diri atau yang melatih diri memiliki pedoman hidup.”

”Jangan sampai sudah tua pun masih belum mengerti tentang Hukum Kebenaran dari alam semesta, sehingga terjerumus ke alam sengsara. Dan harus menjalani siksaan dan penderitaan yang berkepanjangan di penjara alam Neraka.”

Chi Kung Huo Fo
”Apa yang kamu katakan itu benar.”

”Memang ini merupakan kewajiban Saya untuk menolong umat manusia.”

”Saya benar-benar ingin membimbing umat manusia untuk mengikuti jalan yang benar.”

”Pada kesempatan ini, Saya akan memberitahu kepada umat manusia cara untuk melatih diri.”


”Pertama, umat manusia harus membebaskan dirinya dari lima racun, yaitu sifat keserakahan, kemarahan (emosi), nafsu birahi, keterikatan terhadap wujud jasmani dan benda duniawi, serta kesombongan.”

”Kedua, melatih diri dalam praktek berdana atau membantu orang yang tertimpa kesusahan, bersabar menghadapi cobaan hidup, menjalankan lima Sila dalam kehidupan sehari-hari, menenangkan pikiran dengan cara berdoa kepada para Buddha, serta sering membaca Sutra suci, Ajaran sang Buddha; hingga memperoleh kebijaksanaan sejati. Kemudian melimpahkan semua jasa dan pahala yang diperoleh dari perbuatan bajik ini kepada semua makhluk hidup dan mendoakan mereka agar dapat berjalan di jalan yang benar serta dapat merasa yakin terhadap ajaran dari para Buddha. Setelah itu, mohonlah kepada Amitabha Buddha agar kelak dapat lahir di alam Buddha.”

”Sebagai tanda berbakti kepad para Buddha, para umat dapat turut membantu menyebarkan kitab suci Ajaran Kebenaran untuk menyeberangkan umat manusia menuju ke pantai bahagia.”

”Dengan perbuatan yang mulia dan luhur ini, maka secara pasti para umat dapat terlahir di alam Buddha.”

”Saya ingin memberitahu kepada umat manusia bahwa berbakti kepada orang tua dibagi tiga  tahap, yaitu apabila para umat manusia mempersembahkan makanan yang bergizi, pakaian yang bagus, tempat tinggal yang nyaman dan membawa orang tuanya pergi jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam, ini disebut Bakti Kecil.”

”Apabila umat manusia, di samping menyediakan segala keperluan orang tua dengan baik seperti yang telah disebutkan dalam Bakti Kecil itu, ditambah lagi sering melakukan perbuatan kebajikan yang bersifat sosial sehingga memperoleh nama baik di masyarakat, yang mana hal ini dapat mengharumkan nama orang tua dan leluhur, ini disebut Bakti Menengah.”

”Apabila para umat manusia di samping menjalankan Bakti Kecil dan Bakti Menengah, ditambah lagi dapat menenangkan hati orang tua mereka dengan menunjukkan kepada orang tua mereka bahwa mereka adalah umat Buddhis yang berdisiplin, yang memiliki tingkah laku dan pandangan yang benar, serta berusaha membujuk orang tua mereka untuk turut berbuat kebajikan, terutama harus menjalankan Sila, Berdana dan berdoa kepada para Buddha agar kelak dapat lahir di alam Buddha, ini merupakan Bakti Terbesar.”

”Yang Sheng, saya benar-benar berharap para umat manusia dapat melaksanakan ajaran tentang Bakti ini.”

Yang Sheng
”Terima kasih atas bimbingan dari Guru!”

”Pengetahuan ini sungguh luar biasa. Saya pasti akan melaksanakannya karena saya ingin lahir di alam Buddha.”

”Saya tidak ingin terus-menerus berputar di roda tumimbal lahir.”

”Guru, sekarang saya sudah duduk dengan baik.”

”Silakan berangkat!”

Chi Kung Huo Fo
”Di sini, saya ingin mengingatkan umat manusia bahwa apabila umat manusia berbuat baik, mereka akan memiliki karma baik dan akan dituntun menuju kelahiran kembali dalam keadaan yang baik.”

”Di samping berbuat baik, umat manusia seharusnya turut memberi semangat dan contoh teladan kepada orang lain agar mereka bersedia untuk ikut berbuat baik. Dengan perbuatan yang mulia seperti ini, maka umat manusia akan memperoleh berkah yang lebih banyak lagi.”

”Para manusia sering bertanya, ’Mengapa manusia harus berbuat baik?’

’Apakah tidak cukup jika manusia hanya tidak berbuat jahat dan tidak menyakiti makhluk yang lain?’”

”Saya ingin  memberitahu manusia bahwa sebenarnya pada kehidupan yang lalu, yang tidak terhitung lagi jumlah waktunya, umat manusia telah menggumpulkan banyak karma buruk yang  berakibat mendatangkan  banyak  masalah dalam kehidupan  sekarang  ini.

Dalam Sutra, sang Buddha mengajarkan bahwa jalan untuk mengurangi pengaruh dari karma buruk masa lampa adalah dengan melakukan banyak karma baik dalam kehidupan sekarang.”

”Karma buruk itu ibaratnya seperti segumpal garam dan karma baik adalah air. Jika segumpal garam dimasukkan ke dalam secangkir air, maka air itu akan terasa asin. Tetapi jika garam tersebut dimasukkan ke dalam air sungai, maka keasinannya akan berkurang secara drastis.”

”Sama halnya dengan melakukan karma baik, yang mana dapat meringankan pengaruh dari karma buruk masa lampau, kecuali karma buruk yang sangat berat seperti membunuh orang tua sendiri.”

”Kita sudah tiba di Vihara Sheng Sien.”


[Yang Sheng turun dari bunga teratai. Kemudian rohnya masuk kembali ke badannya.]