Selasa, 20 Maret 2018
10 Pahala Pelepasan Satwa
Pelepasan satwa (fangshen / Satwamocana) memiliki sepuluh pahala kebajikan berikut:
1. Tiada petaka akibat senjata tajam dan peperangan.
2. Berbagai kemujuran akan berkumpul.
3. Panjang usia dan sehat.
4. Sutra Buddha mengatakan : seorang yang menjalankan sila tidak membunuh dan melakukan
pelepasan satwa akan memperoleh dua macam pahala yaitu panjang usia, serta banyak rejeki
dan tiada penyakit.
5. Banyak anak dan harapan akan anak laki laki.
6. Para Buddha bersuka cita.
7. Para hewan akan mengenang jasa. (bibit jodoh baik masa mendatang.)
8. Tiada petaka.
9. Terlahir di surga, bagi yang menekuni metode Tanah Suci akan terlahir di Tanah Suci.
10. Dewasa ini adalah masa masa petaka dalam dunia manusia, rokok, arak, mara kemelekatan
cinta, semua mengikat para insan. Bila para insan mengerti saling membalas budi, berbagai
kejahatan akan sirna, setiap saat akan tenteram.
Dunia hewan ada kondisi kemajuan perlahan dari kehidupan rendah menuju tinggi, seperti halnya umat manusia yang semula liar berubah semakin berbudaya. Seperti yang dikatakan oleh para ahli, bahwa setiap makhluk hidup mengalami perubahan karena kondisi luar.
Bila tiap orang dapat menjaga sila dan melepas satwa, maka batin penuh kebajikan akan saling bertaut, turun temurun pada anak cucu, selamanya tenteram dan makmur.
*sumber: http://vajradharmaratna.blogspot.co.id/2014/11/10-pahala-pelepasan-satwa.html
BUKAN DEMI APAPUN
Pada tahun itu, saya terus-menerus melakukan Mahanasmakara, bukan demi melihat Kalacakra, hanya belajar kerendahan hati dari bumi.
Pada bulan itu, saya terus-menerus membaca Sutra Kalacakra, bukan demi memahami makna utama Kalacakra, hanya memutar Sutra tanpa tujuan.
Pada hari itu, tangan saya memegang dupa, mulut memanjatkan mantra, pikiran kosong, apapun tidak dipikirkan.
Pada detik itu, tidak menanti kehadiran Anda, namun Anda datang dengan sendirinya, bahkan saling berhadapan.
Ada foto sebagai bukti:
Anda menatap saya.
Saya menatap Anda.
Hati Anda dan saya sangat lembut.
Saya menyentuh ujung jari Anda yang runcing.
Yang ingin saya beritahu pada Anda semua adalah:
Sutra Vajra mengatakan:
Tiada wujud manusia, tiada wujud diriku, tiada wujud insan, tiada wujud kehidupan.
Tiada wujud manusia, tiada wujud diriku, tiada wujud insan, tiada wujud kehidupan.
Saya berkata:
Tiada wujud rupa, tiada wujud Dharma, tiada wujud abhava, tiada wujud sunya, tiada wujud duniawi, tiada wujud non duniawi.
Lebih dalam lagi dikatakan:
Tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud insan, tiada tiada wujud kehidupan, tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud abhava, tiada tiada wujud sunya, tiada tiada wujud duniawi, tiada tiada wujud non duniawi.
Lebih lebih dalam lagi dikatakan:
==Tiada wujud berkah dan pahala,
==tiada wujud Bodhisattva,
==tiada wujud Tathagata.
Saya berkata:
Jelas-jelas ada.
Benar-benar sunya.
Dari sunya melihat abhava.
Dari abhava melihat sunya.
Tidak melekat pada sunya maupun abhava.
Lebih naik satu yana.
Tidak terungkapkan.
(Ini tidak terpikirkan oleh manusia biasa)
Tingkatan alam yang saya capai, sebenarnya juga tingkatan alam, segalanya dianggap sunya, mana ada alam tingkatan?
Empat elemen utama adalah sunya.
Pancaskanda adalah sunya.
Segala yang ada adalah sunya.
Saat ini, dengan sendirinya melepaskan semuanya, dilepaskan dengan:
Satu benang pun tidak menempel.
Satu debu pun tidak mengotori.
Satu wujud pun tidak melekat.
Saya menulis buku ini, bukan demi dipercaya orang lain, bukan demi popularitas dan keuntungan, bukan demi kedudukan, bukan demi pendapat sendiri, bukan demi istri, bukan demi anak, bukan demi hasrat, bukan demi cinta, bukan demi keserakahan, bukan demi reputasi, bukan demi perasaan, bukan demi rupa, bukan demi orang lain dan diri sendiri.
Apapun bukan!
Orang bertanya,“Mengapa menulis?”
Saya menjawab, “Demi menulis, saya menulis!”
**dikutip daribuku ke 248: Keajaiban Alam, Judul Asli "Berhadap-hadapan dengan Kalacakra"
dicopas dari: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=259&id=5
**dikutip daribuku ke 248: Keajaiban Alam, Judul Asli "Berhadap-hadapan dengan Kalacakra"
dicopas dari: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=259&id=5
KUNCI LANGIT
Saya bermeditasi di rumah.
Ada sesosok dewa terbang melewati di atas angkasa di mana saya bermeditasi, Ia melihat di depan tersorot tiga berkas cahaya, ketiga berkas cahaya ini antara lain:
Cahaya Buddha.
Cahaya spiritual.
Cahaya putih.
Cahaya Buddha.
Cahaya spiritual.
Cahaya putih.
Dewa ini sangat terkejut, ia datang ke hadapan saya dan bertanya, “Siapa gerangan Yang Arya?”
Saya menjawab, “Saya tidak tahu.”
Dewa bertanya, “Di tengah angkasa muncul cahaya Buddha, cahaya spiritual, cahaya putih, ketiga cahaya ini terpancar, bukankah Yang Arya adalah Buddha, Tathagata, Bhagavan?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Buddha, Tathagata, Bhagavan!”
Dewa bertanya, “Anda pasti Mahadewa?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Mahadewa!”
Dewa bertanya lagi, “Kalau Yang Arya bukan Buddha, bukan Mahadewa, pasti seorang Mahabodhisattva, benarkah?”
Saya menjawab, “Bukan! Saya bukan Bodhisattva!”
Terakhir Dewa bertanya, “Lalu, siapa gerangan diri Anda?”
Saya menjawab, “Saya sungguh makin tidak mengerti siapa saya sebenarnya? Tetapi, saya mampu mengosongkan segalanya, saya hanya seorang manusia yang tidak tercemar oleh duniawi.”
Begitu Dewa mendengarnya. Terbahak-bahak lalu pergi, sambil tertawa, Ia berkata, “Tidak tercemar oleh duniawi, tidak tercemar oleh duniawi, inilah yang memiliki kunci langit, dapat tiba di segala tempat, tak heran, tak heran!”
Dewa terbang ke angkasa dan berkata, “Saya tahu Yang Arya adalah Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu!”
Saya berkata, “Itu hanya tanda pengenal saja.”
Dewa berkata, “Saya hanya tahu ada seseorang, berkali-kali turun ke dunia untuk melindungi kebenaran sejati, menghancurkan kesesatan, menegakkan Dharma sejati, di tangannya terdapat kunci langit, dapat mencapai segala alam Dharma, saya bernamaskara pada Yang Arya.”
Saya berkata, “Dewa yang termulia, kalau begitu, bernamaskaralah pada angkasa! Anda pasti mengerti maksud saya.”
Dewa berkata, “Benar, benar.”
Sajak: (Angkasa)
Siapa saya?
Saya siapa?
Lupa dengan segalanya dan tidak berbuat apapun
Timur juga
Barat juga
Tangan memegang kunci
Menetap di mana-mana
Anda bertanya padaku
Saya bertanya padamu
Kita tidak saling mengecewakan
Saya siapa?
Lupa dengan segalanya dan tidak berbuat apapun
Timur juga
Barat juga
Tangan memegang kunci
Menetap di mana-mana
Anda bertanya padaku
Saya bertanya padamu
Kita tidak saling mengecewakan
*Prakata dari buku ke 260: Kunci Langit
*dicopy dari :http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=272&id=6
Kamis, 15 Februari 2018
NEGERI SETAN RAKSASA
Suatu malam, saya masuk ke negeri setan raksasa, ini adalah sebuah negeri yang sangat menakutkan, ada setan berkepala besar, setan kotor, setan bermata satu, setan tak bertangan, setan tak berkaki, setan iga. ....
Ada semacam setan yang sangat istimewa, organ dalam tubuh tergantung di luar tubuh, sekujur tubuh dirayapi oleh serangga.
Perilaku setan-setan ini:
-- Asusila.
-- Makan darah segar.
-- Bicara cabul.
Aneh.
-- Memanjatkan kitab aneh.
-- Menyembahyangi hantu.
-- Telanjang.
-- Saling membunuh, mengunyah tangan dan kaki.
Singkat kata, saya tidak mampu menggambarkan [koadaan] negeri setan raksasa, karena negeri ini, dunia setan raksasa ini, benar-benar adalah "kota dosa", merubuhkan pemikiran saya, sepanjang hidup saya, tidak pernah terpikirkan ada dunia seperti ini. Di dalam pemikiran saya, tidak ada konsep seperti ini.
*
Saya teringat dengan orang-orang punk, pix, pecundang, hippie, preman berkumpul.
Seperti sebuah rumah sakit jiwa yang tak bertepi.
Saya menerobos di antaranya.
Para setan melihat kedatangan saya, sekelompok setan menyerbu, saya melarikan diri, mereka mengejar, saya melarikan diri ke setumpuk reruntuhan.
Yang menakutkan adalah:
Saya menemukan Dharmaduta Zhenfo Zong. Di antaranya ada upasaka/sika dan bhiksu/ni.
Oh, Tuhan! Saya terperanjat.
Tak disangka mereka masuk ke negeri setan raksasa.
Sebagian sedang makan tanah. (hanya karena menelan mahavihara, vihara, dan cetiya)
Sebagian makan tembaga dan besi. (hanya karena menelan materi insan)
Sebagian minum darah. (keserakahan untuk memberi makan keluarga mereka)
Sebagian makan tulang manusia. (keserakahan akan rupa)
Sebagian berkomat-kamit, berkeliaran tanpa tujuan. (kehilangan sradha)
......
Semua ini melanggar Samaya.
Jijik! Jijik! Amis! Amis!
Orang-orang tersebut, jiwa dan raga mereka bernanah, sekujur tubuh menebarkan bau tidak enak, orang yang sangat menderita tak tertahankan, melihat kedatangan saya.
Ada yang tertawa bodoh.
Ada yang memperlihatkan taring dan memainkan cakar.
Ada yang melarikan diri.
Ada yang menengadah dan menggoyangkan ekor.
Saya melihatnya, tidak habis pikir, sangat tidak berdaya.
*
Saat ini, ada seberkas cahaya datang, muncul Dewa Samaya, dewa memancarkan sinar keemasan, tangan memegang penggaris Sila.
Ia berkata:
Semua benda yang dibuat, berakhir dengan kerusakan;
semua kekayaan yang dikumpulkan, berakhir dengan kehabisan; semua pria dan wanita yang berwujud, berakhir dengan perpisahan;
kehidupan apapun, akhirnya adalah kematian;
semua bhajana-loka, berakhir dengan kehilangan.
Dengan demikian, masihkah serakah?
Dengan demikian, masihkah benci?
Dengan demikian, masihkah bodoh?
Mahaguru Lu! Anda harus beritahu orang-orang ini!
Saya berpikir:
Segala sesuatu di dalam tumimbal lahir, sungguh tidak ada artinya, hanya sumber penderitaan saja.
Saya sendiri juga harus sadar.
Kemudian menyadarkan insan lain.
Karena segala sesuatu di dunia manusia "tidak ada yang didapatkan", kita harus ada niat meninggalkan samsara dan terbebaskan.
*
Siswa mulia yang terkasih!
Saya prihatin dengan orang-orang yang terjatuh ke dalam negeri setan raksasa!
Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!
MENYARANKAN MENJAPA MANTRA BODHISATTVA MANJUSHRI
Ada seorang bernama Lianhua Yuehui melahirkan seorang putra, saat anak ini lahir, kepala bulat dan bertelinga panjang, mirip sekali dengan Maitreya versi China, berkepala bulat, berperut bulat, keempat anggota badan juga gemuk, tertawa lebar, sangat gembira, mengikuti lomba bayi sehat, mendapatkan juara satu.
Belakangan tumbuh dewasa, keluarganya menemukan ada tanda-tanda aneh.
Berjalan tertatih-tatih.
Tidak bisa bicara.
Kedua mata tidak bisa melihat dengan jelas.
Keluarganya memintanya untuk melakukan sesuatu, ia tidak bisa lakukan, atau tidak mengerti melakukan, bentuknya makin lama makin mirip cacat mental.
Sering tertawa dingin.
Meneteskan air liur.
Hanya bisa berteriak, “Ah! Ah!”
Orang tuanya kuatir, diperiksakan ke dokter, ada seorang dokter berkata bahwa ia menderita sejenis epilepsi.
Dokter lain berkata bahwa ia menderita autisme.
Orang tuanya membawanya ke hadapan saya.
Saya menjamah kepala memberkati si anak, saya menyarankan orang tuanya sering menjapa Mantra Bodhisattva Manjushri dan melimpahkan jasanya kepada si anak. Mantra Manjushri adalah, “Om A La Ba Zha Na Di”.
*
Lianhua Yuehui adalah siswa yang bersradha sangat teguh.
Ada orang berkata, “Kalian percaya Mahaguru Lu, namun, malah melahirkan putra kesayangan seperti ini, masih percaya apa lagi?”
Lianhua Yuehui menjawab, “Ini adalah rintangan karma kami sendiri, mana boleh menyalahkan Mahaguru Lu!”
Orang itu berkata, “Bukankah Mahaguru Lu akan melindungi?”
Lianhua Yuehui menjawab, “Mahaguru Lu memiliki 5 juta siswa, rintangan karma setiap orang berbeda-beda; ini sama seperti begitu banyak penganut Agama Buddha, rintangan karma juga berbeda-beda, bukan berarti setiap umat Buddha selamat sejahtera dan segalanya berjalan dengan baik!”
Lianhua Yuehui melanjutkan, “Sang Buddha hanya mengajari kita ketidakkekalan. Sang Buddha sendiri juga mengalami lahir, sakit, tua, dan kematian, sama-sama mengalami banyak bencana!”
Si pendatang merasa malu dan pergi.
*
Lianhua Yuehui lebih rajin lagi menjapa mantra Manjushri.
Tiba-tiba suatu malam, melihat Bodhisattva Manjushri datang, Bodhisattva menunggang singa, menampilkan warna lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, hanya terlihat Bodhisattva memegang pedang.
Hanya satu sabetan pedang, kepala si anak dipenggal.
Yuehui sangat sedih!
Namun, terlihat Bodhisattva Manjushri membawa sebuah kepala dari tempat lain, secara perlahan, kepala tesebut dipasangkan ke leher si anak.
Yuehui terkejut sekali melihatnya.
Saking terkejutnya, ia pun terbangun, ternyata hanya sebuah mimpi.
Ia melihat anaknya.
Terlihat si anak tertidur pulas, melihat leher si snak, tidak ada keanehan, ia pun lega.
Setelah bermimpi seperti ini, suami pulang dari luar kota, membeli sebuah pratima Bodhisattva Manjushri yang terbuat dari lazuardi, Bodhisattva berwarna hijau tua, singa berwarna kuning, Yuehui melihatnya, berseru keras, “Luar biasa!”
Yang paling luar biasa adalah putra Lianhua Yuehui, makin hari makin normal, menjadi anak yang cerdas.
*
Siswa mulia yang terkasih:
Setiap orang memiliki rintangan karma masing-masing, dan rintangan karma setiap orang belum tentu sama.
Setiap keluarga mempunyai kesulitan masing-masing.
Mohon Mulaguru memberkati, mohon Buddha Bodhisattva memberkati, yang terpenting adalah “menghormati dengan tulus”.
Yang berjodoh pasti terbebaskan dari malapetaka!
Seperti Lianhua Yuehui menjapa mantra Manjushri, menyaksikan sendiri Manjushri, malapetaka pasti teratasi!
❤
Tambahan:
Link Youtube penjapaan mantra hati Bodhisattva Manjushri oleh Imee Ooi, klik disini
sumber tulisan: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=252&id=8973
Kamis, 08 Februari 2018
TANPA PEMBINAAN DIRI AKAN MENJADI HANTU
Penulis sekarang berusia
39 tahun. [Catatan: Maha Acarya Lu menulis buku ini pada tahun 1983] Saya tidak
bisa mengatakan saya sudah tua karena saya belum mencapai usia 60 tahun. Saya
tidak mengatakan saya masih muda pula karena saya segera mencapai usia 40
tahun. Dalam waktu 40 tahun lagi, maka saya akan mencapai usia 80 tahun yang
dianggap sebagai usia yang jarang dapat dicapai. Bila saya merenungkan masalah
usia, setengah dari usia saya ini telah hilang.
Beruntung bahwa pada saat
saya berusia 26 tahun, secara gaib dan kebetulan, saya menjadi sadar akan sebab
dan kondisi kehidupan kehidupan masa lampau saya. Dari saat itu sampai
sekarang, saya telah melatih diri selama 14 tahun tanpa menundanya satu hari
sekalipun. Akhirnya, saya berhasil mencapai "8 Kekuatan External"
(External Eight Accomplishments) dan akan mengabdikan sisa hidup saya untuk melatih
"8 Kekuatan Internal" (Internal Eight Accomplishments). Saya
mempunyai keyakinan bahwa saya akan mencapai keBudhaan dalam kehidupan saya
yang sekarang. Saya telah berikrar untuk melatih diri dengan Vajra-dharma. Saya
adalah yidam, mencapai keBudhaan dalam kehidupan yang sekarang. Saya telah
berhasil dan mengalami semua respons/kontak batin yang disyaratkan.
Sekarang, di mata saya,
ke 3000 alam itu terlihat kecil seperti sebutir beras. Roh saya dapat memenuhi
angkasa di enam penjuru atau menyusut kedalam sebutir pasir. Setelah berhasil
penuh, roh saya dapat keluar dari ubun ubun kepala dan terbang ke tanah suci
Budha yang manapun dan ke 10 alam Dharma. Dengan mendapatkan mata dewata, saya
dapat melihat segala sesuatu di sepuluh alam Dharma. Dengan telinga dewata,
saya dapat mendengar ajaran Dharma kapanpun juga. Dengan 'penguasaan diri' dan
kemerdekaan, saya bebas sepenuhnya untuk melakukan segala sesuatu tanpa
hambatan. Roh saya dapat terjun kedalam air tanpa tenggelam dan masuk kedalam
api tanpa terbakar. Saya dapat menerjang semua pintu neraka dan mengatasi hukum
sebab akibat, tidak lagi dibatasi oleh panca-skandha. Sewaktu saya mencapai
nirvana, sudah pasti akan timbul kejadian kejadian gaib. Saya dapat
menyembuhkan penyakit, mengangkat para insan dari penderitaan, dan melatih diri
dengan semua metode rahasia yang tak pernah terpikir bisa dilakukan.
Karena saya telah membuat
resolusi Bodhicitta yang terbesar, sudah sewajarnya saya menaruh welas asih
kepada para insan. Terlahir sebagai manusia sungguh merupakan kesempatan yang
sukar didapat. Sungguh sayang bahwa orang tidak menyadari pentingnya pembinaan
diri selagi mempunyai tubuh fisik manusia ini. Begitu tubuh fisik manusia ini
hilang (mati), anda belum tentu bisa mendapatkannya lagi dalam 10 ribu tahun. Lagipula,
usia manusia sangatlah pendek dan mudah berubah. Dalam sekejab, seseorang bisa
mati seperti matinya lampu. Tak terhitung orang yang mati dalam usia muda. Usaha
membina diri harus dimulai sedini mungkin seperti usaha mematikan api
kebakaran.
Menurut pandangan saya,
para insan di dunia fana ini yang mengejar posisi/jabatan tinggi adalah seperti
insekta di tempat kotoran, berputar putar naik turun, saling bergulat untuk
berada di tempat paling atas. Insekta insekta ini mati tanpa mencapai
penerangan! Karena mereka begitu cintanya dengan posisi/jabatan tinggi, setelah
mereka mendapatkannya, mereka tidak bisa meninggalkannya seperti halnya orang
yang kecanduan ganja. Mereka yang kehilangan jabatannya berada dibawah belas kasihan
dari yang lainnya seperti halnya insekta yang mati. Kenaikan dan jatuhnya
seseorang dari jabatan dan status sosial tidak berbeda dari jatuh bangunnya
insekta insekta. Mengapa mengikat diri pada penderitaan semacam itu? Sudah
waktunya bagi mereka untuk membuang kebodohan mereka itu dan mulai melatih
diri.
Ada lagi orang orang yang
gila harta dan keuntungan. Karena uang adalah segala galanya, yang mereka lihat
hanyalah koin dan hal hal lainnya tak lagi mengandung makna bagi mereka. Dengan
bisnis mereka yang maju pesat, mereka sibuk siang dan malam tanpa ada waktu
luang. Hidup dan energi mereka semuanya dituangkan kedalam persaingan sengit
untuk mendapatkan keuntungan uang. Sebagai akibatnya, mereka jatuh terpotong
potong bagaikan kulit luar dari batang bambu. Diantara mereka, yang berhasil
tidak mencapai apa apa kecuali meninggalkan kemewahan bagi anak cucu mereka. Yang
tidak berhasil menjadi tua tanpa mereka sadari. Kesulitan datang menimpa mereka
silih berganti membuat hidup mereka sangat menderita.
Bahkan lebih rendah lagi
dari orang orang ini adalah mereka yang bermabuk-mabukan, berjudi, dan menipu. Apapun
yang mereka lakukan atau pikirkan adalah hal yang buruk dan menimbulkan karma
buruk. Tanpa menyadari adanya pembalasan hukum karma, mereka tidak berhenti
menumpuk karma buruk. Yang lebih parah lagi, sebagian orang sangat menikmati
perbuatan perbuatan jahat seperti membunuh, merampok, membakar rumah orang,
memperkosa, dan lain sebagainya. Penderitaan para insan meningkat. Metode metode
pembinaan diri tak lagi dihiraukan.
Karena rasa kasih dan
belas kasihan kepada para insan ini, saya menulis buku buku rohani untuk
menyadarkan mereka. Saya telah menulis 45 buku sampai sekarang [Catatan: terhitung
s/d tahun 1983], menjelaskan dari yang paling dasar sampai ke teori yang paling
dalam mengenai Budhisme. Ini merupakan
buku saya yang ke 45 dan akan membahas mengenai seni meditasi yang sejati. Buku
ini berisi metode metode penting yang diwariskan oleh para guru guru pewaris. Buku
ini berisi cara rahasia untuk mencapai keBudhaan. Buku ini berisi rahasia
rahasia dewata dan misteri dari alam semesta. Dalam tulisan ini, saya
menggunakan bahasa yang membuat kebenaran yang paling rumit dapat dimengerti
oleh pembaca. Dengan harapan dapat menyadarkan
umat dari penderitaan, saya menjelaskan cara cara yang benar untuk mencapai
Kebenaran (Tao) dengan harapan supaya orang orang yang berjodoh akan
mendapatkan buku ini. Mereka yang berjodoh akan berlatih setiap hari
berdasarkan instruksi dari guru guru yang berpengetahuan untuk mencapai
pengertian akan kebenaran sejati. Bila mereka berlatih dengan tulus seni
meditasi ini, mereka akan cepat lambat mendapatkan keberhasilan dan mencapai
keBudhaan. Mereka akan tiba di pantai seberang untuk hidup di alam kebahagiaan.
Inilah resolusi Bodhicitta saya -- menulis buku buku kebatinan serajin mungkin
demi menyelamatkan para insan.
Sekarang ini, meskipun
saya hanya berlatih dirumah (tidak menjadi Bhiksu), saya sama saja seperti
seorang rahib. Saya tinggal di lantai atas rumah saya di kota Seattle, Amerika
Serikat. Di altar saya terdapat hiolo tembaga kuno, cermin kuno, sebuah bel
vajra, dan sebuah dorje vajra. Di lantai, terdapat karpet. Dalam acara meditasi
saya, dengan topi mahkota merah suci di kepala saya dan berpakaian kasaya, saya
membaca mantra, membentuk mudra, dengan asap dupa mengebul perlahan lahan. Diatas
meja, peralatan untuk menulis hu. Dengan pikiran yang dalam keadaan tenang,
saya merasa berada seperti di surga.
Disini saya berlatih setiap
hari, membaca sutra dan duduk bermeditasi, tidak pernah perduli dengan
peristiwa peristiwa tak berarti di dunia, tidak terganggu siapapun. Dalam acara
meditasi saya, saya berkunjung ke alam alam dewata. Bila telah lelah, saya
tidur beberapa menit. Bila sudah segar, saya terbang lagi ke alam surga. Ini
seperti yang diuraikan oleh sebuah ungkapan: "Alamiah, tak terikat, dan
bebas sepenuhnya. Saya merasa seperti seorang yidam, terang dan kosong. Dengan
dupa menyala, saya melihat segala sesuatu kosong adanya. Roh saya menembus
segala langit dan bersinar pada kebenaran seperti halnya matahari dan
bulan."
Guru saya, Yang Mulia San
San Chiu Hou (Tiga Gunung dan 9 Bagian) pernah berkata: "Dewa anda adalah roh anda sendiri, bukan pikiran yang
biasa kita gunakan untuk berpikir, bukan hati fisik dibawah paru paru. Kekuatan
batin adalah kemampuan untuk memanggil roh dan mengubah diri menjadi makhluk
suci, kemampuan untuk menembus alam semesta dengan roh sendiri, dan kemampuan
untuk mengubah diri menjadi banyak penjelmaan. Semua sadhaka yang telah
berhasil tahu akan hal ini. Orang awam di dunia fana ini tidak menyadarinya. Hari
ini saya telah menulis "The Art of Meditation" yang memenuhi
keinginan langit dan kebutuhan dunia. Usahanya agung adanya. Mengfitnahnya
adalah sama seperti mengfitnah sang Budha, satu dosa yang tak termaafkan.
Avalokitesvara
Bodhisattva (Kwan Im) datang memberitahu saya, "Ketika saya membabarkan
Maha Karuna Dharani dahulu kala, bumi bergetar dan menunjukkan enam bentuk
perubahan. Bunga bunga indah berjatuhan dari angkasa di semua tempat. Seluruh
Budha di sepuluh penjuru bergembira dan memujinya. Roh jahat dan roh sesat
panik ketakutan. Mereka yang melafal mantra ini akan mencapai keberhasilan. Sebagian
akan menjadi Srotapannas (stream enterer -dhyana 1), sebagian akan menjadi
sakrdagamins (kembali ke dunia sekali lagi sebelum mencapai keBudhaan),
sebagian menjadi anagamins (never returner) dan sebagian menjadi arahat. Sebagian
bahkan menjadi bodhisattva dari tingkat satu sampai tingkat sepuluh. Berbagai
insan membuat resolusi bodhicitta. Hari ini Lu Sheng-yen telah menulis buku
"The Art of Meditation" yang mirip dengan Maha Karuna Dharani yang
saya perkenalkan. Mereka yang melatih diri dengan metode ini akan dilindungi
oleh para dewa yang tidak akan pernah meninggalkan sang sadhaka sedetik
sekalipun. Para dewa itu termasuk 4 Raja Dewa, para dewa, naga, yaksa, asura,
garuda, gandharva, kimnara, mahoraga, kumarirupa, dewa tanah, dewa laut dan
sungai, dewa musim semi, dewa arus, dewa obat, dewa hutan, dewa kuda, dewa air,
dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewa bumi, dewa istana, dan lain sebagainya
-- semuanya akan memberikan perlindungan kepada para sadhaka.
Guru Padmasambhava,
patriak pertama dari Tantra Tibet, memberitahu saya: "Di jaman sekarang,
roh jahat berkuasa dimana mana. Pergerakan alam tak teratur, dengan hujan dan
terbitnya matahari yang tidak tepat waktu, angin dan banjir yang membawa
bencana. Sutra sutra suci dibakar menjadi abu; penyakit dan bencana berada dimana
mana, peperangan terjadi disini sana. Bila seseorang tidak mengetahui dharma
yang benar, ia akan terjatuh ke alam kelahiran yang rendah (neraka, setan
kelaparan, dan binatang). Sungguh beruntung Lu Sheng-yen dengan tepat waktu
telah menulis buku buku kebatinan (rohani) ini yang mengajarkan secara
sistimatis pintu masuk menuju Tantrayana yang luar biasa, dari yang paling
dasar sampai yang paling dalam. Bila seseorang melatih diri dengan sepenuh hati
apa yang diuraikan dalam "The Art of Meditation", ia akan menyadari
berbagai bentuk kebijaksanaan, mencapai kesucian samadhi, dan mengerti hukum
hukum alam semesta, terbebaskan dari rintangan karma buruk yang tertumpuk
semenjak 1000 tahun yang telah lewat. Bila ia dapat melatih rohnya, ia akan
mengetahui semua kebenaran tentang kehidupan dan kematian baik di masa lalu
maupun di masa depan. Ia akan mendapatkan semua kebijaksanaan yang tidak
dimiliki oleh orang lain. Lebih dalam lagi, ia akan mencapai tingkat
bodhisattva, melihat semua Budha, mendengar ajaran mereka sehingga
menghilangkan karmanya semenjak waktu yang tak terhingga.
Yang mulia San San Chiu
Hou, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Guru Padmasambhava semuanya muncul dalam
meditasi saya dan meninggalkan instruksi instruksi mereka. Saya sungguh berharap
mereka yang mendapatkan buku ini melatih diri sehari sekali dengan tekun dan
kemudian melipat gandakan usaha latihan setelah beberapa lama. Semoga mereka
tidak mengecewakan para bodhisattva yang telah sekali lagi turun untuk
menyadarkan para insan. Ini merupakan keberuntungan luar biasa bagi semua insan
dibawah matahari.
Biarlah saya sampaikan
pada para pembaca bahwa orang orang yang berintelek tajam tidak hanya melatih
diri dalam satu atau dua kehidupan saja, tetapi dalam banyak kehidupan. Orang
orang yang berjodoh dengan Budha biasanya langsung mempercayai Budhisme begitu
mereka mendengar nama Budha -- ini merupakan hasil latihan di kehidupan masa
lampau. Orang yang tidak berjodoh dan belum pernah melatih diri sebelumnya
biasanya ragu ragu. Tetapi asalkan mereka mendekati Budha setiap hari dan
mendapatkan kontak batin, mereka secara alamiah membangun kebijaksanaan dan
akhirnya tiba di pantai seberang juga. Saya berharap para pembaca membuang
semua kemelekatan, berkonsentrasi pada Budha Dharma selagi hidup di dunia yang
fana ini. Bila anda duduk bermeditasi sejam sehari, anda akan menemui bunga
teratai emas yang mekar sewaktu anda meninggal dunia. Anda pasti akan pergi ke
surga Sukhawati. Bukankah itu sangat baik?
Semoga semua insan sadar
akan sifat sejati mereka.
Lu
Sheng-yen, Juni 1983
**dicopas dari ebook Padmakumara-02, kisah no 2.1, judul asli: Tetap menjadi hantu
tanpa pembinaan diri, merupakan Prakata dari buku "Seni Meditasi"
Kisah 3 arca yang bisa berbicara
Pada suatu hari seorang kawan
bernama Chung Cin Tien datang mengunjungi saya dan langsung berkata, "Lu
Sheng Yen, karena anda sekarang tidak menerima tamu lagi, anda tidak tahu bahwa
di Taipeh ada seorang nyonya yang telah tiga kali mencari anda dan sampai
sekarang tidak berhasil menemui anda sehingga akhirnya dia mencari saya. Dia mengisahkan sebuah cerita aneh kepada
saya. Dia berharap anda mempunyai cara
mengatasi masalahnya itu. Dia telah
banyak mengunjungi banyak guru untuk meminta nasihat, namun semuanya tidak
sanggup mengatasi."
Dengan heran saya bertanya, "Ada urusan apa sebenarnya?"
"Kisahnya begini. Ada orang memberikan dia tiga buah arca anak kecil. Ketiga arca ini tidak lebih dari 6 inchi (kira kira 15 cm); pada masing masing arca, tangannya memegang palu. Menurut orang yang memberikan arca ini, ketiga arca anak kecil tersebut dahulu kala bisa berbicara, bahkan bisa memberitahukan infomasi tentang apa yang akan terjadi. Misalkan, kalau besok mau hujan, arca anak kecil itu akan berkata, "Akan hujan. Harus membawa payung." Kalau besok ada tamu yang akan datang, dia juga bisa memberitahu. "Besok ada tamu akan datang. Siapkan makanan makanan yang lezat." Bahkan, kalau si pemilik pergi berbusiness, arca tersebut dapat memberitahu berapa banyak uang yang akan diterima. Tetapi tiga tahun yang lalu ketiga arca anak kecil ini tidak mau lagi berbicara. Pemilik arca tersebut telah mencari banyak bhiksu untuk memohon bantuan. Bhiksu bhiksu pun tidak sanggup membuat arca arca ini berbicara lagi. Arca anak kecil tersebut memberi petunjuk mimpi kepada pemiliknya bahwa seorang bhiksu yang penuh dengan rasa iri hati telah menutup mulut arca arca tersebut sehingga tidak bisa berbicara dan membuat mereka sangat menderita. Karena ketiga arca tersebut tidak lagi dapat berbicara, pemiliknya mengira ketiga arca itu tidak lagi bermanfaat sehingga diberikan kepada wanita di Taipeh itu. Wanita tersebut mempunyai seorang putri yang kemudian bermimpi dimana arca anak kecil tersebut berkata, "Harap anda pergi ke Tai-Chung untuk mencari sebuah rumah dengan pintu berwarna merah. Disana ada seorang muda yang bernama Lu Sheng Yen. Dia bisa membuat kita berbicara lagi. Lekaslah pergi. Tetapi karena anda sudah tidak menerima tamu lagi, maka wanita tersebut mencari saya dan meminta tolong agar masalah aneh ini kiranya bisa anda bantu atasi."
"Ini sungguh merupakan
masalah yang aneh. Tetapi kalau banyak
bhiksu saja tidak mempunyai cara mengatasi masalah ini, bagaimana saya bisa
mengatasinya? Begini sajalah. Kita bertemu disebuah tempat dimana wanita
itu dapat membawa ketiga arca anak kecil tersebut kepada saya untuk
diperlihatkan. Mudah mudahan saja saya
dapat membantu."
Pak Chung dengan senang berkata, "Baik. Saya juga sebenarnya ingin melihat ketiga arca tersebut untuk menambah pengalaman."
Pada hari yang dijanjikan,
datanglah ibu dari Taipeh dengan putrinya tersebut. Pak Chung datang bersama istrinya juga. Selain itu, ada pula seorang biksu dari
Tai-Chung yang ikut hadir. Wanita dari
Taipeh itu sudah berusia 50 tahun lebih, sedangkan putrinya yang baru berusia
20 tahun lebih itu bertubuh tinggi besar dengan kedua mata yang terang dan
besar. Ibu dari Taipeh itu meletakkan
ketiga arca yang dibawanya diatas meja.
Arca tersebut masing masing memegang palu; wajahnya satu sama lain
sangat mirip seperti tiga bersaudara saja; warnanya sudah mulai luntur. Bila dikira kira, arca arca tersebut sudah
berusia 30 tahun.
Putri nyonya tersebut berkata,
"Pak Lu, ketiga arca ini berturut turut memberi petunjuk kepada saya bahwa
saya harus pergi ketempat anda. Maaf
kalau kami telah mengganggu ketenangan anda."
"Oh, tidak apa apa," jawab saya.
Saya mulai berkomunikasi dengan dunia roh, memohon bantuan Dewa Ciu Thien Sien Ni untuk mencari tahu permasalahannya. Saya menemukan bahwa ketiga arca tersebut bukan saja tidak bisa berbicara tetapi malah sekujur badannya merasa sakit. Dan setelah saya amati dengan seksama, ternyata memang diatas tubuh mereka telah terikat sebuah benang yang berwarna merah muda. Maka pertama saya membuat mudra seperti gunting untuk memutuskan tali tersebut. Kedua, saya menggunakan kekuatan chi saya; saya arahkan mulut saya untuk berhadapan langsung dengan mulut arca tersebut, lalu secara perlahan lahan dan berirama saya arahkan kekuatan chi keluar dari mulut saya ke mulut arca tersebut agar sesuatu yang berkekuatan 'yin' menerima chi dari 'yang'. Kemudian saya membuat mudra untuk membuka tenggorokan mereka. Setelah beberapa saat baru terdengar salah satu arca tersebut dengan suara yang lembut berkata, "Terima kasih."
Saya memberitahu ibu pemilik
arca tersebut untuk menaruh arca arca tersebut di suatu altar yang tersembunyi
dari pandangan tamu tamu yang datang kerumah sehingga tidak menarik
perhatian. Disamping itu, ada beberapa peraturan
kecil lainnya yang juga saya sampaikan kepada mereka.
Biksu yang ikut hadir disitu
merasa kagum dan meminta saya untuk mengajarkan kepadanya ilmu yang disebut
"meminjam chi untuk menggerakkan benda" itu.
Sepuluh hari berselang, saya
menerima sepucuk surat dari nona tersebut yang mengucapkan terima kasih karena
lima hari kemudian ketiga arca anak kecil tersebut benar benar dapat berbicara
lagi.
(diterjemahkan
dari halaman 88 s/d 91 dari buku berjudul "Magical Powers" karya no.
26 dari Master Lu Sheng Yen yang diterbitkan pada Oktober 1976).
**Saya copas dari ebook Padmakumara-01, kisah ke 57.
**Saya copas dari ebook Padmakumara-01, kisah ke 57.
Jumat, 22 Desember 2017
Merasa Bersalah Kepada Para Penghujat
Pernah suatu kurun waktu saya mengalami hujatan dari pihak luar secara bertubi-tubi yang tak pernah terjadi sebelumnya, gencarnya seperti angin topan, gempa, bencana kebakaran, banjir bandang. Saya dikepung dari berbagai penjuru, serangan demi serangan silih berganti, mereka mengoordinasikan sebuah kekuatan besar lalu melancarkan aksi menyeluruh.
Para penghujat ini menggunakan segenap daya upaya, beberapa koordinator mengerahkan segenap akalnya, menulis artikel di internet ataupun media massa, mempertunjukkan kebolehan mereka dalam urusan hina-menghina.
Tepat pada masa itu, ada seorang sahabat lama saya naik ke gunung demi bertanya kepada saya perihal ‘hujatan’ tersebut.
Tepat pada masa itu, ada seorang sahabat lama saya naik ke gunung demi bertanya kepada saya perihal ‘hujatan’ tersebut.
Ia bertanya, “Mahaguru Lu! Apa kesan Anda terhadap semua hujatan tersebut?”
Saya menjawab, “Tidak berkesan.”
Ia tercengang, lalu berkata, “Perkataan mereka sungguh menakutkan! Tidak tahukah Anda?”
Saya menjawab, “Saya tentu mengetahui banyak orang menghujat saya, meskipun demikian, saya sama sekali tidak terpengaruh!”
Saya menjawab, “Tidak berkesan.”
Ia tercengang, lalu berkata, “Perkataan mereka sungguh menakutkan! Tidak tahukah Anda?”
Saya menjawab, “Saya tentu mengetahui banyak orang menghujat saya, meskipun demikian, saya sama sekali tidak terpengaruh!”
Ia berkata, “Saya sudah membaca artikel hujatan tersebut, bahkan saya bukan sebagai orang bersangkutan saja merasa terguncang dan iba kepada Anda, bagaimana mungkin Anda sama sekali tidak terpengaruh?”
Saya dengan tenang berkata, “Jujur kata, hujatan yang membeludak tersebut, satu kata pun tidak pernah saya baca.”
Saya dengan tenang berkata, “Jujur kata, hujatan yang membeludak tersebut, satu kata pun tidak pernah saya baca.”
Ia berkata, “Tidak mungkin! Semua orang ingin membacanya, bahkan saya pun penasaran dan membaca satu per satu artikel tersebut, bagaimana mungkin Anda tidak baca?”
Saya berkata, “Saya tidak punya telepon genggam, tidak punya tablet, tidak punya laptop, bahkan saya tidak bisa menjelajahi internet, bagaimana membacanya?”
Saya berkata, “Saya tidak punya telepon genggam, tidak punya tablet, tidak punya laptop, bahkan saya tidak bisa menjelajahi internet, bagaimana membacanya?”
Ia bertanya, “Bukankah umat bisa mengunduhnya untuk Anda?”
Saya menjawab, “Memang betul ada yang mengunduhnya untuk saya, tetapi saya tidak punya waktu untuk membacanya, langsung dibuang ke tong sampah.”
Saya menjawab, “Memang betul ada yang mengunduhnya untuk saya, tetapi saya tidak punya waktu untuk membacanya, langsung dibuang ke tong sampah.”
Ia bertanya, “Apa mungkin tidak ada yang menuturkannya kepada Anda?”
Saya menjawab, “Ada, tetapi begitu ia buka mulut, saya langsung berkata tidak perlu diteruskan, saya tidak bakal mendengarnya.” Lantas balik badan dan melangkah pergi.
Saya menjawab, “Ada, tetapi begitu ia buka mulut, saya langsung berkata tidak perlu diteruskan, saya tidak bakal mendengarnya.” Lantas balik badan dan melangkah pergi.
Ia bertanya, “Apa mungkin tidak ada yang membicarakannya?”
Saya menjawab, “Mereka tahu saya tidak bakal mendengar maupun membicarakannya, sehingga jarang yang membicarakannya.”
Saya menjawab, “Mereka tahu saya tidak bakal mendengar maupun membicarakannya, sehingga jarang yang membicarakannya.”
Ia bertanya, “Apa prinsip Anda?”
Saya menjawab:
“Tidak melihat.”
“Tidak mendengar.”
“Tidak berbicara.”
Saya menjawab:
“Tidak melihat.”
“Tidak mendengar.”
“Tidak berbicara.”
Sahabat yang bersimpati kepada saya ini berjalan lamat-lamat lalu turun gunung!
Terus terang saya katakan kepada para pembaca, saya merasa bersalah kepada para penghujat saya.
Terus terang saya katakan kepada para pembaca, saya merasa bersalah kepada para penghujat saya.
Mengapa? Sebab mereka telah memeras otak dengan segenap upaya menghina dan mencaci-maki lewat berbagai artikel, malah satu kata pun tidak pernah saya baca.
Saya merasa bersalah terhadap mereka yang telah membuang waktu, tenaga, dan uang, tetapi justru satu kata pun tidak saya baca.
Mohon maaf sebesar-besarnya! Sungguh tidak enak hati terhadap jerih payah dan semangat kalian.....................
Saya merasa bersalah terhadap mereka yang telah membuang waktu, tenaga, dan uang, tetapi justru satu kata pun tidak saya baca.
Mohon maaf sebesar-besarnya! Sungguh tidak enak hati terhadap jerih payah dan semangat kalian.....................
>>>>Selengkapnya di http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=267&id=13
Minggu, 29 Oktober 2017
Manusia dan Makhluk Halus Tiada Beda
Sepengetahuan saya, manusia dan makhluk halus tiada bedanya.
Adapun bedanya, sebagai berikut:
- Manusia mempunyai raga jasmani, makhluk halus tidak mempunyai raga jasmani.
- Manusia berenergi Yang, makhluk halus berenergi Yin.
- Manusia mati menjadi makhluk halus, makhluk halus mati menjadi manusia.
- Manusia mempunyai raga jasmani, makhluk halus tidak mempunyai raga jasmani.
- Manusia berenergi Yang, makhluk halus berenergi Yin.
- Manusia mati menjadi makhluk halus, makhluk halus mati menjadi manusia.
Demikianlah transformasi dari wujud yang satu ke wujud yang lain, sehingga disebut ‘bagaikan mimpi dan ilusi’. Sama sekali tidak salah jika dikatakan seperti mimpi ataupun sandiwara.
Di alam manusia terdapat negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana semuanya melakoni sandiwaranya masing-masing.
Alam halus juga terdapat negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana semuanya melakoni sandiwaranya masing-masing.
Coba direnungkan, jika makhluk halus dikatakan muskil, lantas apa yang tidak muskil dari manusia?
Perihal negara, ras, keluarga, dan individu, yang mana yang tidak muskil?
Ketahuilah, alam halus juga sangat semrawut seperti alam manusia. Makhluk halus juga ada yang saleh, ada yang jahat, juga mempunyai perasaan bahagia, marah, sedih, dan gembira. Sesama makhluk halus juga bisa saling berseteru.
Manusia saling bersaing.
Makhluk halus juga saling bersaing.
Pada umumnya, makhluk halus takut pada manusia, hal ini dikarenakan manusia berenergi Yang, sedangkan makhluk halus berenergi Yin, energi Yin gentar terhadap energi Yang.
Makhluk halus mengganggu manusia dikarenakan beberapa hal, sebagai berikut:
1. Manusia menyerobot ke alam halus, mengganggu ketenangan makhluk halus, sehingga mereka menjelma wujud untuk mengusir manusia.
2. Makhluk halus berharap dapat dipuja manusia, sehingga sesekali suka memamerkan kekuatan gaib supaya manusia berkenan memuja dan memberi sesaji kepada mereka.
3. Ada juga makhluk halus berkekuatan besar yang suka berbuat ulah, tetapi mereka menghindari manusia yang berenergi Yang kuat, sebaliknya akan merasuki manusia yang bernasib buruk.
4. Manusia yang mendapat kerasukan akan jatuh sakit akibat gangguan makhluk halus. Ada pula yang saling memperalat, seperti yang bermata pencaharian sebagai medium.
5. Beberapa makhluk halus berperangai ganas yang semasa hidupnya diperlakukan semena-mena, mati dengan membawa rasa dendam dan amarah, lalu meminta izin Dewa Baka untuk membalas dendam di alam manusia.
Yang tersebut di atas adalah beberapa penyebab gangguan makhluk halus.
Ketahuilah, apabila manusia tidak menarik perhatian makhluk halus, makhluk halus tidak bakal tertarik pada manusia. Manusia bisa kesambet makhluk halus, pemicunya karena manusia itu sendiri.
Contoh:
- Orang yang berhawa nafsu besar akan ditempel hantu cabul.
- Orang yang berjiwa beringas akan ditempel hantu ganas.
- Orang yang berhati saleh akan ditempel hantu baik hati.
- Orang yang suka memburu harta akan ditempel hantu materi.
- Orang yang gemar berjudi akan ditempel hantu judi.
- Orang yang berjiwa sadis akan ditempel hantu jahat.
- Orang yang berjiwa pendendam akan ditempel hantu dengki.
- Orang yang mengidap penyakit autis akan ditempel hantu penyendiri.
- Orang yang mengidap penyakit depresi akan ditempel hantu temperamental.
Semua ini menunjukkan bahwa faktor pemicunya adalah manusia itu sendiri.
Saya pernah melihat:
- Seorang hartawan melintas, disertai oleh puluhan makhluk halus pecinta harta.
- Seorang wanita nakal berpenampilan menggoda, disertai oleh banyak hantu cabul.
- Seorang yang haus tahta, disertai oleh hantu pemburu tahta.
- Seorang yang berakhlak sejati, di sekelilingnya tidak ada makhluk halus.
Makhluk halus berani mengintimidasi atau tidak, semuanya berpulang pada batin manusia yang bersangkutan.
Apakah di samping Anda ada makhluk halus?
Ketahuilah, hal ini tidak perlu bertanya kepada saya, cukup tanyakan hati sendiri. Apakah ada perasaan bersalah?
Jika ada perasaan bersalah, wajar bila ada makhluk halus.
Jika tiada perasaan bersalah, niscaya tidak ada makhluk halus.
*sumber: Buku ke-243 -- Kisah Serba Muskil
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=254&id=4
Langganan:
Postingan (Atom)
