Minggu, 17 Maret 2019

PENUTURAN ORANG YANG GANTUNG DIRI


Suatu kali, saya naik mobil siswa saya untuk meninjau fengshui, tiba-tiba di luar bertiup seembus angin kencang, saya secepatnya menurunkan jendela mobil,

Angin memang sangat kencang, seketika, semua daun yang berguguran di tanah dan debu tanah bergulung-gulung, ranting pohon di luar bergoyang hebat, langit seolah-olah menjadi gelap, bumi juga berubah menjadi kelabu, awan di tengah angkasa juga melayang cepat.

Untungnya mobil masih mantap, selama perjalanan, saya tidak merasa mabuk, saya sempat mengantuk, tiba-tiba bertemu seorang yang lidahnya terjulur panjang, berdiri di hadapan saya dan berkata pada saya, “Liansheng, cepat tolong saya! Cepat tolong saya!”

Orang yang lidahnya terjulur panjang, begitu selesai bicara, langsung hilang.

Saya tiba-tiba terbangun.

Merasa, “Aneh!”

Setelah terbangun, saya berpikir sejenak, orang yang lidahnya terjulur panjang ini, tidak pernah saya temui sebelumnya, saya melihat orang ini seperti pemuda yang berumur sekitar 20 tahun, wajahnya penuh hawa kebencian, hanya sekelebat saja lalu hilang.

Saya tahu, pasti ada masalah, sehingga saya berikan perhatian khusus!

*

Saya meninjau tempat fengshui, pemilik bermarga Yin, ia meminta saya meninjau fengshui rumah tinggalnya, saya melihat beberapa kamar tidur, khusus menunjuk salah satu kamar tidur dan berkata, “Kamar ini selalu diliputi hawa kebencian!”

“Hawa kebencian apa?”

Saya menjawab, “Hawa kebencian ini aneh, bukan hawa kebencian manusia, juga bukan hawa kebencian arwah, jangan-jangan orang ini berada di antara hidup dan mati.”

Kepala keluarga bermarga Yin terkejut sekali mendengar penuturan saya, “Bapak memang hebat!”

Seketika, kepala keluarga bermarga Yin baru cerita pada saya:

Kamar ini ditempati oleh putranya, Yin Guo, Yin Guo sangat penurut, prestasinya di sekolah sangat baik, kepribadiannya lembut dan agak introvert.

Yin Guo sempat menjalin kasih dengan seorang wanita imut dan cantik.

Keduanya sempat saling mencintai dan saling mengucapkan janji untuk menikah dan sehidup semati.

Belakangan, kekasihnya pindah ke lain hati.

Sehingga timbul kebencian dalam hati Yin Guo.

Yin Guo bukan membenci teman wanitanya, tetapi sahabat yang paling dekatnya, tak disangka mengkhianati dan merebut kekasihnya.

Yin Guo mogok makan.

Terakhir, Yin Guo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggunakan ban pinggangnya diikat ke tiang, lalu gantung diri di kamarnya sendiri.

“Sudah meninggal?”

“Seperti yang Bapak katakan, dikatakan meninggal, ia belum meninggal, dikatakan hidup, ia juga tidak hidup, seketika ditolong, nyawanya memang berhasil diselamatkan, tetapi menjadi koma dan memasuki kondisi tidak hidup dan tidak mati!

“Sudah berapa lama?”

“Setengah tahun.”

Kepala keluarga Yin berlutut di hadapan saya, sambil meneteskan air mata, ia mengatakan bahwa:

Ia hanya memiliki seorang putra, selebihnya adalah putri, kini putranya dalam kondisi koma, segala harapan pun menjadi sia-sia.

Ia mendengar orang lain mengatakan, Bapak Sheng-yen Lu sangat luar biasa dalam ramal-meramal, fengshui juga nomor satu, segala penyakit yang sulit disembuhkan pun, dapat disembuhkan, banyak mukjizat, tak terhitung lagi, telah menyembuhkan penyakit banyak orang. Ia bertanya pada dokter, dokter memberitahunya, tunggulah mukjizat! Dokter ini juga berkata padanya, carilah seorang yang bernama Sheng-yen Lu untuk mengatasi masalah ini!

Saya membisu begitu mendengarnya.

Saya berpikir, sebelum saya datang, saya sempat mengantuk sebentar di dalam mobil, yang saya lihat justru adalah Yin Guo, ternyata ia bukan arwah, melainkan koma, rohnya keluar dari tubuhnya untuk datang meminta pertolongan saya, saya bisa merasakan ketulusannya.

Saya melihat kepala keluarga Yin juga orang jujur, seorang veteran, seumur hidup setia pada negara, melihat ia berderai air mata, saya tidak tega.

Namun, Yin Guo adalah pasien koma, apakah koma itu mudah disembuhkan? Mudah siuman? Bagaimana seluk-beluk masalah di dalamnya?

Akhirnya, saya berkata, “Saya akan berusaha semampu saya! Ia pasti akan sembuh!”

Hanya karena Yin Guo pribadi menampakkan diri pada saya, ia datang langsung memohon pada saya!

*

Sepulangnya, saya dengan tulus membangun sebuah altar:
Altar setinggi 3 kaki, lebar 24. Altar dibagi menjadi 3 tingkat, tengah bendera kuning, Mao Ji unsur tanah. Timur bendera hijau, timur Jia Yi unsur kayu. Barat bendera putih, barat Geng Xin unsur emas. Selatan bendera merah, selatan Bing Ding unsur api. Utara bendera hitam, utara Ren Gui unsur air.

Tingkat kedua menggunakan warna merah, menekan seluruh hari 365 derajat.

Tingkat ketiga menggunakan warna kuning, menekan 72 Disha.

Altar saya ini baru digunakan jika resmi menggelar ritual.

Saya menggunakan metode pengundangan Aliran Qingcheng, Xuanmen, Taoisme, saya membentuk mudra pedang, kaki menginjak formasi, menjapa mantra:
咒印若風雷,
Zhòu yìn ruò fēngléi,
天下須臾至;
Tiānxià xūyú zhì;
神仙聞申召,
Shénxiān wén shēn zhào,
急急如律令。
Jí ji rú lǜlìng.

Hanya perlu sesaat saja, dari tengah angkasa turun sesosok dewa, kepala bermahkota emas ekor ikan, tubuh berjubah bangau, dalaman jubah Dewa Bagua, rumbai-rumbai membuat dua simpul alam semesta, bertulang dewa dan bebas leluasa, tangan memegang kendi obat dan kotak obat.

Dewa ini adalah Dewa Huatuo, keahliannya menyembuhkan berbagai jenis penyakit, begitu obat mengenai sasaran, penyakit pun sembuh, merupakan raja dewa pengobatan.

Mungkin ada yang akan curiga, bagaimana Liansheng Sheng-yen Lu dapat mengundang Dewa Huatuo, tidak tahukah Anda, saya belajar Buddha dan Tao sudah puluhan tahun, dasar saya sangat kuat.

Saya memberikan penghormatan pada Huatuo.

Huatuo berkata, “Guru mengundang dengan Xian Tian Wu Ji Zheng Fa, apa yang bisa saya bantu?”

Saya melaporkan semua masalah Yin Guo.

Begitu Dewa Huatuo mendengar, merasa hanya masalah kecil, begitu lengan jubahnya dibentangkan, lalu perlahan-lahan menghilang.

Dalam hati saya berpikir, penyakit Yin Guo ini, bertemu saya, ditambah Dewa Huatuo turun tangan langsung, begitu Dewa Huatuo turun tangan, begitu obat mengenai sasaran, penyakit pun sembuh, sekalipun penyakit menahun dan mematikan, juga bisa sembuh.

Saya menunggu kabar gembira dari Dewa Huatuo. Tak lama kemudian, Dewa Huatuo kembali, tampak wajahnya memucat.

“Guru, maaf saya tidak mampu menunaikan tugas saya.”

“Apakah manusia koma tidak bisa disembuhkan?” tanyaku.

“Bukan.”

“Kalau begitu, mengapa?” saya tegang.

“Masalah ini berhubungan dengan dunia akhirat, karena rohnya tidak berada di kepala, saya tidak mampu menyembuhkan, mintalah para dewa akhirat untuk memeriksanya.”

Dewa Huatuo pun pergi.

Kali ini saya tertegun, tak disangka, saya telah berusaha keras mengundang Dewa Obat, malah tidak dapat menyembuhkan manusia dalam kondisi koma, ini di luar dugaan saya, memangnya Yin Guo telah masuk dalam kitab hantu.

Sehingga saya mengundang Raja Yama.

Datanglah segulung kabut dingin, begitu buyar, muncul sesosok Raja Yama, Raja Yama ini belum pernah saya temui seumur hidup saya.

Kepala Raja Yama ini seperti kepala unta, lehernya seperti angsa, wajahnya sangat beringas, kumisnya seperti udang, telinganya seperti telinga sapi, tangannya seperti kait baja, tubuhnya seperti naga, kakinya seperti macan, di mulutnya taring mencuat di atas dan di bawah.

Saya terkejut sekali melihatnya, “Anda Raja Setan dari mana?

Raja Setan menjawab, “Raja Setan Pencatat Kitab. Ada petunjuk apa sehingga Guru mengundang saya?”

“Mohon periksa arwah Yin Guo ada di mana?”

Raja Setan langsung membuka kitab, dalam seketika, jawaban ditemukan, arwah Yin Guo belum masuk kitab, dengan kata lain, di dalam kitab hantu, belum ada namanya.

Saya mengantarkan kepergian Raja Setan.

Selanjutnya, saya benar-benar kehabisan akal, saya mengundang Dewa Huatuo menyembuhkan penyakit koma Yin Guo, ini sudah sangat luar biasa. Saya mengundang lagi Raja Setan Pencatat Kitab untuk memeriksa kitab hantu Yin Guo, ini juga mesti memiliki daya gaib yang luar biasa baru dapat melaksanakannya. Kini keduanya sia-sia saja, saya kehabisan akal.

Tadinya saya mengira masalah Yin Guo adalah masalah kecil, asalkan saya turun tangan, maka akan teratasi dengan mudah, saya sudah sering menemukan penyakit yang sulit disembuhkan di bumi ini, tidak ada yang mampu mempersulit saya, tak disangka masalah Yin Guo justru mempersulit saya.

Saya ingin menyerah.

Namun, saya telah berjanji pada kepala keluarga Yin, “Ia pasti akan sembuh!”

Saya dilema.

*

Malamnya, saya menguatirkan Yin Guo, roh saya masuk ke Dharmadhatu, masuk ke Dharmadhatu adalah suatu hal yang sangat menakjubkan, jika diceritakan, akan sulit dipercaya, sama sekali tidak perlu naik kendaraan ataupun kapal, tetapi, bisa menjelajahi lima danau dan empat samudera sesuai keinginan kita, seluruh jagad raya (Trisahasramahasahasralokadhatu) pun bisa dicapai dalam satu pikiran.

Lagipula, begitu roh saya masuk ke Dharmadhatu, tidak hanya menghancurkan ruang, bahkan bagi yang berakar kuat, waktu pun dihancurkan, pepatah kuno mengatakan, batu lapuk dan pinus layu dalam satu musim gugur, ini hanya pembinaan diri biasa saja, pembinaan diri yang lebih dalam, memasuki kehidupan lampau, memasuki kehidupan yang akan datang, memperoleh kemampuan mengetahui takdir tiga kehidupan.

Roh saya memasuki Dharmadhatu, seketika:
Jiwa dan raga bebas leluasa.
Di luar ruang dan waktu, tidaklah muskil.
Segala masalah dibuang jauh-jauh.

Saya melatih ‘Api Tummo’, dengan sendirinya memiliki ‘api dalam tubuh’, saya melatih ‘Prana’, dengan sendirinya memiliki ‘angin dalam tubuh’, inilah:
Bunyi angin dan api muncul di angkasa,
Bebas menjelajah seluruh Dharmadhatu;
Saya dapat mencapai seluruh alam semesta dalam sekejap,
Sadhana Tantra Satya Buddha memang luar biasa.

Karena raga dan hati saya menguatirkan masalah Yin Guo, dengan sendirinya melihat tubuh Yin Guo berbaring di dalam rumah sakit, memang sesosok mayat hidup (kondisi koma), dilihat lagi, di dalam tubuhnya hanya ada satu roh dan satu arwah, dua roh dan enam arwahnya tidak terlihat.

Saya tiba lagi di satu tempat, melihat sebuah pintu, di atasnya tertulis ‘Taman Roh Cacat’, masuk ke dalamnya, menemukan kondisinya sangat berantakan, bau di dalamnya sangat menyengat.

Di dalam ‘Taman Roh Cacat’, terdapat banyak roh yang cacat, ada yang putus kepala, putus tangan, putus kaki, semua tidak lengkap, jantung saya berdegup kencang begitu melihatnya.

Tepat pada saat saya ingin keluar, melihat sesosok hantu gantung diri menghampiri, hantu ini bukan orang lain, melainkan Yin Guo sendiri.

Yin Guo begitu bertemu saya, ia berseru keras, “Liansheng, cepat tolong saya! Cepat tolong saya!”

Saya bertanya, “Mengapa Anda di sini? Apakah Taman Roh Cacat itu?”

Yin Guo memberitahu saya, karena membenci sahabat saya yang merebut kekasih saya, hati saya kecewa, lalu mengambil ban pinggang dan ingin bunuh diri dengan gantung diri.

Samar-samar, di dalam lingkaran ban pinggang ada bayangan semu, yaitu adegan sahabat saya sedang bercumbu dengan kekasih saya, hati saya terbakar api kemarahan.

Samar-samar, di telinga mendengar kata-kata, “Wahai orang yang mencari mati, di dalam kematian akan ditemukan ketenangan dan kebahagiaan, Anda masuk saja! Begitu mati, segala masalah akan selesai, kematian akan membawa kenikmatan tersendiri.”

Lewat motivasi dari kata-kata ini, ia pun masuk.

Selanjutnya dunia bayangan ilusi, samar-samar, ia merasa dirinya tidak benar-benar meninggal dunia, seluruh tubuh panas seperti mendidih, tiba-tiba dingin seperti membeku, seluruh sendi tubuh tercerai-berai satu demi satu, kulit sakit sekali seperti mau membusuk, terakhir roh dan arwahnya tercerai berai.

Separuh di alam manusia.

Separuh di ‘Taman Roh Cacat’.

“Apakah Taman Roh Cacat itu?” saya bertanya lagi.

Yin Guo berkata:

Alam saka adalah dunia kehidupan, alam baka adalah dunia kematian, yang berada di antara alam saka dan alam baka, arwah dan roh yang tidak mati dan tidak hidup akan jatuh ke dalam dunia Taman Roh Cacat, yang ditampung di dalam Taman Roh Cacat ini adalah para roh dan arwah gentayangan yang cacat dan tidak lengkap anggota badannya dalam kematian yang menggenaskan.

Di sini bukan alam saka, karena tidak memiliki tubuh.

Juga bukan alam baka maupun 3 alam rendah, sebab juga tidak tercatat di dalam kitab hantu. Manusia yang menetap di tempat ini, tubuh fisik mereka masih berada di dalam saka, hanya saja tidak hidup dan tidak mati!

Kebanyakan dari mereka adalah orang yang dalam kondisi koma dan orang-orang sakit jiwa.

Yin Guo memberitahu saya, tempat ini karena dihuni oleh roh cacat, tentu saja pemandangan di sini sangat mengenaskan, seperti neraka.

Saya bertanya, “Apa saja deritanya?”

“Walaupun tidak ada hukuman seperti neraka, tetapi harus diperbudak, misalnya membersihkan kotoran di bumi, memberi makan pada hewan anjing dan kucing di bumi, mengangkut jenasah yang baru meninggal dunia, menarik roh dan arwah yang mati menggenaskan. Setiap hari melihat orang yang tidak memiliki telinga, tidak memiliki mata, tidak memiliki hidung, tidak memiliki tangan, tidak memiliki kaki, hidup sangat sengsara, lebih baik menderita selama hidup daripada kenikmatan dari kematian.”

“Apakah Anda menyesal?”

“Saya hanya ingin keluar dari Taman Roh Cacat!”

“Bagaimana saya menolong Anda? Jika Anda sakit, saya bisa mengatasinya dengan Fu, jika Anda adalah hantu di alam baka, saya boleh mengatasinya dengan ritual penyeberangan, kini, Anda adalah roh cacat, bagaimana mengatasinya?”

Yin Guo menjawab, “Roh cacat ditambah roh cacat sama dengan ritual menjahit!”

“Menggunakan jarum!”

“Benar.”

Saya terbahak-bahak! Tangan kanan saya membentuk mudra, jari telunjuk diluruskan, membentuk ‘Mudra Jarum’, memberikan hawa, berubah menjadi ‘Jarum Sakti’, saya tarik dua roh dan enam arwah Yin Guo ke hadapan tubuh fisik Yin Guo yang koma, di dalam tubuh fisik adalah satu roh dan satu arwah, ini ibarat sepotong kain yang dibelah menjadi dua bagian, kedua bagian ini dapat dijahit dengan benang.

Ada jarum, tidak ada benang juga tidak bisa.

Dari mana benangnya?

Roh saya tiba-tiba keluar dari badan, saya mana mungkin bawa benang, saya ingin meminjam ‘Tali Vajra’ dari Acalanatha, atau meminjam ‘Tali Buddha’ dari Tathagata Krakucchanda, atau meminjam ‘Benang giok kebutan’ dari Mahadewi Yaochi, meminjam ‘Benang 5 Warna’ pada Dewi Mahashri sudah tidak sempat lagi.

Ketika menemui jalan buntu, di dalam otak saya justru teringat Mahamaitri dari Gunung Putuo, Laut Selatan, Bodhisattva Avalokitesvara, di tangan Bodhisattva bukankah memegang botol lazuardi yang bersih, di atas botol tertancap ranting willow yang halus.

Kali ini sudah ada, di luar rumah sakit ada kolam, di tepi kolam ada ranting willow, mengibasi air secara perlahan, membentuk riak air, saya langsung mengambil ranting willow yang halus, saya buat jadi benang halus dengan tangan, jarum dan benang sudah lengkap.

Saya mulai operasi menjahit, saya menjadi dokter bedah.

Satu jahitan demi satu jahitan.

Total dijahit lebih dari 10 jahitan.

Tiga roh dan tujuh arwahnya telah selesai dijahit.

Saya membuka lubang ubun-ubun kepala Yin Guo, tiga roh dan tujuh arwah berbunyi sangat keras laksana ledakan, dengan sendirinya masuk ke dalam ubun-ubun.

Kali ini, beres semua.

Yin Guo janji 3 hari kemudian akan siuman dengan sendirinya, keempat anggota badannya berangsur-angsur dapat bergerak, pulih total. Seketika menjadi berita heboh, pasien koma yang berbaring sudah sekian lama, tiba-tiba siuman, inilah mukjizat.

Kepala keluarga Yin membawa Yin Guo datang berterima kasih pada saya!

Saya berkata, “Tidak apa-apa, sudah kewajiban saya.”

Yin Guo telah pulih sepenuhnya, namun, tidak ingat kejadian saya menolongnya, hanya tertawa konyol.

Yin Guo berkata pada saya, “Saya sepertinya mengenal Anda, familiar sekali!”

Saya mengangguk, saya hanya berkata, “Jangan terlalu melekat dengan masalah di dunia ini, jangan terlalu bodoh, selama hutan masih ada, jangan takut tidak ada kayu bakar, hidup ini banyak hal yang bermakna, jangan dianggap remeh.”

Wajah Yin Guo memerah. (Belakangan Yin Guo sukses besar dalam bidang akademi, ia juga tidak menyia-nyiakan usaha keras saya dalam menyelamatkannya)

Saya hendak jelaskan tentang kejadian ini:
Pertama, alam ‘Taman Roh Cacat’ benar-benar ada, alam ini jarang diketahui orang, saya benar-benar masuk ke dalamnya, roh cacat tentu saja tidak berwujud, di dalam artikel saya menulis putus kepala, putus tangan, putus kaki adalah penglihatan pikiran, bukan bentuk yang sesungguhnya. ‘Taman Roh Cacat’ ini dibangun berkat welas asih dari putri Mahadewi Yaochi terhadap para insan untuk menampung roh dan arwah cacat yang tewas menggenaskan, karena roh cacat berada di dalam pembalasan karma tumimbal lahir, alam ini tentu saja baunya sangat menyengat!

Kedua, perihal mengundang ‘Dew Huatuo’ dan ‘Raja Setan Pencatat Kitab’, orang-orang melihatnya merasa ingin tahu, sebenarnya di dalam jalan Buddha, semuanya adalah hal yang lumrah, kini mengundang dewa turun memberikan petunjuk, juga demikian. Hanya mengundang dewa turun memberikan petunjuk saja, tetapi ada tulisan, datang dan pergi tanpa bayangan. Sementara, saya hanya melihat dan mendengar saja!

Ketiga, artikel ini memperingatkan umat manusia bahwa bunuh diri bukan jalan pintas, bunuh diri mudah sekali berubah menjadi roh cacat, setelah meninggal dunia, lebih menderita, mutlak bukan jalan pembebasan, jiwa telah dikorbankan, bahkan jatuh ke alam rendah, inilah pembalasan karma tumimbal lahir dalam Agama Buddha. Umat manusia jangan melekat, buat apa meninggal dunia demi cinta buta, kita harus mengerti mengalihkan, mengerti anitya, mengerti alami.

Saya mendesah:
Tidak berani melupakan makna kehidupan,
Memahami nama dan tahta maka api pun memadamkan embun beku;
Cinta buta tidak terurai sehingga bertemu rintangan Mara,
Surga di depan mata hilang dalam sekejap.


o0o


*sumber tulisan:
Karya Tulis Mahaguru Lu Shengyen, buku ke-142: In The Stillness of Night

Minggu, 24 Februari 2019

Pengalaman Bertemu Dengan Orang Yang Bunuh Diri


Jalannya sangat panjang dan sepi. 
Panjangnya tak terbatas seperti jalan super tol. 
Angin bertiup kencang.
Inilah wajah dari dunia roh,  tidak terang, malah berkabut.

Aku melihat seorang wanita dari kejauhan semakin mendekat kearahku. 
Aku bertanya tanya didalam hati dengan heran, "Mengapa ada seorang wanita muda berjalan seorang diri di jalan ini?"  Karena ingin tahu,  aku mendekatinya.

"Pak!  Dapatkah anda memberitahuku dimana aku berada?" ia bertanya kepadaku dengan nada seakan akan menemukan seorang juru selamat.

"Anda sudah meninggal dunia dan anda sedang berada di jalan kematian," jawabku.

"Tidak!  Saya belum mati!  Saya masih hidup!  Lihatlah, bukankah saya sedang berbicara dengan anda?"

"Masukkanlah tanganmu ke kantong bajumu dan lihatlah sendiri," kataku memberi saran. 
Ia menuruti saranku dan segera menjadi ketakutan.  Karena bajunya dan tubuhnya tembus pandang, tangannya itu juga tembus pandang ketika masuk kekantong bajunya.  Ia tidak lagi mempunyai badan kasar; ia telah menjadi arwah/roh.

"Dimanakah tubuhku?" tanyanya dengan panik.

"Lihatlah."  Aku menunjuk ke sebuah arah.  Dengan segera sebuah kota muncul dipandangan kami dan kami melihat sebuah rumah duka dimana terdapat sebuah peti mati yang dikelilingi oleh orang banyak yang menangis.  Mayat dipeti mati itu adalah diri wanita ini.

"Astaga! Itu saya?"  ia mengamati orang orang yang berdiri disekeliling peti mati itu -- ayahnya, sepupu sepupunya, rekan rekan sekolahnya, tetangganya -- semuanya sedang menangis dan berbicara dengan nada sedih.

Gambar itu kemudian lenyap.

"Saya tidak percaya saya mati!  Bila saya mati, mengapa saya sedang berdiri disini?  Saya tidak mengerti.  Kemana saya akan pergi?"  ia memandangku dengan mata kosong.  "Apakah anda juga sudah mati?"

"Aku sering mengunjungi alam antara hidup dan mati," jawabku.

"Siapakah anda?"

"Aku bernama Lu.  Kalau anda?"

"Saya adalah Wen."

"Kalau aku tidak salah, anda membunuh diri.  Apakah anda meminum racun?"

Aku melihat aura (kabut) berwarna hitam diatas kepalanya.  Mereka yang membunuh diri, rohnya sendirian saja, tidak mempunyai orang yang datang menjemput dan membimbing mereka ke dunia roh.

"Ya, betul, saya meminum racun,"  katanya sambil mulai menangis dan bercerita.

Kisahnya adalah sebagai berikut:
Ibu Wen wafat ketika ia masih di tahun pertama kuliah di akademi.  Ia jatuh cinta pada saat itu.  Sayang sekali, ayahnya yang seorang pengusaha kaya raya menginginkan ia untuk menikah dengan anak dari seorang teman dagangnya yang juga kaya raya.  Ia menolak.   Karena ayahnya melarangnya untuk menikah dengan pemuda yang dicintainya, ia meminum racun membunuh diri.

"Anda sebetulnya tidak perlu sampai membunuh diri," kataku kepadanya.

"Saya tidak mempunyai pilihan lain."

"Anda meninggal begitu muda usia.  Betapa sayangnya dan sia sianya.  Anda telah kehilangan arti kehidupan ini."

"Sudah terlambat," katanya.

"Kemana anda ingin pergi sekarang?"

"Saya ingin menemui ibuku."

"Hmm, itu aku dapat bantu.  Pejamkanlah matamu.  Bayangkan wajah ibumu.  Panggil nama ibumu.  Roh mu dan roh ibumu akan terhubungkan meskipun ibumu berada ditempat yang sangat jauh sekalipun.  Ibumu akan muncul dan membimbingmu ke tempatnya."

Tidak lama kemudian, dari kejauhan, sebuah wajah muncul.  Ia adalah ibu dari Wen, memancarkan sinar.  Sebagai seorang roh yang telah berpengalaman, ia menuntun putrinya itu.  Tubuh dari roh Wen semakin jauh dari pandangan dan akhirnya menghilang, terbang seperti seekor kupu kupu, menyatu dengan dunia roh.

Jalan itu terlihat sangat panjang dan sangat sepi.   Aku menyimpan photo dari Wen yang diberikannya kepadaku.  Aku berpikir, "Jalan ini akan dilalui oleh banyak sekali orang."

Yang membuatku tak mengerti adalah, ketika aku terbangun dari meditasiku, photo dari Wen itu masih berada di genggaman tanganku.


sumber: e-book Padmakumara-1, kisah ke-28

o0o


KISAH TAMBAHAN, dari Kitab Berkeliling ke Alam Neraka:
--
KISAH TAMBAHAN, dari Kitab Berkeliling ke Alam Neraka:
--
Perjalanan Ke-9
Berkunjung Kembali Ke Kota Mati Penasaran
12 Oktober 1976 (Lun Pe Gwee – Cap Kau)



Chi Kung Huo Fo
“Zaman sekarang, hati dan pikiran umat manusia cenderung memikirkan kemajuan teknologi yang serba canggih. Ini menyebabkan pelajaran tentang rohani atau batin dan keyakinan terhadap agama dianggap sebagai angin lalu.”

“Umat manusia tidak tahu bahwa semua benda yang ada di dunia adalah bersifat tidak kekal. Namun roh atau hati nurani manusia akan tetap hidup.”

“Surga  atau  Neraka tergantung pada pilihan  dari umat  manusia dalam  waktu  sekejap mata.”

“Surga tidak jauh. Asalkan umat manusia bersedia insaf dan berbuat baik, pasti akan menuju ke sana. Dan Neraka juga dekat bagi orang yang berbuat jahat.”

“Asalkan umat manusia bersedia membina diri dengan menjalankan Sila, serta berbuat kebaikan dengan Berbakti, Berdana dan selalu berdoa kepada para Buddha agar dapat mengembangkan sifat welas asih seperti yang dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva, maka Neraka bisa dihindari.”

“Betapa sedihnya keadaan di dalam Kota Mati Penasaran.” “Yang Sheng, bersemangatlah!”

“Hari ini, kita akan berkeliling lagi ke alam baka.”

Yang Sheng
”Baik, Guru!” ”Saya sudah siap.” ”Berangkatlah!”

Chi Kung Huo Fo
”Kita sudah tiba.”

Yang Sheng
”Guru, bukankah kita sudah pernah datang kemari?”

”Dan mengapa kita tidak berhenti di depan Kota Mati Penasaran? Malah harus menunggu di sini?”

Chi Kung Huo Fo
”Para Buddha memandang empat wujud dari benda sebagai sesuatu yang kosong,sehingga pintu Neraka pun terlewati.”

”Oleh karena penglihatan mereka kosong, artinya mereka tidak lagi memiliki nafsu keinginan duniawi, tidak serakah, tidak terikat dan tidak melekat pada hal atau benda atau wujud apa pun.”

”Mereka bebas melintasi seluruh alam semesta. Tidak ada yang menghalanginya.” ”Pertama kali ketika saya mengajak kamu kemari, kita berhenti di luar pintu Kota Mati Penasaran. Ini supaya kamu bisa mengerti setahap demi setahap keadaan di alam baka.” ”Tetapi hari ini, waktu kita terbatas maka kita langsung masuk kemari.”

”Saya harap umat manusia di dunia dapat mengerti. Apabila umat manusia bersedia membina diri dengan menjalankan Sila dan dapat menghilangkan nafsu birahi, keserakahan, kemarahan (emosi), keterikatan terhadap wujud jasmani dan benda-benda duniawi, maka akan bebas dari siksaan di penjara Neraka. Contohnya seperti Saya ini. Saya bebas untuk pergi ke mana saja.”

Yang Sheng
”Guru, apa yang kamu katakan itu adalah Dharma yang sangat dalam.”

”Saya berniat untuk melaksanakan-Nya.” ”Oh!”

“Di depan sudah terlihat para Pejabat dan Jenderal. Mereka sedang menuju ke arah kita.”

Chi Kung Huo Fo
”Yang Sheng, cepat beri salam kepada mereka.”

Yang Sheng
”Hormat saya kepada Pejabat dan Jendral.”

”Saya mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk yang kalian berikan kepada saya beberapa hari yang lalu.”

”Hari ini, saya datang merepotkan kalian lagi. Mohon diberi petunjuk!”

Pejabat
”Oh, tidak usah sungkan!”

”Silakan Buddha Chi Kung dan Yang Sheng masuk ke dalam dan meninjau kembali Kota Mati Penasaran.”

”Saya akan menjelaskan keadaan di sini kepadamu, supaya kamu bisa menulis keadaannya ke dalam kitab Ajaran Kebaikan untuk menasehati para umat manusia di dunia.”

Yang Sheng
”Terima kasih banyak.”

”Guru, mari kita ikuti mereka untuk masuk ke dalam.”

Chi Kung Huo Fo
”Kamu ikuti Jenderal dan Pejabat. Saya ada urusan lain. Harus pergi sebentar.”

Yang Sheng
”Guru mau pergi ke mana?”

”Nanti siapa yang mengantar saya pulang?”

Chi Kung Huo Fo
”Kamu tidak usah khawatir.”

“Setelah tiba waktunya, saya akan balik ke sini untuk menjemput kamu.”

Jenderal
“Yang Sheng, kamu tenang saja.”

”Mari ikut saya jalan!”

Yang Sheng
”Di dalam penjara ini, ada dua sel yang memisahkan para tahanan laki-laki muda dan para tahanan wanita muda.”

”Di antara para tahanan, ada yang rambutnya terkulai dan wajah mereka kelihatan sangat pucat.”

”Mereka sedang memandang ke arah saya terus-menerus.”

”Jenderal, mengapa mereka dikurung di sini?”

Jenderal
”Mereka sewaktu masih hidup di dunia, berpacaran, tetapi hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua mereka. Akibatnya mereka nekat minum obat tidur untuk bunuh diri.”

”Setelah meninggal dunia, mereka ditahan di sini.”

”Saya harap umat manusia di dunia janganlah berbuat nekat hanya karena terbuai dalam percintaan. Semua ini tidak ada gunanya. Setelah meninggal dunia pun tidak dapat hidup berpasangan atau hidup bersama. Malahan dikurung di dalam penjara alam Neraka.”

Yang Sheng
”Di dalam penjara ini, mengapa terdapat para roh yang kakinya patah, tangannya putus atau kepalanya hancur serta bermandikan darah?”

”Mereka semua sedang merintih kesakitan, kelihatannya sungguh kasihan.”

Pejabat
”Mereka ini adalah orang-orang yang meninggal dunia karena mengalami kecelakaan lalu lintas atau ditabrak oleh mobil.”

”Sesungguhnya ajal mereka belum tiba, maka hal ini juga termasuk mati penasaran.”

”Roh mereka  ditahan di sini sementara, sampai ajalnya yang sebenarnya sudah tiba, barulah diserahkan kepada Yen Wang (Penguasa Alam  Baka) untuk disidangkan dan dihukum.”

”Ini menunjukkan adanya keadilan di Bumi dan di alam baka.”

Yang Sheng
“Mana boleh begitu?”

”Mereka meninggal dunia karena kecelakaan. Keadaan mereka sudah sangat sengsara.”

”Mengapa  mereka ditahan atau dikurung lagi di sini dan tidak diperbolehkan untuk bereinkarnasi?”

”Saya pikir hal ini kurang adil.”

Pejabat
”Kamu jangan melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja, tapi juga harus mengetahui alasan yang lain.”

”Ada yang memang kematiannya ditakdirkan harus mengalami kecelakaan. Ada yang karena masalah tertentu sehingga mereka dengan sengaja membiarkan diri mereka ditabrak oleh mobil.”

”Karena hal inilah, maka umat manusia di dunia, jangan menyalahkan langit mau pun bumi.”

”Umat  manusia selalu bertanya, mengapa orang yang berbuat amal kebaikan sering meninggal ditabrak mobil, dan orang yang membina diri mengikuti Ajaran Buddha serta berbuat kebaikan, malah diganggu oleh para setan atau menghadapi cobaan hidup?” ”Apakah Langit sudah tidak mempunyai mata?”

”Sebenarnya, yang menentukan nasib umat manusia adalah karma dari kehidupannya yang lampau. Walau pun nasibnya tidak baik, apabila dia bersedia melatih diri dan terus- menerus berbuat kebajikan, setelah lulus dari segala macam cobaan hidup (karma buruk dari perbuatan jahatnya di masa lalu), maka ia akan memiliki tubuh yang bersinar.” ”Badan jasmani duniawi hanya bersifat sementara. Suatu saat pasti akan rusak (sakit atau mati). Namun roh atau jiwa dari umat manusia tidak akan pernah rusak.”

Yang Sheng
”Kalau sudah ada takdir dari karmanya dari tiga kehidupan di dunia, mengapa masih ada lagi yang disebut mati penasaran?” ”Apakah hal ini tidak saling bertentangan?”

”Kalau begitu, umat manusia di dunia tidak akan percaya lagi adanya Hukum Karma.” ”Coba Pejabat jelaskan secara lebih terperinci.”

”Jangan sampai saya menjadi bingung.”

Pejabat
”Karma dari tiga kehidupan yang dibicarakan oleh umat manusia di dunia, hanyalah merupakan sebagian dari karma dalam kehidupan manusia.”

”Sebenarnya, umat manusia sejak dari zaman dulu atau sejak lahir ke dunia sudah mengalami proses tumimbal lahir yang tak terhitung banyaknya. Karma yang mereka kumpulkan sudah banyak sekali.”

”Para Buddha membicarakan karma tiga kehidupan, maksudnya adalah karma yang telah dibuat pada kehidupan terdahulu, kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang.” ”Yang dimaksud dengan kehidupan terdahulu adalah kehidupan yang telah berlalu, entah berapa kali kehidupan yang terdahulu.”

”Umat manusia di dunia salah memahami artinya, sehingga umat manusia menganggap bahwa karma yang dijalani pada kehidupan yang sekarang ini adalah akibat dari satu kehidupan yang lalu.”

”Maka itu, dikatakan bahwa ’Karma dari kehidupan masa lalu hanya menentukan 70% nasib dari seseorang, dan 30% lagi ditentukan oleh dirinya sendiri pada kehidupan yang sekarang.’ Artinya apabila sudah ditakdirkan bahwa manusia itu harus dilahirkan di keluarga yang bagaimana, dan sebagai pria atau wanita, semua ini sudah ditentukan oleh karma dari kehidupan yang lampau.”

”Namun keadaan dari kehidupan seseorang pada saat sekarang adalah tergantung pada pikiran, kelakukan dan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini. Oleh karena itu, umat manusia harus bergaul dengan orang-orang yang bijaksana, yang memiliki pandangan benar, dan orang-orang yang suka melakukan kebajikan. Dengan demikian, hidup mereka juga akan terasa bermanfaat dan bahagia.”


Yang Sheng
”Oh, begitu!”

”Sebagian umat manusia di dunia menganggap apa pun yang terjadi di dunia adalah merupakan akibat karma dari satu kehidupan yang terdahulu, yang sudah ditakdirkan sebelum mereka lahir ke dunia.”

”Oleh karena itu, umat manusia berpikir nasib mereka tidak bisa diubah lagi.”

”Ini adalah pemikiran yang salah. Sebenarnya tidak boleh begitu.”

”Akibat karma dari kehidupan yang terdahulu memang berpengaruh, tetapi pikiran dan perbuatan umat manusia pada saat sekaranglah yang paling menentukan.”

”Mengapa di kamar penjara kurangan depan, terdengar suara jeritan kesakitan yang tidak henti-hentinya?”

”Yang dikurung di dalam penjara Neraka adalah para roh yang berbuat dosa apa?”

Pejabat
”Mereka adalah para roh yang mati dibunuh atau para roh yang meninggal dunia karena saling membunuh.”

Yang Sheng
”Apakah membunuh orang atau dibunuh orang juga disebabkan karena akibat dari karma yang terdahulu?”

”Apabila ajal kematian mereka sudah tiba, mengapa mereka masih harus dikurung lagi di Kota Mati Penasaran?”

Pejabat
”Benar!”

”Ada sebagian umat manusia yang meninggal dunia memang karena pembalasan dari akibat karma sehingga mereka saling membunuh.”

”Namun ada sebagian manusia, sewaktu hidup di dunia tidak berbuat amal kebaikan,hanya berbuat kejahatan. Ini menyebabkan banyak orang yang mati penasaran.”

”Saya harap umat manusia di dunia dapat mengerti penjelasan saya ini dan jangan sekali
pun menganggap bahwa ’Saya membunuh dia karena dia berhutang nyawa kepada saya pada kehidupan yang terdahulu’.”

”Ada  pepatah mengatakan ’Permusuhan bisa didamaikan, tetapi janganlah mencari permusuhan’.”

”Walau pun saling berhutang, tetapi boleh tidak ditagih.” ”Ini lebih bagus lagi.”

”Apabila umat manusia tidak menagihnya, maka mereka akan mendapat jasa dan pahala.”

”Jika umat manusia bisa menghilangkan pikiran yang mau menang sendiri serta hidup secara rukun dengan orang lain, maka akan terciptalah kehidupan yang penuh kedamaian seperti di Surga. Penghuni di alam Neraka pun akan berkurang dan akhirnya menjadi kosong. Karma buruk pun tidak ada lagi.”

”Karena itu, umat manusia harus menyayangi badan sendiri. Mengawasi perbuatan sendiri dan banyak berdoa kepada para Buddah agar dapat mengembangkan sifat Kebuddhaan yang telah ada pada dirinya sendiri.”

 ”Sering-sering membaca Sutra, Ajaran para Buddha. Ini agar dapat mengerti tujuan dari kehidupan manusia di dunia ini.”

“Apabila umat manusia selalu bertindak dengan bijaksana, maka akibat karma dari kehidupan yang terdahulu, pengaruhnya akan menjadi terbatas. Tetapi kalau umat manusia berbuat kejahatan, berarti mereka menciptakan dosa baru lagi, yang akan menjadi bibit karma buruk untuk kehidupan yang akan datang.”

Jenderal
“Apa yang dikatakan oleh Pejabat, benar-benar sangat tepat.”

”Umat manusia di dunia harus sadar. Harus percaya adanya Hukum Karma.”

”Maka itu, umat manusia di dunia harus membina diri atau menjalankan Sila.” ”Sebenarnya, setiap manusia memiliki sifat Kebuddhaan.

Apabila mati manusia bersedia mengembangkan sifat Kebuddhaan mereka, mereka pasti bisa lulus dari cobaan hidup dan godaan yang berbentuk harta, kedudukan dan wanita.”

”Apabila mereka bisa lulus, artinya mereka tabah dan tidak tergiur terhadap wujud jasmani dan wujud dari benda duniawi, maka mereka akan menjadi Dewa atau Buddha.” ”Walau pun seseorang ditakdirkan menjadi kaya, tetapi apabila dia tidak mau bekerja dengan sepenuh hati, dan memiliki pandangan hidup yang salah atau bersifat egois maka ia pasti akan gagal!”

Chi Kung Huo Fo
”Saya sudah kembali.”

”Apa yang dikatakan oleh Pejabat dan Jendral tadi merupakan ajaran yang luar biasa, yang dapat menyadarkan hati umat manusia.”

”Setiap manusia memiliki sifat Kebuddhaan.”

”Apabila umat manusia bersedia mengembangkannya, umat manusia dapat  menjadi Dewa atau Buddha. Tetapi apabila umat manusia hanya memikirkan keduniawian saja, hingga tertutup hati nurani asalnya yang  murni dan penuh kasih maka ia tidak bisa kembali ke tempat asalnya (Surga).”

”Karena itulah, maka diturunkan Ajaran Kebenaran yaitu Dharma, yang menganjurkan setiap umat manusia harus menjalankan lima Sila, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, tidak melakukan perbuatan asusila dan tidak memakan atau meminum sesuatu yang menimbulkan ketagihan.”

”Sila ini digunakan untuk menyucikan diri, untuk menghapus karma buruk sehingga umat manusia dapat kembali ke sifat asal yang bersih.”

”Para umat manusia di dunia, janganlah berkhayal atau bermimpi lagi di dunia yang bersifat sementara ini.”

”Cepatlah membina diri atau melatih diri, yaitu berbuat sesuai dengan Dharma, Ajaran sang Buddha, agar dapat menjadi Bodhisattva atau pun Buddha. Dan bagi umat manusia yang tidak mau membina diri akan terjatuh ke alam sengsara. Akan terus mengalami proses tumimbal lahir di enam jalur kehidupan.”

”Semua hantu atau setan berasal dari umat manusia yang melakukan perbuatan jahat.

Keadaan mereka bukan ditentukan oleh Penguasa Langit.” ”Lihatlah kedalam Kota Mati Penasaran!”

 ”Hal ini bisa dibuktikan.” ”Waktu kita sudah habis.”

”Yang Sheng, bersiaplah untuk pulang.”

”Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pejabat dan Jendral atas bantuannya dalam memberi penjelasan tentang keadaan Kota Mati Penasaran untuk menghilangkan pemikiran yang salah dari para umat manusia.”

Yang Sheng
”Apa yang dijelaskan oleh Guru, benar-benar merupakan suatu ilmu pengetahuan yang dalam.”

”Jika tidak mendapat petunjuk dari Pejabat dan Guru, umat manusia di dunia sama sekali tidak akan mengerti.”

”Saya harap Guru bisa sering-sering memberikan penjelasan tentang Ajaran Kebenaran kepada kami, demi untuk menyadarkan umat manusia. Ini agar orang-orang yang membina diri atau yang melatih diri memiliki pedoman hidup.”

”Jangan sampai sudah tua pun masih belum mengerti tentang Hukum Kebenaran dari alam semesta, sehingga terjerumus ke alam sengsara. Dan harus menjalani siksaan dan penderitaan yang berkepanjangan di penjara alam Neraka.”

Chi Kung Huo Fo
”Apa yang kamu katakan itu benar.”

”Memang ini merupakan kewajiban Saya untuk menolong umat manusia.”

”Saya benar-benar ingin membimbing umat manusia untuk mengikuti jalan yang benar.”

”Pada kesempatan ini, Saya akan memberitahu kepada umat manusia cara untuk melatih diri.”


”Pertama, umat manusia harus membebaskan dirinya dari lima racun, yaitu sifat keserakahan, kemarahan (emosi), nafsu birahi, keterikatan terhadap wujud jasmani dan benda duniawi, serta kesombongan.”

”Kedua, melatih diri dalam praktek berdana atau membantu orang yang tertimpa kesusahan, bersabar menghadapi cobaan hidup, menjalankan lima Sila dalam kehidupan sehari-hari, menenangkan pikiran dengan cara berdoa kepada para Buddha, serta sering membaca Sutra suci, Ajaran sang Buddha; hingga memperoleh kebijaksanaan sejati. Kemudian melimpahkan semua jasa dan pahala yang diperoleh dari perbuatan bajik ini kepada semua makhluk hidup dan mendoakan mereka agar dapat berjalan di jalan yang benar serta dapat merasa yakin terhadap ajaran dari para Buddha. Setelah itu, mohonlah kepada Amitabha Buddha agar kelak dapat lahir di alam Buddha.”

”Sebagai tanda berbakti kepad para Buddha, para umat dapat turut membantu menyebarkan kitab suci Ajaran Kebenaran untuk menyeberangkan umat manusia menuju ke pantai bahagia.”

”Dengan perbuatan yang mulia dan luhur ini, maka secara pasti para umat dapat terlahir di alam Buddha.”

”Saya ingin memberitahu kepada umat manusia bahwa berbakti kepada orang tua dibagi tiga  tahap, yaitu apabila para umat manusia mempersembahkan makanan yang bergizi, pakaian yang bagus, tempat tinggal yang nyaman dan membawa orang tuanya pergi jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam, ini disebut Bakti Kecil.”

”Apabila umat manusia, di samping menyediakan segala keperluan orang tua dengan baik seperti yang telah disebutkan dalam Bakti Kecil itu, ditambah lagi sering melakukan perbuatan kebajikan yang bersifat sosial sehingga memperoleh nama baik di masyarakat, yang mana hal ini dapat mengharumkan nama orang tua dan leluhur, ini disebut Bakti Menengah.”

”Apabila para umat manusia di samping menjalankan Bakti Kecil dan Bakti Menengah, ditambah lagi dapat menenangkan hati orang tua mereka dengan menunjukkan kepada orang tua mereka bahwa mereka adalah umat Buddhis yang berdisiplin, yang memiliki tingkah laku dan pandangan yang benar, serta berusaha membujuk orang tua mereka untuk turut berbuat kebajikan, terutama harus menjalankan Sila, Berdana dan berdoa kepada para Buddha agar kelak dapat lahir di alam Buddha, ini merupakan Bakti Terbesar.”

”Yang Sheng, saya benar-benar berharap para umat manusia dapat melaksanakan ajaran tentang Bakti ini.”

Yang Sheng
”Terima kasih atas bimbingan dari Guru!”

”Pengetahuan ini sungguh luar biasa. Saya pasti akan melaksanakannya karena saya ingin lahir di alam Buddha.”

”Saya tidak ingin terus-menerus berputar di roda tumimbal lahir.”

”Guru, sekarang saya sudah duduk dengan baik.”

”Silakan berangkat!”

Chi Kung Huo Fo
”Di sini, saya ingin mengingatkan umat manusia bahwa apabila umat manusia berbuat baik, mereka akan memiliki karma baik dan akan dituntun menuju kelahiran kembali dalam keadaan yang baik.”

”Di samping berbuat baik, umat manusia seharusnya turut memberi semangat dan contoh teladan kepada orang lain agar mereka bersedia untuk ikut berbuat baik. Dengan perbuatan yang mulia seperti ini, maka umat manusia akan memperoleh berkah yang lebih banyak lagi.”

”Para manusia sering bertanya, ’Mengapa manusia harus berbuat baik?’

’Apakah tidak cukup jika manusia hanya tidak berbuat jahat dan tidak menyakiti makhluk yang lain?’”

”Saya ingin  memberitahu manusia bahwa sebenarnya pada kehidupan yang lalu, yang tidak terhitung lagi jumlah waktunya, umat manusia telah menggumpulkan banyak karma buruk yang  berakibat mendatangkan  banyak  masalah dalam kehidupan  sekarang  ini.

Dalam Sutra, sang Buddha mengajarkan bahwa jalan untuk mengurangi pengaruh dari karma buruk masa lampa adalah dengan melakukan banyak karma baik dalam kehidupan sekarang.”

”Karma buruk itu ibaratnya seperti segumpal garam dan karma baik adalah air. Jika segumpal garam dimasukkan ke dalam secangkir air, maka air itu akan terasa asin. Tetapi jika garam tersebut dimasukkan ke dalam air sungai, maka keasinannya akan berkurang secara drastis.”

”Sama halnya dengan melakukan karma baik, yang mana dapat meringankan pengaruh dari karma buruk masa lampau, kecuali karma buruk yang sangat berat seperti membunuh orang tua sendiri.”

”Kita sudah tiba di Vihara Sheng Sien.”


[Yang Sheng turun dari bunga teratai. Kemudian rohnya masuk kembali ke badannya.]


Jumat, 14 September 2018

MANUSIA LUMPUR dan BAHTERA KERTAS


Pada suatu kesempatan bersamadhi, saya “terjerumus” ke alam baka. Saya tiba di sebuah padang belantara yang tandus, tak sehelai rumput pun yang tumbuh, sangat gersang dan menakutkan.

Meskipun saya “terjerumus” di alam baka, berkat kekuatan samadhi yang kumiliki, batinku merasakan suatu ketenangan yang abadi.

Hatiku memancarkan cahaya, menerangi alam semesta.
Tiba-tiba saya melihat sekawanan ‘manusia lumpur’ datang dengan langkah tertatih-tatih. Saya katakan manusia lumpur dikarenakan sekujur tubuh mereka penuh dengan lumpur, baik mata, telinga, hidung, maupun mulut, semuanya berlumpur.

Saya merasa sangat aneh.

Saya berpikir, mengapa begitu banyak orang yang badannya penuh dengan lumpur?

Saya sungguh tidak mengerti mengapa ada manusia lumpur?

Tiba-tiba saya mendengar seseorang di antara mereka bergumam, “OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

Saya menghampiri mereka dan bertanya, “Siapa yang menjapa OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

“Saya,” jawab salah seorang dari mereka.

“Apakah Anda umat Guru Lu?”

“Betul.”

“Berapa orang?”

“Kami sekeluarga, berjumlah enam orang.”

*

 Usai samadhi, saya coba mencari tahu lewat sentuhan jari.
Saya segera paham.

Dengan tenang, saya melipat bahtera kertas. Cara lipat bahtera kertas ini pernah diajari oleh guruku ketika masih SD.

Saya melipat bahtera kertas sebanyak enam buah.

Lalu, saya mengembuskan hawa masing-masing satu kali di atas enam bahtera kertas itu. Tangan kiriku membentuk Mudra Tisaila, tangan kananku membentuk Mudra Khadga. Ujung khadga memancarkan cahaya sehingga enam bahtera kertas itu pun memancarkan cahaya.

Seorang umat sempat melihat saya sedang melipat bahtera kertas, lalu bertanya, “Mahaguru bermain lipat kertas, pasti suasana hati sedang ceria.”

Saya menoleh sambil menjawab, “Bahtera mampu menyeberangkan manusia.”

“Kertas begitu ringan, mana mungkin menyeberangkan manusia?”

“Karena ringanlah yang membuatnya mengapung.”

Saya tidak banyak berbicara, segera mengambil enam bahtera kertas itu ke halaman belakang untuk diperabukan.

*

Suatu peristiwa naas telah terjadi.

Di suatu tempat, sudah sekian hari hujan turun tak henti-hentinya. Sebuah kota kecil yang cukup ramai dan mewah terletak tepat di bawah kaki gunung.

Setelah delapan belas hari hujan mengguyur daerah tersebut, malam hari itu, terdengar suara menggelegar bak langit runtuh, tanggul penangkal longsor pun roboh, batu dan tanah bagaikan amukan ombak terus membanjiri hingga menutupi atap perumahan lokasi kaki gunung. Warga setempat beserta seluruh tempat pemukiman terbenam di bawah tanah lumpur. Sungguh aneh, sebuah keluarga yang beranggotakan enam orang, berhasil luput dari bencana longsor maut.

Konon, pada malam hari itu saat nyawa mereka terancam petaka longsor, mereka segera menjapa, “OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

Tak disangka, mereka berenam seolah-olah terapung di atas lumpur dan melintasi permukaan lumpur bagaikan naik perahu. Lalu mereka terhempas jauh di sebuah padang rumput yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi longsor.

Seluruh warga kota kecil itu telah menjadi korban. Hanya keluarga inilah yang luput dari marabahaya. Nyawa mereka tertolong secara mukjizat.

*

Saya melihat sekawanan manusia lumpur di alam baka, yakni satu keluarga berupa enam umat Zhenfo Zong dalam manifestasi alam neraka. Yang jelas nyawa mereka sudah terancam, namun setelah saya berikan ritual Sadhana Bahtera Dharma, akhirnya mereka berhasil terselamatkan.

Sebuah pertanyaanku untuk sidang pembaca:
Mereka sudah menjadi manusia lumpur, kematian sudah ditetapkan, bukankah terdapat kesenjangan dimensi waktu? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya tidak menjawabnya, biarlah sidang pembaca yang menjawab sendiri.

Pertanyaanku ini tentu akan terjawab oleh para umat suci, rahasianya sudah tersirat di dalam.



*dikutip dari:
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=194&id=8472
NOTE: Hari kemarin sore, Kamis tanggal 13-Sept-2018  buku yang dibeli di DharmaduttaStore via Tokopedia telah sampai keruman, buku ke-226, berjudul: Mengetuk Pintu Hatimu

Kamis, 26 Juli 2018

Menjapa Nama Buddha dan Menjapa Mantra


Pada masa awal saya belajar Buddhadharma, ada sebuah kisah yang sangat membuat saya terharu, begini kisahnya:

Seorang nenek berusia lanjut berikrar bahwa ia baru bersedia terlahir di Buddhaloka setelah usai menjapa genap lima ratus miliar kali nama Buddha Amitabha.

Si Nenek setiap hari menjapa nama Buddha dengan menghitung butiran kacang.

Suatu hari Si Nenek jatuh sakit, sedangkan kacang yang sudah dihitung masih kurang dari target, masih jauh dari lima ratus miliar!

Bagaimana baiknya? Si Nenek sangat resah, tak berdaya.
Pada saat itu, ikrar Si Nenek membuat dua sosok Bodhisattva Agung merasa terharu. Kedua Bodhisattva Agung ini menjelma jadi dua orang Bhiksu bertandang ke rumah Si Nenek.

Setelah jelas maksud kedatangannya, kedua Bhiksu memberitahu Si Nenek, “Nek, japalah
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian wu bai, tong ming tong hao Amituofo!” (Terpujilah 36.000.000.119.500 nama agung yang sama dari Buddha Amitabha)
Begitu Si Nenek menjapa, tercapailah targetnya, malah kelebihan hitungan, aha!

Saat Si Nenek menjapa, “
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian, wu bai tong ming tong hao Amituofo!” Seluruh kacang tertumpah di lantai, dan Si Nenek pun terlahir di alam suci.
Dua orang Bhiksu itu menjelma kembali dalam sosok Bodhisattva, lalu menghilang.

Kisah ini segera tertanam di dalam benak saya, sejak itu saya pun ikut menjapa, “
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian, wu bai tong ming tong hao Amituofo!” Setiap sebelum menjapa nama Buddha Amitabha, saya pasti membaca kalimat yang satu ini; begitu pula setelah usai menjapa nama Buddha Amitabha dan sebelum parinimana, saya juga membaca ulang kalimat ini; bahkan setiap teringat, saya suka membacakannya pula.

Kalimat ini banyak memberi yukta, sehingga saya juga mengajarkan para siswa untuk membacanya. Kini, banyak siswa yang ikut membacakan kalimat ini.

Ketahuilah, menjapa nama Buddha, jangan malas-malasan atau asal-asalan, jangan pula hanya menjapa satu kali saja, japalah sebanyak-banyaknya.  Kalimat dijapa untuk keperluan darurat kelak, maka itu jangan sekali-kali malas!

Manfaat apakah yang dapat kita peroleh dari menjapa nama Buddha?
Aliran Sukhavati sangat umum bagi semua umat, bagi yang berbakat tinggi, yang berbakat menengah, yang berbakat rendah, yang pernah melakukan Lima Perbuatan Durhaka dan Sepuluh Kejahatan, bahkan yang fenomena neraka sudah muncul pun, japalah dengan penuh konsentrasi dan tulus, segera akan mencapai pantai seberang.

Guru Besar Ou-yi berkata, “Para Buddha mengasihani makhluk luas yang tersesat, selalu menjelma sesuai kondisi, kendati kembali pada sumber nan tiada dua, tetap banyak membuka jalan kemudahan. Dari sekian banyak kemudahan yang dapat langsung memperoleh kesempurnaan, tak ada yang lebih mudah daripada menjapa nama Buddha untuk terlahir di alam suci.”

Hendaknya terhadap tubuh bardo juga diberi bimbingan sebagai berikut:
- Sukhavati ada di hadapan Anda.
- Japalah nama Buddha dengan sepenuh hati.
- Berpikirlah diri sendiri akan terlahir di Sukhavati.

Demikianlah ‘petunjuk penting jelang wafat’.

Ketahuilah, mantra adalah bahasa rahasia dari Buddha dan Bodhisattva, disebut pula ‘dharani’. Semua mantra merupakan bahasa Tathagata yang paling luar biasa, dari segala rahasia Tathagata inilah akan meningkatkan kesadaran diri menjadi suci.

Itulah sebabnya Tsongkhapa berkata, “Menjapa nama Buddha adalah menyebut nama Buddha, menjapa mantra adalah berkomunikasi dengan hati Buddha.”

Penjapaan mantra yang hingga mencapai keyogaan akan menyingkirkan rintangan, meningkatkan kebijaksanaan, menjadi suci, memiliki kekuatan dewa, atas ketakjuban inilah maka dikatakan ‘rahasia’.

Antara menjapa nama Buddha dan menjapa mantra, menurut saya pribadi, dua-duanya bagus, tidak ada perbedaan dalam hal keunggulan.

Dulu, Guru Besar Lianchi berpendapat, “Bagi yang khusus menekuni penjapaan nama Buddha Amitabha, juga akan memperoleh semua pahala yang unggul. Menjapa nama Buddha dengan penuh konsentrasi, satu nama Buddha saja mampu mengikis dosa samsara selama 80 koti kalpa. Nama Buddha yang dijapa dengan konsentrasi, sama dengan Mantra Mahadewa, Mantra Mahavidya, Mantra Anuttara, dan Mantra Anupama. Dengan sepuluh penjapaan akan memperoleh kelahiran di alam suci tanpa kembali.

*Dikatakan sebagai Mantra Mahadewa karena berkekuatan sangat dahsyat; *dikatakan sebagai Mantra Mahavidya karena akan melenyapkan avidya dan menemukan jati diri; *dikatakan Mantra Anuttara karena akan terlahir di Sukhavatiloka dan mencapai kebuddhaan; *dikatakan Mantra Anupama karena akan memperoleh anupada yang kelak bertekad kembali ke Dunia Saha untuk misi penyelamatan.

Jadi, menurut Guru Besar Lianchi, menjapa nama Buddha sama halnya dengan menjapa mantra, sebab menjapa nama Buddha sama dengan menjapa Mantra Mahadewa, Mantra Mahavidya, Mantra Anuttara, dan Mantra Anupama.
Saya sendiri juga sependapat atas upaya yang terpuji ini!

Bagi saya yang senantiasa menekuni mantra rahasia, mantra adalah:
1. Hati Tathagata.
2. Mata Tathagata.
3. Segenap Dharma yang tak tercemar.
4. Manifestasi gaib.
5. Tiada awal dan tiada akhir.
6. Padmagarbha.
7. Kebenaran Vajra.
8. Satya-prajna.
9. Keheningan absolut.
10. Jasmani segera mencapai alam suci.
11. Tiada beda dan tidak wujud.
12. Dharma abadi.
13. Pencerahan asal.
14. Tiada noda yang dapat menghalangi.
15. Mencapai kebuddhaan.

Menurut saya, mantra itu garbha yang tiada batas. Dari 15 butir pengertian saya akan mantra, ini saja sudah sulit terbayangkan. Kekuatannya menyelimuti seluruh Alam Dharma tanpa kecuali, dan jasa gunanya tanpa batas, abadi, sukha, suci, dan sunya.

Pengertian Ajaran Tantra atas dharani adalah: pintu paramita mahamitri di sepuluh penjuru alam sebanyak debu yang bagaikan padmagarbha, semua Nirmanakaya yang tak terhingga di  Triyana (Sravakayana, Pratyekayana, dan Bodhisattvayana) dan enam alam gati, ibarat akar, ranting, dan daun, saling memantulkan cahaya, penuh dengan cakra-paripurna yang rahasia, dan tersebutlah mandala dari dharani.

Bagi saya, semua mantra rahasia yang suci dan mulia pasti memiliki silsilah, dan untuk memperolehnya mesti lewat abhiseka agar terjalin getaran suara batin dengan Yang Arya, inilah yang disebut keyogaan yang akan menghasilkan hubungan kontak batin.

Suara, memiliki kekuatan mahatinggi, menjapa mantra akan menghasilkan kekuatan yang berasal dari frekuensi getaran. Oleh karena menjapa mantra dapat menghasilkan kekautan mahatinggi, para Gurucarya pada zaman silam pun menentukan sebuah peraturan pewarisan untuk melindungi kemurnian silsilah agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Itulah salah satu alasan mengapa mantra menjadi rahasia karena tidak sembarangan diwariskan.

Jika kita membimbing tubuh bardo menyebut nama Buddha, sebaiknya kita minta dia  menyebut nama Buddha yang sering dia japa agar ia dapat disadarkan.

Begitu pula, kalau kita membimbing tubuh bardo menjapa mantra, sebaiknya kita minta dia menjapa mantra yang sering dia japa guna menyadarkan silsilah mantranya. Begitu mantra itu dijapa, terjadi yukta, lalu manfaatkan mantra ini untuk meningkat dan berpadu dengan cahaya suci.


-=o0o=-

Namo Amituofo.
Om Amitewa Xie.



Sabtu, 21 Juli 2018

Nasehat Yang Menyelamatkan Tujuh Nyawa


Semua manusia punya kemelekatan hati.
Sutra Mahaprajna, Sutra Intan, dan Sutra Hati mengajari kita menghilangkan kemelekatan hati.

Pengertian sederhana kalimat ‘menghilangkan kemelekatan hati’ adalah ‘merelakan segalanya’.

Sutra Intan menyebutkan, “Segala Dharma Samskrta, bagaikan mimpi dan gelembung, bagaikan embun dan gelombang", demikianlah hendaknya berpandangan.

Juga disebutkan, “Tinggalkan semua fenomena maka tersebutlah Buddha.”
Sutra Hati menyebutkan; Tak ada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan obyek pikiran; taka da bentuk, suara, bau, rasa, dan obyek yang dapat disentuh.”

Silahkan bandingkan dengan tiga kalimat sederhana yang pernah kusebut:
Segala sesuatu akan berlalu
Setiap orang akan lenyap
Semua adalah hampa, semua akan tiada

Saya sering mengingatkan para umat, “Relakanlah segalanya! Hilangkanlah kemelekatan hati!”
Suatu hari, angkasa memancarkan cahaya aneka warna nan kemilau. Yang datang ternyata Bodhisattva Maitreya yang memanggul buntelan.

Bodhisattva Maitreya yang bermarga Maitri itu kini menetap di halaman dalam Surga Tusita. Merupakan Bodhisattva yang akan terlahir sekali lagi di Dunia Saha.

Ia akan terlahir di Dunia Saha pada saat kalpa kecil kesepuluh di mana usia manusia akan mencapai delapan puluh ribu tahun, sebagai Buddha kelima dari kalpa budi setelah Buddha Sakyamuni.

Pada tiga kali pergelaran Persamuan Dharma Agung di bawah Pohon Nagapuspa kelak, Ia akan menyelamatkan segenap makhluk hidup di alam manusia dan alam dewa.

Bodhisattva Maitreya menetap di Tanah Suci Maitreya, tepatnya di Alam Tusita, surga keempat dari enam surga di Karmadhatu.

Di alam ini terdapat halaman luar dan halaman dalam. Halaman dalam dihuni oleh Bodhisattva Maitreya, maka dinamakan  Tanah Suci Maitreya.

Ketika Bodhisattva Maitreya menampakkan diri di angkasa, dua sosok Bodhisattva menyertai di sisi. Yang sebelah kiri adalah Bodhisattva Fahualin, dan yang sebelah kanan adalah Bodhisattva Damiaoxiang.
Bodhisattva Maitreya berkata padaku, “Ada hadiah untukmu.”

Saya tertegun, “Hadiah apa?”

Bodhisattva membukakan buntelannya, cahaya keemasan memancar di udara, menampakkan ribuan hawa manggala. Saya mendongakkan kepala, tampak mahkota yang memancarkan lima warna, mutiara moni yang tak terhitung jumlahnya, selendang yang terbuat
dari untaian puspa, jubah surgawi berlapis tiga, gelang batu giok, padmasana berkelopak delapan dalam tujuh warna, dan berbagai batu pertama lainnya.
Bodhisattva berkata padaku, “Ini semua milikmu.”

Saya bingung dan tidak mengerti, “Mengapa jadi milikku?”

“Anda telah menyelamatkan tujuh nyawa manusia.”

“Saya sendiri tidak tahu,” paparku jujur.

“Beberapa hari yang lalu, seorang wanita bernama Jiang Min berkunjung ke tempatmu. Anda sempat menasihatinya, dan ia menurut. Maka itu, tujuh nyawa terselamatkan.”

Saya sendiri merasa heran!

Rupanya kejadiannya begini. Ibu mertua Jiang Min adalah seorang wanita tua yang sangat kejam dan sadis. Sejak Jiang Min menikah dan tinggal bersamanya, selalu ditindas.

Jiang Min sungguh tidak tahan lagi. Hatinya penuh dendam. Disiapkannyalah arsenic, racun yang mematikan. Ia bermaksud meracuni ibu mertua, suami, empat orang anaknya, dan dirinya sendiri saat makan malam bersama. Ini sebuah tragedi keluarga yang amat besar, tragedi manusia.
Jiang Min sempat mendengar dari orang bahwa saya mahir meramal, maka ia datang menemuiku.

Ia tidak mengatakan ingin meracuni seluruh keluarganya. Ia hanya  bertanya kapan bisa terlepas dari penindasan sang mertua.

"Belakangan ini Anda ada urusan salah karma. Bila terlanjur salah karma, akan terjerumus dan taka da alasan terselamatkan lagi. Terlebih-lebih tak dapat lepas dari karma!” paparku.

Jiang Min merasa takut mendengarkan hal ini.

"Ibu mertuamu sudah lanjut usia, semua ini akan berlalu dan lenyap. Bersabarlah, perlakukanlah dirinya dengan baik.”

Saya lanjut berkata, “Singkirkanlah bungkusan yang ada padamu itu.”

Jiang Min semakin kaget karena ia membawa bungkusan yang berisi racun arsenic.

Sesampai di rumah, Jiang Min benar-benar menuruti perkataanku membuang arsenic itu. Ia juga memperlakukan ibu mertuanya dengan baik. Kondisi keluarganya menjadi lebih baik. Dua tahun kemudian, ibu mertua Jiang Min pun meninggal dunia.
Segala sesuatu akan berlalu
Setiap orang akan lenyap
Semua adalah hampa, semua akan tiada

Tiga kalimat ini sungguh adalah kebenaran.


*dikutip dari buku ke-153 "Biarkan SinarMentari Menerangi", kisah no.4, hal 12~14

LAUT DI KALA SENJA (Jangan Dekati Perzinahan)


Semua orang suka melihat laut. Terutama laut di kala matahari terbenam, selalu merupakan pemandangan terindah di dunia.
Sebuah bola api besar yang merah menyala, menyentuh garis permukaan laut, perlahan tenggelam ke dalam air laut. Membuat langit dan laut turut memerah.
Sinar yang tersisa memerahkan seluruh cakrawala. Tapi, hanya dalam sekejap, semua akan menjadi gelap!
Saya duduk di tepi pantai di kala senja menyaksikan pemandangan ini. Dalam keadaan samar-samar, hatiku tergerak. Dari titik pertemuan matahari dan laut, saya memasuki alam baka. Di alam baka, saya bertemu dengan seorang konglomerat.
Saya sedang berjalan-jalan.
Di depanku ada seorang pak tua juga sedang berjalan-jalan. Pak tua ini sendirian. Tiba-tiba ia menoleh, wajahnya seperti pernah kukenal.
“Oh, Anda ini…,” saya berseru.
“Benar, saya.”
Saya merasa sangat heran, “Mengapa Anda bisa berada di sini?”
“Saya…”  Pak tua merasa malu.
Saya bertanya demikian tentu ada alasannya. Karena pak tua ini merupakan konglomerat papan atas di dunia, bukan orang kaya biasa. Jaringan usahanya sungguh luas. Yang patut disyukuri adalah ia seorang kaya raya yang senang beramal. Hatinya saleh, suka menolong orang lain.
Ia menjadi donatur bagi banyak lembaga sosial dan kegiatan sosial. Ia selalu menyumbangkan dana maupun tenaga, menjadi orang baik nomor satu di negerinya.
Konglomerat ini memang seorang dermawan besar. Ia juga menyumbang tanah, melakukan kegiatan sosial, memperbaiki jalan dan jembatan, membantu korban bencana alam, mencetak kitab suci, membuat pratima Buddha. Hartawan ini juga seorang umat Buddha yang taat beragama. Kalau ada biarawan datang memohon dana pembangunan kuil atau vihara, ia pasti dengan senang hati merelakan dana.
Dermawan konglomerat ini bisa mengupayakan kebaikan bagi umat luas tentu menghasilkan buah kebajikan. Orang seperti ini, pasti akan terlahir di alam dewa yang indah dan selalu berkesempatan mendengarkan Buddhadharma.
Tapi, sekarang ia berada di alam baka dan terjerumus di tiga alam samsara. Tentu hal ini membuat saya merasa heran.
Konglomerat ini berkata padaku, “Berkah dan umurku sampai hari ini sudah terkikis habis.”
“Mana mungkin?” saya tidak percaya, “Apa kesalahanmu?”
“Kesalahan yang paling mudah dibuat oleh orang kaya,” jawabnya.
“Sering berzinah?” saya coba menebak.
“Benar,” jawab konglomerat.
Konglomerat ini menjelaskan padaku:
Setelah seseorang mencapai sukses dan popular, dengan kekayaan yang berlimpah itu akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Banyak wanita akan mengaguminya, lalu jatuh hati dan mendekatinya. Hal inilah yang menyebabkan seorang konglomerat beristri banyak. Ia memperistri sekretarisnya, juga memperistri wanita dari kalangan baik-baik, bahkan memperistri teman sekolah putrinya…
Saya sungguh tak bisa bicara apa-apa lagi.

Saya teringat sebuah cerita, begini kisahnya:
Seorang pejabat jaman Dinasti Ming bernama Zhang Ning yang sudah berusia senja masih belum punya anak dan sering sakit-sakitan.
Zhang Ning berdoa di kuil rumahnya. Batinnya bertanya, dosa apa kiranya yang telah ia perbuat sehingga tidak punya keturunan dan banyak penyakit?
Seorang istri mudanya berkata, kalau tidak menelantarkan mereka sudah merupakan suatu kebajikan.
Zhang Ning sadar seketika.

Lalu semua istri muda dan pelayan yang tidak ingin tinggal bersamanya, dibebaskan untuk menikah lagi.

Setahun kemudian, Zhang Ning memperoleh seorang putra, badannya juga semakin sehat.

‘Sering berzinah’ memang menakutkan. Hendaknya mawas diri.

Ketahuilah, para makhluk suci di alam sana selalu mengawasi tingkah laku kita dengan ketat.

Yang harusnya bisa mencapai kebahagiaan surgawi, ini malah menderita di neraka. Begitu salah langkah akan terjerumus.

Janganlah melakukan hal yang tidak senonoh; janganlah melakukan hal yang tak bermoral; janganlah merendahkan wanita penghibur dan pelayan; janganlah merasa pantas didekati hal cabul; janganlah menganggap poligami itu bak makanan sehari-hari; janganlah melupakan tatakrama antara tua dan muda.

Di alam baka bertemu dengan orang kaya raya yang terkenal ini sungguh merupakan sebuah peringatan! Jangan memanjakan diri dengan nafsu birahi yang berlebihan, hal yang ekstrim akan mendatangkan bencana.

Sangat disayangkan, hanya karena perbuatan ini terjerumus di alam neraka!


*dikutip dari buku ke-153 "Biarkan Sinar Mentari Menerangi", kisah ke-10, hal 30~32