Jumat, 14 September 2018

MANUSIA LUMPUR dan BAHTERA KERTAS


Pada suatu kesempatan bersamadhi, saya “terjerumus” ke alam baka. Saya tiba di sebuah padang belantara yang tandus, tak sehelai rumput pun yang tumbuh, sangat gersang dan menakutkan.

Meskipun saya “terjerumus” di alam baka, berkat kekuatan samadhi yang kumiliki, batinku merasakan suatu ketenangan yang abadi.

Hatiku memancarkan cahaya, menerangi alam semesta.
Tiba-tiba saya melihat sekawanan ‘manusia lumpur’ datang dengan langkah tertatih-tatih. Saya katakan manusia lumpur dikarenakan sekujur tubuh mereka penuh dengan lumpur, baik mata, telinga, hidung, maupun mulut, semuanya berlumpur.

Saya merasa sangat aneh.

Saya berpikir, mengapa begitu banyak orang yang badannya penuh dengan lumpur?

Saya sungguh tidak mengerti mengapa ada manusia lumpur?

Tiba-tiba saya mendengar seseorang di antara mereka bergumam, “OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

Saya menghampiri mereka dan bertanya, “Siapa yang menjapa OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

“Saya,” jawab salah seorang dari mereka.

“Apakah Anda umat Guru Lu?”

“Betul.”

“Berapa orang?”

“Kami sekeluarga, berjumlah enam orang.”

*

 Usai samadhi, saya coba mencari tahu lewat sentuhan jari.
Saya segera paham.

Dengan tenang, saya melipat bahtera kertas. Cara lipat bahtera kertas ini pernah diajari oleh guruku ketika masih SD.

Saya melipat bahtera kertas sebanyak enam buah.

Lalu, saya mengembuskan hawa masing-masing satu kali di atas enam bahtera kertas itu. Tangan kiriku membentuk Mudra Tisaila, tangan kananku membentuk Mudra Khadga. Ujung khadga memancarkan cahaya sehingga enam bahtera kertas itu pun memancarkan cahaya.

Seorang umat sempat melihat saya sedang melipat bahtera kertas, lalu bertanya, “Mahaguru bermain lipat kertas, pasti suasana hati sedang ceria.”

Saya menoleh sambil menjawab, “Bahtera mampu menyeberangkan manusia.”

“Kertas begitu ringan, mana mungkin menyeberangkan manusia?”

“Karena ringanlah yang membuatnya mengapung.”

Saya tidak banyak berbicara, segera mengambil enam bahtera kertas itu ke halaman belakang untuk diperabukan.

*

Suatu peristiwa naas telah terjadi.

Di suatu tempat, sudah sekian hari hujan turun tak henti-hentinya. Sebuah kota kecil yang cukup ramai dan mewah terletak tepat di bawah kaki gunung.

Setelah delapan belas hari hujan mengguyur daerah tersebut, malam hari itu, terdengar suara menggelegar bak langit runtuh, tanggul penangkal longsor pun roboh, batu dan tanah bagaikan amukan ombak terus membanjiri hingga menutupi atap perumahan lokasi kaki gunung. Warga setempat beserta seluruh tempat pemukiman terbenam di bawah tanah lumpur. Sungguh aneh, sebuah keluarga yang beranggotakan enam orang, berhasil luput dari bencana longsor maut.

Konon, pada malam hari itu saat nyawa mereka terancam petaka longsor, mereka segera menjapa, “OM. GURU. LIAN SHENG. SIDDHI. HUM.”

Tak disangka, mereka berenam seolah-olah terapung di atas lumpur dan melintasi permukaan lumpur bagaikan naik perahu. Lalu mereka terhempas jauh di sebuah padang rumput yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi longsor.

Seluruh warga kota kecil itu telah menjadi korban. Hanya keluarga inilah yang luput dari marabahaya. Nyawa mereka tertolong secara mukjizat.

*

Saya melihat sekawanan manusia lumpur di alam baka, yakni satu keluarga berupa enam umat Zhenfo Zong dalam manifestasi alam neraka. Yang jelas nyawa mereka sudah terancam, namun setelah saya berikan ritual Sadhana Bahtera Dharma, akhirnya mereka berhasil terselamatkan.

Sebuah pertanyaanku untuk sidang pembaca:
Mereka sudah menjadi manusia lumpur, kematian sudah ditetapkan, bukankah terdapat kesenjangan dimensi waktu? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya tidak menjawabnya, biarlah sidang pembaca yang menjawab sendiri.

Pertanyaanku ini tentu akan terjawab oleh para umat suci, rahasianya sudah tersirat di dalam.



*dikutip dari:
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=194&id=8472
NOTE: Hari kemarin sore, Kamis tanggal 13-Sept-2018  buku yang dibeli di DharmaduttaStore via Tokopedia telah sampai keruman, buku ke-226, berjudul: Mengetuk Pintu Hatimu

Kamis, 26 Juli 2018

Menjapa Nama Buddha dan Menjapa Mantra


Pada masa awal saya belajar Buddhadharma, ada sebuah kisah yang sangat membuat saya terharu, begini kisahnya:

Seorang nenek berusia lanjut berikrar bahwa ia baru bersedia terlahir di Buddhaloka setelah usai menjapa genap lima ratus miliar kali nama Buddha Amitabha.

Si Nenek setiap hari menjapa nama Buddha dengan menghitung butiran kacang.

Suatu hari Si Nenek jatuh sakit, sedangkan kacang yang sudah dihitung masih kurang dari target, masih jauh dari lima ratus miliar!

Bagaimana baiknya? Si Nenek sangat resah, tak berdaya.
Pada saat itu, ikrar Si Nenek membuat dua sosok Bodhisattva Agung merasa terharu. Kedua Bodhisattva Agung ini menjelma jadi dua orang Bhiksu bertandang ke rumah Si Nenek.

Setelah jelas maksud kedatangannya, kedua Bhiksu memberitahu Si Nenek, “Nek, japalah
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian wu bai, tong ming tong hao Amituofo!” (Terpujilah 36.000.000.119.500 nama agung yang sama dari Buddha Amitabha)
Begitu Si Nenek menjapa, tercapailah targetnya, malah kelebihan hitungan, aha!

Saat Si Nenek menjapa, “
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian, wu bai tong ming tong hao Amituofo!” Seluruh kacang tertumpah di lantai, dan Si Nenek pun terlahir di alam suci.
Dua orang Bhiksu itu menjelma kembali dalam sosok Bodhisattva, lalu menghilang.

Kisah ini segera tertanam di dalam benak saya, sejak itu saya pun ikut menjapa, “
Namo san shi liu wan yi, yi shi yi wan, jiu qian, wu bai tong ming tong hao Amituofo!” Setiap sebelum menjapa nama Buddha Amitabha, saya pasti membaca kalimat yang satu ini; begitu pula setelah usai menjapa nama Buddha Amitabha dan sebelum parinimana, saya juga membaca ulang kalimat ini; bahkan setiap teringat, saya suka membacakannya pula.

Kalimat ini banyak memberi yukta, sehingga saya juga mengajarkan para siswa untuk membacanya. Kini, banyak siswa yang ikut membacakan kalimat ini.

Ketahuilah, menjapa nama Buddha, jangan malas-malasan atau asal-asalan, jangan pula hanya menjapa satu kali saja, japalah sebanyak-banyaknya.  Kalimat dijapa untuk keperluan darurat kelak, maka itu jangan sekali-kali malas!

Manfaat apakah yang dapat kita peroleh dari menjapa nama Buddha?
Aliran Sukhavati sangat umum bagi semua umat, bagi yang berbakat tinggi, yang berbakat menengah, yang berbakat rendah, yang pernah melakukan Lima Perbuatan Durhaka dan Sepuluh Kejahatan, bahkan yang fenomena neraka sudah muncul pun, japalah dengan penuh konsentrasi dan tulus, segera akan mencapai pantai seberang.

Guru Besar Ou-yi berkata, “Para Buddha mengasihani makhluk luas yang tersesat, selalu menjelma sesuai kondisi, kendati kembali pada sumber nan tiada dua, tetap banyak membuka jalan kemudahan. Dari sekian banyak kemudahan yang dapat langsung memperoleh kesempurnaan, tak ada yang lebih mudah daripada menjapa nama Buddha untuk terlahir di alam suci.”

Hendaknya terhadap tubuh bardo juga diberi bimbingan sebagai berikut:
- Sukhavati ada di hadapan Anda.
- Japalah nama Buddha dengan sepenuh hati.
- Berpikirlah diri sendiri akan terlahir di Sukhavati.

Demikianlah ‘petunjuk penting jelang wafat’.

Ketahuilah, mantra adalah bahasa rahasia dari Buddha dan Bodhisattva, disebut pula ‘dharani’. Semua mantra merupakan bahasa Tathagata yang paling luar biasa, dari segala rahasia Tathagata inilah akan meningkatkan kesadaran diri menjadi suci.

Itulah sebabnya Tsongkhapa berkata, “Menjapa nama Buddha adalah menyebut nama Buddha, menjapa mantra adalah berkomunikasi dengan hati Buddha.”

Penjapaan mantra yang hingga mencapai keyogaan akan menyingkirkan rintangan, meningkatkan kebijaksanaan, menjadi suci, memiliki kekuatan dewa, atas ketakjuban inilah maka dikatakan ‘rahasia’.

Antara menjapa nama Buddha dan menjapa mantra, menurut saya pribadi, dua-duanya bagus, tidak ada perbedaan dalam hal keunggulan.

Dulu, Guru Besar Lianchi berpendapat, “Bagi yang khusus menekuni penjapaan nama Buddha Amitabha, juga akan memperoleh semua pahala yang unggul. Menjapa nama Buddha dengan penuh konsentrasi, satu nama Buddha saja mampu mengikis dosa samsara selama 80 koti kalpa. Nama Buddha yang dijapa dengan konsentrasi, sama dengan Mantra Mahadewa, Mantra Mahavidya, Mantra Anuttara, dan Mantra Anupama. Dengan sepuluh penjapaan akan memperoleh kelahiran di alam suci tanpa kembali.

*Dikatakan sebagai Mantra Mahadewa karena berkekuatan sangat dahsyat; *dikatakan sebagai Mantra Mahavidya karena akan melenyapkan avidya dan menemukan jati diri; *dikatakan Mantra Anuttara karena akan terlahir di Sukhavatiloka dan mencapai kebuddhaan; *dikatakan Mantra Anupama karena akan memperoleh anupada yang kelak bertekad kembali ke Dunia Saha untuk misi penyelamatan.

Jadi, menurut Guru Besar Lianchi, menjapa nama Buddha sama halnya dengan menjapa mantra, sebab menjapa nama Buddha sama dengan menjapa Mantra Mahadewa, Mantra Mahavidya, Mantra Anuttara, dan Mantra Anupama.
Saya sendiri juga sependapat atas upaya yang terpuji ini!

Bagi saya yang senantiasa menekuni mantra rahasia, mantra adalah:
1. Hati Tathagata.
2. Mata Tathagata.
3. Segenap Dharma yang tak tercemar.
4. Manifestasi gaib.
5. Tiada awal dan tiada akhir.
6. Padmagarbha.
7. Kebenaran Vajra.
8. Satya-prajna.
9. Keheningan absolut.
10. Jasmani segera mencapai alam suci.
11. Tiada beda dan tidak wujud.
12. Dharma abadi.
13. Pencerahan asal.
14. Tiada noda yang dapat menghalangi.
15. Mencapai kebuddhaan.

Menurut saya, mantra itu garbha yang tiada batas. Dari 15 butir pengertian saya akan mantra, ini saja sudah sulit terbayangkan. Kekuatannya menyelimuti seluruh Alam Dharma tanpa kecuali, dan jasa gunanya tanpa batas, abadi, sukha, suci, dan sunya.

Pengertian Ajaran Tantra atas dharani adalah: pintu paramita mahamitri di sepuluh penjuru alam sebanyak debu yang bagaikan padmagarbha, semua Nirmanakaya yang tak terhingga di  Triyana (Sravakayana, Pratyekayana, dan Bodhisattvayana) dan enam alam gati, ibarat akar, ranting, dan daun, saling memantulkan cahaya, penuh dengan cakra-paripurna yang rahasia, dan tersebutlah mandala dari dharani.

Bagi saya, semua mantra rahasia yang suci dan mulia pasti memiliki silsilah, dan untuk memperolehnya mesti lewat abhiseka agar terjalin getaran suara batin dengan Yang Arya, inilah yang disebut keyogaan yang akan menghasilkan hubungan kontak batin.

Suara, memiliki kekuatan mahatinggi, menjapa mantra akan menghasilkan kekuatan yang berasal dari frekuensi getaran. Oleh karena menjapa mantra dapat menghasilkan kekautan mahatinggi, para Gurucarya pada zaman silam pun menentukan sebuah peraturan pewarisan untuk melindungi kemurnian silsilah agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Itulah salah satu alasan mengapa mantra menjadi rahasia karena tidak sembarangan diwariskan.

Jika kita membimbing tubuh bardo menyebut nama Buddha, sebaiknya kita minta dia  menyebut nama Buddha yang sering dia japa agar ia dapat disadarkan.

Begitu pula, kalau kita membimbing tubuh bardo menjapa mantra, sebaiknya kita minta dia menjapa mantra yang sering dia japa guna menyadarkan silsilah mantranya. Begitu mantra itu dijapa, terjadi yukta, lalu manfaatkan mantra ini untuk meningkat dan berpadu dengan cahaya suci.


-=o0o=-

Namo Amituofo.
Om Amitewa Xie.



Sabtu, 21 Juli 2018

Nasehat Yang Menyelamatkan Tujuh Nyawa


Semua manusia punya kemelekatan hati.
Sutra Mahaprajna, Sutra Intan, dan Sutra Hati mengajari kita menghilangkan kemelekatan hati.

Pengertian sederhana kalimat ‘menghilangkan kemelekatan hati’ adalah ‘merelakan segalanya’.

Sutra Intan menyebutkan, “Segala Dharma Samskrta, bagaikan mimpi dan gelembung, bagaikan embun dan gelombang", demikianlah hendaknya berpandangan.

Juga disebutkan, “Tinggalkan semua fenomena maka tersebutlah Buddha.”
Sutra Hati menyebutkan; Tak ada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan obyek pikiran; taka da bentuk, suara, bau, rasa, dan obyek yang dapat disentuh.”

Silahkan bandingkan dengan tiga kalimat sederhana yang pernah kusebut:
Segala sesuatu akan berlalu
Setiap orang akan lenyap
Semua adalah hampa, semua akan tiada

Saya sering mengingatkan para umat, “Relakanlah segalanya! Hilangkanlah kemelekatan hati!”
Suatu hari, angkasa memancarkan cahaya aneka warna nan kemilau. Yang datang ternyata Bodhisattva Maitreya yang memanggul buntelan.

Bodhisattva Maitreya yang bermarga Maitri itu kini menetap di halaman dalam Surga Tusita. Merupakan Bodhisattva yang akan terlahir sekali lagi di Dunia Saha.

Ia akan terlahir di Dunia Saha pada saat kalpa kecil kesepuluh di mana usia manusia akan mencapai delapan puluh ribu tahun, sebagai Buddha kelima dari kalpa budi setelah Buddha Sakyamuni.

Pada tiga kali pergelaran Persamuan Dharma Agung di bawah Pohon Nagapuspa kelak, Ia akan menyelamatkan segenap makhluk hidup di alam manusia dan alam dewa.

Bodhisattva Maitreya menetap di Tanah Suci Maitreya, tepatnya di Alam Tusita, surga keempat dari enam surga di Karmadhatu.

Di alam ini terdapat halaman luar dan halaman dalam. Halaman dalam dihuni oleh Bodhisattva Maitreya, maka dinamakan  Tanah Suci Maitreya.

Ketika Bodhisattva Maitreya menampakkan diri di angkasa, dua sosok Bodhisattva menyertai di sisi. Yang sebelah kiri adalah Bodhisattva Fahualin, dan yang sebelah kanan adalah Bodhisattva Damiaoxiang.
Bodhisattva Maitreya berkata padaku, “Ada hadiah untukmu.”

Saya tertegun, “Hadiah apa?”

Bodhisattva membukakan buntelannya, cahaya keemasan memancar di udara, menampakkan ribuan hawa manggala. Saya mendongakkan kepala, tampak mahkota yang memancarkan lima warna, mutiara moni yang tak terhitung jumlahnya, selendang yang terbuat
dari untaian puspa, jubah surgawi berlapis tiga, gelang batu giok, padmasana berkelopak delapan dalam tujuh warna, dan berbagai batu pertama lainnya.
Bodhisattva berkata padaku, “Ini semua milikmu.”

Saya bingung dan tidak mengerti, “Mengapa jadi milikku?”

“Anda telah menyelamatkan tujuh nyawa manusia.”

“Saya sendiri tidak tahu,” paparku jujur.

“Beberapa hari yang lalu, seorang wanita bernama Jiang Min berkunjung ke tempatmu. Anda sempat menasihatinya, dan ia menurut. Maka itu, tujuh nyawa terselamatkan.”

Saya sendiri merasa heran!

Rupanya kejadiannya begini. Ibu mertua Jiang Min adalah seorang wanita tua yang sangat kejam dan sadis. Sejak Jiang Min menikah dan tinggal bersamanya, selalu ditindas.

Jiang Min sungguh tidak tahan lagi. Hatinya penuh dendam. Disiapkannyalah arsenic, racun yang mematikan. Ia bermaksud meracuni ibu mertua, suami, empat orang anaknya, dan dirinya sendiri saat makan malam bersama. Ini sebuah tragedi keluarga yang amat besar, tragedi manusia.
Jiang Min sempat mendengar dari orang bahwa saya mahir meramal, maka ia datang menemuiku.

Ia tidak mengatakan ingin meracuni seluruh keluarganya. Ia hanya  bertanya kapan bisa terlepas dari penindasan sang mertua.

"Belakangan ini Anda ada urusan salah karma. Bila terlanjur salah karma, akan terjerumus dan taka da alasan terselamatkan lagi. Terlebih-lebih tak dapat lepas dari karma!” paparku.

Jiang Min merasa takut mendengarkan hal ini.

"Ibu mertuamu sudah lanjut usia, semua ini akan berlalu dan lenyap. Bersabarlah, perlakukanlah dirinya dengan baik.”

Saya lanjut berkata, “Singkirkanlah bungkusan yang ada padamu itu.”

Jiang Min semakin kaget karena ia membawa bungkusan yang berisi racun arsenic.

Sesampai di rumah, Jiang Min benar-benar menuruti perkataanku membuang arsenic itu. Ia juga memperlakukan ibu mertuanya dengan baik. Kondisi keluarganya menjadi lebih baik. Dua tahun kemudian, ibu mertua Jiang Min pun meninggal dunia.
Segala sesuatu akan berlalu
Setiap orang akan lenyap
Semua adalah hampa, semua akan tiada

Tiga kalimat ini sungguh adalah kebenaran.


*dikutip dari buku ke-153 "Biarkan SinarMentari Menerangi", kisah no.4, hal 12~14

LAUT DI KALA SENJA (Jangan Dekati Perzinahan)


Semua orang suka melihat laut. Terutama laut di kala matahari terbenam, selalu merupakan pemandangan terindah di dunia.
Sebuah bola api besar yang merah menyala, menyentuh garis permukaan laut, perlahan tenggelam ke dalam air laut. Membuat langit dan laut turut memerah.
Sinar yang tersisa memerahkan seluruh cakrawala. Tapi, hanya dalam sekejap, semua akan menjadi gelap!
Saya duduk di tepi pantai di kala senja menyaksikan pemandangan ini. Dalam keadaan samar-samar, hatiku tergerak. Dari titik pertemuan matahari dan laut, saya memasuki alam baka. Di alam baka, saya bertemu dengan seorang konglomerat.
Saya sedang berjalan-jalan.
Di depanku ada seorang pak tua juga sedang berjalan-jalan. Pak tua ini sendirian. Tiba-tiba ia menoleh, wajahnya seperti pernah kukenal.
“Oh, Anda ini…,” saya berseru.
“Benar, saya.”
Saya merasa sangat heran, “Mengapa Anda bisa berada di sini?”
“Saya…”  Pak tua merasa malu.
Saya bertanya demikian tentu ada alasannya. Karena pak tua ini merupakan konglomerat papan atas di dunia, bukan orang kaya biasa. Jaringan usahanya sungguh luas. Yang patut disyukuri adalah ia seorang kaya raya yang senang beramal. Hatinya saleh, suka menolong orang lain.
Ia menjadi donatur bagi banyak lembaga sosial dan kegiatan sosial. Ia selalu menyumbangkan dana maupun tenaga, menjadi orang baik nomor satu di negerinya.
Konglomerat ini memang seorang dermawan besar. Ia juga menyumbang tanah, melakukan kegiatan sosial, memperbaiki jalan dan jembatan, membantu korban bencana alam, mencetak kitab suci, membuat pratima Buddha. Hartawan ini juga seorang umat Buddha yang taat beragama. Kalau ada biarawan datang memohon dana pembangunan kuil atau vihara, ia pasti dengan senang hati merelakan dana.
Dermawan konglomerat ini bisa mengupayakan kebaikan bagi umat luas tentu menghasilkan buah kebajikan. Orang seperti ini, pasti akan terlahir di alam dewa yang indah dan selalu berkesempatan mendengarkan Buddhadharma.
Tapi, sekarang ia berada di alam baka dan terjerumus di tiga alam samsara. Tentu hal ini membuat saya merasa heran.
Konglomerat ini berkata padaku, “Berkah dan umurku sampai hari ini sudah terkikis habis.”
“Mana mungkin?” saya tidak percaya, “Apa kesalahanmu?”
“Kesalahan yang paling mudah dibuat oleh orang kaya,” jawabnya.
“Sering berzinah?” saya coba menebak.
“Benar,” jawab konglomerat.
Konglomerat ini menjelaskan padaku:
Setelah seseorang mencapai sukses dan popular, dengan kekayaan yang berlimpah itu akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Banyak wanita akan mengaguminya, lalu jatuh hati dan mendekatinya. Hal inilah yang menyebabkan seorang konglomerat beristri banyak. Ia memperistri sekretarisnya, juga memperistri wanita dari kalangan baik-baik, bahkan memperistri teman sekolah putrinya…
Saya sungguh tak bisa bicara apa-apa lagi.

Saya teringat sebuah cerita, begini kisahnya:
Seorang pejabat jaman Dinasti Ming bernama Zhang Ning yang sudah berusia senja masih belum punya anak dan sering sakit-sakitan.
Zhang Ning berdoa di kuil rumahnya. Batinnya bertanya, dosa apa kiranya yang telah ia perbuat sehingga tidak punya keturunan dan banyak penyakit?
Seorang istri mudanya berkata, kalau tidak menelantarkan mereka sudah merupakan suatu kebajikan.
Zhang Ning sadar seketika.

Lalu semua istri muda dan pelayan yang tidak ingin tinggal bersamanya, dibebaskan untuk menikah lagi.

Setahun kemudian, Zhang Ning memperoleh seorang putra, badannya juga semakin sehat.

‘Sering berzinah’ memang menakutkan. Hendaknya mawas diri.

Ketahuilah, para makhluk suci di alam sana selalu mengawasi tingkah laku kita dengan ketat.

Yang harusnya bisa mencapai kebahagiaan surgawi, ini malah menderita di neraka. Begitu salah langkah akan terjerumus.

Janganlah melakukan hal yang tidak senonoh; janganlah melakukan hal yang tak bermoral; janganlah merendahkan wanita penghibur dan pelayan; janganlah merasa pantas didekati hal cabul; janganlah menganggap poligami itu bak makanan sehari-hari; janganlah melupakan tatakrama antara tua dan muda.

Di alam baka bertemu dengan orang kaya raya yang terkenal ini sungguh merupakan sebuah peringatan! Jangan memanjakan diri dengan nafsu birahi yang berlebihan, hal yang ekstrim akan mendatangkan bencana.

Sangat disayangkan, hanya karena perbuatan ini terjerumus di alam neraka!


*dikutip dari buku ke-153 "Biarkan Sinar Mentari Menerangi", kisah ke-10, hal 30~32

Sabtu, 07 April 2018

Berbagai Sikap Terhadap Nyamuk Yang Menggigit


Saya ingat pernah suatu kali seorang pewawancara bertanya kepada Dalai Lama, “Apa yang Anda lakukan saat nyamuk menggigit Anda?”
Dalai menjawab, “Saya akan menggerak-gerakkan badan supaya nyamuk itu pergi.”
“Jika tetap menggigit bagaimana?”
Dalai menjawab, “Saya meniupnya supaya nyamuk itu pergi.”
Wartawan lanjut bertanya, “Jika nyamuk itu tetap tidak pergi bagaimana?”
Dalai menjawab, “Sekali tepuk, nyamuk pun mati!”
(Awalnya tidak membunuh, apa boleh buat)

Ada lagi:
Biksu Haitao dalam ceramah Dharma berkata seperti ini:
Saat nyamuk menggigit saya adalah saat yang paling tepat bagi saya untuk melatih pelepasan ‘kemelekatan diri’.
Biarkan nyamuk menggigit.
Biarkan nyamuk kenyang mengisap darah sadhaka, biarkan nyamuk bergembira, biarkan nyamuk berbahagia.
Ini adalah upaya berdana.
Sekaligus merupakan saat yang tepat bagi sadhaka untuk melatih pelepasan terhadap kemelekatan.
Yakni pelepasan terhadap:
- kemelekatan rasa gatal.
- kemelekatan rasa sakit.
- kemelekatan diri.
Batin sadhaka tidak bergejolak sama sekali!
Komentar saya:
Ini berarti memberi kebahagiaan kepada nyamuk!
Ini berarti menolong nyamuk terbebas dari derita kelaparan!
Ini berarti upaya berdana dengan penuh sukacita!
Ini berarti Mahamaitri tanpa batas dan Mahakaruna universial.
Ini berarti Upeksa tak terhingga.
Akan tetapi, bila merebak penyakit demam berdarah, virus Zika, bakteri mematikan...
Bagaimana?
Mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkan nyamuk?
Luar biasa!

Ada lagi:
Ada orang bertanya kepada saya, “Mahaguru! Apa yang Anda lakukan saat nyamuk menggigit Anda?”
Saya menjawab, “Plak! Langsung tepuk mati!” (tanpa berpikir panjang lebar)
Orang bertanya, “Bukankah itu melanggar Sila tidak boleh membunuh?”
Saya menjawab, “Bukan demikian, sebenarnya saya sedang menyeberangkannya, supaya nyamuk ini lekas meninggalkan alam nyamuk, terlahir di alam luhur.”
“Caranya bagaimana?”
Saya menjawab, “Saya menjapa sebait kalimat berbunyi: ‘terseberangkanlah ke Alam Suci, bebas dari Samsara, Namo Amitabha Buddhaya.”
Lalu mengembuskan setarik napas dari mulut saya, melakukan ritual penyeberangan.
Orang bertanya, “Apa nama metode ini?”
Saya menjawab, “Sadhana BINASA PARAMITA” [sun: hehehe, lucu ya]
Orang bertanya, “Apakah ini termasuk cara welas asih?”
Saya menjawab, “Mahawelas asih!”
Ketahuilah, pahami bahwasanya Buddhadharma merupakan Jalan Kebenaran, Jalan Kebenaran ini mencakup metode konvensional maupun metode inkonvensional. Sadhana Binasa Paramita yang dimaksud di atas merupakan upaya Mahabodhisatta yang tak terbayangkan, hal yang mana tidak dapat dipahami oleh orang awam.
Kita tidak terpaku pada aspek eksternal, melainkan lebih mementingkan aspek internalnya, semangat adikodrati seperti ini menjadikan Buddhaksetra sebagai orientasi, menjadikan Kebenaran Hakiki sebagai realita sejati, jika bukan oleh seorang Arya Vimalakirti, maka sungguh mustahil untuk dipahami!

om guru lian shen siddhi hum
**dicopas dari; http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=267&id=12

Jumat, 23 Maret 2018

SALIRA SEBAGAI BUKTI



         Berita yang akhir akhir ini menimbulkan kegemparan luar biasa di kalangan Budhis adalah sebagai berikut: "Beberapa tahanan dari penjara Chang-yi Singapura yang akan menjalankan hukuman mati telah memutuskan untuk mengangkat guru kepada Living Budha Lian-Shen dan dengan tekun melatih diri dengan Dharma Tantrayana Cen Fo Cung. Hasilnya, setelah mereka menjalankan hukuman mati dan dikremasikan, sarira (reliks) ditemukan dari sisa sisa kremasi." Berikut ini adalah catatan mengenai sarira sarira yang ditemukan dari sisa sisa kremasi ke empat tahanan (siswa saya) yang menjalankan hukuman mati:

(1) Lianhua Ah‑lin‑He, melatih diri dengan Catur Prayoga selama kira kira satu tahun. Ia dihukum mati pada tanggal 6 Septem­ber 1991. 
         Setelah dikremasikan, 12 sarira ditemukan.

(2) Lianhua Ching‑wen‑He, melatih diri dengan Catur Prayoga selama kira kira 3 tahun. Ia dihukum mati pada tanggal 15 November 1991. 
         Setelah dikremasikan, lebih dari 30 sarira ditemukan.

(3) Lianhua Bao‑sheng‑He, melatih diri dengan Yidam Cundi Yoga selama 3 tahun dan 9 bulan. Ia dihukum mati pada tanggal 28 Maret 1992. Setelah dikremasikan, tiga sarira ditemukan. Keesokan harinya, sebuah sarira lagi ditemukan yang tumbuh dari ketiga sarira pertama.

(4) Lianhua You‑ching‑He, melatih diri dengan Yidam Padmakumara Yoga selama 4 tahun dan 5 bulan. Ia dihukum mati pada tanggal 3 April 1992. Setelah dikremasikan, banyak bunga sarira dan 20 sarira mahkota ditemukan.  

Sarira biasa juga disebut "relics" dan hanya ditemukan pada sadhaka sadhaka yang telah mencapai tingkah keberhasilan pembinaan diri yang tinggi.

Sejak dahulu kala, sarira dianggap sebagai bukti dari pencerahan.

Bila sarira ditemukan setelah seorang rahib penting/senior dikremasikan, orang orang akan menempatkan sarira itu di altar dan memujanya.

Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa aliran Cen Fo Cung dari Living Buddha Lian-Shen adalah sebuah aliran Buddhis yang di jalan yang benar dan bahwa Dharma Tantrayana Cen Fo Cung adalah Dharma Buddhis yang benar pula.

Ini didukung dengan fakta bahwa mereka yang melatih diri dengan dharma ini, tahanan hukuman mati sekalipun, akan mencapai keberhasilan pembinaan diri yang besar. Sekarang apa yang dapat dikatakan oleh orang orang yang menyampaikan tuduhan tuduhan negatif?
Semua gosip telah hancur!
Saya ingin menasihati mereka yang mengatakan Cen Fo Cung sebagai aliran sesat untuk melihat fakta dan bukti.
Saya menganjurkan mereka untuk dengan tulus memperbaiki kesalahan mereka dan mengubah jalan hidup mereka.
Mereka pun dapat melatih diri dengan Dharma Tantraya­na Cen Fo Cung. Janganlah ragu lagi.
Janganlah menanam benih di neraka!


**Dikutip dari ebook Padmakumara-02, artikel no.1.7 
Judul asli: Ditemukannya Sarira Sebagai Sebuah Bukti
(Judul asli: Dharma Budha yang benar, oleh Maha Acarya Lu Sheng-yen,
Diterjemahkan dari suratkabar "The Hwa Yu Post" No. 27, tanggal 14 Agustus 1992)

Selasa, 20 Maret 2018

MENJAPA MANTRA BUDDHA


Dalam menjalankan Agama Buddha Tantrayana ada 3 hal yang harus dijalankan untuk mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, yaitu :

1. Menjapa Mantera
2. Meditasi
3. Melaksanakan Api Homa

Dari ketiga hal, yang paling gampang dan harus dijalankan adalah yang nomor satu Menjapa Mantera.

Simak syair di bawah ini


Menjapa  MANTRA BUDDHA

Jangan ragu-ragu menjapa mantera, 
Mudah mengikis dosa dan karma,
Menyadari dunia fana bagaikan penjara,
Harta dan tahta hanyalah lilin yang menyala,
Lahir, tua , sakit , mati sudah hal biasa,
Timbul lenyapnya cinta kembali sirna.
Mendalami mantra Buddha dan mulai bersadhana,
Kelak menetap abadi di Surga Sukhavatiloka.

Mantera dalam tantra Buddha disebut juga Dharani, memiliki makna penjapaan pokok artinya segala penjapaan mantra tiada batas, kita menyebutkannya sebagai kata sejati, cahaya mantera, hati Tathagata, Ratna manikam.

Yang menapaki sadhana dalam Buddha dharma akan menyadari bahwa Buddha dharma adalah maha tinggi, takjub dan unik.

Memiliki banyak ratna permata antara lain sunya yang sejati, kebijaksanaan, pandangan benar dari Madyami-ka, Abhijna dari Vijnapti dan yoga ekarasa. Paling dasar mendalami Yoga eka-rasa memasuki mantera Buddha.

Mantera Buddha bisa mengabulkan semua doa kita yang bajik, bisa meluruskan segala urusan besar seperti pertobatan,rejeki, kerukunan, penaklukan agar kemakmuran bisa tercapai, panjang umur bahkan mencapai Anuttara Bodhi (keBuddhaan).

Semua mantera berasal dari Buddha Bodhisatva yang prihatin atas penderitaan mahluk hidup, demi menolong mahluk hidup agar terbebas dari duka maka dharani itu diwariskan langsung oleh Buddha Bodhisatva

Kitab intisari Tantrayana menyebutkan “pahala menjapa mantra dan menyebut nama Buddha bagaikan gunung semeru dan samudra luas. Bila hanya menyebut nama Buddha tanpa menjapa mantra, pahala hanya sebatas gunung wangi saja”.


Kitab Anuttarje mengatakan ; Menyebut nama Buddha memang bisa mencakupi tiga akar, namun umat yang terlahir di pantai seberang belum sepenuhnya mencapai alam yang paling suci. Apabila menekuni sesuai Tantra-yana, sepuluh penjuru alam suci dapat dijelajahi sesuai kehendak dan merupakan hal yang pasti terlahir di tingkat paling suci.

Menyebut nama Buddha akan memperoleh rupa nama Buddha, manjapa mantera akan memperoleh hati Tathagata . Dengan menyebut nama Buddha serta menjapa mantra, pencapaiannya paling sempurna.


Contoh mantera dan nama Buddha yang dapat ditekuni. 
Pilih yang paling berjodoh dengan anda (yang paling disukai)

Mantera rahasia [mantera hati] Buddha Amithaba: “Om Ami Te Wa Xie
Menjapa penuh setiap hari hingga 100.000 x semua doa positip terkabul. 
Menjapa penuh setiap hari hingga 350.000x semua siddhi akan diperoleh jauh dari penyakit dan bencana/santet. 
Menjapa lebih banyak lagi semua malapetaka dan gangguan jahat akan lenyap. Bila mampu menjapa 8.000.000x dalam hidupnya akan dijamin terlahir di Surga Sukhavatiloka.

Bila bertemu makhluk suci dalam meditasi dan untuk menguji makhluk suci itu sejati atau siluman/mara japalah “om kulu lienseng Siti hum” 3x jika sejati sinarnya akan lebih terang jika palsu akan ditampakkan wujud aslinya.
Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Amitofo”


Mantera Avalokitesvara [sadaksari mantra] : “Om Mani Pad Me Hum
Menjapa 108x setiap hari seumur hidup tidak akan terlahir ke tiga alam yang lebih rendah dalam kehidupan mendatang mendapat tubuh manusia kembali dan dapat melihat Avalokitesvara (Kwan Se Im Posat). 
Menjapa 21x setiap hari seumur hidup akan menjadi cerdas dan mampu mengingat apapun yang telah dipelajari. Memiliki suara yang merdu menjadi ahli dalam makna semua Buddha dharma.
Menjapa 7x setiap hari seumur hidup, semua kesalahan akan disucikan dan semua rintangan hidup akan disingkirkan dalam kehidupan mendatang. Tidak perduli dilahirkan dimana senantiasa berjodoh dengan Avalokitesvara.
Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Kuan Se Yin Pusa”


Avalokitesvara pernah mengatakan pahala terbesar dalam Tantrayana adalah menjapa Mantra!  
Mengapa ? 
Mantra meliputi segalanya. 
Meliputi angkasa luas. 
Tetapi besar kecil pahala dan kekuatan dharma penjapaan mantra berbeda pada setiap orang. Tergantung tingkat kesucian pikiran / hati orang tersebut.

Menjapa mantra dapat menghapus kotoran, membersihkan karma, menyembuhkan penyakit, menghapus kerisauan bathin merupakan abhiseka manjur sungguh tak terbatas nilainya.

Bagi yang berjodoh dan mempunyai pahala besar akan segera menekuninya dengan rajin, segera mencapai kontak batin dan mencari ajaran selanjutnya.

Bagi yang belum berjodoh/berniat menekuni simpanlah hingga waktunya tiba. 
Bagi sedang bermasalah jangan ragu-ragu lagi, segeralah menjapa mantra !
*


*sumber: http://vajradharmaratna.blogspot.co.id/2014/11/menjapa-mantra-buddha.html

10 Pahala Pelepasan Satwa


Pelepasan satwa (fangshen / Satwamocana) memiliki sepuluh pahala kebajikan berikut:
1. Tiada petaka akibat senjata tajam dan peperangan.
2. Berbagai kemujuran akan berkumpul.
3. Panjang usia dan sehat.
4. Sutra Buddha mengatakan : seorang yang menjalankan sila tidak membunuh dan melakukan
    pelepasan satwa akan memperoleh dua macam pahala yaitu panjang usia, serta banyak rejeki
    dan tiada penyakit.
5. Banyak anak dan harapan akan anak laki laki.
6. Para Buddha bersuka cita.
7. Para hewan akan mengenang jasa. (bibit jodoh baik masa mendatang.)
8. Tiada petaka.
9. Terlahir di surga, bagi yang menekuni metode Tanah Suci akan terlahir di Tanah Suci.
10. Dewasa ini adalah masa masa petaka dalam dunia manusia, rokok, arak, mara kemelekatan
    cinta, semua mengikat para insan. Bila para insan mengerti saling membalas budi, berbagai
    kejahatan akan sirna, setiap saat akan tenteram.

Dunia hewan ada kondisi kemajuan perlahan dari kehidupan rendah menuju tinggi, seperti halnya umat manusia yang semula liar berubah semakin berbudaya. Seperti yang dikatakan oleh para ahli, bahwa setiap makhluk hidup mengalami perubahan karena kondisi luar.

Bila tiap orang dapat menjaga sila dan melepas satwa, maka batin penuh kebajikan akan saling bertaut, turun temurun pada anak cucu, selamanya tenteram dan makmur.


*sumber: http://vajradharmaratna.blogspot.co.id/2014/11/10-pahala-pelepasan-satwa.html

BUKAN DEMI APAPUN


Pada tahun itu, saya terus-menerus melakukan Mahanasmakara, bukan demi melihat Kalacakra, hanya belajar kerendahan hati dari bumi.

Pada bulan itu, saya terus-menerus membaca Sutra Kalacakra, bukan demi memahami makna utama Kalacakra, hanya memutar Sutra tanpa tujuan.

Pada hari itu, tangan saya memegang dupa, mulut memanjatkan mantra, pikiran kosong, apapun tidak dipikirkan.

Pada detik itu, tidak menanti kehadiran Anda, namun Anda datang dengan sendirinya, bahkan saling berhadapan.

Ada foto sebagai bukti:
Anda menatap saya.
Saya menatap Anda.
Hati Anda dan saya sangat lembut.
Saya menyentuh ujung jari Anda yang runcing.

Yang ingin saya beritahu pada Anda semua adalah:
Sutra Vajra mengatakan:
Tiada wujud manusia, tiada wujud diriku, tiada wujud insan, tiada wujud kehidupan.

Saya berkata:
Tiada wujud rupa, tiada wujud Dharma, tiada wujud abhava, tiada wujud sunya, tiada wujud duniawi, tiada wujud non duniawi.

Lebih dalam lagi dikatakan:
Tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud insan, tiada tiada wujud kehidupan, tiada tiada wujud rupa, tiada tiada wujud Dharma, tiada tiada wujud abhava, tiada tiada wujud sunya, tiada tiada wujud duniawi, tiada tiada wujud non duniawi.

Lebih lebih dalam lagi dikatakan:
==Tiada wujud berkah dan pahala,
==tiada wujud Bodhisattva,
==tiada wujud Tathagata.

Saya berkata:
Jelas-jelas ada.
Benar-benar sunya.
Dari sunya melihat abhava.
Dari abhava melihat sunya.
Tidak melekat pada sunya maupun abhava.
Lebih naik satu yana.
Tidak terungkapkan.
(Ini tidak terpikirkan oleh manusia biasa)

Tingkatan alam yang saya capai, sebenarnya juga tingkatan alam, segalanya dianggap sunya, mana ada alam tingkatan?

Empat elemen utama adalah sunya.
Pancaskanda adalah sunya.
Segala yang ada adalah sunya.

Saat ini, dengan sendirinya melepaskan semuanya, dilepaskan dengan:
Satu benang pun tidak menempel.
Satu debu pun tidak mengotori.
Satu wujud pun tidak melekat.

Saya menulis buku ini, bukan demi dipercaya orang lain, bukan demi popularitas dan keuntungan, bukan demi kedudukan, bukan demi pendapat sendiri, bukan demi istri, bukan demi anak, bukan demi hasrat, bukan demi cinta, bukan demi keserakahan, bukan demi reputasi, bukan demi perasaan, bukan demi rupa, bukan demi orang lain dan diri sendiri.
Apapun bukan!

Orang bertanya,“Mengapa menulis?”
Saya menjawab, “Demi menulis, saya menulis!”

**dikutip daribuku ke 248: Keajaiban Alam, Judul Asli "Berhadap-hadapan dengan Kalacakra"
  dicopas dari: http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=259&id=5