Kamis, 18 Februari 2010

Suami-Istri di Dunia dan di Akhirat

Di Bing-Dong (baca: Ping Tung, Taiwan) ada sebuah kejadian nyata tentang dunia roh sebagai berikut:

Ada seorang gadis yang meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Arwah gad is ini merasuk tubuh seorang gadis lain, lalu gadis lain itu pergi melapor ke kantor polisi, “Saya adalah arwah si gadis yang meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Saya meninggal karena tidak bisa keluar dari dalam mobil. Saya mohon diri saya dan arwah janin yang saya kandung dibantu diseberangkan." (Catatan: diseberangkan = di-doa-kan agar si arwah dapat pindah ke alam spiritual yang lebih tinggi, dengan kondisi hidup yang lebih baik.)

Polisi tentu saja kaget dan tidak berani meremehkan kasus ini. Setelah kasus ini diselidiki, ternyata bahkan orang tua si gadis maupun para sahabat nya tidak tahu-menahu tentang adanya janin di perut si gadis. Polisi meminta pihak forensik untuk melakukan otopsi mayat si gadis. Hasil otopsi menunjukkan bahwa gadis yang meninggal dunia akibat kecelakaan mobil itu memang sedang hamil 2 bulan. Kejadian ini menjadi gempar.

Mendengar kisah nyata ini, saya rasa hal Inl membuktikan 2 hal: (1) Roh itu benar-benar ada, (2) Ada yang dinamakan penyeberangan arwah.

Kondisi arwah yang tidak ber-agama, yang tidak melatih batin selama masih hidup, yang belum mendapat kesempatan untuk diseberangkan, boleh dikata penuh dengan ketidakkpastian, bagai sedang ada di alam mimpi, terus terombang- terambing. Begitu pikiran nya bergerak, ia langsung bisa tiba di hutan, pinggir laut, kota besar, atau langsung bertemu dengan orang yang dirindukan. la seperti layang-Iayang yang putus benang nya, terus mondar-mandir, terus terobang-ambing. Emosi si arwah sangat labil, bisa tiba-tiba gembira, tiba-tiba menangis sedih, tiba-tiba ketakutan yang amat sangat.

Itu sebabnya, terhadap meninggal dunia, ada yang (penyelamatan) arwah.

Di dalam Tantrayana, ada metode untuk membuka jalan hawa si almarhum sampai ke ubun-ubun kepala, memblokir ke 9 lubang di tubuh si almarhum, hanya menyisakan jalan si roh dalam tubuh menuju ubun-ubun kepala. Metode ini menggunakan mudra, mantra, dan visualisasi. Dengan metode ini, arwah si almarhum dapat diseberangkan (dikirim) ke hati Yidam (Yang Maha Kuasa).

Dalam Tantrayana, kita dapat membantu si arwah dengan mengundang kehadiran nya, memanjatkan ayat-ayat Sutra suci bagi nya, memberi nya abhiseka menjadi murid, dan mengajarkan nya metode penyelamatan diri sehingga si arwah terlepas dari ketakutan, dapat dengan jelas memahami segala fenomena yang muncul setelah meninggal dunia, dan terbimbing ke tanah suci.

Berikut ini sebuah kisah nyata yang saya alami berkaitan dengan hal kerasukan roh. Pada suatu ketika, saat saya sedang memberikan pelayanan konsultasi spiritual kepada masyarakat, datang seorang pemuda bernama Chen- Yun ingin berkonsultasi.

Mendadak, suara Chen-Yun berubah menjadi suara wanita yang berkata, "Kalian semua keluar. Saya ingin bicara empat mata dengan Master Lu." Maka, semua orang yang ada di dalam ruangan pun pergi keluar.

Suara wanita itu berkata, "Saya bernama Liang Li. Saya bukan Ohen-Yun."

"Saya tahu. Ada urusan apa?"

"Saya tahu Master sangat sakti. Saya mohon arwah saya diseberangkan."

"Itu mudah."

Liang-Li melanjutkan, "Saya adalah istri Chen-Yun. Saya sudah berpesan kepada nya supaya harta warisan saya dibagi menjadi empat bagian. Yang tiga bagian adalah untuk tiga orang anak kami. Yang satu bagian lagi adalah untuk anak saya dari suami saya yang sebelumnya. Tak disangka, Chen Yun tidak membagi nya sesuai pesan saya. la telah meng-korupsi se-per-empat bagian yang merupakan hak anak saya dari suami yang sebelumnya. Hari ini saya ingin memperingatkan dia tentang hal ini. Mohon Master berkenan menyampaikan. Jika ia egois dan tidak melakukan sesuai yang saya minta, saya akan membuat nya mati mengenaskan." Liang-Li sangat emosi.

Saya berkata, "Pasti akan saya sampaikan."

Liang-Li melanjutkan, "Ada satu hal lain lagi. Saya tidak perduli bila Chen-Yun ingin kawin lagi. Tapi, ia tidak boleh kawin dengan wanita yang bernama Lu-Zhu. Wanita itu adalah pembawa sial. Rumah tangga bisa hancur berantakan. "

"Akan saya sampaikan."

"Saya adalah arwah yang masih gentayangan. Mohon Master berkenan menyelamatkan."

"Saya akan berusaha."

Liang-Li berkata, "Saya pergi sekarang. "

Begitu kata "pergi" terdengar, Chen-Yun hampir saja jatuh. Untung saya sudah pengalaman. Dengan gesit saya memapah nya. Saya lalu mengusap wajah Chen-Yun dengan handuk dingin. Tak lama kemudian, Chen-Yun siuman. Sewaktu ditanya apakah ia tahu apa yang telah terjadi, ChennYun sarna sekali tidak tahu. Maka, saya menceritakan apa yang terjadi. Chen-Yun sangat kaget.

la berkata, "Harta warisan nya memang dipecah menjadi empat bagian. Tiga per-empat bagian sudah diatasnamakan ke ketiga anak kami. Mengenai sisanya, masalahnya adalah anak itu ada di luar negeri. Saya harus mencari nya dulu, baru bisa menyerahkan warisan bagian nya. Saya hanya sekedar sibuk selama ini, tidak bermaksud menyimpan nya untuk kepentingan pribadi saya. Tapi, karena Liang-Li telah berpesan demikian, saya akan mengurus hal ini sesegera mungkin. Mengenai Lu-Zhu, memang benar kata Liang-Li. Lu-Zhu adalah seorang wanita tuna-susila. Saya sudah lama mengenal nya. la sekarang sudah bertobat dan melepaskan profesi lama nya. Sekarang ia bekerja sebagai penjahit. Hati nya baik. Setelah Liang-Li meninggal dunia, barulah saya menjalin hubungan dengan nya. Tak saya sangka bahwa Liang-Li begitu keberatan."

Saya berkata, "Itulah dua pesan Liang-Li. Semua sudah saya sampaikan. Apakah kau akan lakukan sesuai pesan nya atau tidak, itu bukan urusan saya."

Setahun setelah kejadian terse but, saya mendapat informasi bahwa Chen-Yun telah meninggal dunia secara aneh. la meninggal dunia akibat kecelakaan mobil, sama seperti kejadian yang menimpa Liang-Li. Juga, lokasi terjadinya kecelakaan pada Chen-Yun adalah lokasi yang sama Liang-Li mengalami kecelakaan. Sungguh kebetulan. Belakangan saya baru tahu bahwa sampai Chen-Yun meninggal dunia, warisan harta untuk anak Liang-Li dari suami yang sebelumnya tetap belum Chen-Yun berikan. Chen-Yun juga menikah dengan Lu-Zhu. Saya teringat ucapan Liang-Li, "Saya akan membuat nya mati mengenaskan. "

Pada suatu ketika, saya melakukan perjalanan astral (perjalanan roh keluar badan fisik) ke akhirat. Disana, saya melihat seorang pria dan seorang wanita sedang meng-aduk semen, sedang membuat tembok yang mengelilingi kota. Si pria saya kenaI. Dia adalah Chen-Yun. Chen-Yun memperkenalkan wanita di sampingnya yang ternyata adalah Liang-Li. Liang-Li berkata, "Ia tidak menurut. Maka, saya ajak dia kesini." Chen- Yun hanya tertawa getir.

Rupanya mereka berdua kembali menjadi suami-istri di alam baka. Benar-benar musuh yang berbahagia.


*sumber artikel:Buku ‘Konsultan Dunia Roh ke-4/4', artikel ke-9. Suami-Istri di Dunia dan di Akhirat

Metode Kebesaran Hati

Ada sebuah metode bernama 'Metode Kebesaran Hati'.

Pernah ada seorang bhiksu berkata, "Metode Kebesaran Hati adalah sebuah metode untuk mengingatkan kita agar belajar pada kebesaran bumi, belajar pada semangat bumi yang selalu rendah hati, selalu merasa bertobat, dan selalu tidak menuntut jasa. Bumi selamanya jujur, selamanya pula kurang mendapat perhatian, selamanya menerima apa adanya, dan selalu memberi!. Inilah yang dimaksud dengan Metode Kebesaran Hati."

Saya selalu merasa bumi merupakan lambang dari ksanti paramita. Bagi bumi, yang paling utama adalah ksanti. Bumi paling merendah, juga paling membisu, namun justru paling mantap dan kuat.

Bumi membiarkan angin berembus, hujan membasahi, mentari mengeringi, api membakar. Namun, bumi tetap saja tak tergoyahkan.

Bumi membiarkan seluruh makhluk menginjak dirinya, membuang kotoran di atasnya. Namun, bumi menerima tanpa komentar.

Bumi merupakan ibu pertiwi segenap makhluk, menghidupi dan mengayomi segala kehidupan. Namun, bumi tetap membisu.

Bumi selalu memberi perlindungan pada segenap kehidupan dengan segala upaya. Namun, apa yang dibalas oleh manusia padanya? Dan bumi senantiasa rendah hati tanpa pamrih.

Dalam hidupku ini, saya selalu belajar dari semangat bumi: tidak bermasalah, tidak peduli, tidak apa-apa, dan ksanti.

Pernah seseorang berkata padaku, "Buddha Hidup Lian Sheng Lu Sheng-yen, penderitaan yang Anda alami selama hidupmu ini, bahkan seratus Lu Shen-yen pun tidak cukup beban untuk mati!"

Saya balik bertanya, "Apa maksudmu?"

Ia berkata, "Penghinaan yang Anda alami sangat besar, bersifat global, setinggi gunung, sedalam lautan. Siapa pun akan mati karena kesal. Lagi pula penghinaan yang begitu banyak datang bertubi-tubi. Walaupun ada seratus Lu Sheng-yen, bukankah semuanya akan habis bunuh diri."

"Saya hadapi dengan sikap tidak bermasalah, tidak peduli, tidak apa-apa, dan ksanti." ujarku.

"Reputasi itu bagaikan nyawa kedua seorang manusia!" "Saya tidak punya reputasi. Peduli amat dengan reputasi!" paparku.

Bumi tidak butuh nama. Bumi tidak butuh reputasi.

Kalau orang-orang menuduh saya sebagai 'iblis kalangan agama', 'penjahat terbesar abad in;', 'setan', 'menyesatkan' ... , bagiku, tetap saja tidak bermasalah.

Yang saya tahu, ada sebuah aliran besar yang berniat sungguh-sungguh membantu semua umat mencapai kesempurnaan, yaitu 'Zhenfo Zong'. Semua orang boleh berlindung padanya, semua orang bisa menekuni sadhananya. Tapi, aliran besar ini justru difitnah, diremehkan, dihalangi, dan dikritik oleh orang banyak.

Saya tahu bahwa Zhenfo Zong itu sangat sempurna, paling menakjubkan di dalam Buddhadharma, mampu membuat manusia terhindar dari bahaya perang dan bencana alam, mampu membuat manusia sehat, panjang umur, memiliki keluarga yang harmonis, dan memperoleh prajna dan berkah. Terutama mampu menuntaskan samsara melalui sadhana hingga mencapai Samyak Sambuddha.

Zhenfo Zong yang saya rintis adalah sebuah aliran besar yang bertujuan untuk menolong nyawa dalam bahaya serta menyelamatkan kehidupan dan akal budi umat man usia.

Berkah dari Zhenfo Zong itu demikian besarnya, tidak bisa dibandingkan dengan kebajikan kecil yang lain. Dilindungi oleh

para Dewa Naga dan direstui oleh para Buddha.

Sungguh sebuah karunia besar bagi dunia.

Dengan kata lain, Zhenfo Zong adalah aliran yang sungguh-sungguh memiliki Dharma dalam penekunannya. Dan sungguh merupakan sebuah anugerah terbesar di masa ini dan masa akan datang.

Demi aliran ini, penderitaanku pribadi hanyalah masalah kecil; kepergianku kelak dalam kesendirian juga masalah kecil; keluargaku tercerai-berai juga masalah kecil; masalah fitnah, hina, maki, cerca ... tetap saja kecil bagiku. Bahkan saya anggap tidak bermasalah sama sekali.

Saya hanya berharap, "Wahai, dunia, jadilah orang yang bermata jeli . Jadilah orang bijak yang tidak mengakui dirinya bijak."

Orang yang tidak bermata jeli takkan mampu mengenali kebijakan yang sejati.

Janganlah jalani hidup ini dengan mengikuti seorang guru sesat tanpa kesadaran.

Jadilah seorang sadhaka yang bermata jeli.


*sumber artikel: Buku ke153 “Biarkan Sinar Mentari Menerangi”, artikel ke-22. Belajar pada Kebesaran Bumi

Rabu, 17 Februari 2010

Dosa Cabul di Negeri Raksa


Dalam penjelajahan spiritual, saya telah berkunjung ke Negeri Raksa.
Saya menemukan suatu fakta, Negeri Raksa itu penuh dengan hantu yang berbuat dosa cabul.
Hatiku sungguh kaget.

Saya teringat dulu seorang pemuda yang datang berkonsultasi padaku, "Saya belajar dengan serius, biasanya nilai ujianku juga lumayan. Tapi, setiap kali menghadapi ujian resmi seperti ujian masuk SMU atau UMPTN, selalu bermasalah."

"Masalah apa?"
"Beberapa hari sebelum ujian pasti demam berat, sekujur badan panas dan lemas. Begini mana bisa ikut ujian! Sewaktu ujian masuk SMU, malah menderita radang usus dua belas jari dan sakit lambung. Mana mungkin bisa ikut ujian!"

Saya membakar dupa dan mohon petunjuk dari dewa. Dewa memberi petunjuk, "Sila cabul."
Saya berkata pada pemuda itu bahwa setiap kali sebelum ujian jatuh sakit atau ujiannya gagal dikarenakan melanggar sila cabul.

Pemuda itu tertawa, "Seumur hidupku ini belum pernah berpacaran dengan perempuan, juga tidak ada teman wanita yang dekat. Bagaimana bisa melanggar sila cabul?"
"Tidak seorang pun? Tidak sekali pun?"
"Tentu."

"Kamu masih perjaka?"
"Benar, masih perjaka."
Ia menganggukkan kepala.


Saya jadi bingung. Saya segera membakar dupa dan bertanya lagi. Kali ini dewa memperlihatkan sebuah gambaran padaku. Saya melihat sampai mataku memerah.
Saya berkata, "Kamu menonton film porno."

Saat itu si pemuda merasa sangat malu dan menyesal. la mengatakan bahwa sejak masih remaja sudah menonton film porno. Dalam ruang belajarnya, separuh berisi buku, separuh lagi berisi film porno. Hobinya mengoleksi film porno dari berbagai negara.

Saya kaget mendengarkan perkataannya.
"Sekarang harus bagaimana?"

"Dibakar saja semuanya." kataku.
Begitu pemuda itu pulang ke rumah, ia membakar habis semua koleksi film pornonya sesuai anjuranku.

Konon, sekarang ia sudah menjadi seorang pengacara.
Muda-mudi sekarang, ada yang lebih parah, pergaulan bebas, narkoba, pesta seks.
Mereka kira dirinya trendy.

Pantas saja di Negeri Raksa semakin banyak hantu yang melanggar sila cabul.
Mereka semua menjadi setan cabul.


Seks itu nafsu birahi yang paling mudah menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
Pada dasarnya, tindakan membunuh, mencuri, berdusta, mabuk-mabukan, itu terlihat secara fisik. N
Namun nafsu seks itu tersembunyi.
Boleh dikatakan nafsu seks lebih sulit terkendali.
Begitu nafsu birahi bangkit, mudah merusak moral dan mendatangkan bencana.
Ujian dari nafsu seks lebih dahsyat daripada ujian lainnya.

Pepatah mengatakan, segala kejahatan bermuara dari birahi.
Maksudnya, nafsu birahi bisa memancing perbuatan jahat lainnya.
Banyak kasus pembunuhan dikarenakan nafsu seks.
Yang melibatkan dosa-dosa lain dikarenakan nafsu seks jauh lebih banyak lagi, sulit dirincikan satu per satu.


Nabi Kongfucu sejak dulu sudah menyadari kegelapan yang terselubung di balik nafsu seks.
Oleh sebab itu, beliau mengatakan "makan dan seks itu kebiasaan manusia."

Begitu berhadapan dengan keindahan fisik, mata manusia, segera tertarik.
Kalau hati sudah bergejolak, akan timbul rasa kagum, rindu, dan serakah.
Semua perasaan itu akan saling ertaut dan sulit untuk terlepas lagi.

Melihat kecantikan lantas timbul rasa ingin memiliki, maka luncullah kasus kawin lari, wanita jalang, perselingkuhan sampai lupa diri.
Manusia mudah terjerumus ke dalam lembah dosa yang dalam, susah untuk menarik diri.
Oleh sebab itu, orang yang bermoral hendaknya mampu segera menghentikan niat tidak pantas yang muncul mendadak. Jangan ada sedikit pun keraguan ntuk membiarkan toleransi pikiran menyusup. Sebab begitu terjadi kekhilafan, dunianya akan hancur dan sulit kembali ke titik emula.

Pendirian harus teguh, tegas, dan mampu melihat jauh ke depan.
Jika tidak, akan mendatangkan petaka, bahkan bencana alam.
Setelah mati akan terjerumus ke Negeri Raksa, selamanya sulit untuk terlahir kembali.
Sungguh menderita!


Di Negeri Raksa, pelanggar sila cabul yang paling sulit diampuni adalah orang yang semasa hidupnya menulis dan menerbitkan buku porno atau memproduksi film porno.
Orang semacam ini setelah mati pasti terjerumus ke Negeri Raksa karena telah menodai hati manusia dan merusak etika moral.
Orang ini baru dapat lepas dari Negeri Raksa untuk dilahirkan kembali ke tempat yang lain apabila semua buku atau film yang dibuatnya sudah lenyap atau dimusnahkan semua serta selesainya pembalasan atas dosa orang yang membuat kejahatan karena telah membaca atau menonton hasil karyanya.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang pemeliharaan kesehatan.
Di buku tersebut terdapat sebait gatha apik, saya kutip sebagai berikut:


Orang suci tidur pisah ranjang
Orang bijak tidur pisah selimut
Daripada banyak minum obat
Lebih baik tidur sendiri

Maksudnya, pasangan suami istri normal dalam kehidupan seksual juga harus terkendali. Suami istri berhubungan intim bukan perbuatan cabul, namanya seksual normal. Tapi, tetap tidak boleh mengumbar birahi. Karena daya inti manusia tersebar ke seluruh organ tubuh dan pembuluh nadi, begitu nafsu birahi terpancing akan berkumpul jadi satu dan bermuara di pintu vitalitas dan mengalir keluar. Oleh sebab itu, frekuensi suami istri berhubungan intim harus dijaga. Sekalipun manusia sekokoh pohon yang besar, tetap tidak tahan ditebang dengan kapak. Pohon sebesar apa pun, bila ditebang berkali-kali tetap akan tumbang juga.
Manusia yang vitalitasnya prima akan segar. Kehabisan vitalitas akan menjadi loyo.

Kongfucu berkata, "Anak muda yang darahnya masih panas, hendaknya jauhi nafsu birahi."

Buddha Sakyamuni berkata, "Nafsu birahi itu sumber dari segala penderitaan, rintangan, dosa, dan kegelisahan."

KITAB HUANGTING menyebutkan, "Jaga sumber vitalitas dan jangan mengumbarnya, upaya pertahanan ini bisa panjang umur."


Bodhidharma berkata, "Saluran pembuangan kotoran yang dipenuhi darah kental, apa sih yang menarik?"


Dong bin berkata, "Jangan puas dengan usia belia yang penuh kesenangan, hal yang berlebihan itu akan merusak jasmani. Kalau tidak percaya, bercerminlah, yang ada di bawah kulit hanyalah tulang."


Buku YinLu menyebutkan, "Jangan berhutang untuk kesenangan birahi, mudah dipinjam juga segera harus dilunasi. Orang keluargalah yang menjadi korban, tidak mungkin bisa diingkari."

Buddha Sakyamuni menginginkan setiap sadhaka menekuni 'Asubha'.

SUTRA EMPAT PULUH DUA PASAL menyebutkan, "Melihat wanita yang tua anggaplah seperti ibu sendiri; melihat wanita yang lebih tua anggaplah kakak sendiri; melihat wan ita yang lebih muda anggaplah adik sendiri; melihat gadis yang masih kecil anggaplah anak sendiri."


Saya pribadi telah menekuni Anasrava Tantra, dan berhasil dengan cemerlang.

Saya menggunakan 'bhadrakumbha' untuk membangkitkan titik bindu, dan dengan 'api kundalini' meleburkan titik bindu dan disalurkan ke seluruh pembuluh nadi. Titik bindu diangkat ke Gunung Semeru menghadap ke matahari dan bulan. Lalu menekan jakun, lidah menekan ke langit-Iangit, prana yang mengalir di atas dikeluarkan semua, bernafas dengan perut menempel punggung, menutup lubang anus dan menyusutkan empat benua.

Saya berlatih Anasrava Tantra sungguh-sungguh sangat berhasil dan terbukti setetespun tidak bocor. Para sadhaka yang tidak menekuni Anasrava Tantra sangat disayangkan karena begitu nafsu birahi terangsang akan menjadi "bhiksu ngompol".


*dicopas dari: Buku ke153, Biarkan Sinar Mentari Menerangi, artikel ke-40. Dosa Cabul di Negeri Raksa
Di scan pada 15-Feb-2010, 22:52 PM

Selasa, 16 Februari 2010

Jangan Menjadi Selebriti

Yang paling sengsara di antara sepuluh alam Dharma adalah alam neraka.
Di alam neraka, saya melihat seorang "selebriti" kelas dunia yang cukup tenar.
Selebriti ini telah lama meninggal dunia, namun manusia masih merindukannya.
Di museum patung lilin, tokoh ini juga merupakan pusat perhatian banyak orang.

Selebriti kelas dunia ini malah mengalami siksaan berat di neraka, tak bisa bebas selamanya.
Saya tidak ingin menuliskan nama besarnya karena semua orang mengenal dirinya.

Saya pernah mengunjungi museum patung lilin di Inggris, banyak tokoh selebriti di sana, mengagumkan. Namun yang mengejutkan saya adalah, "Dalam neraka banyak selebriti."

Mengapa demikian?

Karena selebriti pada umumnya kaya dan terhormat, terlalu berkuasa, kerap kali mencelakakan nyawa tak berdosa. Melanggar sila membunuh, sila berzinah, sila mencuri, suka bertikai dan melakukan penggelapan. Selain itu, perilaku mereka semena -mena, serakah, pemarah, bertindak bodoh, dan sebagainya.

Oleh sebab itulah di dalam neraka banyak selebriti!
Saya tidak tega melihatnya.

Coba pikir-

Lebih baik bersadhana, misalnya saya bertapa di Danau Daun berlatih samadhi.
Hakikat samadhi ternyata memiliki tiga aspek, yakni:
1. Sukha - bebas.
2. Vidya - bersih.
3. Sunya - acitta.

Walaupun tubuh saya bakal tua, sakit, dan mati, melalui samadhi saya bisa mencapai alam suci.
Tidak seperti para penguasa dunia, raja, pangeran, konglomerat, hartawan kelas dunia, pujangga besar, ilmuwan, filsuf besar, seniman besar ....

Beberapa selebriti yang terjerumus di alam neraka, siksaannya tiada batas, dan selamanya tak dapat bebas. Ada yang tiba-tiba dilahap api yang membara, ada yang tiba-tiba beku kedinginan, ada yang tiba-tiba dihujat barisan golok dan pedang, ada pula yang tiba-tiba diterkam dan dicabik-cabik gerombolan binatang buas ....

Saya terkejut sekali melihat siksaan yang dialami para selebriti di alam neraka.
Menurut hemat saya, lebih baik bersadhana, lebih baik hidup sederhana, hening, alami, penuh toleransi dan kejujuran.

Saya akan berseru, "Jangan menjadi selebriti!"


sumber artikel:
Buku ke-173, “Satu Mimpi Satu Dunia”, artikel ke-34, judul: Tidak Ingin Menjadi Selebriti (mmg bbeda dng judul di blog ini)

Langit Maha Tahu


Satu hal yang membedakan antara manusia dan hewan adalah, manusia memiliki tata susila.
Kalau manusia tidak punya tata susila, apa bedanya dengan hewan?
Ada orang meremehkan tata susila, bahkan lebih bejat dari hewan.

Seorang pria tampan sejati yang bertubuh tinggi gagah bernama Chui Jia datang menanyakan masa depan.
Saya memohon petunjuk pada dewa di langit.
Dewa menjawab, "Langit (1*) Maha Tahu."
Saya merasa geli mendengarkannya, sudah tentu Langit Maha Tahu!
Tapi, bagaimana dengan masa depan Chui Jia? Tidak ada jawaban.

Saya kembali memohon petunjuk. Dewa tetap menjawab, "Lang it Maha Tahu."
Ketiga kali saya ulangi bertanya. Dewa menjawab lagi, kali ini disertai sebuah catatan, "Langit Maha Tahu, orang ini karena “Langit Maha Tahu”, maka telah memperoleh berkah tambahan. Masa depannya sangat cemerlang."

Lalu saya balik bertanya pada Chui Jia, "Mengapa dewa hanya berkata Langit Maha Tahu?"
Chui Jia tercenang sejenak, lantas tampak tersipu-sipu. la merasa malu saat menceritakan padaku kejadian berikut ini.

Ketika Chui Jia masih kuliah, ia kos di rumah penduduk dekat perguruan tinggi.
Ibu kos adalah seorang nyonya muda berparas ayu yang lemah gemulai, suka bersolek dan berpakaian modis. Dari sepasang matanya yang memikat sering mengisyaratkan kesan genit.
Chui Jia agak terpesona.

Suatu hari si Tuan rumah sedang dinas luar.
Chui Jia kebetulan melangkah melewati pintu kamar tidur Tuan rumah.
Pintu tidak tertutup.
Nyonya muda berada di dalam kamar.
Sorotan matanya memancarkan hasrat cinta.
la berdiri menatapi Chui Jia, tubuhnya meliuk-liuk menggoda Chui Jia.
Chui Jia berdiri tanpa bergerak. Empat mata saling bertemu.
Chui Jia sungguh tak kuasa menghalau godaan nafsu.

Nyonya muda membuka mulut, "Tidak ada yang tahu."
Chui Jia sangat terusik, maju selangkah, lalu berhenti.
Nyonya muda berkata, "Sekedar iseng, orang tidak tahu."
Chui Jia yang berjiwa muda, nafsu rendah mulai membakar jiwa raganya.

Tiba-tiba Chui Jia berubah pikiran.
la teringat di sekolah pernah membaca empat kata yang artinya Empat Tahu: Langit tahu, Bumi tahu, Kamu tahu, Saya tahu. Meskipun orang lain tidak tahu, Langit Maha Tahu!”

Chui Jia berkata pada si Nyonya muda, "Orang tidak tahu, Langit Maha Tahu."
Nyonya muda bertanya, "Bagaimana Langit akan tahu?"
Chui Jia sambil menjawab sambil melangkah lebar meninggalkan si Nyonya muda, "Langit Maha Tahu, Langit Maha Tahu, Langit Maha Tahu!"

Malam itu si Nyonya muda datang lagi mengetuk pintu kamar Chui Jia.
Wangi tubuh seorang wanita muda menyelinap melalui sela-sela daun pintu, mengusik jiwa raga Chui Jia. Beberapa kali hampir saja ia bangkit membukakan pintu kamar.
Begitu pintu dibuka, wanita muda itu akan langsung jatuh di pelukannya, betapa tidak?

Tetapi Chui Jia masih bergumam, "Langit Maha Tahu, Langit Maha Tahu, Langit Maha Tahu!"
Orang tidak tahu, Langit Maha Tahu.
Orang lain boleh dikelabui, Langit tak boleh dikelabui.
Akhirnya, pintu tetap tidak dibukakan.

Keesokan dini hari, Chui Jia buru-buru pindah ke tempat ternan kuliahnya.
Kejadian ini ia tidak berani cerita pada siapa pun, termasuk sahabat karibnya.
la pindah kos hanya dengan alasan tempatnya tidak cocok.

Kini sungguh menjadi "Orang tidak tahu dan Langit Maha Tahu".

::
Chui Jia bercerita lagi padaku sebuah kejadian aneh.
Semasa kuliahnya, tempat tinggal Chui Jia berpindahan lima kali.

Di tempat kos yang lain, setelah kejadian dengan si Nyonya muda berselang beberapa waktu, suatu malam saat ia tertidur dengan pulas, dalam mimpi ia terdengar ada yang bersuara, "Langit Maha Tahu, cepat bangun, Langit Maha Tahu, cepat bangun, Langit Maha Tahu, cepat bangun."
Suara itu terdengar sangat jelas, Chui Jia terkesiap di tempat tidur.

la bergegas melongok ke jendela, rupanya rumah tetangga sudah kebakaran, asap tebal mulai mengepul. la segera membangunkan ternan-ternan kos dan segera menelpon Dinas Pemadam Kebakaran, lalu melarikan diri ke jalanan.

Ketika Chui Jia berlari keluar, kobaran api sudah mulai menjilat kamar tidurnya.
Tempat kosnya dalam sekejap telah menjadi lautan api.
Kasus kebakaran kali itu menelan beberapa korban jiwa dan melukai beberapa warga.
Sebanyak enam rumah bertingkat hangus dilahap si jago merah, kerugian materi tidak sedikit.

Chui Jia teringat kembali kondisi saat itu, andai kata tidak ada seruan "Langit Maha Tahu,. cepat bangun" yang membangunkannya dari ketiduran, ia masih saja tertidur pulas, mungkin ia bersama-sama ternan kosnya sudah jadi arang di tengah lautan api.
Sungguh mengerikan bila diingat-ingat kembali.

Awalnya Chui Jia adalah orang yang tidak percaya pada dewa, juga tidak beragama.
Setelah kejadian ini, ia merasakan sungguh adanya dewa di balik alam ini.
Kalau bukan dewa yang memberitahu "Langit Maha Tahu, cepat bangun", siapa lagi?

Saya berkata pada Chui Jia, "Memang ada makhluk suci dan makhluk halus di alam ini. Maka dikatakan segala perbuatan gelap yang menyimpang dari hati nurani, takkan luput dari sorotan mata dewa yang tajam bagaikan kilat."

"Sungguh Langit Maha Tahu." tutur Chui Jia.
Saya berkata, "Di zaman sekarang, Anda tidak terjatuh di pelukan wan ita jalang, sungguh beriman."
Chui Jia tersipu, "Kebetulan saja!"

"Antara kebajikan dan kejahatan hanya terpaut niat sepintas, begitu tersandung satu langkah, seumur hidup jadi penderitaan, mau tobat, umur sudah senja."

Saya memberitahu Chui Jia, "Hubungan pria-wanita jaman sekarang semakin hari semakin intim dan bertumpang tindih, sudah tak ada lagi orang yang menghiraukan norma dan kaidah.
Satu hal yang membedakan antara manusia dan hewan adalah, manusia memiliki tata susila.
Kalau manusia tidak punya tata susila, apa bedanya dengan hewan?
Ada orang meremehkan tata susila, bahkan lebih bejat dari hewan.
Memang, manusia juga terlahir karena nafsu birahi, sehingga nafsu rendah ini menjadi insting man usia. Atas dorongan kebiasaan itulah, maka untuk tidak melampiaskan nafsu birahinya, sungguh sangat sulit!"

"Bagaimana bermawas diri?" tanya Chui Jia.
"Sutra Empat Puluh Dua Bab mengatakan, yang tua bagaikan ibu, yang dewasa bagaikan kakak perempuan, yang remaja bagaikan adik perempuan, yang kecil bagaikan putri sendiri. Dengan pikiran demikian, kita akan meredam nafsu birahi."

"Kalau tak dapat berpikir demikian, sebaiknya bagaimana?"
"Belajarlah asubhasmrti(2*),
yang namanya wanita cantik, hanyalah sehelai kulit.
Bila kulit ini disingkap, hanyalah setumpuk kerangka.
Lalu dengan menganatomi tubuh, hanya terlihat organ - organ dalam yang berlumuran darah kental, penuh dengan urin dan tinja, amis dan bau, bahkan mengerikan dan memuakkan."

"Kalau tak dapat bervisualisasi demikian, lalu bagaimana?"
Saya menjawab, "Tatkala nafsu rendah bergelora di luar kendali, renungilah akibat yang bakal terjadi. Kalau mengikuti kehendak nafsu, mungkin saja harta benda akan runyam, nama baik akan tercoreng, bukan saja mempermalukan nama leluhur dan keluarga, juga akan merusak masa depan putra-putri, karir dan masa depan seumur hidup pun akan hancur.
Begitu merenungi akibat fatal yang harus ditanggung, tentu akan timbul rasa was-was dan takut, dengan sendirinya hawa yang berkecamuk segera berubah menjadi dingin."

"Kalau masih tak dapat mengendalikan diri, bagaimana?"
Saya katakan, "Kenikmatan hanya sejenak, malapetaka akan berkelanjutan!"

Chui Jia berkomentar, "Manusia kebanyakan menggandrungi kenikmatan yang sejenak ini, bahkan ada yang mati pun tak menyesal!"
"Buddha bersabda, nikmat itu kosong, rupa itu kosong."
"Umumnya orang tak merelakan!"

Saya berkata, "Anugerah dan petaka tidak berpintu, manusialah yang mencarinya."

Sesungguhnya tema dialog antara kami berdua ini juga merupakan masalah besar masyarakat jaman sekarang. Urusan semacam ini tergantung tingkat nurani dan kekuatan samadhi dari bhavana masing-masing orang.
Saya tegaskan, di alam ini tentu ada dewa, jangan kira orang tidak tahu, sebenarnya yang di atas tak dapat dikelabuhi, Langit Maha Tahu.
Untuk itu perkenankanlah saya berdoa, semoga setiap manusia menyucikan diri sendiri, setiap orang tahu beribadah, senantiasa meninggalkan samsara.

Catatan:

* Langit (1*) - dewa
*asubhasmrti(2*) – melihat segala sesuatu kotor adanya
sumber tulisan:
Buku ke-145, “Batin Teduh Seketika”, kisah ke-03, judul: Langit Maha Tahu

Rabu, 10 Februari 2010

10 Kesaktian Buddha (Dasabala Buddha)

1. Maha Tahu (Sarvakarajna)
Hari ini saya akan membahas tentang ke 10 Kesaktian Buddha (Dasabala Buddha). Seorang Buddha adalah seorang makhluk yang telah mencapai Penerangan yang memiliki "kesadaran penuh" (Sarvakarajna). Sewaktu seseorang datang menemui Sakyamuni Buddha, beliau akan segera tahu seluruh sejarah orang tersebut dari awal hingga akhir. Ini menandakan pengetahuan penuh tentang cara bekerjanya alam semesta. Kemampuan seperti ini adalah salah satu manifestasi dari kekuatan kebijaksanaan Sang Buddha.

2. Mengetahui Karma Setiap Insan
Kesaktian kedua adalah "mempunyai pengetahuan tentang karma setiap insan, di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang". Ini merupakan tambahan (ekstension) dari kesaktian jenis pertama.

Bagaimana caranya sang Buddha mengetahui tentang inkarnasi masa lampau seseorang? Dari tanda tanda di tubuh orang. Setiap orang memiliki tanda tanda di tubuhnya yang menunjukkan inkarnasi masa lampau dan masa yang akan datang nya.

Pengetahuan ini terbuka sewaktu orang berhasil mengembangkan kebijaksanaan Buddha. Seperti pernah saya katakan sebelumnya, kalian semua, di mata saya, adalah "antik", [tawa pendengar], meskipun kebanyakan dari kalian baru berusia antara 20an sampai 50an. Apa yang anda telah lakukan di kehidupan masa lampau telah meninggalkan tanda tanda di tubuhmu. Ini merupakan hal yang jelas bagi saya meskipun saya tidak boleh sembarang membuka rahasia nya. Kau boleh saja baru berusia 30an tapi bila kau hidup sampai usia 90 tahun dalam kehidupan lampau, secara gabungan, kau telah berusia 120 tahun. Bila semua inkarnasi masa lampau juga dihitung, kau mungkin ribuan atau puluhan ribu tahun usianya. Bukankah kalian ini barang antik, kalau begitu? Seorang yang telah cerah, dimana kebijaksanaan Buddha nya telah dikembangkan, dapat membaca sejarah tumimbal lahir lewat tanda tanda di tubuh orang. Berapa banyak karma baik dan karma buruk yang telah dilakukan seseorang dalam inkarnasi masa lampau? Berapa banyak pahala dan rintangan yang telah ditumpuknya? Semuanya ini terbuka lewat tanda tanda di tubuh orang.

3. Dapat Mengatasi Semua Jenis Ilusi
Seorang Buddha tahu cara cara untuk membebaskan diri dari segala jenis ilusi.
Apakah cara cara itu? Seperti telah saya jelaskan, anda harus menghayati arti "anitya" dalam semua fenomena dunia, membangkitkan hasrat untuk "meninggalkan keduniawian", dan berlatih untuk mencapai "tanpa ego". Seorang yang telah cerah dan memiliki kebijaksanaan Buddha tahu cara bagaimana mengajarkan jalan pembebasan dengan cara yang jelas dan terperinci. Apa yang saya ajarkan kalian pada hari ini adalah "pengetahuan untuk mengakhiri semua ilusi dan untuk terbebaskan dari kilesa". [tepuk tangan pendengar].

4. Prajna(Pengetahuan Tentang Keinginan dan Keadaan Mental Setiap Insan)
Kemudian, seorang Buddha juga mempunyai "pengetahuan tentang hal hal baik maupun hal hal buruk tentang setiap insan". Hal hal baik perlu di-utilisasi. Hal hal yang buruk perlu diatasi. Menurut ajaran Tantra, ini adalah kebiasaan kebiasaan yang dibawa dari kehidupan masa lampau. Bila seseorang adalah seekor ayam dalam kehidupan lampau, maka ia akan mempunyai nafsu yang sangat besar dalam kehidupan kali ini. Bila seseorang adalah seekor ular yang suka menyerang orang yang sedang lewat, maka ia akan mempunyai sifat benci yang besar dalam kehidupan kali ini. Bila seseorang adalah seekor babi dalam kehidupan lampaunya, maka ia akan sangat bodoh dalam kehidupan kali ini. Jadi, ketiga binatang ini berfungsi sebagai simbol dari loba, dosa, dan moha. Pengetahuan seperti ini bukanlah digunakan untuk melakukan diskriminasi. Dari sudut pandang sang Guru, pengetahuan tentang berbagai kebiasaaan seorang insan membuat si Guru dapat mengajar dengan lebih baik lagi. Diantara para siswa Sakyamuni Buddha, ada seorang bhiksu yang bernama Kalodayin yang sangat disukai wanita. Itu sebabnya ia selalu yang diutus oleh sang Buddha bila ada kesempatan untuk membabarkan Dharma pada wanita. Tidak seperti Sariputra, Maudgalyayana, dan Mahakashyapa, yang menjaga jarak terhadap wanita, Kalodayin senang ditemani wanita. Para wanita pun senang bercakap cakap dengannya. Itu sebabnya, Kalodayin menjadi utusan sang Buddha untuk kelompok wanita.
Namun, Kalodayin pada akhirnya mati terbunuh karena terlalu jauh terlibat dalam rumah tangga orang lain. Para sadhaka adakalanya harus mengelak untuk terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Guru saya memberi saya Sila ini, "Kalau bukan diundang, jangan sembarang datang ke rumah orang lain." Sekarang saya hanya akan datang ke rumah seseorang kalau diundang. Saya tidak akan sembarang datang. Ini untuk me-minimal-kan urusan duniawi. Di jaman dulu, Kalodayin sering datang berkunjung untuk bersosialisasi ke rumah orang lain. Kebiasaan ini menjadi faktor penyebab terbunuhnya dia.

Sakyamuni Buddha juga mempunyai seorang siswa yang bernama Dolanlanta.
Dolanlanta dikenal cerdik diantara para bhiksuni. Ia (wanita) sangat benci kepada Mahakashyapa karena Mahakashyapa begitu seriusnya dan tidak pernah memandang wanita. Bila Dolanlanta bertemu Mahakashyapa di pagi hari, ia akan memaki-maki, "Sungguh sial! Pagi pagi aku sudah harus bertemu dengan orang sesat seperti kau." Sang Buddha telah membuat "8 Jalan Murni" yang digunakan oleh para bhiksuni untuk menghormati para bhiksu, tetapi Dolanlanta tidak mematuhi semuanya itu. Ia mengabaikan bahwa Mahakashyapa adalah seorang bhiksu dan siswa utama dari sang Buddha. Ia terus memaki Mahakashyapa. Sang Buddha menyadari kebiasaan Dolanlanta. Bukannya mengusirnya dari komunitas sangha, beliau menggunakan berbagai cara untuk mendidiknya. Jadi, dulu pun Sang Buddha mengajar murid murid Nya berdasarkan kebiasaan kebiasaan dari para murid Nya itu. Karena Dolanlanta adalah orang yang beringas, maka ia menjadi si pembela utama bila komunitas sangha sedang diserang. Adakalanya menjadi cerdik beringas mempunyai keuntungan tersendiri -- orang lain belum ngomong apapun, ia sudah menyerocos tanpa henti. Menghadapi orang seperti dia, orang yang sopan santun sudah pasti kalah. Dalam hal berdebat, orang orang seperti dia bisa berguna. [tawa pendengar].

5. Dapat membebaskan setiap insan
Kesaktian ke 5 dari Buddha adalah tahu bagaimana membebaskan setiap insan.
Ini juga disebut sebagai ajaran yang sesuai dengan karakteristik setiap insan.
Sewaktu seorang Buddha berbicara, kata kata nya akan menjelma menjadi puluhan ribu "suara Dharma" dan pergi mencapai tempat tempat yang sangat jauh sekalipun. Suatu kali Mahamaudgalyayana terbang ke surga sebelah timur dan ternyata masih dapat mendengar ajaran Buddha bahkan dari sana. Suara Dharma sangat mendalam dan halus. Adakalanya satu jenis suara yang diucapkan oleh sang Buddha dapat menjelma menjadi puluhan ribu jenis suara untuk mengajar puluhan ribu jenis insan. Itulah daya tarik Buddha. [tepuk tangan pendengar].

Suatu kali sang Buddha menghilang dari komunitas sangha selama hampir 3 bulan. Tak ada yang tahu kemana beliau pergi. Ternyata beliau pergi mengunjungi surga Trayastrimsas untuk mengajarkan tentang "Sutra Sumpah Utama Ksitigarbha Bodhisattva" kepada Ibunya, Maya. Ini diketahui oleh Anirudhha, salah satu dari 10 siswa utama yang telah menggunakan mata gaib nya untuk melacak keberadaan sang Buddha. Bagaimana caranya sang Buddha pergi mengunjungi surga Trayastrimsa? Dengan "langkah gaib", kemampuan untuk muncul dimanapun juga sesuai kemauan nya. Ini tidak sama dengan perjalanan astral (roh keluar dari badan) karena sang Buddha juga membawa tubuh fisiknya ke surga Trayastrimsa. Saya perhatikan suatu gerakan yang aneh dalam latihan latihan Chi-Kung saya akhir akhir ini. Kedua lengan saya diulur panjang kemudian mulai berkepak-kepak seperti burung yang sedang terbang. Saya pikir ini mungkin berarti bahwa suatu hari baik tubuh dan roh saya juga akan terbang ke surga dalam rangka membabarkan Dharma. [tepuk tangan pendengar].

6. Pengetahuan tentang Berbagai Tingkat Samadhi
Kesaktian ke 6 dari seorang Buddha adalah pengetahuan tentang berbagai tingkat kebatinan (kesadaran) dalam Samadhi. Sebagai sadhaka, apakah anda tahu tingkat kalian? Berapa banyak keberhasilan telah anda capai? Berapa banyak energi atau kekuatan telah anda miliki? Berapa dewasa kerohanian anda? Semua faktor ini menentukan tingkat kebatinan anda. Apakah anda berada di tingkat arahat, ataukah pratyeka Buddha, ataukah Bodhisattva, ataukah Buddha, ataukah Buddha yang sedang meng-antri kebuddhaan nya?

Salah satu dari Dasabala Buddha adalah kemampuan untuk mengamati dan menentukan tingkat kebatinan seseorang. Sakyamuni Buddha, disamping mengajar di Surga Trayastrimsa, juga pernah mengajar di Istana Naga. Bila suatu hari saya lenyap, kemana saya akan pergi? Saya akan pergi main catur dengan Mahakashyapa. [tawa dan tepuk tangan pendengar]. Tentu saja ini harus dilakukan secara rahasia sehingga tak ada orang yang akan curiga tentang lenyapnya saya. Para penekun prana yang telah mencapai tingkat "langkah gaib" mempunyai spirit (batin / rohani) yang tinggi dan hawa nafsu yang rendah. Sewaktu batin lebih tinggi dan nafsu minimal, prana nya akan menyatu dengan alam semesta sehingga membuatnya dapat pergi kemanapun juga. Dengan kesaktian ini, ia bahkan dapat mengunjungi neraka.

Dalam Sutra Mula Sumpah Ksitigarbha, sewaktu gadis Kuang Mu (inkarnasi Ksitigarbha) bertanya kepada Raja Iblis tentang orang orang seperti apa yang mengunjungi neraka, ia memperoleh jawaban berikut ini, "Hanya 2 jenis orang: orang yang dibawa kesana karena karma buruk mereka dan orang yang memiliki kesaktian besar." Seorang Buddha dapat mengunjungi neraka karena kesaktian besar nya. Saya pun telah mengunjungi neraka untuk melihat seorang siswa saya yang sedang sangat menderita disana. Bukannya berlatih Dharma Tantra Satyabuddha, ia menghabiskan waktunya untuk berminumminum dengan alasan "harus bersosialisasi dengan mitra mitra bisnis nya".

Bersosialisasi? Dengan 2 gadis dikiri-kanan dan dengan pikiran yang penuh dengan kejorokan dan nafsu birahi, ia tergila gila untuk mengejar harta. Untuk siapa dia mengejar harta? Untuk dirinya? Saya rasa ia tidak menikmati hartanya itu. Untuk anak cucu nya kah? Keturunan punya nasibnya sendiri. Jadi, mengapa harus bekerja demikian keras untuk mereka? Camkan lah bahwa pelatihan rohani (bhavana) adalah lebih penting.

Bila anda tidak mulai dari sekarang, anda bisa terlambat. Sebagian siswa berkata, "Saya akan mulai berlatih tahun depan." Ada berapa banyak "tahun depan" kah? Mungkin kau cuma punya setengah tahun tersisa sehingga menjadi terlambat. Satu masalah yang dialami banyak siswa adalah bahwa mereka suka menunda-nunda bhavana. Mereka membela diri dengan berkata, "Kan setidaknya saya sudah bercatur-sarana (mengangkat guru) dan mulai mau menjapa mantra. Saya akan lebih tekun berlatih kalau sudah punya lebih banyak waktu." Jadi, pendek kata, sewaktu prana (rohani) berlimpah, maka fenomena "langkah gaib" akan muncul sehingga si sadhaka akan naik ke langit. Sewaktu rohani sangat sedikit, ia akan turun ke neraka.

7. Pengetahuan akan Hukum Karma
Kesaktian ke 7 adalah "pengetahuan akan hukum karma". Orang menuai apa yang ditaburnya. Acarya Lian-Zhi memberitahu saya sebuah tulisan stiker yang ia lihat di rumah sakit, "Kau adalah apa yang kau makan". Ini memang sekedar hukum karma. "Apa yang kau makan" adalah sebab. "Apa jadinya kau" adalah akibatnya. "Aksi yang baik memberikan hasil yang baik, aksi yang buruk menghasilkan akibat yang buruk."
Itulah hukum karma. Seorang Buddha selalu sadar tentang arah dan akibat dari semua hukum, dan tahu apa yang harus seseorang lakukan untuk menghindarkan dirinya dari konsekwensi karma.

8. Mata Gaib

Diantara para siswa utama Sakyamuni, Aniruddha dikenal akan "mata gaib" nya yang luar biasa sehingga bahkan mampu melacak sang Buddha sewaktu beliau menghilang untuk mengajar di surga Trayastrimsa. Bagaimana kemampuan mata gaib nya bisa muncul? Sesungguhnya, sebelum ia mendapatkan "mata gaib", Aniruddha paling suka tidur, seperti banyak siswa Satyabuddha disini. Setiap kali sang Buddha berceramah, Aniruddha mulai mengangguk-anggukkan kepala. Ia terlihat seperti begini sewaktu sedang menjapa mantra dan menghitung tasbeh. [Maha Acarya memperagakan]. "Om, Ah-mi-deh-wah-seh, Om, Ah-mi-deh-wah-seh; Om ..." [tawa riuh rendah pendengar].

Sewaktu sang Buddha melihat ini, beliau menguatirkan Aniruddha karena beliau sangat sadar akan arah dan akibat karma. Jadi, sang Buddha berbicara dengan Aniruddha, "Bila kau terus begini, kau bisa masuk ke istana Raja Naga." "Istana Raja Naga? Lumayan kan menjadi pengikut Raja Naga?" [tawa pendengar].
"Tidak lumayan kalau kau jadi sekedar kepiting istana! Menjadi kepiting laut yang merangkak-rangkak di dasar laut tidak begitu enak karena selalu tertutup kulit keras nya dan tak pernah merasakan sinar matahari sehingga bisa tidur sampai ribuan tahun."

Saya pernah mengatakan ini sebelumnya: Bila kalian suka tertidur sewaktu berlatih Samadhi, bukalah mata kalian, karena mata yang tertutup bisa menimbulkan ngantuk. Bila anda masih ngantuk juga, gosok-gosokkan tangan anda seperti sedang bersalaman. Ini akan memberikan anda tambahan tenaga. Juga usahakan supaya tulang belakang lurus, dagu tertekuk kebawah, dan mata terfokus ke depan, seperti seorang tentara. [tawa pendengar]. Bila semuanya masih gagal juga, bangkitlah dan mulai berjalan sambil menjapa mantra. Tentu saja, anda boleh "ijin" bila anda sedang merasa tidak enak badan atau terkena flu. Juga, bila anda sedang bepergian ke tempat jauh, seperti dari Taiwan atau Asia Tenggara, anda mungkin mengalami sensasi "Jet-Lag" (sensasi akibat perubahan waktu yang berbeda antara 2 tempat yang jauh) beberapa hari pertama setelah tiba, sehingga mengantuk pada kondisi tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, di saat saat biasa, orang tidak boleh mengantuk setiap kali berlatih meditasi. Seperti kata Sakyamuni Buddha, "Kamu bisa bisa terlahir di istana Raja Naga dan belajar dari Raja Naga. Saya tidak bisa mengajarmu lagi."

Kembali ke topik Aniruddha. Setelah sang Buddha berbicara demikian, Aniruddha bersumpah untuk tidak pernah memejamkan matanya lagi. Ia mulai bermeditasi dengan sangat rajin dan membuka mata. Pada akhirnya, karena tidak tidur lama sekali, ia menjadi buta. Pada saat itu, sang Buddha mengajarkan Aniruddha cara mengembangkan mata gaib. Orang harus mempunyai ketekunan dan kemauan kuat bila ingin mencapai kemajuan dan keberhasilan bhavana. [tepuk tangan pendengar].

Tercakup di dalam "50 Sikap Pengabdian kepada Guru" sebuah nasihat untuk tidak bergoyang ke kiri ke kanan sewaktu Guru mu mengajar. Sewaktu melakukan hal tersebut, sepertinya si siswa sedang berkata "tidak" kepada ajaran sang Guru danberusaha mengganggu nya, begitu bukan? [tawa pendengar]. Kau menggelenggelengkan kepala atas semua yang saya katakan. Ini artinya tidak hormat kepada Guru. Ini tidak boleh. [tawa pendengar].

Wibawa aliran kita juga perlu diperhatikan. Adakalanya, dalam upacara Dharma, mahkota Panca Buddha yang dikenakkan oleh para Acarya terlihat seperti mau jatuh. [tawa pendengar]. Bila saya terngantuk-ngantuk, setidaknya saya bisa membuat alasan bahwa saya sedang mengangguk-angguk kepada para Buddha. [tawa pendengar].

"Baiklah, saya tahu." [Maha Acarya mengangguk-anggukkan kepala nya diiringi tawa dan tepuk tangan pendengar.] Meskipun saya bisa beralasan bahwa saya sedang berkomunikasi dengan para Buddha, bisa berabe kalau kalian yang duduk di sekeliling saya juga mulai mengangguk-angguk dengan mahkota Panca Buddha kalian hamper terlepas jatuh. Jadi, saya harap kalian yang mudah mengantuk atau mudah lelah untuk melatih prana anda. Sewaktu prana anda penuh, anda akan bersemangat. Prana ini akan menjadi "truk" di "jalan tol" seperti telah saya katakan tadi sehingga kalian bisa menjadi "pasukan berani mati". Seorang sadhaka harus mempunyai energi yang berlimpah. Orang yang loyo dan tak bersemangat tidak terlihat seperti Tantrika sama sekali.

9. Mengetahui Masa Lampau
Kesaktian ke 9 adalah mengetahui masa lampau. Sebagian orang berkata bahwa sejarah tentang berbagai kehidupan masa lampau manusia tercatat di surga.
Bila suatu hari orang pergi ke sana untuk melihat kehidupan masa lampau nya, petugas disana akan memberikan semacam video tape sehingga orang bisa memahami (menonton) sebab akibat karma sepanjang inkarnasi masa lampau nya.
Sesungguhnya, video tape itu ada di otak kita. Kita tidak perlu pergi ke surga untuk mencarinya. Asalkan orang membuka "Cakra Mahkota" (Cakra 1000 Kelopak) dan mencapai keberhasilan dharmakaya Buddha, ia akan dapat melihat-lihat dalam kotak sejarah itu. Kesaktian yang dikembangkan dari Cakra Mahkota membuat sang Buddha dapat mengetahui baik kehidupan masa lampau nya maupun 500 kehidupan masa mendatang nya. Dengan kesaktian ini, seorang Buddha tidak hanya dapat mengetahui sejarah dirinya sendiri, tapi juga sejarah orang lain. Saya telah melihat-lihat kotak sejarah ini untuk mencari tahu mengapa sebagian Guru Rohani dapat membangun vihara vihara besar, dapat menarik banyak siswa, dan dapat membabarkan dharma dengan demikian sukses. Ternyata, dewa Brahma ada di belakang mereka. Dari analisa ajaran mereka, kita dapat mengetahui dewa mana yang mendukung mereka. Banyak bhiksu dan bhiksuni terkemuka mempunyai sejarah panjang dibalik kesuksesan mereka. Sewaktu orang mengembangkan kesaktian untuk dapat melihat kotak sejarah, ia akan dapat melihat dengan jelas siapa dewa yang berada di belakang layar dan mendukung orang tertentu. Di kemudian hari, sewaktu kalian mencapai Pencerahan, kalian pun akan memiliki kemampuan untuk melihat bukan hanya sejarah masa lampau diri kalian sendiri tapi juga orang lain.

10. Nirvana Santam
Kesaktian ke 10 adalah kemampuan memasuki tahap Nirvana Santam (tahap tanpa lahir). Tahap yang dicapai para Arahat adalah keadaan tanpa lahir. Ini juga disebut Nirvana Santam. Sewaktu orang mendapatkan Dasabala Buddha, ia akan menyadari bahwa semua inkarnasi nya, baik di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang, sesungguhnya adalah bukan kelahiran (inkarnasi). Sewaktu menyatu dengan kesadaran alam semesta, ia akan berada dalam kondisi Nirvana.

Sewaktu orang memasuki kesadaran alam semesta, ia akan mencapai kondisi dharmakaya atau kondisi "tanpa lahir". Pada waktu mencapai tahap ini, anda akan mengatasi semua kekuatiran dan kilesa.

Bila anda diberitahu bahwa koran terbesar dari sebuah negara menampilkan artikel di halaman utama nya yang berisi kecaman terhadap anda, anda tidak akan takut. Bila ada buku buku disebarkan ke seluruh dunia berisi kritikan kritikan terhadap anda, anda tidak akan takut. Bila ada orang mengajukan tuntutan pengadilan kepada anda, anda tidak akan merasa takut. Bila anda diperingatkan bahwa ada 9 orang yang sedang membuat rencana untuk mengganyang anda, anda tidak akan merasa takut. Mengapa anda bisa mengatasi semua rasa takut ini? Karena anda telah mengatasi semua eksistensi, apakah itu masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang, semuanya adalah "non-eksistensi". Anda telah menjadi orang suci yang selalu berada dalam Nirvana dan Ketenangan, yang tak tergoyahkan oleh apapun juga. Ini adalah "mengatasi semua rasa takut dan kilesa". [tepuk tangan pendengar]. Jadi, seorang sadhaka yang sudah tahu terlebih dahulu bahwa ada orang yang sedang menunggu di suatu tempat untuk membunuh nya akan tetap dengan rela hati pergi kesana dan dengan tenang menerima ajal nya. Ingin membuktikan apakah dia? Ini membuktikan bahwa ia telah "mengatasi semua rasa takut dan kilesa". Misalnya, Mahamaudgalyayana. Ia sangat tahu bahwa ia akan mati terbunuh dalam kehidupan nya saat itu. Dan, ia dengan ikhlas menerima nasibnya itu karena itu merupakan karma masa lampau nya. Sewaktu akibat karma datang menemuinya, ia sadar bahwa ia harus menghadapinya. Baginya, tak ada perbedaan. Ia telah mencapai keadaan pikiran yang mengatasi semua eksistensi sementara, baik itu masa lampau, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Ia telah sepenuhnya menyatu dengan kesadaran alam semesta. Itulah kesaktian ke 10 dari seorang Buddha.

Untuk mengulang, Dasabala Buddha adalah Maha Tahu, Mengetahui Karma Setiap Insan, Dapat Mengatasi Semua Jenis Ilusi, Pengetahuan Tentang Keinginan dan Keadaan Mental Setiap Insan, Dapat Membebaskan Setiap Insan, Pengetahuan Tentang Berbagai Tingkat Samadhi, Pengetahuan Akan Hukum Karma, Mata Gaib, Mengetahui Masa Lampau, Nirvana Santam.

"Maha Tahu", kesaktian pertama dari Buddha, juga dapat dipahami dengan cara berikut ini. Setiap manusia terdiri dari unsur "tanah, air, api, dan angin" seperti halnya alam semesta. Unsur unsur dalam tubuh manusia berkaitan dengan unsur unsur alam semesta. Bila seseorang memahami kebenaran ini dan dapat menyatukan unsur "tanah, air, api, dan angin" dalam tubuh nya dengan unsur unsur yang sama di alam semesta, maka ia akan dapat meng-identifikasi dan membuktikan semua hal di dunia ini dan mengetahui dengan jelas segala sesuatu. Ini adalah hal yang sangat penting. Prana dan nadi (dimana prana mengalir) dari tubuh manusia dan dari alam semesta saling terkait. Sebuah tubuh vajra yang tak terhancurkan yang kebal terhadap penyakit hanya dapat dicapai dengan menyatunya unsur "tanah, air, api, angin" dari mikrokosmos dengan unsur unsur yang sama dari makrokosmos.

sumber artikel: buku HUM-02, artikel 7.2

Sebuah ulasan tentang Yesus Kristus


Ilmu pengetahuan ilmiah masih sulit untuk menerima sepenuhnya adanya seorang perawan yang dapat melahirkan seperti didalam kisah Yesus yang dilahirkan oleh Bunda Maria. Namun, bila dipandang dari sudut dunia roh, kisah kelahiran Yesus tersebut sesungguhnya dapat diterima.

Allah sebagai suatu kekuatan supernatural yang tak berwujud menggunakan tubuh perawan Maria untuk melahirkan Yesus Kristus. Kisah kelahiran Yesus Kristus yang mujizat dan tanda tanda mujizat yang muncul semenjak kelahirannya menandakan lahirnya seorang juruselamat.

Setelah menjadi dewasa, beliau membuat banyak sekali mujizat seperti misalnya mengubah air menjadi anggur, memberi makan 5000 orang hanya dengan menggunakan beberapa potong ikan dan roti, berjalan diatas air, membangkitkan seorang bernama Lazarus dari kematian, dan lain sebagainya.

Terakhir, Yesus membangkitkan dirinya sendiri sebelum naik ke surga. "Aku datang dari Bapa dan kembali kepada Bapa", demikian sabda Yesus Kristus. Pernyataan Yesus ini sungguh mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Taois sebagai "kembali kepada sifat asal". Pernyataan ini juga sangat mirip dengan apa yang dikatakan oleh Budhisme bahwa "setiap insan memiliki benih keBuddhaan".

Dipandang dari sudut dunia roh, mujizat mujizat yang dilakukan Yesus pada 2000 tahun yang lalu itu dapat diterima kebenarannya. Yesus adalah seorang yang dapat berkomunikasi dengan dunia roh. Yesus sering mendengar suara Allah dari langit dan dapat melihat iblis menampakkan diri.

Didalam Alkitab, dikisahkan bahwa Yesus dicobai oleh iblis disebuah gunung. Betapa miripnya dengan kisah Sidharta Gautama yang dicobai oleh Mara sewaktu duduk dibawah pohon Bodhi.

Yesus dapat mengatasi godaan iblis dan memperoleh kemenangan. Ketika beliau turun dari gunung, wajah beliau memancarkan sinar kemenangan, suatu kemenangan atas roh jahat.

Begitu pula halnya dengan Sidharta Gautama. Pada waktu beliau duduk dibawah pohon Bodhi, beliau berkata, "Meskipun tubuh jasmani dan tulang belulang saya hancur luluh, saya rela. Meskipun darah dan daging saya menjadi kering sekalipun, bila saya belum mendapat penerangan sempurna, saya tidak akan beranjak dari tempat ini." Pada waktu itu dari langit sang Mara berteriak, "Pangeran Sidharta ingin melepaskan diri dari cengkramanku. Aku tidak akan membiarkannya." Mara meniup angin kencang, mendatangkan hujan badai, menjatuhkan batu batu besar serta debu panas, membuat bumi gelap gulita, mendatangkan wanita untuk merayu, semuanya untuk menggoyahkan Sidharta Gautama. Semua godaan tersebut tidak berhasil menggoyahkan beliau sehingga akhirnya wajah sang Buddha memancarkan sinar kemenangan. Pada waktu itu, dari para dewa dan naga sampai kepada unggas dan bunga bunga, semuanya memberi penghormatan kepada sang Buddha.

Yesus Kristus dan Sakyamuni Buddha kedua-duanya dapat mengatasi godaan iblis. Betapa miripnya awal dan akhir dari kisah kedua tokoh ini. Keduanya berhasil mencapai kemenangan, kebijaksana¬an serta batin yang suci. Didalam hati Yesus Kristus, ada welas asih dan kasih sayang yang sangat besar. Demikian pula halnya dengan Sakyamuni Buddha. Betapa suatu kemenangan batin yang suci. Yesus datang kedalam dunia ini karena beliau bersedia menjalankan sebuah misi menyelamatkan umat manusia, seperti diungkapkan sewaktu beliau berada di taman Getsemani dimana beliau berdoa kepada Allah Bapa, "Tugasku hampir selesai. Semuanya adalah sesuai kehendakMu." Kematian Yesus Kristus diatas kayu salib menunjukkan betapa bodoh dan kejamnya manusia.

Kebangkitan Yesus Kristus dari lubang kubur bukan merupakan suatu yang aneh. Karena beliau adalah seorang yang dapat menggerakkan rohnya, beliau dapat mengatasi hal hidup dan mati, dapat setiap saat berkomunikasi dengan alam semesta, dan dapat meramalkan apa yang akan terjadi.

Meskipun Yesus telah kembali ke tempatnya yang semula, kekuatan roh beliau masih berada di bumi ini. Karena banyak umat Kristen tidak mempunyai kemampuan kontak batin, maka mereka tidak dapat melihat serta mendengar suara Yesus. Saya suatu kali melihat Yesus di daerah Fung Yen. Ini benar benar terjadi


sumber artikel: ebook Padmakumara 04, artikel no. 4.3
(dari hal 169 buku "My Communications with the Spirit World")

Kelenteng Hantu, Timbulnya Dewa & Boddhisattva Palsu

Banyak orang mengira bahwa kelenteng, vihara, cetya, dan rumah ibadah lainnya pastilah tempat berdiam para makhluk suci. Tapi, saya tidak berpikir demikian. Banyak rumah ibadah sekarang ini sebenarnya merupakan tempat hantu.

Banyak biksu dan pendeta Taois tidak dapat melihat dan mendengar hantu sehingga mereka mengira kalau patung di altar berbentuk Budha, maka pastilah Budha yang ada disana, bila patung nya berbentuk dewa, maka pastilah dewa yang ada disana. Mereka tidak menyangka bahwa rumah ibadah mereka telah berubah menjadi tempat hantu, bahwa sinar Budha sudah hilang dari rumah ibadah mereka. Hawa hantu lebih dingin dan kotor. Ada pula hantu yang cukup sakti karena pengaruh lokasi atau karena telah menghisap (makan) sesuatu yang berdarah sehingga mereka dapat merajai sebuah gunung atau menguasai sebuah kelenteng. Bila tingkah laku mereka lurus (benar), maka ini tidak masalah. Tetapi, bila mereka sesat dan membuat onar, sungguh merupakan dosa besar.

Di Taiwan, ada kisah "Perang Antara 5 Raja dan Hantu Bocah". Cerita ini merupakan hal yang benar benar terjadi. 5 jendral dari Kelenteng 5 Raja adalah dewa alam bardo. Di sisi Kelenteng Lima Raja, ada sebuah kuburan seorang bocah remaja. Kuburan ini Hong-Suinya sangat bagus yaitu berupa lubang lipan. Lubang lipan ini dapat menghasilkan seribu tangan dan seribu mata. Sebutir mutiara yang ada di dalam lubang dapat dijadikan senjata ampuh. Karenanya, roh remaja ini semakin hari semakin kuat dan sakti. Pada tubuhnya, tumbuh seribu tangan dan seribu mata. Ia pun menggenggam senjata ampuh. Ini membuat ke 5 jendral kaget sekali. Mereka mengerahkan pasukan untuk mengeroyok si bocah sakti ini.

Pertempuran berlangsung sangat seru. Ternyata roh bocah ini dapat menjelma menjadi berjuta-juta roh dan mampu mengimbangi ke 5 jendral. Akhirnya, bodhisattva Avalokitesvara muncul untuk mendamaikan konflik antara ke 5 Jendral dan si roh bocah sakti. Tanah yang ada di sisi Kelenteng 5 Raja diberikan kepada si hantu bocah. Si hantu bocah mengangkat diri nya sendiri menjadi Raja Wan San dan memimpin dunia hantu. Meskipun 5 Jendral dari Kelenteng 5 Raja memang perkasa, kesaktian Raja Wan San tidak kalah hebatnya. Asap dupa di Kelenteng Raja Wan San selalu mengepul tebal. Belahan roh Raja Wan San menyebar ke seluruh propinsi. Untuk meresmikan satu patung nya di rumah untuk disembahyangi saja, setiap bulan orang harus membayar uang sewa beberapa ribu dollar, aneh bukan?

Ada seorang peramal memberitahu saya bahwa di sebuah puncak gunung, ada sebuah kelenteng yang megah sekali dan konon amat manjur. Ia mendesak saya untuk berkunjung ke sana. Karena saya tertarik akan hal kelenteng, maka saya pergi. Kelenteng ini cukup besar dan berhadapan dengan sebuah ceruk yang sangat besar. Dari kejauhan, tampak Gunung Tatu dan Gunung Pakua dari Cang Hua. Panoramanya indah sekali. Di balik gunung, ada tanah kuburan. Dewa Utama kelenteng ini adalah Mahadewa Suen Thien dari kutub utara. Pada aula utama, ditempatkan patung Mahadewa Suen Thien. Di aula belakang, ditempatkan patung para Buddha. Di aula samping, ditempatkan patung Konghucu, Ksitigarbha, dan sebagainya. Umat yang datang bersembahyang sangat banyak. Saya mau tidak mau ikut berdesak-desakan dengan para umat yang datang. Di pekarangan tengah kelenteng, saya melihat sebuah sumur tua yang sudah kuno sekali. Di sisi, terukir kata "Sumur Emas". Saya menengok ke dalam sumur. Di dalam sumur ada air. Ketika sedang tidak menaruh perhatian, ternyata saya melihat bahwa di dalam air ada banyak sekali hantu yang sedang menari. Saya merasa heran. Di dalam kelenteng yang begitu besar, di dalam sumur, bisa bersembunyi banyak sekali makhluk halus yang menari-nari. Sungguh tak terbayangkan. Ketika saya sedang merenung, dari dalam sumur muncul segumpal hawa roh yang terasa dingin. Seorang wanita setengah baya yang amat cantik dan berbusana kuno berdiri di pinggir sumur, benar benar seperti manusia hidup. Orang lain tak dapat melihatnya. Ia memperhatikan saya.

"Ada urusan apa tuan kesini?"
"Untuk berdoa kepada Mahadewa."
"Tahukah anda siapa kami?" Mata wanita cantik itu terlihat jernih sekali meskipun amat menakutkan.
"Tidak. Siapakah ibu?"
"Penunggu kelenteng ini. Kami muncul berkat pengaruh kekuatan hawa tanah pada roh kami. Yang ada di patung Mahadewa adalah suami saya. Yang ada di patung Ksitigarbha adalah anak saya. Patung patung lainnya didiami oleh anggota keluarga ataupun teman akrab saya. Kami dengan senang hati menolong manusia dengan kemampuan kami. Harap jangan bingung dengan hal ini."
"Apakah ibu mengenal saya?"
"Ya. Tuan menulis buku rohani. Hal ini sudah tersebar kemana-mana baik di surga maupun di dunia hantu. Meskipun kami termasuk bodoh, kami menghargai kebajikan tuan. Buku rohani anda sungguh ajaib dan dapat menolong para dewa dan manusia. Bahwa anda akan datang kesini sudah dilaporkan terlebih dahulu oleh 2 hantu penjaga pintu. Rahasia kami ada di dalam sumur. Tempat ini adalah kuburan kami sekeluarga. Mahadewa Suen Thien pernah berkunjung ke sini sehingga diberi nama tempat Mahadewa."
"Kalau begitu, bagus sekali." Saya beranjali.
"Kami memang hantu namun kami juga ingin melatih diri menjadi dewa. Hawa hantu dingin sekali. Namun, bila berlatih, kami bisa naik tingkat menjadi dewa. Sang Mahadewa telah mengamati bahwa kami selama hidup berbaik hati dan belum pernah melakukan kesalahan besar. Maka, beliau telah menugaskan Wang Thien Cuen sebagai dewa pengawas kelenteng ini. Pada setiap tanggal 1 dan 15 (penanggalan lunar), ia turun ke sini untuk memeriksa kebajikan dan kesalahan kami sebagai bahan pertimbangan pengangkatan kami sebagai dewa di kemudian hari. Tuan boleh menuliskan hal ini di dalam buku namun hendaknya jangan membocorkan alamat lokasi agar kami terhindar dari gangguan orang bodoh.

Dewasa ini, dunia hantu juga mengenal latihan pembinaan rohani, sebaliknya manusia di dunia sering menganggap kepalsuan sebagai yang sejati. Sesungguhnya cukup banyak hantu yang telah naik tingkat menjadi dewa, bahkan banyak yang melebihi manusia!"

Mendengar hal ini, saya merasa sangat malu. Hantu pun mengetahui pentingnya pelatihan diri. Ini berarti hantu telah melebih manusia. Setelah memberi hormat kepada wanita cantik itu, saya mohon diri. Ketika keluar dari kelenteng, ada dua petugas hantu penjaga pintu mengantar saya.

Memandang kelenteng yang megah ini, saya menaruh prihatin!. Saya telah melihat cukup banyak.


Sumber artikel : Buku HUM-05, artikel ke 23

:::

tambahan informasi, kutipan dari buku Zhuan Falun, Ceramah 5, Kaiguang:

Sakyamuni berkata: “Sesampainya masa akhir Dharma, bhiksu sendiri pun sulit menyelamatkan diri, menyelamatkan orang lain pun makin sulit.” Apalagi ada banyak bhiksu yang menginterpretasikan kitab agama Buddha menurut perspektifnya sendiri, apa yang disebut kitab Dewi Ibunda Ratu juga telah masuk ke biara, ajaran yang bukan dari kitab agama Buddha telah masuk ke dalam biara, jadi kacau-balau, dan sekarang sangat kalut. Tentu saja bhiksu yang benar-benar Xiulian masih ada, dan masih sangat baik. Kaiguang sebenarnya adalah mengundang Fashen dari Sang Sadar agar tinggal pada patung Buddha, itulah Kaiguang.

Maka patung Buddha yang tidak berhasil Kaiguang maka tidak boleh dipuja, jika dipuja akan membawa konsekuensi yang sangat serius. Apa konsekuensi serius itu? Kita yang melakukan riset ilmiah tubuh manusia sekarang menemukan bahwa niat pikiran manusia atau pemikiran otak manusia dapat menghasilkan suatu substansi. Kami dari tingkat sangat tinggi melihatnya memang benar adalah suatu substansi, namun substansi ini tidak berbentuk gelombang elektro otak seperti yang sekarang kita temukan dalam riset, namun berbentuk sebuah otak yang lengkap. Benda berbentuk otak yang biasanya terpancar saat manusia biasa memikirkan masalah, karena ia tidak mengandung energi, setelah terpancar sebentar akan sirna, sedang energi dari praktisi Gong akan bertahan dalam waktu yang jauh lebih lama. Patung Buddha ini bukan berarti sudah memiliki pemikiran setelah diproduksi dari pabrik, belum memiliki. Ada yang belum mengalami Kaiguang, walau dibawa ke dalam biara juga tidak akan mencapai tujuan Kaiguang. Jika mencari master Qigong yang palsu maupun orang yang berpraktek jahat untuk melakukan Kaiguang, yang terjadi malah akan lebih berbahaya lagi, rubah, samur kuning niscaya naik ke atas.

Maka kalau patung Buddha belum mengalami Kaiguang, dan anda datang menyembahnya, hal itu tentu sangat berbahaya. Sampai taraf apa bahayanya? Saya sudah mengatakan umat manusia berkembang sampai hari ini, segalanya telah rusak, segenap masyarakat, segenap hal dalam alam semesta juga terus mengalami kerusakan, segala hal yang terjadi di tengah manusia biasa adalah kita sendiri yang menyebabkannya. Untuk mencari Fa ortodoks, mengikuti Tao ortodoks adalah sangat sulit, semua aspek mengganggu. Ingin memohon Buddha, siapa adalah Buddha. Ingin memohon pun sangat sulit. Jika tidak percaya saya jelaskan: Pertama, sekali orang menyembah patung Buddha yang belum Kaiguang, dia akan celaka. Sekarang yang memuja Buddha ada berapa orang yang berharap dalam hati memohon pada Buddha agar memperoleh buah sejati? Orang yang seperti ini sangat sedikit sekali. Apa tujuan kebanyakan orang dalam memuja Buddha? Untuk melenyapkan musibah, mengatasi kesulitan, menjadi kaya, inilah yang dimohon. Apakah ini ajaran dalam kitab suci agama Buddha? Sama sekali bukan, tidak ada ajaran semacam ini.

Orang yang memuja Buddha dengan tujuan memohon uang, sewaktu menyembah menghadap patung Buddha, atau patung Bodhisattva Avalokitesvara, atau patung Tathagata akan berkata: “Bantulah saya agar mendapat sedikit kekayaan.” Wah, sebuah niat pikiran yang utuh segera terbentuk. Karena dia menghadap ke patung Buddha, maka dengan seketika sudah naik ke patung Buddha ini. Pada ruang lain benda ini dapat membesar dan menyusut kecil, setelah berada pada benda ini, patung Buddha ini memiliki sebuah otak, punya pikiran, tetapi tidak memiliki tubuh. Orang lain juga ikut memuja, setelah sering kali dipuja, akan memberinya suatu energi tertentu. Khususnya praktisi Gong makin berbahaya, dengan memuja lambat laun memberi energi kepadanya, sehingga ia membentuk sebuah tubuh yang berwujud nyata, namun tubuh nyata itu terbentuk dalam ruang lain. Setelah terbentuk, ia yang berada dalam ruang lain, dapat mengetahui sedikit prinsip alam semesta. Oleh karena itu ia dapat melakukan sedikit hal untuk kepentingan manusia, dengan demikian ia juga dapat tumbuh sedikit Gong, tetapi dia membantu manusia dengan syarat dan imbalan. Dalam ruang lain ia dapat bergerak dengan leluasa dan sangat leluasa mengendalikan manusia biasa. Tubuh berwujud nyata ini memiliki bentuk yang persis sama dengan patung Buddha, lewat pemujaan telah tercipta Bodhisattva Avalokitesvara palsu, Tathagata palsu, pemujaan manusialah yang menciptakannya, yang tampak sama dengan patung Buddha, berpenampilan Buddha. Namun Buddha palsu, Tathagata palsu berpikiran luar biasa jahat, dan menginginkan uang. Ia terbentuk dalam ruang lain, ia memiliki pikiran, ia tahu sedikit prinsip, ia tidak berani melakukan kejahatan besar, namun ia berani melakukan kejahatan kecil. Kadang kala juga membantu manusia, jika tidak membantu manusia maka sepenuhnya adalah jahat, ia akan ditumpas.
Bagaimana cara membantu? Misalnya orang itu memohon: “Mohon Buddha membantu saya, ada seseorang di rumah yang sakit.” Baik, anda dibantu. Ia akan membuat anda memasukkan uang ke kotak derma, ia akan membuat penyakit anda sembuh lebih cepat. Karena ia punya sejumlah energi, dari ruang lain ia dapat memanipulasi seorang manusia biasa. Khususnya jika yang memuja adalah orang yang memiliki Gong, akan lebih berbahaya lagi. Apa yang dimohon oleh praktisi Gong? Memohon uang. Coba anda pikirkan, buat apa praktisi Gong memohon uang? Memohon untuk sanak keluarga agar bebas dari musibah dan sembuh dari sakit juga merupakan keterikatan terhadap keintiman (Qing) keluarga. Itu berarti ingin mengatur nasib orang lain, padahal setiap orang punya peruntungan nasib sendiri! Jika anda menyembahnya dan memohon: “Tolong agar saya memperoleh sedikit kekayaan.” Baik, ia membantu anda, ia justru ingin sekali anda lebih banyak memohon uang, mohonlah lebih banyak, supaya ia dapat lebih banyak mengambil milik anda. Saling tukar secara adil, itulah syaratnya. Banyak sekali uang dalam kotak derma yang diberi oleh orang lain, ia membuat anda memperoleh. Bagaimana cara memperoleh? Memungut sebuah dompet saat berjalan, tempat kerja memberi sejumlah bonus, pokoknya agar anda berusaha memperoleh uang. Apakah ia dapat membantu anda tanpa syarat? Tanpa kehilangan, anda tidak akan memperoleh. Berikan Gong anda kepadanya, ia menginginkan Gong, atau Dan dan benda lain hasil berlatih anda akan diambilnya, ia menghendaki ini.


Buddha palsu ini kadang-kadang juga sangat berbahaya. Banyak di antara kita yang sudah terbuka Tianmu mengira dirinya telah melihat Buddha. Seseorang mengatakan hari ini datang serombongan Buddha ke biara, menyebutkan apa nama Buddha itu, datang memimpin rombongannya. Dikatakan yang datang dalam rombongan kemarin bagaimana rupanya, yang datang dalam rombongan hari ini bagaimana rupanya, tidak lama kemudian telah pergi lagi, lalu datang lagi satu rombongan. Apakah itu? Ia termasuk jenis itu, ia bukan Buddha asli, ia adalah palsu, justru jenis itu yang sangat banyak.

Bila situasi ini terjadi dalam biara, akan makin berbahaya. Jika bhiksu memujanya, ia akan menguasai bhiksu: “Bukankah anda memuja saya? Secara sadar anda telah memuja saya! Baik, bukankah anda ingin Xiulian? Saya akan memperhatikan anda, saya akan mengatur bagaimana anda berkultivasi.” Ia yang mengatur anda, maka setelah anda sukses berkultivasi, ke mana anda akan pergi? Karena ia yang mengatur kultivasi maka aliran Fa yang di atas itu juga tidak mau menerima. Karena ia yang mengatur, di kemudian hari anda akan dikuasainya. Bukankah dengan demikian anda ini sia-sia berkultivasi? Saya katakan sekarang sangat sulit bagi umat manusia untuk berkultivasi mendapat buah sejati. Fenomena semacam ini sangat umum terjadi, banyak di antara kita yang melihat sinar Buddha di pegunungan yang terkenal dan sungai yang besar, kebanyakan termasuk kategori ini, ia punya energi yang dapat ditampakkan. Bagi Sang Maha Sadar yang sejati tidak mudah mau menampakkan.

Dahulu kala yang disebut Buddha bumi dan Tao bumi agak sedikit, tetapi sekarang luar biasa banyak. Jika ia melakukan kejahatan, yang di atas juga akan menumpasnya, begitu akan ditindak, ia akan langsung lari naik ke patung Buddha. Terhadap prinsip yang berlaku dalam manusia biasa, biasanya Sang Maha Sadar tidak dengan mudah mau mengusiknya, Sang Sadar yang makin tinggi makin tidak ingin merusak prinsip manusia biasa. Dia tidak mengusik sedikit pun. Tidak mungkin secara tiba-tiba menghancurkan patung Buddha dengan sebuah petir, Dia tidak berbuat begini, oleh karena itu, ia juga tidak dipedulikan lagi ketika lari naik ke patung Buddha. Ketika hendak ditumpas ia tahu, ia melarikan diri. Oleh karena itu Bodhisattva Avalokitesvara yang anda lihat apakah benar Bodhisattva Avalokitesvara, Buddha yang anda lihat apakah benar Buddha? Sulit dikatakan.

CAP RAHASIA, Melampaui Dualitas Baik dan Buruk

"Manusia sejati sadar bahwa segala sesuatu adalah ilusi belaka."
 Ini adalah sebuah ayat dari sutra "Catatan Pelita Hati".

Didalam sutra ini juga dikatakan ;
"Manusia sejati dapat pergi ke sepuluh alam.
Ia dapat mengubah wujudnya kapan saja, dimana saja, sesuai kemauannya.
Ia dapat menjelma menjadi sang Buddha yang berkuasa di sepuluh penjuru.
Ia dapat menjelma menjadi Sang Guru/Nabi dari dua puluh generasi.
Ia dapat menjelma menjadi seorang Bodhisattva, seorang Pratyeka Buddha, ataupun seorang Sravaka.
Ia dapat menjelma menjadi si setan.
Ia dapat menjelma menjadi makhluk makhluk suci dari surga yang berbeda beda.
Ia dapat menjelma menjadi binatang.
Ia dapat terlahir kembali sebagai seekor burung.
Ia bahkan dapat menjelma menjadi makhluk didalam neraka ataupun sebagai seorang setan kelaparan.

Manusia seperti itu mempunyai kekuatan yang luar biasa!
Tak terukur.
Tak terbayangkan.

Ia dapat melakukan kejahatan, menciptakan setan setan kelaparan, dan menciptakan berbagai bentuk binatang.
Ia dapat berbuat kebaikan.
Ia dapat menciptakan surga dan ke 33 alam angkasa.
Ia dapat menjadi si jahat maupun si baik.
Ia dapat menciptakan kekayaan, keagungan, sukacita, penderitaan, dan segala macam manifestasi lainnya di dunia ini.
Ia dapat menekuni kebajikan tanpa menghilangkan akar kebencian.
Wujud dari iblis dan setan dapat diciptakannya.
Ia dapat menjelma menjadi seorang pertapa dan melatih batinnya sendiri. 
Ia dapat bersumpah menyadarkan orang orang seperti halnya seorang Bodhisattva. 

Setelah semuanya yang disebutkan diatas, 
Ia dapat kembali ke wajah aslinya dan duduk didalam keBuddhaannya membabarkan Dharma sampai ke titik dimana tiada lagi yang disebut Dharma. 
Ia dapat menyadarkan/menyeberangkan para umat sampai ketitik dimana tidak ada lagi tersisa umat yang belum sadar." 

Seseorang memberitahuku tentang adanya sebuah kuil kecil di sebuah gunung dimana terdapat besar sekali hawa inti (energi) positif. Semua yang diminta disana mendapat jawaban. 
Timbul rasa ingin tahuku dan keinginanku mengunjungi kuil tersebut. 
Dibelakang kuil tersebut ada sepetak tanah kuburan. 
Didepan kuil terdapat papan nama bertuliskan: You Ying Kung
Kuil tersebut sangat kecil dan tak terurus, tapi asap hio memenuhi ruangan didalam yang berarti tempat ini sangat populer. 

Aku perhatikan bahwa kuil tersebut didiami oleh banyak roh gentayangan. 
Aku tidak betah disana. 
Ketika aku ingin meninggalkan tempat tersebut, sebuah suara mengejutkanku: 

"Liang-sheng! Kemana engkau mau pergi?" 

"Siapakah anda sehingga mengenal nama saya sebagai Lian-sheng?" 

"Aku yang mengurus kuil ini! San San Chiu Hou! Lian-sheng, tidakkah kau mengenalku lagi?" 

"San San Chiu Hou!" aku terperanjat. 
Guruku yang biasa kusebut Guru Roh. 

Ia berada di alam tak berwujud. 
Bagaimana ia dapat mengelola kuil yang kumuh dan penuh dengan roh roh gentayangan?  
Sungguh aku tidak percaya. 
Aku masuk kedalam. Ruangan tersebut sempit dan dipenuhi asap hio. 
Di altar terdapat sebuah arca dewa mengenakan jubah merah. 
Dua koin terpasang dipundaknya menunjukkan bahwa ia dari alam yin (negatif). 
Aku merangkapkan kedua tanganku serta bertanya,

"Yang Mulia San San Chiu Hou, bila anda berada di alam tak berwujud, bagaimana anda bisa menjadi seorang dewa yang bersifat hawa negatif disini?" 

"Lian-sheng, tidakkah kau tahu bahwa aku dapat pergi dengan bebas ke sepuluh alam dharma? 
Aku dapat menyembunyikan diriku didalam sebutir pasir! 
Aku dapat menjelma menjadi 10,000 bentuk. 
Aku dapat menciptakan surga dan neraka. 
Aku dapat menjadi sang Buddha dari masa lalu. 

Orang orang awam tidak mengenalku. 
Para biksu menghinaku. 
Makhluk makhluk suci di alam alam lain menghindariku. 
Tapi seharusnya engkau dapat mengenaliku. 
Aku adalah San San Chiu Hou. 
Gunakanlah mata batinmu untuk melihat." 

Aku membuka mata batinku. Aku menjadi tercengang! 
Takut! 
Gemetar ketakutan! 
Kuil itu membesar dan besar, meninggi dan tinggi, bahkan terus melewati awan awan. 
Lebarnya seperti lebar empat atau lima gunung dijadikan satu. 
Dihadapanku muncul setan setan yang berwujud sangat aneh; ada yang berwajah biru; ada yang bertanduk panjang; ada yang berekor panjang; ada yang berkepala tiga; ada yang berlengan empat. 
Semuanya berwajah buruk dan bengis. 
Mereka duduk didalam dua baris. Diatas mereka, di tengah tengah, duduklah seorang makhluk yang sangat aneh. Kepalanya seperti kepala Buddha; ramah dan penuh welas asih. Diatasnya lagi terdapat 9 kepala, semuanya dengan wajah wajah yang penuh keagungan seperti wajah Bodhisattva tapi dari leher kebawah tubuhnya itu merupakan tubuh ular berwarna hijau kebiru biruan. Dari tubuhnya keluar cakar cakar setajam pisau. Bokong tubuhnya melingkar lingkar.

"Guruku adalah seorang dewa dari alam tak berwujud. Beliau tidak mempunyai wujud/tubuh. 
Bagaimana mungkin ia berwujud begini buruk?" kataku dengan keras. 

"Lihatlah lagi." 

Kuil itu kemudian bertambah lebih besar lagi. 
Di angkasa muncul 72 dewa dan 36 Bodhisattva. 
Semuanya memegang setangkai bunga nan wangi sambil menyembah San San Chiu Hou. 
Kursi emasnya berubah menjadi bunga teratai. 
Diatas kursi tersebut duduklah seorang Buddha yang begitu indahnya. 
Kedua baris setan setan itu menjelma menjadi Arahat Arahat dan Bodhisattva Bodhisattva. 
Wangi semerbak keluar dari dalam kuil; kuil itu sendiri berubah menjadi berwarna kristal dan keemasan. 

Melihat pemandangan yang begitu agung, aku tak tahan lagi harus bersujud. 

Buddha itu berkata, "Yang disebut manusia sejati sadar bahwa segala sesuatu adalah ilusi belaka. Lian-sheng, engkau harus mengerti arti dari pernyataan ini. 
Aku adalah San San Chiu Hou. 
Tidak ada yang tahu bahwa aku mempunyai kemampuan untuk pergi ke sepuluh alam dharma. 
Aku dapat menciptakan segala sesuatu. 
Aku dapat berbuat apapun tanpa rintangan. 
Aku dapat menjelma menjadi apapun."

"Didalam kuil ini," lanjutnya, 
"Dibawah meja altar ini terdapat sebuah cap terbuat dari kayu. 
Cap ini sangatlah istimewa. 
Bawalah ia pulang. 
Suatu hari cap itu akan menjadi cap dari kuil mu.  
Inilah alasan mengapa engkau hari ini dibimbing untuk datang kesini. 
Rawatlah cap itu dengan hati hati. Gunakan dengan hati hati." 

"Guru, apakah kegunaan cap ini?" 

"Cap ini datang dari seorang maha dewa. 
Orang yang berkwalitas super bila memiliki cap ini dapat terbang ke langit/surga. 
Orang yang berkwalitas bila memiliki cap ini akan dihormati oleh para makhluk suci dan dihindari oleh para setan kelaparan. 
Orang yang berkwalitas rendah bila mempunyai cap ini dapat memimpin sebuah negara." 

"Liang-sheng," perintahnya, 
"hati hatilah dalam menggunakan cap ini. 
Engkau tidak perlu kembali kedalam kuil ini. 
Akupun hanya singgah disini untuk sementara waktu hanya untuk menyerahkan cap ini kepadamu." 

"Karena hadirnya cap ini disini, kuil ini mempunyai kekuatan yang besar. 
Banyak dewa yang datang melindungi kuil ini. 
Tetapi, setelah cap itu tidak lagi berada didalam kuil ini, energi positifnya pun akan hilang bersamaku. 
Kuil ini akan kembali menjadi sarang setan setan." 

Ketika San San Chiu Hou selesai berbicara, penglihatan tentang kuil yang begitu meraksasa tersebut serta wujud para Buddha dan Bodhisattva pun lenyap. 

Aku kembali berada di kuil yang kecil dan kumuh itu. 
Aku membungkukkan badan dan menggapai kebawah meja altar mencari cari. 
Tanganku mendapatkan sesuatu yang terbungkus. 
Ketika aku buka bungkusan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah cap yang sudah sangat tua. 
Aku membungkukkan badan kepada San San Chiu Hou dan pergi. 
Setelah aku kembali kerumah dan membersihkan cap tersebut, aku menaruhnya diatas altar didekat arca Yao Ce Cing Mu. Itulah kisah tentang cap sakral yang berada di altarku.


sumber artikel: ebook Padmakumara-01, artikel ke 37